
WIDEL POV
Hari ini genap sudah seminggu tak pernah kudengar kabar tentang Devan. Entah kenapa aku jadi menghitung hari seperti ini. Entah apa yang dia lakukan sekarang ? Apa dia baik-baik saja ? Pertanyaan itu terus menerus muncul mengulang-ngulang layaknya kaset rusak di dalam benakku.
Tak kupungkiri, ternyata benar kata orang, hati tak bisa kita kendalikan. Bohong rasanya kalau aku merasa baik-baik saja setelah menyakiti orang yang kita cintai.
“Sayang ? Apa kau baik-baik saja ?” Tegur Reza membuyarkan lamunanku.
“Hm, ada apa kak ?”jawabku mengangguk.
“Apa kau yakin baik-baik saja ? Akhir-akhir ini aku sering sekali memperhatikanmu sedang melamun. Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan ?” katanya sembari menyetir mobil sesekali menoleh padaku.
“Oh, ya, aku baik-baik saja. Hanya saja mungkin aku sedang lelah”
“Hm, mungkin kau perlu udara segar. Apa kita ke pantai saja ya?”
“Tapi, kau bilang ingin mengunjungi teman lamamu”
“Lain kali saja” jawabnya dengan tersenyum.
Orang sebaik dirimu, apa pantas kuperlakukan begini ? Setiap kali kau tersenyum seperti itu, aku merasa tersiksa. Betapa jahatnya diriku, bersamamu tapi sebenarnya hatiku sudah ditempati orang lain. Seperti memberimu harapan palsu. Kau bisa mendapatkan wanita yang lebih baik daripada aku.
“Kak ?”
“Hm ? Kenapa sayang ?” Dia menoleh padaku, menatapku lembut lalu tersenyum padaku.
Kak, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku tak bisa menerima hatimu seperti ini. Sepertinya ini salah. Rasanya tak adil bagimu.
“Em.. tidak apa-apa. Aku lupa mau mengatakan apa. Hehe” jawabku lagi-lagi seperti seorang pengecut. Tak berani mengatakan sesuatu yang ingin kukatakan sendiri.
Dia hanya terkekeh lalu mengusap kepalaku lembut dengan sebelah tangannya.
“Dasar pelupa. Baiklah, nanti kalau kau sudah ingat apa yang ingin kau katakan, katakan saja padaku. Oke ?” ucapnya dan aku hanya mengangguk.
Mungkin nanti, aku akan mengatakannya padamu.
***
AUTHOR POV
Devan menghentikan makannya lalu mulai menatap Xena dengan serius.
“Xena”
“Hm, apa, kenapa ? Aku tak salah dengar kan barusan kau memanggil namaku ?” sahut Xena dengan antusiasnya.
__ADS_1
“Xena, kau cantik, muda, dan sepertinya kau bukan orang biasa” ucap Devan memulai percakapan.
“Iya aku tahu Tuan” jawabnya dengan tersipu malu.
“Aku sudah mencintai orang lain. Kupikir kau harus tahu ini Xena.”
Raut wajah Xena seketika berubah. Ia diam masih mengolah kata-kata Devan yang mendadak serius.
“Dengan dirimu yang seperti itu, kupikir kau bahkan bisa mendapatkan lelaki yang baik daripada diriku. Tentu saja yang bisa mencintaimu dengan tulus” kata Devan perlahan mengolah kata-kata yang baik.
“Apa aku benar-benar tidak bisa mendapatkan kesempatan darimu?” tanya Xena dengan mata berkaca-kaca.
“Aku menghargai ketulusanmu, kepedulianmu terhadapku. Terimakasih banyak untuk itu. Tapi aku tidak ingin kau membuang-buang waktumu untuk orang sepertiku.”
Devan tahu betul wanita itu memiliki perasaan yang tulus kepadanya. Kepedulian yang ditunjukkan wanita itu pada dirinya, walau dengan cara blak-blakan yang terkesan memaksa. Ia bisa melihat ketulusan di mata wanita itu. Ia tidak ingin memanfaatkan wanita itu sebagai pelampiasan atas patah hatinya.
Xena menunduk dalam, tak ingin menunjukkan air mata yang berhasil lolos dari matanya. Ia hanya diam tak berkata apapun lagi.
“Xena ?”
“........” Tak ada jawaban apapun dari Xena. Wanita itu tak mampu berbicara lagi. Rasanya ia akan langsung menangis ketika sepatah kata keluar dari mulutnya.
“Maafkan aku, aku harus pergi. Oh ya, terimakasih supnya. Ini enak” Ucap Devan dengan senyum tipis. Ia merasa harus segera pergi, membiarkan wanita itu menata hatinya sendiri.
Xena masih duduk dengan kepala tertunduk. Setelah Devan pergi, ia langsung tak bisa menahan tangisannya. Sebenarnya ia memang sudah tahu kalau lelaki itu memiliki wanita lain dihatinya. Ia hanya ingin berusaha. Ia ingin menghilangkan rasa sakit yang diderita pria yang sudah mencuri hatinya itu. Ia juga merasa hancur melihat Devan menderita seperti itu. Tapi bukankah terlalu mendadak jika ia ditolak seperti ini ? Mendengar kalimat yang sudah ia tahu, namun tak ingin di dengarnya. Kalau sudah begini, bagaimana dia bisa memunculkan wajahnya lagi di depan Devan ?
