
Triiiingg triiing triing
Suara nyaring alarm sangat mengganggu alam mimpiku. Aku yang sementara baring menyamping kiri dengan memeluk guling, akhirnya mengarahkan guling itu ke atas telinga kananku sambil menekannya keras. Kutambah dengan menarik selimut sampai tidak ada satu bagian tubuhkupun yang terlihat.
Aku semakin membungkus erat badanku berusaha meredam kebisingan yang masih saja berhasil menerobos masuk kedalam telingaku. Nyaringnya alarm itu sudah merusak kenyamanan tidurku. Sambil berdecak sebal, kupanjangkan tanganku ke atas nakas yang berada tepat disamping kepala ranjang, coba meraih jam beker yang berisik itu. Saat kurasa benda itu sudah berada dalam genggaman, dengan cepat aku langsung menariknya tepat keatas wajahku agar bisa kulihat dengan jelas.
Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 yang artinya aku harus bangkit melaksanakan kewajibanku sebagai umat muslim. Kuletakkan jam beker itu kembali, lalu terdiam selama beberapa menit masih dalam posisi baring terlentang. Saat kurasa nyawaku benar-benar sudah terkumpul penuh, dengan cepat aku beranjak dari tempat tidur lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Setelah selesai melaksanakan sholat subuh, aku membuka jendela kamar yang terletak disebelah ranjang. Kubiarkan jendela itu terbuka agar udara didalam kamarku berganti dengan udara yang segar.
Dinginnya embun pagi merasuk kedalam pori-pori kulitku yang tidak tertutup kain, membuatku segera memeluk kedua lenganku dengan erat. Sesekali angin menyapa rambutku lembut dan aku hanya memejamkan mataku mencoba merasakan nikmatnya cuaca subuh. Hatiku terasa tenang karenanya. Saat kubuka mataku kembali, ternyata semburat jingga sang surya sudah mulai menampakkan wujudnya dengan malu-malu. Aku menolehkan kepalaku sedikit ke belakang dan melirik ke arah jam yang menempel di dinding kamarku yang terletak di sebelah meja belajar yang sudah menunjukkan pukul 05.45 pagi.
Aku bergegas ke arah dapur, mengambil dua lembar roti tawar dari dalam lemari dan menyusunnya ke atas piring. Setelah itu aku mengambil selai kacang yang tinggal sedikit dari dalam kulkas, lalu mengoleskannya ke atas roti yang telah kususun. Kemudian, aku mengambil cangkir kaca dan sebuah sendok kecil, lalu kuambil satu bungkus teh celup dan menaruhnya kedalam cangkir. Terakhir aku menuangkan air panas di atasnya dan tak lupa menyendokkan dua sendok gula ke dalamnya. Lalu kuaduk-aduk agar gulanya tercampur rata. Setelah itu, aku membawanya ke atas meja makan dengan tangan kiri memegang secangkir teh hangat dan sepiring roti yang telah diberi selai, di tangan kananku.
Namun saat bokongku hendak menyentuh kursi ruang makan, tiba-tiba aku mendengar ketukan pintu dari luar sana yang membuatku tak jadi duduk dan langsung berlari kecil menuju pintu depan.
Tok tok tok
__ADS_1
Aku membuka pintu itu dan melihat seorang pria tinggi dan tegap berjas hitam. Dia menunduk melihatku dan mengucapkan selamat pagi padaku.
“Iya, ada yang bisa saya bantu Pak ?” tanyaku sambil menyernyit bingung karena merasa asing dengan pria yang ada di hadapanku saat ini.
“Maaf nona, saya kesini hanya ingin mengantarkan ini” ucapnya sambil menunjuk ke sebuah motor matic yang sekarang telah berada di teras depan rumahku, lalu menyerahkan kuncinya padaku.
“Oh.. Iya terimakasih Pak” Aku menerima kunci itu dengan tersenyum malu karena baru teringat akan motorku yang menginap di parkiran pria itu semalam.
“Kalau begitu saya pamit nona” ucapnya dengan sedikit membungkuk sopan lalu berbalik dan berjalan menuju ke
sebuah mobil hitam yang menunggunya di pinggir jalan tak jauh dari rumahku. Aku menutup pintunya kembali lalu melanjutkan sarapan sederhanaku.
***
Aku berdiri bertelanjang dada sambil merokok dan memandangi pemandangan luar dari atas balkon kamarku. Pagi ini terlihat sangat cerah. Aku mendengarkan kicauan burung yang terdengar indah di telingaku. Sinar mentari menusuk kulitku, membuat hangatnya langsung menyebar cepat ke seluruh badanku. Namun, pikiranku yang jernih dipagi hari tiba-tiba di rusak oleh bunyi ponsel yang terdengar dari dalam kamar. Kulangkahkan kakiku masuk kedalam kamar untuk melihat siapa yang tiba-tiba menelponku sepagi ini. Aku mengernyit saat nomor baru yang tertera di layar ponsel, lalu mengangkatnya kemudian.
“Halo” ucapku.
__ADS_1
“Dev, ini aku Angel. Please kasih aku satu kesempatan buat jelasin semuanya Dev. Aku mohon” ucapnya dari seberang sana yang terdengar sangat memelas. Aku menghela nafas berusaha untuk tetap tenang.
“Baiklah, aku kasih kamu satu kesempatan buat jelasin semuanya. Siang nanti ketemu aku di restoran biasa ” jawabku dingin lalu memutuskan panggilan itu.
Kulemparkan ponselku ke atas tempat tidur dengan kasar, dan saat hendak menuju ke kamar mandi, tiba-tiba ponselku berbunyi lagi membuat emosiku naik ke kepala. Wanita itu benar-benar merusak pagiku yang tenang.
“APALAGI SIALAN??!!” bentakku keras begitu mengangkat telpon itu. Tak ada suara yang menjawab lalu tiba-tiba
panggilannya diputus begitu saja.
Sialan! Beraninya wanita itu memutus telponku tiba-tiba!
Aku hendak memanggilnya kembali, akan tetapi aku menemukan perbedaan saat melihat nomor yang baru saja menelponku ternyata berbeda dengan nomor telpon Angel yang juga menelponku tak lama sebelumnya. Lalu siapa yang menelponku barusan dan memutuskan panggilannya tiba-tiba? Aku menelponnya kembali tetapi tak diangkat. Kugertakkan gerahamku, lalu mencoba menelpon nomor misterius itu kembali namun sia-sia saja, teleponku tetap tak diangkat. “SHIT!!” teriakku memenuhi ruangan kamarku yang hening.
Awas saja! akan kuberi pelajaran saat kutahu orangnya nanti. Berani-beraninya mempermainkan seorang Devano Lewis!
***
__ADS_1
~~~~
Bersambung...