
Devan keluar dari ruangannya, ia menitip pesan pada karyawan yang berjaga-jaga untuk menerima pesanan. “Oh ya, karyawan yang bernama Widel dilarang untuk mengantar pesanan ya. Dia hanya boleh melayani pelanggan dalam restoran saja. Juga, jangan suruh yang berat-berat”
“Baik Tuan” sahut karyawan itu yang kebetulan adalah Rina sendiri. Ia memang bertugas untuk menerima pesanan dari luar restoran.
Setelah bosnya itu pergi, keningnya semakin berkerut. Matanya sibuk mencari-cari Widel, namun orang yang dicarinya itu malah tak menampakkan batang hidungnya sedikit pun.
“Apa Widel belum keluar juga dari ruangan bos ? Kenapa begitu ? Tuan Devan kan sudah pergi” gumamnya dalam hati.
“Wah wah... Ada yang tidak benar ini. Pasti kecurigaanku benar. Pasti ada sesuatu di antara mereka berdua” ucap Rina bermonolog sambil mengangguk-nganggukkan kepalanya.
Di dalam ruangan CEO, Widel hanya bermondar-mandir tak jelas.
“Siang nanti jangan lupa makan” ucap Widel meniru perkataan Devan.
“Aduuhh.. Bisa gila aku, begini terus” katanya lagi yang seperti berteriak kecil seakan meluapkan sesuatu dari dalam hatinya.
“Apa pria itu benar-benar sudah pergi ?” Widel berjalan membuka pintu dengan sedikit, melihat-lihat keadaan luar. Merasa cukup aman, ia pun keluar dari ruangan Devan, dan berjalan dengan penuh hati-hati sambil melihat ke kiri dan ke kanan. Ia pun bernapas lega ketika tak melihat bos barunya itu.
Widel berjalan menghampiri Rina. “Rin, apa ada pesanan yang perlu kuantar ?” Tanyanya yang keras kepala tak mematuhi perintah Devan.
Rina menggelengkan kepalanya. Ia malah menaikkan alisnya menatap Widel dengan tatapan penuh kecurigaan. “Jujur saja padaku Widel. Aku sudah mengetahui semuanya. Tuan Devan sendiri yang mengatakannya padaku tadi sebelum pergi. Beliau juga menitip pesan padaku, dan semuanya tentang kamu.” Ucap Rina diselingi kebohongan kecil yang seolah-olah memang telah mengetahui hubungan di antara Widel dan Devan. Ia melakukan itu agar Widel terjebak dan akhirnya mengatakan yang sejujurnya padanya.
Widel membulatkan matanya, hendak berbicara tapi diurungkannya. Ia memikirkan perkataan temannya yang satu ini apakah benar, atau hanya kebohongan belaka. “Oh ya, tadi Tuan Devan menitip pesan apa padamu ?” Tanya Widel yang ingin mengetahui apakah Devan benar-benar menitipkan pesan padanya. Kalau benar, apa ia juga mengatakan hal yang tidak-tidak pada Rina ? Tapi itu tidak mungkin, untuk apa juga pria itu mengatakannya pada Rina.
Rina tak mau mengalah. Ia tetap akan membuat Widel jujur sendiri padanya. “Tuan Devan yang tampan itu menitip pesan padaku, bahwa perempuan yang bernama Widelia Syaqilla, dilarang untuk mengantar pesanan, dan juga dilarang untuk bekerja yang berat-berat, ia hanya boleh melayani pelanggan dalam restoran saja. Itu pesan beliau padaku.”
“Benar, Tuan Devan mengatakan itu juga padaku. Apa ia mengatakan sesuatu yang lain lagi pada Rina ?” batin Widel. Ia mulai merasa sedikit gelisah.
“Apa lagi yang beliau katakan ?” Tanya Widel sedikit berbisik.
Rina menyunggingkan senyumnya. “Kau yakin, aku akan mengatakannya di sini ? Nanti semua orang mendengarnya” pancing Rina.
Widel diam sejenak, mencari kebenaran dalam mata Rina.
“Baiklah kalau kau mau aku mengatakannya di sini. Tuan Devan bilang dia--”
“Eh-eh. Jangan berbicara besar-besar... berbisik saja...” bisik Widel yang tiba-tiba menutup mulut Rina. Nampak kekhawatiran di wajah Widel.
Rina tersenyum. “Memang ada sesuatu” batinnya.
Rina menaikkan satu alisnya menatap Widel. “Kenapa harus berbisik ? Memang apa yang akan kukatakan ?” Tanya Rina membuat Widel seketika tersadar kalau ia telah masuk ke jebakan Rina.
“Memang bahaya memiliki teman seperti Rina ini” gumam Widel dalam hati.
Widel berdehem dan memperbaiki raut wajahnya. ”Tidak ada. Aku akan melayani pelanggan dulu” ucapnya hendak pergi namun dicekal oleh Rina.
