I'M Crazy About You

I'M Crazy About You
Episode 55 - Rencana Widel


__ADS_3

WIDEL POV


Lama-lama aku merasa bingung, kenapa aku harus bertahan di restoran ini ? Setiap harinya, aku melihat wajahnya, aku melihat kemesraannya dengan wanita lain. Tidak kupungkiri, aku memang sudah jatuh cinta pada lelaki itu, lelaki yang dengan susah payah aku usir dari dalam hatiku. Aku tidak menginginkan perasaan ini, namun kenapa perasaan ini tidak musnah ? Aku merasa tersiksa untuk setiap detik dan menit setiap kali melihatnya. Aku pun entah kenapa menjadi sangat bodoh, sudah tahu dia menjadi bos baruku, namun aku masih tetap bertahan di sini. Aku terus membiarkannya berada di dekatku. Seharusnya aku berhenti sejak saat itu. Bukannya aku ingin jauh darinya ? Bukannya aku ingin menghapusnya dari hatiku ? Tapi kenapa selalu saja ingin melihatnya ? Pikiranku sudah menjadi tumpul karena cinta yang bodoh ini. Sekarang kau tahu kan rasanya Widel ? perih, menyakitkan, dan tersiksa setiap waktunya.


Sementara di sisi lain, ada Kak Reza yang sangat tulus kepadaku. Aku tahu ia mencintaiku. Ia begitu baik dan sabar terhadap diriku. Namun kenapa, hati ini tetap tak bisa menerimanya ? Oh Tuhan... Harusnya aku langsung menerima tawaran pekerjaan darinya waktu itu. Aku sungguh terlalu tinggi hati terhadapnya.


“Widel kok malah melamun ?” Tegur salah seorang karyawan yang bekerja di bagian dapur. Aku sedang bantu mencuci piring, tapi malah tak sadar sedang melamun, membuat air mengalir terbuang-buang begitu saja dari keran.


“Oh.. i-iya maaf”


Setelah selesai mencuci piring, aku pergi ke toilet sebentar karena sudah kebelet, sekalian setelah itu aku juga ingin membasuh mukaku. Tidak tahu sudah sekusut apa wajahku sekarang ini.


Saat aku sedang duduk di closet duduk, pikiranku terngiang-ngiang mengingat kembali tawaran pekerjaan oleh Kak Reza.


‘Widel... Apa... kau tidak ingin bekerja di perusahaanku ? Kebetulan sekretarisku beberapa hari yang lalu mengundurkan diri, jadi.. sekarang posisi itu lagi kosong’


Aku terus menatap kontak Kak Reza di layar ponselku, berpikir apakah harus aku menghubungi Kak Reza menanyakan pekerjaan itu kembali ? Tapi itu sudah seminggu yang lalu.


Dengan ragu, akhirnya aku memutuskan untuk mengirim pesan saja.


Widel :


Hi Kak Reza, maaf aku mau bertanya tentang lowongan pekerjaan yang Kakak bilang minggu lalu padaku. Apakah masih ada ?


(terkirim)


Baru saja aku mengunci layar ponselku, getaran ponselku menandakan notifikasi pesan masuk. Ternyata pesanku begitu cepat langsung dibalas oleh Kak Reza.


Kak Reza :


Iya masih Widel. Ada apa ? Apa kau berminat ?


Jantungku agak berdegup kencang saat melihat balasan pesan dari Kak Reza. Apakah sudah saatnya aku resign ?


Tarik napas.


Hembuskan.


Tarik napas.


Hembuskan.


Setelah memantapkan hatiku, aku membalas pesannya.


Widel :


Iya kak, aku berminat.


(Terkirim)


Mudah-mudahan tindakanku ini sudah benar.


Kak Reza :


Baiklah kalau begitu, besok pagi pukul sembilan kau bisa datang membawa dokumen-dokumenmu padaku sekalian saja langsung interview. Aku tunggu.


Widel :


Baik kak. Terimakasih.

__ADS_1


(Terkirim)


Besok ? Jam sembilan pagi ?


Aku agak merasa terlalu cepat. Bahkan aku belum menyiapkan surat pengunduran diriku.


Berarti besok pagi-pagi sekali, aku harus ke restoran terlebih dulu untuk menyerahkan surat pengunduran diri lalu pulang bersiap-siap untuk interview di kantor Kak Reza.


Tok Tok Tok


“Hey, apa kau masih lama di dalam ?” Suara seseorang meneriaku dari luar bilik toilet. Mungkin karena aku sudah terlalu lama di dalam sini.


