I'M Crazy About You

I'M Crazy About You
Episode 15 - Buktikanlah!


__ADS_3

Widel sedang berbicara kepada salah seorang resepsionis, mengatakan niatnya yang ingin bertemu dengan Tuan Devano Lewis.


“Anda sudah ditunggu di ruangan beliau nona. Ruangannya terletak di ujung koridor sebelah kanan di lantai 66. Nanti anda akan bertemu dengan Bu Lusi, sekretaris Pak Devan” ucap seorang wanita muda yang merupakan staf resepsionis di perusahaan itu.


“Baiklah, terimakasih” Widel mengangguk lalu segera menuju lift.


Beberapa menit sampai akhirnya pintu lift terbuka pada lantai 66, Widel langsung berjalan ke arah yang diinformasikan oleh resepsionis tadi. Ia menyusuri sepanjang koridor dengan mata mencari-cari sebelah mana ruangan yang dimaksud. Sampai hampir mencapai ujung koridor, ia melihat seorang wanita yang tengah fokus menatap layar komputer di meja kerjanya. Sepertinya wanita itu adalah sekretaris Pak Devan. Widel pun langsung menghampiri wanita itu.


“Maaf, bisa tolong tunjukkan saya dimana ruangan Tuan Devano Lewis ?” tanya Widel pada wanita itu yang langsung refleks menoleh padanya.


“Oh ya, apakah anda Nona Widel ?” tanyanya sembari beranjak dari duduknya dan mendapatkan anggukan dari Widel.


“Tunggu sebentar nona”  ucap Wanita itu lalu berjalan beberapa langkah ke depan dan berhenti di sebuah pintu besar berwarna hitam klasik bertuliskan C.E.O ROOM. Ia mengetuk pintu sebentar, lalu masuk saat mendapat tanggapan dari dalam. Tak berapa lama, wanita itu keluar dan langsung mempersilahkan Widel untuk masuk.


Di dalam, terlihat seorang pria dari belakang sedang berdiri tegap dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya, sambil menghadap ke kaca jendela besar di hadapannya. Jika dilihat seperti ini, sungguh badan yang sangat proporsional.


Cklek


Pintu otomatis tertutup kembali, dan pria tegap itu akhirnya membalikkan badannya lalu menatap Widel dengan ekspresi yang tidak terbaca. Ia berjalan melewati Widel yang berdiri tak jauh dari pintu, menuju sofa-sofa mewah yang terbuat dari kulit berwarna putih krim dengan meja pendek yang membatasi di tengahnya. Ia menyandarkan dirinya di sofa itu sambil menyilangkan kaki panjangnya.

__ADS_1


“Duduklah” ucapnya sambil menunjukkan sofa yang menghadap padanya.


“Apa yang ingin kau bicarakan denganku ?” tanyanya yang langsung to the point saat pantat Widel baru saja menempel di atas sofa. Keduanya saling bersitatap sebelum akhirnya Widel membuka suara.


“Karena ulah Anda, saya hampir dipecat kemarin dan itu membuat pikiran saya menjadi jelas. Saya rasa tak perlu menanggapi dengan serius kesepakatan dengan Anda. Saya tidak mungkin melepaskan pekerjaan yang sudah saya dapatkan dengan susah payah, hanya untuk seseorang seperti Anda yang baru saja saya kenal. Jadi maaf, saya tidak mungkin menuruti permintaan Anda untuk menemani Anda ke pesta yang tidak penting bagi saya, karena saya tetap harus bekerja. Mulai sekarang saya akan bekerja dengan baik dan saya tidak ingin Anda mengganggu saya lagi” tutur Widel panjang.


“Baiklah, jadi kau belum percaya denganku. Aku akan memberikan kontrak resmi untukmu. Aku tidak main-main saat aku bilang akan memberikanmu pekerjaan dengan gaji yang lebih besar dari pekerjaanmu itu. Apa kau tidak mau memikirkannya ? Kau harus ingat, kau membutuhkan banyak biaya untuk kuliahmu, juga untuk biaya hidupmu. Aku tahu.. gajimu bekerja di restoran itu, hanya pas-pasan untukmu bahkan terkadang kurang. Dengan gaji yang lebih besar, kau bisa menyisihkan untuk kedua orang tuamu dan sisanya bisa untuk kau tabung. Apa kau tak ingin setelah kuliahmu selesai, kau sudah memiliki tabungan yang cukup ? Apa kau tak memikirkan itu ?” jawab Devan panjang lebar.