__ADS_1
“Hayo, tidak usah berbohong atau menyembunyikannya lagi Widel. Kau tahu feelingku tidak pernah salah. Kalian ada hubungan apa ? Bicaralah padaku, aku janji tidak akan mengatakannya pada siapapun”
“Aku harus bekerja, nanti saja kita berbicara lagi” kata Widel berlalu pergi untuk melayani pelanggan yang terlihat baru datang ke restoran.
*****
Devan menuju ke gedung perusahaannya ‘DL Group’, untuk mengecek segala sesuatu di sana, sebab ia sudah meninggalkan kantornya cukup lama. Setelah dari London, tiba sekitar tengah malam, dan paginya ia harus menyelesaikan perjanjian jual beli bersama Ervin, lalu langsung ke restoran setelahnya. Sekarang, pukul sepuluh pagi baru bisa kembali ke kantornya.
Sekitar empat puluh menit perjalanan dari restoran, akhirnya ia pun sampai ke depan pintu masuk utama DL Group. Seperti biasa, semua orang akan menyambutnya, menyapanya dan membungkukkan badan sejenak, sebagai bentuk rasa hormat mereka. Devan berlalu dan langsung masuk ke lift khusus eksekutif, menuju ke lantai 66 dimana ruangannya berada.
Belum lama duduk di kursi kerjanya, Riko datang membawakannya informasi.
“Tuan, saya sudah menyelidiki wanita yang bernama Xena. Ia ternyata tidak ada sangkut pautnya dengan ayahnya ketika berada di London, sebab wanita itu juga diam-diam ke sana tanpa sepengetahuan ayahnya.”
Devan mengangguk-nganggukan kepalanya seperti berpikir. “Benarkah seperti itu ?”
“Iya Tuan”
“Hmmm, pantau terus wanita itu.”
*****
Di restoran, sekitar pukul 11.00 sampai dengan pukul 13.00 adalah waktu-waktu yang sangat disibukkan, sebab banyak pelanggan yang datang untuk makan siang. Widel dengan sigap berjalan ke meja satu lalu ke meja yang lainnya untuk mencatat pesanan dan keinginan pelanggan. Sibuk bolak-balik, dan juga mengantarkan pesanan yang sudah siap dihidangkan ke meja-meja. Belum lagi terkadang ada pelanggan yang cerewet, minta ini minta itu, membuat betisnya serasa mau pecah saja.
“Widel, meja nomor dua belas memanggil” teriak Melda.
Widel mengelap peluh yang mengalir di pelipisnya, lalu berlari dengan langkah kecil menghampiri meja tersebut. “Kak Reza ? Tumben makan siang di sini ?” ucap Widel ketika matanya mengenali orang yang sekarang berada di depannya, sedang duduk sendiri di meja nomor dua belas itu.
Reza tersenyum. “Iya, aku ingin makan siang denganmu. Bolehkah ?”
“Emm.. Tapi kak.. aku sekarang lagi sangat sibuk. Ini masih jam kerjaku kak Reza”
Reza memegang tangan Widel. “Kumohon. Kau bisa minta temanmu menggantikanmu dulu” ucapnya dengan wajah penuh permohonan.
“Tapi kak ?” Widel menoleh ke sekeliling restoran yang masih padat pengunjung. Tidak mungkin ia menyuruh temannya menggantikan dirinya sementara suasana restoran lagi padat-padatnya.
“Sebentar saja. Aku sudah membantumu menyelesaikan skripsimu. Apa kau tidak mau menerima permintaan kecilku ini ?”
Widel diam sejenak berpikir dengan wajah yang tidak enak hati. Memang benar juga kata Reza, selama ini pria itu telah banyak membantunya. Masa sih, hanya permintaan kecil seperti ini ia menolaknya juga. Bukankah itu sangat kejam pada Reza ?
Dengan berat hati, akhirnya Widel mengiyakan. Ia segera ke belakang untuk meminta tolong pada temannya untuk menggantikannya sebentar saja. Setelah itu, ia kembali ke meja dimana Reza berada.
Widel duduk berhadapan dengan Reza lalu menggeserkan menu makanan pada pria itu. “Mau pesan apa kak ?”
“Aku pesan Smokey Ribs, minumannya Fruit Tea saja. Kamu mau pesan apa ?”
__ADS_1
“Sama dengan yang kak Reza pesan saja” sahut Widel tersenyum, sebab bingung jika harus memilih makanan di sini. Harganya saja bisa membuat matanya melotot, jadi sebaiknya ikut pesanan Reza saja.
Reza tersenyum. Widel pun ke belakang sebentar, mengantarkan catatan pesanan milik meja nomor dua belas yang tak lain adalah pesanan mereka sendiri.
Dari jauh, Reza memperhatikan Widel yang berjalan, baru kembali dari mengantarkan catatan pesanan. Tampak Widel yang tertawa bercanda dengan temannya yang kebetulan saling berlewatan dengannya. Reza memandanginya sambil tersenyum, hingga Widel pun akhirnya sudah duduk kembali di depannya.
“Tiba-tiba sekali kak, mengajak aku makan siang di sini, pas jam kerja lagi” ucap Widel yang memulai pembicaraan.
