
“Saat itu, aku mendapat shift kerja malam. Itu adalah pesanan terakhir yang harus aku antarkan waktu itu.” Ucapku mulai bercerita. “Dan pelanggan itu adalah Tuan Devan”
Mereka bertiga diam, menyimak ceritaku dengan seksama.
“Aku tidak tahu, ternyata saat itu Tuan Devan sedang bertengkar dengan kekasihnya”
“Kekasihnya ? Yang mana ? Apa yang sering datang ke sini itu ?” Tanya Rina antusias.
“Bukan Rin, tapi kekasihnya yang lain sebelum yang sekarang” jawabku.
“Terus ?” Tanya Melda.
“Entah kebetulan atau tidak, aku ada di tengah-tengah pertengkaran mereka, mungkin kala itu adalah saat tersial bagiku”
“... Aku berdiri di dekat pintu, Tuan Devan berteriak dan menyeret kekasihnya keluar dari rumahnya, lalu membanting pintu dengan sangat keras tepat di belakangku.”
“... Aku tersentak kaget, takut, dan sangat lelah. Kakiku tiba-tiba kram dan aku menangis di depannya” ucapku sambil tersenyum mengingat kejadian waktu itu. Entah kenapa, saat menceritakannya seperti ini, aku jadi merasa kalau kejadian itu adalah kejadian manis yang terasa lucu untuk diceritakan kembali.
“Terus terus ?” Tanya Adel yang mulai merasa penasaran.
Aku tersipu malu untuk mengatakan ini. “Terus Tuan Devan.. Dia... dia memelukku dan menenangkan aku di dalam pelukannya”
Kulihat mereka bertiga, sontak membulatkan matanya lebar-lebar.
“Waah.. wah.. DAEBAK!!” ucap Rina sambil menggelengkan kepalanya.
“Kemudian....” sambungku. Mungkin pipiku sudah memerah seperti kepiting rebus sekarang.
Arghh.. Sialan teman-temanku ini!
“Kemudian apa ?” Tanya mereka bertiga dengan serentak.
“Arrghh! Sudahlah. Intinya, itu adalah awal pertemuanku dengannya, lalu tak sengaja bertemu lagi dengannya di kemudian hari, dan di kemudian harinya lagi sampai sekarang ini” Ucapku menghentikan ceritaku. Terlalu malu untuk kuceritakan pada mereka.
“Isss.. Apa sih Widel ?” Mereka bertiga kesal dan menarikku untuk bercerita kembali.
“Yang benar dong ceritanya. Aku sudah penasaran tingkat dewa ini Widel. Jangan digantung gitu dong ah” repet Rina dengan wajahnya yang cemberut.
“Kemudian apa Widel ?” Tanya Adel dan semuanya mendesakku untuk melanjutkan ceritaku yang tadi.
Sekuat tenaga aku menahan senyum yang entah kenapa seakan sulit sekali untuk menguncupkan mekarnya. “Kemudian Tuan Devan menggendongku dan membaringkanku di atas sofanya.”
“WAWW WAWW... ASTAGA.. ASTAGA.. Beruntungnya dirimu Widel” ucap Rina tersenyum lebar, dan yang lain ikut menggodaku dengan hebohnya.
Teman-teman sialan! Hahaha..
Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku sangking malunya. Ini terlalu memalukan untuk diceritakan.
__ADS_1
“Terus terus ?” ucap mereka terus mendesakku untuk melanjutkannya.
“Lalu Tuan Devan mengompress kakiku agar kram di kakiku mereda” lanjutku sambil tersenyum. Entahlah, kenapa wajah ini malah tersenyum sih ? Aku tak bisa menahannya.
“Cieee cieee Wideeellll.. Co cuiitttt” Hebohnya mereka menggodaku lagi membuatku ingin langsung pergi saja dari sini.
“Ah sudahlah. Aku tidak ingin cerita lagi” ucapku merasa malas untuk melanjutkannya. Mereka selalu saja seperti itu, membuatku malu sampai semalu-malunya.
“Dih ngambek” Ucap Melda.
“Ayo dong Widel.. Cerita sampai selesai pokoknya” Ucap Rina.
“Ini sudah mau jam pulang, singkat saja ya” kataku.
“Ih, apasih Widel, masih ada sepuluh menit begini kok” dumel Rina.
“Hmm.. malam itu, aku jadi makan bersama dengan Tuan Devan di rumahnya. Setelah itu aku diantar pulang olehnya. Itulah awal pertemuan kami, dan selanjutnya aku tak sengaja bertemu dengannya lagi di kemudian harinya. Intinya seperti itu bagaimana aku dan Tuan Devan saling mengenal. Terlalu panjang untuk kuceritakan pada kalian” lanjutku ingin segera menyudahi cerita ini.
“Apa kalian saling mencintai ?” Tanya Rina yang membuat mataku terbelalak dan langsung terkekeh mendengarnya.
Aku bingung mau menjawab apa. Aku tidak tahu dengan jelas apa perasaannya padaku. Ia pernah menyatakan cintanya padaku, dan memintaku menjadi kekasinya, namun sekarang dengan cepatnya ia sudah mencintai wanita lain. “Aku tidak tahu” ucapku sambil menggelengkan kepala.
“Apa kau mencintainya ?” Tanya Rina lagi, dan yang lainnya hanya menatapku dengan serius, menunggu jawaban dariku.