“Oh i-iya. Maaf” sahutku lalu langsung bergegas keluar dari bilik toilet. Kusempatkan diri untuk mencuci mukaku yang kusut lalu segera kembali bekerja, mungkin untuk terakhir kalinya aku di sini.


---


Waktu terasa berjalan lama, sekarang masih pukul setengah sepuluh pagi. Aku sudah melayani beberapa pelanggan yang datang. Weekday seperti ini, restoran tidak terlalu ramai. Hanya beberapa saja, membuatku merasa sedikit bosan karena tidak banyak yang kukerjakan, hanya lebih banyak berdiri dan duduk.


Hari ini, untuk terakhir kalinya, aku ingin keluar mengantarkan pesanan biar hanya sekali saja, apakah boleh ? Haruskah aku meminta izin pada Tuan Devan ? Hmm.. Mungkin dia lagi bermesraan berdua di dalam ruangan kerjanya.


Aku berdiri di depan pintu ruangan CEO, mengembuskan napas berkali-kali sebelum akhirnya aku memutuskan untuk mengetuk pintu itu. Tuan Devan menyahut dari dalam menyuruhku untuk masuk. Dengan jantung yang berdegup tak beraturan, kulangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam ruangannya. Nona Xena, wanita cantik itu sedang duduk berhadapan di meja kerja Tuan Devan. Ia langsung menoleh padaku dengan pandangan yang sulit kuartikan.


“Ada apa ?” Tanya Devan datar.


“Ehem.. Tu-tuan.. Bisakah aku mengantarkan pesanan hari ini ? Lagipula restoran juga sedang tidak ramai”


“Kenapa ? Apakah kita kekurangan kurir hingga harus kau yang antar ?” jawabnya.


“Sudah biarkan saja sayang” Sahut Xena yang tiba-tiba berdiri dan berpindah duduk di pangkuan Devan sembari bergelayut manja.


“Baiklah kalau kau bilang begitu sayang” jawab Devan sambil mengelus pipi wanita cantik itu.


Kutundukkan wajahku ketika kurasa ada yang berubah dari mimik wajahku. Hahah.. hatiku seperti tercubit lagi. Andai aku bisa seperti orang lain yang bisa menyembunyikan apa yang sedang kurasakan, tetap tersenyum walau ingin menangis. Namun, aku tak bisa seperti itu. Kurasa aku memang harus berhenti dari sini, agar aku bisa menata hatiku yang sudah tidak wajar ini.


“Baiklah kau kuizinkan” Kata Devan padaku.


“Terimakasih Tuan” jawabku tanpa memandang wajahnya, terus menunduk, membungkuk, lalu segera pergi dari ruangan itu.


Aku memandang Rina dari kejauhan, sambil terus melangkah menghampirinya.


“Rina, apakah ada pesanan yang bisa aku antar ?” Tanyaku padanya.


Rina mengernyit menatapku. “Kau kan tidak-”


“Aku sudah mendapatkan izin dari Tuan Devan, jadi tidak masalah” Aku memotong perkataannya sudah tahu apa yang akan ia bilang padaku.


“Hmm.. baiklah kalau begitu, kebetulan ada yang baru memesan, kau bisa langsung mengantarnya. Ini alamatnya” jawabnya.


“Terimakasih Rina. Kalau begitu aku pergi sekarang”


*****


DEVAN POV


Kenapa gadis itu hanya diam saja ? Apa caraku ini sia-sia ?


“Minggirlah, ingat kita hanya berpura-pura di depan Widel dan di depan banyak orang” ucapku dingin, sambil mendorong wanita itu yang masih duduk di pangkuanku dengan santainya.


Aku berdiri dan memakai jasku kembali. “Aku akan kembali ke kantorku. Kau ikut denganku biar kuantar kau pulang”

__ADS_1


“Hmm.. Kenapa susah sekali membuka hatimu padaku ? Semua kulakukan untukmu, tidak bisakah kau bersikap baik sedikit saja padaku ?” ucap Xena sambil mengerucutkan bibirnya.


Kuhembuskan napasku merasa lelah dengan sandiwara ini. “Baiklah, ayo. Pegang tanganku, kita akan berakting lagi” ucapku lalu membawanya keluar dari ruanganku.


Berapa lama lagi aku harus berpura-pura seperti ini ?


