
Pak Ervin memasukkan barang-barang di ruangan kerjanya ke sebuah box. Ia melihat-lihat foto di bingkai yang tergantung di dinding, dan piagam-piagam yang berjejer di rak lemari nya. Ia menyentuh barang-barang itu dengan sedih. Tak pernah sekalipun ia berpikir akan meninggalkan restoran ini dan menjualnya pada orang lain. Tapi, demi memikirkan masa depan karyawannya, ia harus melakukannya.
Ia mengembuskan napasnya karena merasa dadanya sangat sesak. