
Demi apa, aku tak tahu harus menjelaskan mulai dari mana. Kulirik mata mereka bertiga bergantian, semuanya menungguku untuk sebuah penjelasan dariku.
“Ka-kalian mau penjelasan apa ? Kami kebetulan hanya saling mengenal, tidak ada hubungan lebih” ucapku seadanya, tak tahu harus menjelaskan bagaimana.
“Terus tadi apa maksud Febby, pernah melihat Tuan Devan berada di kamarmu ?” Tanya Rina penuh selidik. Melda dan Adel ikut mendesakku hingga membuat kepalaku pusing karena tekanan dari mereka semua.
Ini semua gara-gara mulut bocormu itu Feb.. Feb..
Sialan kamu!
Aku menatap Febby dengan tatapan tajam. Sementara Febby hanya terlihat bingung menatapku. “Febby hanya berbicara sembarang Rin, tidak usah terlalu dipikirkan. Iya kan Feb ?” ucapku sambil memelototkan mata pada Febby seolah mengancam akan membunuhnya kalau ia bilang ‘tidak’.
“Apa ? apa aku salah bicara ?” Tanya Febby dengan tampang bodohnya seolah tidak mengerti apa-apa.
Berulang kali aku mengumpat dalam hati, kenapa bisa aku memiliki sahabat seperti dia ?
“Widel.. Sepertinya kau menyembunyikan sesuatu” Tanya Melda penuh selidik.
“Pasti kau menyembunyikan sesuatu. Firasatku tidak pernah salah” ucap Rina sambil memicingkan matanya.
“Jadi benar, kamu pernah berhubungan sama bos baru yang tampan itu Widel ?” Sambung Adel menambah kepalaku semakin pusing saja.
Ya Tuhan, aku ingin menghilang saja sekarang.
Aku menoleh pada Febby, sambil mengetatkan gerahamku. “Katakan pada mereka Feb, kalau aku sama Tuan Devan itu tidak ada hubungan apa-apa”
Febby semakin tidak mengerti, sebenarnya ada masalah apa yang sedang terjadi sekarang ini. “I-iya, Widel dan pria itu tak ada hubungan apa-apa kok, hanya teman” ucap Febby sambil menyengir.
Aku menepuk dahiku. Beginilah rasanya punya teman yang tidak bisa diajak kerja sama sedikit.
“Aku benar kan, kalian pernah mengenal sebelum-” ucap Rina yang tak selesai karena dipotong oleh Adel.
“Eh eh Tu-tuan Devan duduk di dekat meja kita.” ucap Adel memukul-mukul lengan Melda yang duduk di sebelahnya, namun ucapannya itu ditujukannya untuk kita semua.
__ADS_1
Seketika, kami semua melihat ke arah pandangan Adel secara serentak.
“Perlukah kita menyapanya ?” Tanya Rina tanpa mengalihkan pandangannya pada arah meja yang ditempati Devan.
“Nanti jadi ganggu kencannya Tuan Devan tidak ?” Tanya Adel masih melihat ke arah Devan.
Mataku melotot seperti melihat setan. Aku menjadi grogi tiba-tiba. Mulutku tertutup rapat, dan keringat dingin membasahi pelipisku. Bagaimana ini ? Jangan sampai mereka mau pergi menyapanya.
“Lebih baik kita jangan ganggu deh kayaknya” kataku berusaha membuat alasan agar mereka mengurungkan niatnya untuk menghampiri pria itu.
Aku melirik ke arah Devan. Namun dengan cepat kualihkan pandanganku ketika mata pria itu sepertinya sedang mengarah padaku juga.
Astaga, dia melirik ke sini.
“Tuan Devan sudah lihat kita. Kalau kita tidak datang menyapa, itu tidak sopan, dia kan bos kita” Ucap Rina lalu berdiri, membuat yang lain pun ikut berdiri.
Aku hanya menangis dalam hati dan berdoa, semoga tak ada apa-apa.
Ketika langkah kami berhenti, jantungku semakin menjadi tidak karuan, karena itu artinya kami telah berada di samping meja Devan saat ini.
“Selamat malam Tuan, tidak menyangka ternyata Tuan makan di sini juga” Ucap Rina seperti mewakili kami.
Aku berdiri di belakang punggung Rina, tak berani menampakkan wajahku sama sekali.
“Oh iya. Selamat malam juga” sahutnya.
“Hai Devan, masih mengingatku kan ? Kita pernah bertemu sebelumnya” Ucap Febby dengan antusiasnya, tiba-tiba menyelenong dan berdiri tepat di dekat Devan.
Kepejamkan mataku sambil meremas rokku kuat-kuat dan menggigit bibir dalamku. Febby, aku mohon.... diamlah! Jangan banyak tingkah!
“Tuan ingat kan ?” Tanya Febby lagi karena Devan hanya diam saja, aku tak tahu dengan jelas raut wajah Devan saat ini, tapi aku yakin saat ini pasti ia sedang berusaha mengingatnya dengan keras.
Semoga Tuan Devan tak ingat. Semoga... Semoga-
__ADS_1
“Kita pernah bertemu di kamar Widel, waktu itu entah kenapa kau bersembunyi di dalam lemarinya”
Deg!
Ya Tuhan, cabut saja nyawaku sekarang.
Kuberanikan diriku untuk mengangkat kepalaku ke atas, dan berusaha menatap Devan yang ternyata sedang menatapku juga. Aku menggelengkan kepalaku padanya dengan raut wajah yang memelas.
Tuan Devan, kumohon... katakan bahwa kau tidak mengenali temanku yang bodoh itu.
Alisku mengkerut, lelaki itu malah tersenyum lebar. Apa maksudnya tersenyum seperti itu ?
“Oohh.. Iya, aku hampir tak mengenalimu”
Sudah, tamat sudah! Aku ingin mati saja! Semua orang tidak ada yang paham dengan kode-kode yang kuberikan. Apa aku yang bodoh, atau mereka yang bodoh, aku sudah tidak tahu lagi.
Sebaiknya aku kabur saja kalau situasinya seperti ini.
Dengan gerakan yang penuh hati-hati, aku melangkahkan kakiku berjalan mundur sambil berusaha keras tidak membunyikan suara apapun agar mereka tak ada yang menyadarinya. Sudah tak ada jalan lain lagi, saat ini aku harus kabur dari mereka semua. Bodo amatlah dengan Febby yang bodoh itu. Terserah dia mau pulang naik apa, aku tak peduli. Siapa suruh dia buat masalah.
Baru saja tiga langkah mundur, mereka semua berbalik memandangku dengan penuh arti.
Aku hanya tertawa cengengesan, lalu bersiap untuk lari setelah ini. Aku sudah tidak punya muka untuk menatap mereka semua.
Satu.
Dua.
Tiga.
“WIDEEELLLL!! JANGAN LARI!!” pekik teman-temanku semua sambil mengejarku dengan cepat. Aku berlari secepat mungkin agar tak tertangkap oleh mereka. Saat ini yang penting adalah menyelamatkan diri dari mereka semua.
Bersambung...
__ADS_1