I'M Crazy About You

I'M Crazy About You
Episode 28 - Berbohong


__ADS_3

Cinta berlalu di depan kita, terbalut dalam kerendahan hati, tetapi kita lari darinya dalam ketakutan, atau bersembunyi di dalam kegelapan, atau yang lain mengejar, untuk berbuat jahat atas namanya.


[Kahlil Gibran]


***


Nafas yang semakin memburu, tanda dari semakin terhanyutnya dua insan manusia yang telah tenggelam dalam kabut hasrat penuh kenikmatan. Sungguh, logikamu seakan tak berfungsi dengan ajaibnya, hanyut dalam gairah yang membuncah. Menuntut untuk semakin liar, dan semakin ingin terpuaskan. Seakan semuanya terasa kurang, tak ada kepuasan. Kau ingin lagi, lagi dan lagi. Ciuman ini bagaikan sihir, yang membuatmu seperti candu.


Ruangan yang tadinya hening, kini telah penuh dengan suara bibir yang bertabrakan saling mengecap, saling mendesah. Kurasakan jemari Devan telah bergerilya liar, menyelusup ke dalam ujung bajuku, meraba setiap jengkal kulit di dalam bajuku.


Deg!


Apa yang telah kulakukan ?


Aku mendorong kuat dadanya dengan seluruh tenagaku yang tersisa, membuat jarak sebisa mungkin dengannya agar dia berhenti.


“Aku melakukan kesalahan. Kumohon pergi Dev, PERGI!!” kataku tajam sembari mencengkeram rambutku penuh frustasi.


Apa yang telah kulakukan ini ? Kak Reza.... maafkan aku...


“Hiks.. Hiks.... PERGI !!! AKU BILANG PERGI DEV!!” jeritku dengan tangisku yang telah pecah, menggema memenuhi seluruh sudut ruanganku.


“Maafkan aku Widel.., tapi aku benar-benar tulus cinta sama kamu” sahut Devan pelan, seraya mendekat berusaha untuk menenangkanku. Namun, sikap defensif tiba-tiba saja mendominasi tubuhku, seketika menjauh mundur sampai punggungku membentur sandaran ranjangku.


“Tidak Devan... Tidakkah kau mengerti ? Ini adalah kesalahan!” kataku memelan, menatapnya dengan penglihatan yang telah memburam akibat genangan air mata yang seakan tak akan habis di pelupuk mataku.


Devan menggeleng pelan. “Kau yang tidak mengerti Widel.. ! Bukankah kau merasakan ciuman tadi ? Aku sungguh mencintaimu dan aku tahu kau juga mencintaiku”


“Aku mohon Dev... Pergilah ! Aku sangat memohon padamu.. Bisakah kau pergi dan tak usah mengganggu hidupku lagi...?” ucapku dengan nada memelas penuh permohonan sambil menangkupkan kedua tanganku.


Devan membuang wajahnya ke arah lain, ia terdiam sejenak tak memberi respon apapun hanya helaan nafasnya yang tertangkap oleh indera pendengaranku. Tak lama, ia menatapku kembali dengan tatapan tajam seakan berusaha membaca kejujuran di dalam mataku.

__ADS_1


“Sekarang aku tanya padamu.. Apa kau mencintai lelaki itu Widel ? Apa kau benar-benar bahagia dengannya ?” tanyanya dengan penuh keseriusan.


Aku sudah tidak mengerti lagi dengan isi hatiku sendiri. Sepertinya tanpa kusadari, kau memang telah mencuri sebagian tempat di dalam hatiku, dan itu benar-benar membuatku frustasi! Karena aku tahu, aku dan kau sangatlah tidak mungkin untuk bisa bersama. Kita benar-benar berbeda. Dan sebelum semuanya menjadi lebih sulit, maka lebih baik, kau harus tinggalkan aku sejauh mungkin.


Sesungguhnya, hatiku ingin sekali menerimamu, akan tetapi prinsipku seakan telah membuat tembok raksasa yang selalu akan membatasi, menghalangimu untuk masuk ke dalam hatiku.


Aku tidak ingin percaya akan cinta, karena sekali kau percaya, maka kau harus siap berteman dengan rasa sakit. Dan aku belum siap untuk itu! Aku telah menelan sumpahku bulat-bulat bahwa aku tak akan pernah membiarkan diriku jatuh cinta, dan bertekuk lutut pada seorang pria.


Aku terdiam, lidahku terasa kelu untuk menjawab pertanyaannya yang sebenarnya biasa saja namun terasa mengandung makna yang sangat dalam. Kutundukkan kepalaku, tak sanggup lagi untuk menatap matanya yang menyalurkan rasa pedih, begitu menyesakkan dada.


“Jawab aku Widel dan tatap mataku! Katakan kalau kau tidak mencintainya”


Aku menengadah, mau tidak mau aku harus menatap matanya agar dia yakin padaku “Aku.. aku mencintainya”


Maafkan aku Devan, ini yang terbaik. Aku harus berbohong.