Aku menunduk dalam dan hanya diam tak menjawab pertanyaan Rina padaku.
Kuanggukkan kepalaku perlahan. “Iya.. Aku jatuh cinta padanya” ucapku lalu mengangkat wajahku menatap mereka.
Melda menutup mulutnya tak percaya, sedang Rina dan Adel hanya membulatkan matanya. Pandangan mereka padaku, mungkin adalah pandangan yang iba.
Raut wajahku berubah sendu, entah kenapa aku jadi ingin menangis saat ini. Mataku berkaca-kaca dan terasa memanas.
“Ya ampun Widel... Kau sungguh sungguh mencintai pria itu” Ucap Rina lalu memelukku hingga rasanya aku ingin meraung sekarang. Melda dan Adel pun ikut memelukku hingga sekarang kami seperti teletubbies yang sedang berpelukan bersama.
“Hatimu pasti sangat sakit melihatnya dengan wanita lain. Yang sabar ya temanku” ucap Rina yang akhirnya membuat tangisku langsung pecah dalam pundaknya.
Beberapa karyawan yang lain melihat kami aneh, dan bertanya aku kenapa, namun Rina menjawab, aku hanya sedang merindukan ibuku. Mereka bertiga kemudian membawaku ke tempat yang sedikit lebih privasi agar tak dilihat oleh orang lain.
“Sudah, sudah Widel. Jangan menangis lagi. Aku yakin, kalau kalian jodoh, pasti akan bersatu juga” ucap Melda menenangkanku.
Aku mulai tenang, dan mengangkat wajahku, lalu tersenyum merasa malu pada diriku sendiri yang tiba-tiba menangis di depan mereka. Kemudian, aku membasuh wajahku yang sudah penuh dengan bekas air mata, agar wajah ini tampak sedikit lebih baik.
“Sudah jam pulang. Balik yuk” Ajak Adel.
“Baiklah, ayo pulang” ucapku sambil membenarkan bajuku, lalu berjalan keluar dari restoran bersama mereka.
Kami pun pulang ke rumah masing-masing setelah melambaikan tangan satu sama lain.
__ADS_1
*****
Esok harinya..
Tepat pukul tujuh pagi, aku sudah bersiap akan berangkat ke restoran. Surat pengunduran diriku telah kusiapkan di dalam tote bag yang kupakai. Aku akan menyerahkannya hari ini.
Kuhembuskan napasku berkali-kali sebelum akhirnya melaju membelah jalan raya dengan motor maticku. Hari ini, akhirnya aku akan mengundurkan diri dari Luxury Food.
Sekitar lebih tiga puluh menit di perjalanan, aku sampai di parkiran restoran.
Drep drep drep
Setiap langkahku yang semakin mendekat pada pintu masuk restoran, membuat jantungku semakin berdegup kencang, merasa sangat grogi untuk menghadapi pertanyaan mereka kelak yang pastinya akan menanyakan alasanku ‘kenapa aku berhenti’. Belum lagi, menatap wajah teman-teman yang dekat denganku di restoran ini, ada Rina, Melda, dan juga Adel yang sangat baik padaku. Aku pasti tak tahan berpisah dengan mereka sebab kami sudah seperti sahabat selama ini.
Sangat kebetulan, aku melihat Bu Mega, yang dulunya adalah sekretaris Pak Ervin, kini berubah menjadi sekretaris Tuan Devan, baru datang memasuki restoran tak lama setelah aku datang. Aku pun segera menghampirinya.
“Selamat pagi Bu Mega” sapaku pada Bu Mega.
“Selamat pagi” sahutnya.
“Bu Mega, ada yang ingin aku sampaikan. Bisakah kita berbicara di dalam ruangan Bu Mega ?” ucapku, tentu saja dengan memberanikan diri sebab detak jantungku sudah tak karuan lagi.
Bu Mega mengangguk. “Hm.. Baiklah, mari masuk ke ruanganku”
Aku mengikuti Bu Mega di belakangnya, lalu duduk setelah di suruh duduk oleh Bu Mega.
“Baiklah, apa yang ingin kau sampaikan padaku Widel ?” Bu Mega adalah sekretaris yang hampir mengingat semua nama karyawan di restoran ini. Itu wajar, ia adalah staf terlama di sini.
Aku mengeluarkan surat yang telah kusiapkan dari dalam tasku dan menyerahkannya pada Bu Mega. “Bu Mega, aku ingin mengundurkan diri”
“Loh, kenapa ?” Tanya Bu Mega dengan kening yang berkerut.
“Ada alasan pribadi Bu” jawabku seadanya.
Tampak Bu Mega menghela napasnya. “Hm.. Baiklah kalau begitu. Jagalah dirimu baik-baik, terimakasih sudah membantu Luxury Food selama ini”
“Maaf dan terimakasih bu untuk selama ini” ucapku dengan badan yang sedikit menunduk.
Bu Mega tersenyum. “Iya, semoga sukses Widel” ucapnya lalu aku memohon diri untuk pergi.
---
Aku menghampiri Rina, Melda, dan juga Adel yang kebetulan sedang bersiap-siap membersihkan meja-meja restoran.
“Teman-teman, jaga diri kalian ya. Aku berhenti” kataku sambil tersenyum tulus pada mereka.
Bersambung...
__ADS_1