
“Teman-teman, jaga diri kalian ya. Aku berhenti” kataku sambil tersenyum tulus pada mereka.
Rina dan yang lainnya terlihat bingung dengan maksud ucapanku barusan.
“Aku sudah mengundurkan diri” ucapku lagi membuat mata mereka terbelalak dan sebagian agak terpekik, lalu menghampiriku lebih dekat.
“Apa kau bicara serius Widel ?” Kata Rina sambil mengernyit.
Aku mengangguk dan tersenyum kecil.
“Kenapa Widel ?” Tanya Melda.
“Entahlah, aku ingin mencari pengalaman lain”
“Kenapa begitu tiba-tiba ?” Tanya Adel.
“Kebetulan aku ditawarkan pekerjaan lain oleh Kak Reza. Aku tidak ingin kalian kepikiran jadi aku baru katakan pada kalian sekarang”
“Ya Tuhan... Apa ini ada hubungannya dengan Tuan Devan ?” Tanya Rina.
Aku hanya tersenyum. “Ini keputusanku sendiri”
“Apa Tuan Devan mengetahuinya ?” Tanya Melda.
“Tidak” Ucapku sambil menggeleng pelan.
Rina memelukku, dan yang lain pun ikut memelukku, kali ini mereka yang menangis. Sudah sebegitu dekatnya kami di sini. Aku pun tak kuasa menahan air mataku. Perpisahan adalah hal yang sangat menyedihkan.
“Kami akan sangat merindukanmu Widel” ucap Rina masih sambil menangis.
“Hei, tidak perlu menangis, kita masih bisa bertemu kapan-kapan” Kataku sambil tersenyum haru.
“Kapan-kapan kita harus bertemu lagi” ucap Melda.
“Iya, itu pasti” jawabku sambil perlahan merenggangkan pelukan mereka .
“Jaga dirimu baik-baik Widel” ucap Rina sambil menyeka air matanya.
Aku mengangguk. “Baiklah. Kalian juga”
Begitulah perpisahan singkat kami di sini, setelah itu aku pun pulang bersiap untuk interview jam sembilan nanti.
*****
AUTHOR POV
“Nanti akan datang seorang wanita yang ingin melamar pekerjaan, namanya Widelia Syaqilla. Kalau ia sudah datang, segera suruh langsung ke ruanganku saja” ucap Reza pada staf resepsionis.
Hari ini, Reza selalu tampak tersenyum, dan sesekali menyapa staf-stafnya sendiri ketika ia lewat. Hal itu sangatlah menunjukkan kalau ia sangatlah senang hari ini. Bagaimana tidak, seorang gadis yang ia sukai dari dulu, akan datang melamar pekerjaan sebagai sekretarisnya sendiri. Ia jadi akan sering bersama dengan gadis itu mulai dari sekarang.
Reza duduk di kursi meja kerjanya, sambil sesekali melirik pada jam di dinding, menunggu waktu yang sangat ia nantikan.
“Sepuluh menit lagi. Harusnya sekarang ia sudah datang” gumamnya lalu menghubungi pihak resepsionis.
“Apakah gadis itu sudah datang ?” Tanyanya.
Staf sekretaris itu sedang berbicara dengan gadis yang bosnya itu maksud. “Iya Pak, sekarang saya sedang berbicara dengannya”
“Oh, baiklah. Saya tunggu” ucapnya lalu menutup telepon.
---
“Nona, anda bisa langsung ke ruangan Pak Reza, rekan saya akan mengantar anda” Ucap staf resepsionis itu.
“Baik, terima kasih” sahut Widel dan ia pun segera pergi diantar oleh seorang wanita yang adalah karyawan di perusahaan ini juga.
---
__ADS_1
Reza terus menatap ke arah pintu, sambil mengetukkan-ngetukkan jemarinya di meja. Ini seperti mimpi baginya, Widel akan bekerja dengannya mulai hari ini. Pasalnya, bukan sekali dua kali saja ia meminta gadis itu untuk bekerja di tempatnya. Namun, gadis itu selalu saja menolak, dan bilang ia sudah nyaman dengan pekerjaannya sekarang. Entah keberuntungan apa kemarin, ia mendapat pesan dari Widel, yang isinya menanyakan tentang lowongan pekerjaan di perusahaannya. Jelas saja ia langsung senang bukan main, dan membalas pesannya dengan cepat.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu membuat Reza tersenyum lebar, namun dengan segera ia kembali memasang wajah datar, seolah merasa biasa saja.