Devan menggeleng kuat “Aku tak percaya, kau pasti bohong kan ? Aku tahu kau berbohong!”


Jantung Devan seperti dipukul tiba-tiba oleh sebuah palu godam raksasa. Begitu sakit tak terperi, seakan oksigen telah dilepas begitu saja dari pernapasannya, membuatnya sangat sulit bahkan untuk bernapas. Setiap hembusan napasnya hanya membuatnya merasa sakit yang begitu menyayat di dalam dadanya.


“Aku mohon padamu Dev.. Tinggalkan aku dan jangan ganggu hidupku lagi.. Aku mohon padamu.. Bisakan Dev ?”


Devan mengusap wajahnya gusar, menjambak rambutnya ke belakang, lalu menatapku lekat. Matanya kini telah memerah dan terlihat sudah berkaca-kaca.


“Baiklah kalau itu maumu. Aku hanya berharap kau selalu bahagia” ucapnya lalu berbalik dan berjalan dengan langkah besar meninggalkan ruanganku.


Cklek


Aku membungkuk menutup wajahku dengan kedua tanganku, dan membenamkan wajahku di lutut yang telah kutekuk, membungkam isakan tangis yang terdengar begitu mengiris hati. Cukup lama, sampai akhirnya aku tersadar, saat merasakan sentuhan hangat di puncak kepalaku, membelai rambutku dengan gerakan perlahan, begitu lembut dan menenangkan.


Aku mendongak, disambut sebuah senyuman tulus dari bibir seorang pria berwajah tampan yang telah kuberi harapan padanya.

__ADS_1


“K-kak.. kak Reza? Aku.. aku...” gumamku terbata karena sesenggukan. Tanpa aba-aba, Kak Reza langsung membawaku dalam dekapannya, memelukku dengan begitu eratnya. Tangisku kembali pecah di pundaknya.


“Ssshh.. Tidak apa-apa.. Aku disini” ucapnya lembut sambil terus mengelus rambutku pelan.


Maafkan aku Kak.. Aku sudah jahat padamu.. Maaf... Maaf...


Demi apa, Kak Reza bahkan tidak menanyakan apapun padaku. Kenapa aku menangis? Apa yang terjadi padaku ? Tidak sama sekali. Ia hanya diam dan terus menenangkanku dalam pelukannya dengan begitu sabarnya.


***


REZA POV


(Flashback On)


Akhirnya, aku bisa menyelesaikan semua pekerjaan kantor dengan cepat demi bisa menemani kekasihku yang terbaring sendiri di rumah sakit. Tak lupa juga aku membawa makanan kesukaannya agar ia bisa makan dengan lahapnya.


Aku berjalan menyusuri koridor namun langkahku terhenti saat melihat seseorang yang kukenal berdiri mematung di luar pintu ruang inap Widel. Ya, dia asisten pribadi Devan, yang artinya Devan sedang berada di dalam.


Kenapa lagi orang itu kesini ?


Tanganku mengepal kuat, air mukaku berubah seketika. Aku berjalan mendekati asisten lelaki itu. Gelagatnya terkesan sedang mencemaskan sesuatu saat iris matanya menangkap diriku yang semakin mendekat. Sesaat aku berhenti, menaikkan alisku sebelah ketika ia terlihat begitu panik. Saat aku hendak mendekati pintu, pria itu menghadangku agar aku tak bisa mendekati pintu itu. Hal itu membuatku semakin curiga, apa yang sedang dilakukan tuannya di dalam ?


Aku mendorongnya ke samping, tak gentar untuk membuka pintu itu. Belum sempat aku menekan gagang pintu itu ke bawah, apa yang kulihat baru saja di kaca pintu itu membuatku membeku seketika. Gerahamku mengetat, rasanya saat itu juga aku ingin menendang pintu itu lalu menonjok memukul membabi buta wajah lelaki brengsek itu. Namun, yang membuatku enggan dan hanya berdiri mematung di depan pintu itu ialah, karena kekasihku juga ternyata sangat menikmati ciuman dari lelaki itu.


Tak perlu kujelaskan lagi, apa yang kurasakan saat ini. Aku memukul dadaku yang begitu sesak sembari pergi meninggalkan tempat itu untuk menenangkan diri. Namun, saat kakiku belum melangkah jauh pergi dari tempat itu, samar-samar aku mendengar Widel menjerit dengan terisak. Langkahku terhenti, dan kembali mendekati pintu itu untuk mendengar lebih jelas pembicaraan mereka, sehingga aku mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Aku menajamkan telingaku. Tak banyak yang aku dengar, tapi setidaknya aku mendengar beberapa hal yang akhirnya membuat aku mengerti. Ternyata gadis itu memang benar-benar telah jatuh cinta pada pria itu, namun entah kenapa dia harus berbohong dan menjadikanku alasan untuk menolak lelaki itu. Tapi, apapun keputusan yang kau buat, aku akan terus mendukungmu Widel.


(Flashback Off)


***

__ADS_1


__ADS_2