
Syukurlah mereka tak mengejarku sampai sejauh ini.
Kubungkukkan badanku sambil memegang kedua lututku. Napasku tersengal-sengal. Aku hampir kehabisan napas.
Mereka cepat juga larinya.
Setelah jantungku mulai memompa dengan normal, aku pun hendak melanjutkan langkahku untuk sampai ke tempat parkiran motor agar segera pergi dari sini, namun deringan ponsel dari dalam tas kecilku membuatku berdecak.
Sial! Pasti mereka menghubungiku.
Benar saja, tebakanku benar. Rina yang menghubungiku. Dengan cepat aku mematikan ponselku agar tak mendapat gangguan dari mereka semua. Saat ini aku tak ingin mendengar pertanyaan apapun, aku harus kabur dulu sekarang, nanti baru cari tahu solusinya bagaimana, apa yang harus kujelaskan pada mereka nanti.
*****
AUTHOR POV
“Kau benar-benar kenal dengan wanita tadi ?” Tanya Xena pada Devan, menanyakan tentang gadis yang tiba-tiba sok kenal itu.
Devan hanya terkekeh. “Iya.. aku juga baru ingat” ucap Devan sambil mengingat kala itu.
Untuk diketahui, Rina, Melda, Adel, dan juga Febby, masih belum kembali setelah mengejar Widel, entah mereka sedang berada di mana saat ini.
“Oh ya kamu mau pesan apa Dev ?” Tanya Xena tak ingin membahas orang-orang itu lagi. Ia malas membahas topik yang ada sangkut pautnya dengan Widel.
Devan masih terkekeh, senang sekali rasanya mengerjai gadis mungil itu. Ia sebenarnya tahu, maksud dari tatapan dan gelengan kepala Widel yang ditujukan padanya. Gadis itu ingin merahasiakan hubungan antara mereka berdua dari teman-temannya. Tapi, Devan tidak mengerti kenapa Widel ingin menyembunyikannya ? Toh, tidak ada hubungan resmi apa-apa diantara mereka, hanyalah dua manusia yang saling mengenal, dan saling menyukai. ‘Saling menyukai ?’ Devan tertawa kecil dengan pikirannya sendiri, sementara ia masih dalam proses memastikan perasaan Widel padanya.
Menurut Devan, tidak ada salahnya jika teman-teman Widel tahu jika mereka berdua saling mengenal bahkan sebelum ia menjadi bos di restoran tempat mereka bekerja itu.
“Devan ?” panggil Xena karena lelaki di depannya itu sepertinya tidak mendengarkannya, hanya tertawa dengan pikirannya sendiri.
“Hmm ?” gumam Devan baru tersadar dari lamunannya. “Ada apa ?”
“Mau pesan apa ?” Tanya Xena sekali lagi. Sebenarnya ia jadi malas untuk makan di restoran ini karena ada teman-teman Widel yang mungkin saja akan mengganggu lagi. Tapi, karena sudah terlanjur duduk dan sudah buka-buka buku menu dari tadi, malu rasanya kalau tiba-tiba pergi dari restoran ini.
“Oooh.. aku ingin pasta saja” jawab Devan seadanya.
---
Melda, Rina, Adel, maupun Febby masih terduduk di tengah keramaian Mall dengan napas yang ngos-ngosan.
“Aiss.. Bisa-bisanya Widel meninggalkanku di sini. Aku pulang bagaimana nanti ?” gerutu Febby sambil menghentak-hentakkan kakinya di lantai dengan wajah yang cemberut.
“Kamu tidak bawa motor tadi ya ?” Tanya Melda.
“Iya. Motorku kutinggal di rumah Widel tadi” Jawab Febby.
__ADS_1
“Nanti nebeng sama aku saja pas pulang, aku antar sampai rumah Widel, lagipula searah kok” sahut Rina.
“Makasih ya Rin” ucap Febby merasa lega, setidaknya pulang nanti ia tidak mengeluarkan ongkos lagi.
Setelah menenangkan diri, mereka pun berjalan kembali menuju restoran tadi. Rina sengaja berjalan di belakang berdua dengan Febby saja, karena jiwa keponya masih menguasai pikirannya.