“Masuk” sahut Reza.
Cklek
“Silahkan nona” kata karyawan yang mengantar Widel itu sebelum pergi, sebab ia hanya mengantar sampai pintu saja.
Reza tersenyum tipis melihat gadis yang berdiri di ambang pintu itu.
Widel pun melangkah masuk ke dalam.
“Duduklah” ucap Reza mempersilah Widel duduk di depannya.
“Coba lihat CV yang kau bawa, serta dokumenmu yang lain” ucap Reza seolah-olah bertindak profesional dan sangat memperhatikan hal itu. Padahal sebenarnya, tanpa dokumen itu pun ia akan menerima gadis itu dengan senang hati.
“Oh ini Kak Re-, maaf Pak” ucap Widel merasa kikuk jika harus bersikap seformal ini pada Reza.
Reza tersenyum sambil membuka map yang diberi Widel. “Kalau hanya berdua, bersikaplah seperti biasanya saja Widel”
Widel mengangguk dan tersenyum tipis. “Iya Kak”
Widel merasa grogi untuk pertama kalinya di depan Reza. Ia memperhatikan Reza yang sedang membaca lembaran CV-nya dan memeriksa dokumen-dokumennya yang lain.
Lengang sejenak, hanya terdengar suara kertas yang dibolak balik. Reza menganggukkan kepalanya dan menatap Widel. “Baiklah, besok kau bisa mulai bekerja”
Widel mengernyit. Apa tidak ada pertanyaan-pertanyaan yang diberikan seperti halnya sebuah interview kerja pada umumnya ? Kenapa begitu saja langsung diterima ?
“Maaf Kak, apa tidak ada pertanyaan yang diberikan untuk saya ?” Tanya Widel bingung.
Reza terkekeh. “Buat apa ? Aku sudah mengenalmu. Skripsimu saja aku yang bantu buat, apa harus melakukan hal-hal lain lagi ?”
“Hari ini, cukup temani aku saja. Aku akan mengajarimu beberapa hal untuk pekerjaanmu nanti” kata Reza.
Widel mengangguk. “Baik Kak”
*****
Di London sekarang baru pukul dua dini hari. Devan, Riko, dan Xena baru saja sampai di apartment mereka masing-masing. Mereka semua merasa lelah akan penerbangan panjang yang mereka lalui dari siang tadi.
Devan akan menyelesaikan semua masalahnya dengan cepat, tentunya dengan rencana baru yang akan ia jalankan mulai esok hari. Paling lambat, mungkin sekitar empat atau lima hari baru ia bisa kembali ke Indonesia.
*****
5 hari kemudian...
Penerbangan dari London telah tiba di Jakarta. Sudah lima hari ia lewatkan tanpa melihat gadis itu, apa yang gadis itu lakukan sekarang ?
Setelah singgah ke kantornya sebentar, ia langsung pergi mengunjungi restoran yang telah dibelinya itu. Tentunya untuk melihat Widel, gadis yang terus saja menolak dirinya.
“Selamat pagi menjelang siang Tuan” sapa karyawan dan staf Luxury Food sambil menundukkan kepalanya.
“Hmm” sahutnya dengan gumaman. Matanya mencari-cari sosok gadis kecil berambut panjang yang sering diikat satu seperti ekor kuda.
“Mana gadis itu ?” gumamnya.
“Iya Tuan ?” sahut Bu Mega staf sekretarisnya di restoran ini.
Devan menggeleng. “Tidak ada” ucapnya lalu melangkahkan kakinya hendak pergi ke ruangannya, namun ia tiba-tiba berbalik pada Bu Mega lagi. “Suruh Widel buatkan kopi dan bawakan di ruanganku”
Bu Mega linglung sejenak “Ehm.. Tu-tuan Devan, saya akan menyuruh karyawan lain yang akan membuatkan kopi untuk anda”
Devan mengernyit. “Kenapa harus yang lain ? Saya suka kopi buatan gadis itu”
__ADS_1
“Ma-maaf Tuan Devan, gadis itu sudah mengundurkan diri sekitar lima hari yang lalu”
DEGGG!!