Perkataan Devan membuat Widel benar-benar berpikir keras. Apa yang dikatakan Devan memang benar, tapi ia masih membutuhkan waktu untuk melepaskan pekerjaannya itu. Ia butuh persiapan.


“Sebenarnya kenapa Anda sangat ingin membawa saya ke pesta penting Anda ? Apa anda menyukai saya?” Widel langsung mengutarakan rasa penasarannya.


Devan terkekeh dan memandang Widel dengan tatapan merendahkan “Menyukaimu ? Hahah.. Candaanmu sangat lucu. Kau terlalu percaya diri nona kecil”


“Hah! Apa kau pikir aku orang yang serendah itu ? Tidak ada yang akan mempermalukanmu selama kau disisiku.” bantah Devan dengan gaya santainya.


“Tapi.. apa anda tidak takut, pamor Anda akan jatuh dengan membawa gadis rendahan seperti saya ke pesta penting Anda ?” tanya Widel lagi masih berusaha melepaskan rasa penasarannya.


Devan kembali terkekeh “Kau sangat lucu! Pamorku tidak akan turun hanya karena membawa gadis sepertimu”.

__ADS_1


“Saya benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Anda” gumam Widel sambil menggelengkan kepalanya pelan.


“Kau tidak perlu mengerti jalan pikiranku. Yang perlu kau lakukan hanyalah menurutiku saja!” sahut Devan.


“Maaf Tuan, saya rasa... saya tidak bisa menuruti Anda. Terimakasih banyak sudah menawarkan pekerjaan untuk saya, tapi saya sudah cukup nyaman dengan pekerjaan saya sekarang. Kalau begitu saya mohon diri. Terimakasih atas waktu yang Anda berikan” ucap Widel beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu hendak keluar dari ruangan itu.


Devan mengeraskan rahangnya “Saat kau melangkahkan kakimu keluar dari ruangan ini tanpa seizinku, aku akan membuat dirimu benar-benar dikeluarkan dari pekerjaanmu itu! Kau tahu.. itu sangat mudah bagiku”. Devan berbicara dengan lantang membuat gerak Widel terhenti tepat setelah Widel sudah menarik gagang pintu yang membuat pintunya sedikit terbuka.


Devan berdiri dan melangkah mendekati Widel yang terdiam di depan pintu dengan mulut yang terkatup tak bisa berkata-kata. Tangan Devan mendorong pintu itu sampai tertutup rapat sehingga membuat posisinya hampir menempel dengan punggung Widel yang berdiri membelakanginya.


Ia lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Widel dan berkata dengan pelan. “Kau tidak bisa menolakku Widel! Permintaanku adalah titah untukmu, karena kau bukan siapa-siapa untukku yang berhak mengutarakan pendapat padaku. Kau pikir siapa dirimu mau bernegosiasi denganku ? Saya bisa melakukan apapun untuk menghancurkanmu jika kau masih tidak menurut padaku”


Widel tertawa ironi  “Tuan Devano Lewis yang terhormat, tentu saya tahu.. anda bisa melakukan apapun yang Anda mau. Anda juga sangat mudah bisa menghancurkan saya. Tapi.. saya begitu penasaran.. apa yang membuat Anda susah-susah untuk mencampuri hidup saya ? Saya bukanlah siapa-siapa bagi anda Tuan Devan, jadi kenapa anda harus repot-repot ingin menghancurkan hidup saya ?”.


Devan tertegun mendengar perkataan Widel yang begitu tepat sasaran.


“Dengan perlakuan Anda yang seperti ini pada saya... saya jadi berpikir, kalau Anda benar-benar tertarik dengan saya” sambung Widel.


“Hah! Kenapa aku harus tertarik dengan seorang gadis rendahan sepertimu ? Kau bahkan tidak masuk dalam kriteria wanita yang aku sukai” elak Devan.

__ADS_1


“Kalau begitu buktikanlah Tuan!  kalau memang Anda tidak tertarik dengan gadis rendahan seperti saya. Saya permisi!” tegas Widel lalu memutar gagang pintu dan secepatnya berlari keluar meninggalkan Devan yang masih berdiri di ambang pintu.


***


__ADS_2