“Apa usahaku selama ini sia-sia ? Benarkah aku tak memiliki kesempatan sama sekali?” batin Xena.
Xena menangis beberapa saat, cukup lama. Setelah cukup tenang, ia berdiri, mengambil beberapa gelas dan piring kotor di atas meja lalu menaruhnya di wastafel. Ia mulai menghidupkan keran, lalu mencuci piring dengan air mata yang masih saja sesekali terjatuh di pipinya.
***
Widel dan Reza turun bersamaan dari mobil setelah memarkirkan mobilnya. Mereka telah sampai di sebuah pantai berpasir putih. Widel mulai melepaskan sendalnya, berjalan dengan bertelanjang kaki menyusuri pesisir pantai disusul Reza dibelakangnya.
Widel memejamkan matanya, merasakan angin yang bertiup, mendengar suara ombak yang terasa menyejukkan hati. Rasanya sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kakinya di pantai.
“WIDEL” panggil Reza setengah berteriak.
Widel membuka matanya lalu menoleh ke arah Reza. Tanpa aba-aba, ia terkena serangan lemparan bola pasir tepat mengenai jidatnya oleh Reza yang kemudian tertawa terbahak-bahak.
Tak mau kalah, Widel pun segera mengambil segenggam pasir, membentuknya seperti bola seukuran genggamannya lalu mengejar Reza yang sudah berlari jauh sambil tertawa riang.
“AWAS KAU KAK REZA!! TAK AKAN KULEPASKAN KAUUUU” teriaknya masih tak menyerah mengejar Reza yang sesekali menoleh ke belakang sambil menjulurkan lidahnya. Widel terus berlari sampai akhirnya berhenti sejenak mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Ia lalu berpura-pura terjatuh agar Reza berhenti berlari.
“Kau tak apa-apa ?” tanya Reza khawatir lalu berjalan hendak menghampiri Widel yang duduk memegang lututnya yang seolah-olah terluka. Di tangan kanan Widel masih menggenggam gumpalan pasir yang siap ia lempar saat Reza mendekatinya.
__ADS_1
BRRUKK!!
Lemparan bola pasir Widel tepat mengenai wajah Reza, lalu ia tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Reza yang penuh pasir. Sementara Reza hanya terdiam setelah menyeka butiran pasir di wajahnya. Sungguh pemandangan yang sangat indah bagi Reza, melihat Widel tertawa lepas seperti itu. Seakan ia merasa waktu berhenti sejenak. Ia tersenyum lalu duduk di samping Widel.
“Senang rasanya melihatmu tertawa lepas seperti itu” kata Reza tak lepas memandangi Widel.
“Hm.. iya rasanya sudah lama sekali tak tertawa seperti ini” jawab Widel sembari menyeka air di sudut matanya. Ia lalu menatap Reza dengan tersenyum “Terimakasih kak Reza”
“Entah kapan kau akan memanggilku dengan sebutan ‘sayang’ ?” cemberut Reza seperti anak kecil.
Widel gelagapan, mengalihkan pandangannya ke arah lain. Rasa tidak enak hati itu muncul kembali. Dengan tiba-tiba Reza menggenggam tangan Widel. Widel pun menoleh padanya.
“Aku akan menunggumu” ucap Reza menatapnya dalam, sementara tatapan Widel menyiratkan kesedihan.
Lumayan lama mereka duduk berdampingan menatap ombak, sesekali mengobrol, dan Reza bercerita, lalu kadang hanya diam sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga tanpa sadar waktu sepertinya sudah sangat sore, dan cahaya mulai berubah menjadi jingga, menandakan sebentar lagi matahari akan terbenam. Widel sedari tadi menata hatinya yang kacau, perasaan bersalah terhadap Reza semakin bertambah saat Reza mulai menunjukkan keseriusannya padanya. Apa mungkin sudah saatnya ia harus jujur pada Reza ?
“Kak Reza”
“Hm ?”
“A-aku ingin jujur padamu” ucap Widel dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya.
Reza menatapnya dengan serius, sepertinya ia tahu, apa yang ingin Widel katakan.
“Kak Reza, maaf, kurasa aku tak bisa menerima hatimu. Aku tak bisa melanjutkan hubungan ini.” Kata Widel dengan berat hati.
“Kenapa ?” tanya Reza yang sebenarnya sudah tahu jawabannya. Ia hanya ingin mendengarnya langsung dari mulut Widel.
“A-aku tidak memiliki perasaan yang sama seperti yang Kak Reza rasakan terhadapku” jawab Widel lalu menggenggam tangan Reza dengan kedua tangannya. “Tidak bisakah kita berteman biasa saja kak ?”
Reza menatapnya serius “Apa kau mencintai orang lain ?”
Deg
Widel mengalihkan pandangannya lagi.
“Tatap mataku Widel” tegas Reza membuat Widel mau tidak mau harus menatapnya kembali.
“Apa kau mencintai orang lain ?” tanya Reza sekali lagi.
“Iya” Widel mengangguk.
Seketika Reza merasa lemas. Ia melepaskan tangan Widel lalu memandang ke arah lain. Sebenarnya ia juga merasa egois terhadap Widel. Mengetahui wanitanya mencintai pria lain namun ia berpura-pura tidak mengetahui apapun karena rasa takut kehilangannya pada Widel. Ia mengabaikan kebenaran itu, bersikap seolah semuanya akan baik-baik saja walau mengetahui Widel sangat menderita karena perasaannya.
Bersambung...
__ADS_1