Aku berjalan melewati beberapa karyawan yang langsung menundukkan pandangannya sedikit. Kami berakting begitu mesra seperti layaknya sepasang kekasih. Aku ingin tertawa, dengan semua yang kulakukan ini. Bahkan aku sampai melakukan hal begini demi gadis itu. Entah harus bagaimana lagi, agar gadis bodoh itu mengerti.


Kami masuk ke mobil dan sandiwara ini pun berakhir.


*****


DL Group – pukul ~~~~11.15


“Tuan Devan, sepertinya anda harus kembali ke London. Kita tidak bisa menunggu lagi, Charles Wilkinson terus saja bertindak” ucap Riko.


Aku memijit pelipisku.


Shit! Apakah semua yang kulakukan hanyalah sebuah kesia-siaan ?


“Baiklah, kau akan ikut denganku. Kita akan bersiap untuk berangkat siang ini juga” jawabku.


“Baik Tuan”


Aku berdiri dari meja kerjaku, dan menghadap kaca yang terbentang lebar menampilkan pemandangan dari ketinggian gedung. Langit sudah mulai agak cerah, tidak seperti tadi pagi. Aku mengeluarkan sebatang rokok dan korek gas dari dalam sakuku. Kuhembuskan asap dari dalam mulutku sambil menatap kosong ke depan.


Charles sialan! Merepotkanku saja!


“Riko, jemput Xena, dia harus ikut bersama kita. Aku punya rencana lain”


“Baik Tuan”


*****


WIDEL POV


Hari ini, aku banyak menghabiskan waktu kerjaku dengan berkeliling mengantarkan pesanan ke berbagai alamat. Hanya sesekali saja, melayani pelanggan di dalam restoran.


Sekarang sudah pukul 16.45. Lima belas menit lagi, waktu kerjaku akan segera berakhir. Aku akan pulang, dan itu artinya, hari ini aku akan meninggalkan teman-teman dekatku di sini. Rina, Melda, dan juga Adel, aku akan merindukan mereka semua.


Aku menatap mereka dengan sedih. Mereka lah teman baikku di sini, terkadang mereka lah yang memberiku semangat ketika aku sedang down. Walau mungkin sifat mereka terkadang terlalu ingin tahu dengan kehidupanku. Tapi, mereka sungguh teman yang benar-benar baik.


Tanpa sadar aku menitihkan setetes air mataku saat menatap mereka. Kami sedang berkumpul bersama, seperti biasa mengobrol dan menggosipkan sesuatu. Tapi, entah kenapa mereka tak lagi menanyakanku soal hubunganku dengan bos. Apa mungkin mereka lupa ?


“Kenapa Widel ? Kau menangis ?” Tanya Melda.


“Kau aneh sekali hari ini. Apa karena Tuan Devan ?” Tanya Rina.


Hmm.. Akhirnya ia ingat kembali untuk mengait-ngaitkanku dengan lelaki itu.


Aku tersenyum sambil mengusap sudut mataku yang basah. “Hahah.. Kenapa kau selalu saja menghubungkan semua masalahku dengan Tuan Devan, Rin ? Aku tidak apa-apa, hanya kelilipan biasa, bukan masalah”


“Hmm.. Widel. Sebenarnya aku sudah tahu kalian sudah saling mengenal sebelumnya. Apa kalian saling mencintai ? Widel bicaralah jujur pada kami sekali ini saja. Apa kau tidak menganggap kami temanmu ?” Ucap Rina dengan nada serius.


“Iya Widel. Kami ini temanmu. Apa kau tidak percaya sama sekali pada kami ?” sambung Melda dan Adel hanya membenarkan ucapan keduanya sambil mengangguk.


Aku menatap mereka bertiga bergantian. Memang benar apa yang mereka katakan. Mereka semua adalah teman baikku di sini. Baiklah, mungkin tidak ada salahnya jika aku menceritakan yang sebenarnya pada mereka antara aku dan Tuan Devan. Lagipula, hari ini adalah hari terakhirku di sini. Apa aku harus mengatakan pada mereka juga tentang rencanaku mengundurkan diri ? Sebaiknya nanti saja, saat aku sudah menyerahkan surat pengunduran diriku besok pagi. Aku tidak ingin membuat mereka menahanku dan membuatku akhirnya sulit untuk meninggalkan mereka semua.


“Saat itu, aku mendapat shift kerja malam. Itu adalah pesanan terakhir yang harus aku antarkan waktu itu.” Ucapku mulai bercerita.

__ADS_1


Bersambung...


Segini dulu ya, nanti malam up lagi. Masih dalam pengetikan. Heheh..


__ADS_2