
Satu minggu kemudian...
“Widel, kenapa ya Tuan Devan sepertinya sudah tidak pernah lagi mengunjungi restoran ini ? Paling-paling hanya asisten pribadinya yang sesekali datang” Tanya Rina pada Widel, ketika mereka hanya berdua saja. Hari itu restoran sedang sepi mungkin karena hari Senin dimana orang-orang kebanyakan sibuk bekerja, dan hari juga masih sangat pagi.
Widel mengangkat bahunya. “Aku tidak tahu Rin, aku kan bukan siapa-siapanya”
Rina mengerutkan keningnya. “Loh, bukannya Tuan Devan sepertinya menyukaimu Widel ?”
Widel menepuk lengan Rina. “Jangan bicara sembarang Rin”
“Kenapa ? Ada yang salah dengan ucapanku ?” Tanya Rina tak mengerti dengan Widel.
“Aku dan Tuan Devan itu beda jauh Rin. Jadi tidak mungkin” ucap Widel sambil menghela napasnya.
Rina menggelengkan kepalanya. “Aku tahu kalau kamu itu memang bodoh. Tapi aku tidak menyangka ternyata kamu benar-benar sangat bodoh”
Widel melirik kesal. Namun hanya diam saja.
Tiba-tiba beberapa staf restoran berlari kecil menuju pintu utama restoran dengan terburu-buru.
__ADS_1
“Ada apa ?” Tanya Widel.
Melda dan Adel tampak mengikuti dari belakang, juga pergi ke pintu utama. Rina dan Widel pun akhirnya ikut pergi juga ingin melihat apa yang terjadi.
“Sstt.. Jangan ribut. Tuan Devan datang” ucap seorang staf pada karyawan yang sibuk berbisik-bisik menimbulkan suara bising.
Devan keluar dari mobilnya. Seperti biasa, auranya itu terlalu kuat. Tampan, menawan, dan sangat berwibawa. Semua karyawan wanita tersenyum melihatnya, bahkan Widel diam-diam tersenyum senang.
Devan berjalan dan membuka pintu mobil di sampingnya. Terlihat seorang wanita turun sambil memegang tangan Devan. Keduanya berjalan saling bergandengan tangan dan terlihat sangat serasi. Widel mengenali wajah wanita itu yang tak lain adalah Xena.
Raut wajah Widel berubah seketika. Ia langsung menundukkan kepalanya begitu Devan dan Xena melewatinya. Xena memang sangat cantik dan kaya, cocok sekali dengan Devan. Entah kenapa Widel menjadi minder sendiri, melihat kemesraan keduanya.
Widel memandang Devan dari jarak yang tak begitu jauh. Lelaki itu pun sempat menoleh padanya, namun dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tampak Devan mengajak Xena masuk ke ruangannya.
Setelah itu Widel pun kembali bekerja. Ia tak lagi menjadi kurir yang harus mengantarkan makanan ke rumah-rumah pelanggan setelah dilarang oleh Devan. Selama Devan tak ada, ia hanya melayani pelanggan di dalam resto saja. Namun, sekarang Devan telah kembali. Apa ia harus menjadi asisten yang harus melayaninya lagi ? Apa ia harus memasakkan makanan untuk Devan seperti yang disuruh lelaki itu waktu seminggu yang lalu ? Widel bingung, karena Devan sepertinya sudah tak menganggap dirinya. Hal ini sudah sering terjadi. Devan sering sekali berubah-ubah, kadang dia sangat memperhatikan Widel, namun kadang ia juga seperti orang asing.
Saat waktu sudah akan menjelang siang, Widel pun memutuskan untuk bersiap di dapur, memasakkan makanan rumahan untuk Devan, seperti apa yang diperintahkan padanya waktu itu. Ia memasak ala kadarnya sesuai kemampuannya.
Setelah semua telah siap, ia pun segera membawanya ke ruangan Devan. Sesampainya di depan pintu ruangan bosnya itu, ia sempat ragu untuk melakukan hal itu. Namun akhirnya ia memberanikan diri untuk mengetuk pintunya.
__ADS_1
Tok Tok Tok
“Masuk” sahut Devan dari dalam ruangan.
Widel pun menekan gagang pintu itu ke bawah, sampai akhirnya terbuka menampakkan dua sosok manusia yang sedang duduk bersebelahan, Devan dan Xena.
Ternyata Devan sedang menikmati makanan yang tertata banyak sekali di atas meja sofa, bersama Xena yang juga ikut makan siang.
Kaki Widel seakan tak mampu untuk bergerak masuk lebih jauh ke dalam. Ia seperti orang bodoh yang membawa nampan berisi makanan yang sangat biasa saja.
“Ada apa ?” Tanya Devan yang sementara mengunyah makanan di mulutnya.
“Ti-tidak Tuan. Maafkan saya, saya salah masuk ruangan” ucap Widel pelan, menyembunyikan suaranya yang hampir bergetar. Entah kenapa hatinya sakit sekali.
“Apa yang kau bawa itu ?” Tanya Xena melirik ke nampan yang dibawa Widel.
“Bu-bukan apa-apa Nona. Maafkan saya sudah mengganggu” jawab Widel lalu berbalik dan berjalan pergi.
Xena tersenyum diam-diam, melihat Widel yang terlihat sangat menyedihkan. Sementara Devan hanya diam dan tak merasa berselera untuk melanjutkan makannya lagi. Ia pun langsung berdiri setelah mengelap bibirnya dan melanjutkan pekerjaannya di meja kerjanya.
__ADS_1
Bersambung...