Reza hanya terkekeh. “Aku merindukanmu. Apa tidak boleh ?” sahutnya yang seolah bercanda, tak ingin terlalu serius, sebab ia tak ingin membuat Widel langsung merasa tak nyaman.
Widel tersenyum tipis, lalu memukul pelan kepala Reza. “Tidak usah gombal”
Reza tertawa kecil. Mereka berdua berbicara ringan sampai akhirnya makanan yang dipesan pun datang. Widel yang memang merasa lapar kala itu, menjadi ngiler melihat makanan yang di sajikan begitu cantik dan harumnya makanan yang begitu menggiurkan.
“I-ini kak Reza traktir kan ?” Tanya Widel tanpa melihat Reza. Matanya terus menatap makanan yang terlihat lezat itu. Ia hanya ingin memastikan, jangan sampai Reza setelah ini akan meminta bayaran darinya.
Reza terkekeh melihat tingkah Widel yang kalau melihat makanan seperti itu. Widel, ialah seorang gadis yang selalu saja tidak sungkan jika dihadapkan dengan makanan. Terlihat kampungan, seperti tidak pernah melihat makanan mewah, biarlah apapun yang orang lain katakan, Widel tak pernah peduli. Ia akan selalu menghargai makanan, apapun itu. Karena ia selalu berpikir, banyak orang di luar sana yang bahkan tak mampu untuk makan.
Setelah mereka menghabiskan makanannya, akhirnya Reza mulai berbicara. “Widel, apa kau sudah bertemu dengan Devan ?”
Widel terdiam sejenak dan menganggukkan kepalanya. Ia jadi teringat pada Reza yang melarangnya untuk tidak datang bekerja hari ini, dan juga menyuruh Widel untuk resign lalu bekerja dengan Reza saja. Mungkin inilah alasannya, pikir Widel.
“Apa.. kau.. baik-baik saja ?” Tanya Reza sambil membaca ekspresi Widel dengan seksama. Melihat perubahan yang ada pada raut wajah Widel. “Dia tidak melakukan apapun padamu kan ?”
Widel hanya diam dan mengembuskan napasnya. “Tidak kak. Apa yang kak Reza khawatirkan ?”
“Ah,, ti-tidak ada” Jawab Reza cepat.
“Widel... Apa... kau tidak ingin bekerja di perusahaanku ? Kebetulan sekretarisku beberapa hari yang lalu mengundurkan diri, jadi.. sekarang posisi itu lagi kosong. Kerjaannya pun tidak berat. Apa kau mau ?” sambungnya. Sebenarnya ia berbohong kalau sekretarisnya mengundurkan diri beberapa hari yang lalu. Faktanya, posisi itu tidaklah kosong, sekretarisnya masih bekerja dengannya. Ia berencana akan langsung memecat sekretarisnya itu, jika Widel mau menerima tawarannya.
Reza menatap Widel penuh selidik, membaca raut wajah Widel, apakah akan menerima tawarannya atau tidak. Melihat Widel yang masih diam, ia pun berbicara lagi. “Coba pikirkanlah Widel, sebentar lagi kuliahmu akan selesai. Tinggal menunggu wisuda saja. Apa kau mau, bekerja seperti ini terus ? Tidakkah kau mau bekerja yang lebih baik dengan gaji yang tinggi ?”
Benar juga sebenarnya yang dikatakan oleh Reza. Sampai kapan ia akan bekerja dengan pekerjaan yang berat seperti ini ? Bukankah itu tawaran yang menarik ? Lagipula ia sudah mengenal Reza lumayan lama. Reza adalah lelaki yang baik. Widel berpikir lama, penuh pertimbangan.
“A-aku..” Widel memainkan kukunya ketika ia sedang bingung.
“Maaf Tuan Reza, karyawanku harus kembali bekerja”. Ucap seseorang dengan tiba-tiba yang tak lain adalah Devan yang baru saja kembali dari perusahaannya. Sejak matanya menangkap sosok gadis yang dicarinya sedang berbicara dengan pria yang tentu saja tak disukainya itu, dengan langkah cepat ia langsung menghampiri gadis itu dan menarik tangannya menjauh dari Reza.
Bersambung...
**Ini aku publishnya jam 10 malam WITA, tidak tahu akan di konfirmasi oleh pihak MTnya jadi terupdate jam berapa.
Sebenarnya aku sudah lelah sekali, malas update hari ini. Terlalu banyak kesibukan. Tapi, aku teringat pada pembaca-pembaca setiaku, orang-orang yang selalu beri like dan jejak pada novelku yang mungkin tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan novel yang lain. Hehehe maklum, aku bukan lulusan sastrawan atau bahasa. Hanya seorang gadis biasa yang terkadang penuh imajinasi.
Aku sangat senang, dari yang tidak ada vote sama sekali, jadi tiap hari semakin bertambah orang yang vote. Terimakasih banyak ya atas penghargaan kalian pada karyaku ini. Hehehe.. tetap vote terus ya , like dan komen jika berkenan. Terimakasih😁😁**
__ADS_1