
WIDEL POV
Aku tidak menyangka, kalimat itu terucap juga dari mulutku. Kugigit bibir bawahku melihat takut-takut ke arah Kak Reza yang memalingkan wajahnya dalam diam.
Aku melepaskan cincin di jari manisku pemberian Kak Reza. “Kak Reza ? Maafkan aku” kataku dengan rasa tak enak hati sambil menyodorkan cincin itu kembali pada Kak Reza. Aku sadar aku telah menyakiti hatinya. Namun, apa boleh dibuat, hati tak bisa dipaksakan.
Kak Reza hanya menatap cincin itu tanpa mengambilnya. Ia diam beberapa saat, lalu akhirnya mengambil cincin itu kembali. Ia menatapku dengan ekspresi yang tak bisa kubaca sama sekali.
Aku menunduk dalam, terlalu sedih untuk menatap matanya saat ini. “Maafkan aku kak”.
Air mataku mulai menetes, setetes demi setetes jatuh ke tanah. Aku menangis, bahuku mulai bergetar. Perasaan
bersalahku padanya menguasai diriku, hingga aku tak mampu menatapnya.
“Hei, kenapa ?” Kak Reza kebingungan saat melihatku yang mulai menangis sesenggukan. Ia membawaku ke dalam pelukannya sambil menepuk-nepuk bahuku, dan mengusap kepalaku.
“Ma-maaf... huhuhu” Tangisku mulai pecah di pundaknya. Terkadang aku heran, kenapa ya ? saat kita hendak menangis, tapi begitu ditegur, ditanya, apalagi dipeluk, malah justru tangisan itu akan semakin tak tertahankan. Bagai air yang ditumpah dari dalam ember. Semakin pecah menjadi-jadi. Padahal sebenarnya, aku juga tak ingin menangis dihadapan Kak Reza seperti ini. Kenapa selalu saja aku menangis di hadapan orang yang sangat tak kuijinkan melihatku begini. Baik itu Kak Reza, maupun Devan. Devan ? Bahkan disaat seperti ini, aku masih saja teringat padanya.
“Hei, kau tidak perlu minta maaf Widel. Kau tidak melakukan kesalahan apapun. Justru aku senang kau mau jujur padaku” katanya dengan berusaha menenangkanku. “Sudah, jangan menangis lagi.” Ucapnya lagi dengan lembut.
__ADS_1
“Lihat sana, sunset nya mulai kelihatan” katanya sembari melepaskan pelukannya dan menunjuk matahari yang mulai tenggelam.
Ia menyeka air mataku dengan kedua tangannya. “Kalau kau menangis terus, kau tak akan bisa melihat sunset”.
Perlahan, tangisku mulai berhenti. Aku menatap langit dengan penuh rasa takjub.
“Sangat indah bukan ?” tanyanya dan aku mengangguk mengiyakan. “Hm, indah sekali”. Tanpa sadar, begitu takjubnya aku melihat pemandangan sunset yang jujur saja baru pertama kali kulihat seindah itu, ujung bibirku terangkat sedikit menyunggingkan senyum bahagia. Sedihku hilang seketika dengan ajaibnya.
Aku menoleh pada Kak Reza yang sedang menatapku. Ia juga tersenyum. Lalu aku kembali menatap langit, hingga matahari benar-benar tenggelam, tergantikan bulan yang menerangi malam.
Sesekali aku melirik Kak Reza yang terus saja menatap langit dalam keheningan. Hari sudah malam, udara pun sudah semakin dingin, apalagi di pinggir pantai seperti ini. Sinar bulan memantul ke laut, membuatnya seperti berkilauan. Suara ombak semakin kencang kudengar. Aku melihat Kak Reza yang sepertinya enggan untuk meninggalkan tempat ini. Entah kenapa aku jadi tidak tahu apa yang harus kukatakan. Aku mengalihkan pandanganku lagi mencoba menunggu, kiranya dia mungkin butuh waktu beberapa saat lagi untuk menikmati suasana seperti ini.
Saat aku meliriknya lagi, tiba-tiba saja mata kami bertemu pandang satu sama lain. Ia tersenyum hangat lalu berdiri dan mengulurkan tangannya padaku.
Kuterima uluran tangannya, membalas senyum manisnya, lalu mengangguk. Aku berdiri, lalu berjalan berdampingan dengannya. Aku merasa lega. Senang karena ternyata Kak Reza masih bisa bersikap biasa saja padaku. Aku harap kita bisa terus seperti ini, bukan layaknya sepasang kekasih, namun sebagai sahabat yang saling memahami.
Aku agak terkejut ketika Kak Reza membukakan pintu mobil untukku. Bukan terkejut bagaimana, hanya saja mungkin lebih tepatnya bingung, karena kupikir, setelah aku mengatakan hal tadi, ia akan memperlakukanku dengan biasa saja. Tapi, ia masih memperlakukanku layaknya seorang wanita yang dicintainya. Perlakuan kecil yang menurutku manis.
Setelah aku duduk dengan nyaman, ia menyusul duduk di kursi kemudi. Sepanjang perjalanan, ia diam tak banyak bicara. Aku jadi kebingungan, kupikir tadi ia baik-baik saja. Ia tak biasanya begini. Ia selalu bercerita, tertawa dan sesekali bertingkah jahil. Aku ingin bertanya padanya, tapi mungkin ia sedang tak ingin diganggu. Oh iya, kok rasanya hening sekali ya ? Biasanya ada suara musik yang diputar di radio mobilnya. Saat ini ia tak menyalakan apapun. Benar-benar hening. Sebenarnya Kak Reza kenapa ?
__ADS_1
Jujur, jauh dilubuk hatiku terdalam, aku takut. Takut Kak Reza menjauhiku. Takut kami tak bisa dekat lagi seperti dulu. Takut hubungan kami mendadak renggang dan canggung.
Keadaan begini membuatku semakin tidak nyaman. Membuat lidahku gatal ingin bertanya. Apa mungkin tadi aku ada salah bicara yang mungkin membuatnya tersinggung ?
Aaarrgghh!! Aku tak bisa diam saja begini.
“K-kak Reza ?” panggilku ragu-ragu.
“Hmm ?” gumamnya tanpa melirik padaku, hanya fokus menyetir menatap ke depan.
“Kak, apa Kak Reza marah padaku ?” tanyaku dengan hati-hati.
Akhirnya ia menoleh padaku, lalu tersenyum. Sebelah tangannya mengusap kepalaku. “Kenapa aku harus marah padamu ? Kau tak melakukan kesalahan apapun Widel. Aku hanya ada masalah kantor”
“Oh, begitu..” anggukku mencoba mengerti. Mungkin saja Kak Reza memang lagi ada masalah kantor. Tapi benarkah dia tidak ada masalah sama sekali dengan pengakuanku tadi ? Dia terlihat baik-baik saja tadi.
Aku menoleh padanya sekali lagi. Mencoba membaca ekspresinya yang sangat sulit kutebak.
Tak lama kupandangi wajahnya, dia langsung menoleh padaku dan terkekeh “Aku memang tampan, tak perlu kau pandangi terus begitu” ucapnya santai.
__ADS_1
Dengan refleks, aku mengalihkan pandanganku. Merasa menyesal telah menatapnya. Lebih baik aku memasang headset, menghidupkan musik kesukaanku, lalu memandangi pemandangan jalan sepanjang perjalanan pulang.
Bersambung...