“A-apa ?” Tanyanya tak percaya dengan apa ia dengar barusan.
“Widel sudah mengundurkan diri Tuan” ulang Bu Mega.
Bagai petir yang menyambar dirinya di siang bolong, ia benar-benar terkejut hingga membuatnya hampir tak berkutik sejenak, dirinya membatu tak bisa menerima di akal pikirannya kenapa bisa sampai seperti itu.
“Ikut saya ke ruanganku” ucapnya dingin pada Bu Mega.
---
BRAKKK!!
Devan memukul tangan nya di atas meja kerjanya dengan keras hingga membuat Bu Mega terlonjak kaget, dan merasa ketakutan.
“Bu Mega, mulai hari ini kau kupecat!!” ucapnya dingin dan sangat menohok.
Bu Mega terkesiap. Ia gemetar takut dan kebingungan, karena ia sama sekali tak tahu kesalahannya dimana. Menurutnya selama ini, ia sudah bekerja dengan baik. Kenapa bosnya ini tiba-tiba marah sekali seperti ini, ia sama sekali tidak mengerti.
“Ma-maaf Tuan, a-apa kesalahan saya ?” Tanya Bu Mega dengan gelagapan.
“Kau benar-benar sekretaris yang payah. Aku tidak mengerti kenapa Ervin bisa mempekerjakanmu sebagai sekretarisnya”
Tampak mata Bu Mega yang sudah memerah dan berkaca-kaca. Sesekali ia menyeka sudut matanya, sangat menahan diri untuk menangis di depan Devan. “Ma-maafkan saya Tuan, saya benar-benar tidak tahu letak kesalahan saya. Sa-saya pikir, saya sudah bekerja dengan sangat baik”
“Kesalahanmu adalah membiarkan gadis itu mengundurkan diri dari sini, dan tak memberitahuku sama sekali” jawab Devan dengan tatapan tajamnya.
Bu Mega semakin kebingungan. Apa yang dimaksud bosnya ini adalah Widel ? Kenapa ? Bukankah gadis itu hanyalah karyawan biasa, kenapa harus memberitahu CEO saat seorang kurir hendak mengundurkan diri ?
“Keluar!” ucap Devan tajam.
*****
Kaki Bu Mega terasa lemas, ia jatuh terduduk dan menangis tepat di depan pintu ruangan CEO. Beberapa karyawan dan staf yang melihatnya langsung menghampiri Bu Mega dengan khawatir, karena tampang Bu Mega sekarang ini sangatlah menyedihkan. Adel sempat lewat dan ikut menghampiri Bu Mega.
“Bu Mega kenapa ?” Tanya salah seorang staf.
Bu Mega lalu menyeka air matanya, dan menggelengkan kepalanya. Ia pun berdiri dibantu oleh beberapa orang.
“Aku bisa sendiri” ucap Bu Mega, lalu berjalan gontai menuju ruangan kerjanya.
“Apa yang terjadi dengan Bu Mega ?” Tanya Adel pada karyawan di sebelahnya. Namun orang itu hanya menggelengkan kepala.
Adel pun menghampiri Rina dan Melda untuk memberitahu mereka apa yang baru saja terjadi itu.
*****
“Apa? Bu Mega terduduk di lantai sambil menangis di depan pintu ruangan Tuan Devan ?” Tanya Rina tak percaya.
Adel menganggukkan kepalanya. “Kira-kira apa yang terjadi ya ?”
“Apa Tuan Devan habis memarahinya ?” Tanya Melda mencoba berpikir.
“Mungkin saja” sahut Adel.
Tak lama kemudian, Bu Mega terlihat mengangkat kotak dan pergi melewati pintu restoran.
“Astaga, apa Bu Mega tadi itu dipecat oleh Tuan Devan ? Tapi kenapa ?” ucap Rina dengan membelalakkan matanya.
*****
Devan mengusap wajahnya kasar, lalu menarik rambutnya ke belakang. Berkali-kali ia memukul dinding hingga buku-buku tangannya berdarah.
“SHIT!!!” teriaknya.
__ADS_1
Bersambung...