“Feb, jadi benar yang kau katakan tadi Feb ? Kau ketemu Tuan Devan di dalam kamar Widel ? dan Tuan Devan lagi sembunyi dalam lemari waktu itu ? Bagaimana ceritanya ?” Tanya Rina pelan pada Febby.
Febby menganggukkan kepalanya. “I-iya Rin, tapi mereka tidak ada hubungan apa-apa kok. Karena waktu itu, Widel sudah punya pacar lain. Kata Widel, Devan itu adalah temannya saja”
“Teman kok diajak ke kamar ? Kenapa sembunyi dalam lemari juga kan ? Ada yang tidak beres nih sama Widel” batin Rina.
“Ngomong-ngomong, jadi Devan itu adalah bos kalian ? Bukannya setahuku, nama bosnya itu Pak Ervin ya ?” Tanya Febby memastikan pikirannya yang mengganggu, karena sebelumnya Rina mengatakan kalau Devan itu bos mereka. Padahal seingatnya, Widel sering kali bercerita padanya setiap kali dimarahi Pak Ervin--bosnya. Ia tak tahu kalau Devan, pria yang ia kenal waktu itu adalah seorang bos ? dan sepertinya Devan bukanlah orang sembarangan karena tadi ia sempat melihat paparazi disekeliling pria itu sebelum masuk ke restoran. Kalau begitu, ia jadi merasa segan sama pria yang bernama Devan itu.
Rina menoleh. “Iya Feb, jadi Tuan Devan itu bos baru kita, baru seminggu-an kayaknya menggantikan Pak Ervin”
“Oohh.. jadi begitu ya”
“Feb, ceritakan jelasnya dong, bagaimana kejadiannya waktu itu ? Aku penasaran sekali soalnya, orang kayak Tuan Devan bisa ada di kamar Widel, apalagi sembunyi dalam lemari. Ada apa coba, iya kan ?”
Febby menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum pelik. Ia bingung apakah ia harus menceritakannya atau tidak.
“Kamu bisa percaya sama aku Feb, aku teman dekat Widel juga kok. Aku hanya penasaran. Ayo cerita dong” ucap Rina lagi karena Febby sepertinya ragu-ragu untuk bercerita padanya.
Jadi, perlu untuk diketahui, meja yang Devan tempati itu terpaut dua meja dari meja yang ditempati teman-teman Widel.
“Cerita dong Feb, nanti aku traktir deh makananmu hari ini” ucap Rina berbisik pada Febby setelah duduk kembali di kursi meja makan mereka.
“Oke deh, tapi makan dulu ya, habis ini aku pura-pura ke toilet, nanti kita cerita di sana. Oke ?” ucap Febby sambil berbisik. Ia senang mendapat traktiran tiba-tiba malam ini.
“Oke” sahut Rina dengan tersenyum lebar lalu menikmati makanan di piringnya yang telah disajikan oleh pelayan restoran.
“Bisik-bisik apa sih kalian ?” Tanya Melda yang memperhatikan Rina dan Febby sejak tadi.
“Tidak ada, Febby hanya bercerita tentang pria tampan” jawab Rina asal.
---
40 menit kemudian - Di koridor depan toilet
“Jadi gimana Feb ?” Tanya Rina tak sabar dengan penjelasan Febby.
“Jadi begini ceritanya... Pagi itu, aku habis dari pasar, singgah ke rumah Widel...” ucap Febby mulai bercerita. Suasana di koridor depan toilet waktu itu lagi sepi, jadi kala itu adalah waktu yang pas untuk bercerita. Rina mendengarkan dengan seksama.
Saat itu, kebetulan sekali, Devan yang hendak keluar dari toilet laki-laki, tiba-tiba mendengar nama Widel disebut, akhirnya menjadi penasaran dengan orang yang bercerita di koridor depan toilet itu. Ia pun mengintip sedikit, untung saja posisi dua orang wanita yang sedang bercerita itu sedang membelakangi dirinya. Sungguh baru kali ini, ia menjadi tukang nguping seperti ini.
__ADS_1
“Karena aku tiba-tiba kebelet pipis, jadi aku numpang lah di kamar mandi dalam kamar Widel” lanjut Febby.
“Terus terus ?” Rina semakin tidak sabar.
