I'M Crazy About You

I'M Crazy About You
Episode 27 - I Love You


__ADS_3

WIDEL POV


Aku tak pernah menyangka aku akan dirawat di rumah sakit seperti ini. Aku semakin merasa tak enak pada bosku Pak Ervin, ia baru saja memberiku kesempatan untuk bekerja lebih baik, tapi aku malah di rawat seperti ini. Itu semua karena masalah yang tidak jelas. Aku ingin cepat pulang, tak ingin berlama-lama disini agar aku bisa bekerja kembali.


Jujur saja, aku merasa lelah dengan apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini, seakan masalahku tak cukup, malah ditambah dengan persoalan yang tak aku mengerti. Orang-orang baru yang datang dalam hidupku membuat hidupku yang tadinya berputar dalam susunan jadwal yang teratur setiap harinya, kini malah berantakan. Pertama, aku hampir di pecat, dan kedua ya seperti sekarang ini, terbaring di rumah sakit dengan kepala yang diperban. Bahkan aku seperti tak punya waktu untuk memikirkan skripsiku.


Aku juga tak mengerti dengan perasaanku akhir-akhir ini, entahlah.. aku bingung. Tadinya hidupku baik-baik saja sebelum bertemu dengan dia. Seseorang yang tiba-tiba muncul dalam hidupku, belum lama.. tapi rasanya perasaanku sudah menjadi kacau balau karenanya. Orang itu adalah Devan, seorang pemuda dari kalangan jet set. Aku tak mengerti kenapa ia selalu muncul di dekatku, karena secara logika aku dan dia adalah dua orang yang sangat berbeda... Jauh malahan. Suatu hal yang mustahil jika aku dan dia ternyata bisa sampai dekat seperti ini.


Dekat ? Apa itu bisa dibilang dekat ? Hubunganku dengannya saja tidak jelas. Dia bukan temanku, bukan kakak seniorku, bukan atasanku, apalagi pacarku. Dia bukan siapa-siapaku, tapi dia pernah mengompress kakiku dengan tangannya sendiri. Padahal kalau dipikir, dibandingkan dengannya, apalah diriku yang hanya seorang gadis biasa dari kalangan jauh dibawahnya. Tapi, meskipun seperti itu kenyataannya, memang sangat tidak masuk akal bahwa dia pernah memelukku, menggendongku, lalu makan bersamaku. Dia juga pernah repot-repot untuk mengantarku pulang, dan ciuman.. dia pernah mencuri ciuman pertamaku. Bahkan dia pernah menginap di rumahku, parahnya kami juga tidur seranjang. Hubungan apa ini sebenarnya ? Aku bahkan sulit mengenalkannya pada sahabatku sendiri.


Dia membuatku bingung, bertingkah seolah-olah dia tertarik denganku, lalu kemudian bersikap dingin dan acuh padaku. Setelah itu, dia berubah lagi menjadi manis seperti tadi pagi.


Bicara tentang tadi pagi, kenapa dia bisa tertidur di sisi ranjangku ? Apa dia menjagaku semalaman ? Ah, itu tidak mungkin. Tapi, untuk apa dia menjengukku ? Sepertinya aku bukanlah siapa-siapa baginya dan tidak sepenting itu untuk harus dijenguk olehnya. Oh ya.. Wilona.., apa mungkin dia melakukan itu hanya karena Wilona untuk menebus perbuatan kekasihnya itu ? Hm.. seharusnya aku tak perlu berpikir banyak. Apa yang aku harapkan ?


Pagi ini terasa begitu membosankan. Tinggallah aku sendiri terbaring di ranjang dan tak bisa melakukan apapun. Kak Reza sudah pergi ke kantornya, dan Pak Ervin juga sudah sempat datang  kesini tadi namun hanya sebentar karena ia harus mengurus sesuatu. Aku termenung menatap langit dari kaca jendela di ruanganku, sesekali melirik jam di dinding yang sepertinya bergerak sangat lambat.


Tas ku yang tertinggal di tempat kerja tadi malam sudah dibawakan langsung oleh Pak Ervin saat ia datang tadi pagi. Sempat juga aku mengecek ponselku yang berada di dalam tas itu, yang ternyata sia-sia saja karena ponselku mati total. Aku tak tahu harus berbuat apa. Katanya jika aku butuh sesuatu aku tinggal memencet tombol di sisi ranjang, maka perawat akan langsung datang.


Kupejamkan mataku untuk tidur kembali berharap dengan cara itu, aku bisa membunuh waktu dengan cepat. Namun, belum lama mataku terpejam suara pintu yang terbuka membuat mataku membelalak dan langsung terduduk setengah berbaring di ranjang ketika seorang pria muda berbadan tinggi masuk ke dalam ruanganku.


“Maaf nona Widel, saya tidak bermaksud membuat anda kaget. Saya Riko, asisten pribadi Tuan Devan, beliau sangat sibuk dan tak bisa meninggalkan pekerjaannya, karena itu saya diperintahkan kesini untuk menjaga anda dan membantu anda jika anda memerlukan sesuatu” kata pria itu dengan sedikit membungkuk.


Kenapa pria itu sampai harus menyuruh asisten pribadinya kesini ? Hmm.. bahkan Kak Reza tak melakukan itu padaku. Sebenarnya, aku jadi ragu, apakah Kak Reza benar-benar peduli padaku ?