“Iya, setelah itu aku bercerita sedikit sama Widel dalam kamarnya. Eh pas lagi bercerita, tiba-tiba ada suara orang bersin, yang aku yakini waktu itu adalah suara seorang laki-laki. Tapi Widel bilang itu adalah suara kucing di depan rumahnya. Aneh bukan ?”
Rina mengangguk dengan alis mengkerut karena semakin curiga. Sementara Devan yang lagi mendengarkan diam-diam, menjadi semakin ingin tahu lebih, sebab ia merasa tahu cerita itu pastilah menyangkut dirinya.
“Nah, pertama kali, aku coba abaikan suara itu, tapi tiba-tiba ada suara bersin lagi. Suaranya itu dekat sekali, aku yakin asalnya dari dalam lemari pakaian Widel. Jadi aku dekatilah lemari itu, dan waktu aku buka.. itu agak susah seperti tertahan dari dalam. Lalu tiba-tiba...”
“Tiba-tiba apa ?” sahut Rina.
“Tiba-tiba seorang laki-laki yang sangat tampan keluar dari dalam lemari itu. Bisa kau bayangkan Rin, betapa kagetnya aku waktu itu ? Nah, disaat itu lah, aku tanya pada Widel tentang siapa lelaki itu, pacarnya kah atau bukan ? Tapi Widel bilang lelaki itu bukanlah pacarnya, melainkan temannya. Disitulah Widel mengenalkanku pada Devan”
Devan menahan tawanya ketika mendengar hal itu, sebab ia jadi teringat akan kejadian yang sangat memalukan itu.
“Widel saat itu, memang kuketahui tidak pernah menjalin hubungan apapun dengan seorang laki-laki. Jadi, saat kudengar pria itu hanyalah temannya, aku curiga. Aku coba tanyalah tentang status kejombloannya waktu itu, karena bisa saja Widel ternyata sudah punya pacar tapi malu untuk bercerita padaku” lanjut Febby.
Rina masih fokus mendengarkannya. “Terus intinya ?” ucap Rina tak sabar karena merasa mereka sudah cukup lama berada di sana, nanti yang lain pada curiga.
“Ternyata waktu itu Widel sudah berpacaran dengan Reza Adhitama, kakak senior kami waktu di kampus yang telah lulus dua tahun yang lalu. Sumpah jadi tambah kaget aku waktu itu, bisa kau bayangkan Rin ? Widel, gadis yang tidak pernah menjalani hubungan dengan laki-laki eh tiba-tiba berpacaran dengan idola kampus kita ? Wah sungguh berita besar” ucap Febby dengan hebohnya.
Mata Rina membulat. “Reza mantannya itu ?”
Devan terkejut mendengarnya. Mantan ? Jadi ?. Ia sudah menduga ketika ia tak melihat cincin itu di jari Widel. Devan pun tersenyum merasa senang.
“Apa ? Mantan ? Jadi mereka sudah putus ?” Tanya Febby sama terkejutnya dengan Devan karena jujur saja ia tak tahu hal itu sama sekali.
Rina menganggukkan kepalanya. “Iya Feb, Widel sendiri yang bilang padaku kalau mereka tidak ada hubungan apa-apa lagi. Memangnya kamu baru tahu ya ?”
“Awas kamu ya Widel, hal seperti ini kamu malah tidak cerita sama aku” gerutu Febby dalam hati.
“Iya Rin, aku baru tahu. Widel tidak pernah cerita itu ke aku” sahut Febby.
“Wah, kalau begitu, apa mungkin waktu itu Widel berselingkuh dengan Tuan Devan ?” ucap Rina curiga.
Mendengar hal itu membuat Devan hampir saja tertawa namun segera ditahannya.
“Aneh saja kan, orang seperti Tuan Devan tiba-tiba ada dalam lemari pakaian Widel ?” sambung Rina.
“Tidak mungkin lah Rina, Widel bukan orang seperti itu. Tapi ya memang aneh sih” bantah Febby.
“Ayok lah kita kembali ke meja, nanti urusan itu kita tanya pada Widel langsung. Teman yang lain mungkin sudah lama menunggu kita” ajak Rina dan berlalu pergi bersama Febby.
Bersambung...
__ADS_1