“Oh begitu.. Baiklah Riko, terimakasih karena sudah datang kesini. Tapi seharusnya kau tak perlu sungkan begitu padaku, panggil saja aku Widel”


“Baiklah Widel”

__ADS_1


“Emm.. Riko.. bisakah kau menghubungi tuanmu, ada sesuatu yang ingin aku katakan padanya”


“Baiklah” Riko segera menghubungi Devan, dan langsung memberiku ponselnya begitu panggilannya tersambung.


“Ya kenapa Riko ?” sahut Devan cepat di seberang sana.


“Em.. a-aku Widel”


“Hm ? Kenapa Widel ?”


Ya Tuhan kenapa aku yang jadi deg degan begini ?


Kupejamkan mata dan mulai mengatur napasku sejenak sebelum aku membuka suara. “Begini Dev.. sebenarnya.... kau tak perlu sampai menyuruh asisten pribadimu untuk menjagaku. Aku baik-baik saja disini, ada perawat yang selalu datang untuk mengecek kondisiku. Kau tak perlu merasa bertanggung jawab karena masalah Wilona, aku juga sudah tak memikirkannya”


“Hm.. jadi kau menghubungiku hanya untuk mengatakan itu ? Tunggu pekerjaanku selesai, aku akan datang kesana”


Devan langsung memutuskan panggilan secara sepihak. Entah kenapa dari nada bicaranya dia terdengar marah saat aku mengatakan itu padanya.


Aku mengembalikan ponsel Riko “Ini.. terimakasih Riko”


***


Tepat jam 12 siang, Devan benar-benar datang mengunjungiku lagi kemari.


“Riko, keluarlah dan belikan makanan siang yang sehat untuk Widel” titahnya pada Riko saat ia mengambil kursi dan menyeretnya lebih dekat di sisi ranjangku.


“Baik Tuan” Riko mengangguk dan langsung keluar dari ruangan.

__ADS_1


Devan pun duduk dan mencondongkan badannya agar lebih dekat denganku lalu menatapku lekat-lekat. “Apa maksud ucapanmu tadi hm?”


Astaga... kenapa dia bertingkah seperti ini ? Kenapa kau selalu saja membuatku bingung dengan sikapmu Dev ?


“Iya.. maksudku kau tak perlu melakukan semua ini. Masalah Wilona, tenanglah.. aku sudah tak memikirkannya jadi kau tak perlu merasa bertanggung jawab seperti itu. Lagipula..”


“Ssstt.. ” Devan menyentuh bibirku dengan telunjuknya membuatku terdiam, lalu menangkupkan tangannya di pipiku. Tatapannya sangat dalam membuat jantungku kembali berdetak tak terkendali.


“... Widel.. Apa sampai saat ini kau masih belum mengerti juga ?” tanyanya dengan nada serius.


“Mengerti apa ? Dev, tolong jangan seperti ini padaku. Kau membuatku bingung.” Aku berusaha melepaskan telapak tangannya yang menempel di pipiku, namun cengkramannya ternyata terlalu kuat untuk bisa kulepaskan.


“Apa yang kau bingungkan hm?” dia menaikkan alisnya sebelah seakan mencoba mencari jawaban dari dalam mataku. “Baiklah, kalau begitu aku akan membuatmu mengerti” sambungnya.


Dia menarik wajahku, memiringkan kepalanya dan menahan tengkukku dengan kedua tangannya. Aku terdiam sesaat, mataku membulat penuh ketika tersadar sesuatu benda yang lembut dan hangat telah menyentuh bibirku. Dia menciumku dengan penuh kelembutan, berbeda dengan saat pertama kali dia menciumku. Tanganku berusaha mendorong dadanya, namun kondisiku yang lemah sangat tak sebanding dengan tenaganya yang bahkan tak begitu kuat menahanku, sehingga aku pun tak bisa menolaknya.


Suatu gejolak dari dalam jiwaku seakan berkecamuk saling membunuh antara logika dan hatiku yang sangat bertolak belakang membentuk buliran air bening yang terkumpul di pelupuk mataku. Kupejamkan mataku bersamaan dengan jatuhnya air dari sudut mataku. Dia menggigit kecil bibir bawahku berusaha untuk membuka mulutku. Seakan tersetrum oleh sengatan listrik ketika merasakan lidahnya masuk ke dalam mulutku dan membelit lidahku dengan lembut. Suatu sensasi baru yang pertama kali kurasakan, begitu nikmat dan hangat. Aku memegang tengkuknya dan mulai mengikuti ciumannya, saling melumat dan memagut satu sama lain. Entah bertahan berapa lama, ciuman ini seakan menyihirku.


5 menit.


10 menit.


Sampai akhirnya dia melepaskan ciumannya membuat nafas kami berdua terengah-engah. Mataku yang terpejam kini terbuka perlahan, merasakan hangat nafasnya yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahku. Kulihat senyum terukir di wajahnya dengan sangat manis.


“I love you” bisiknya tepat di atas wajahku lalu kembali melumat bibirku.


Entah apa yang ada dalam benakku saat ini, aku bahkan tak menolaknya sama sekali, dan yang lebih anehnya lagi aku merasa bahagia karenanya.

__ADS_1


__ADS_2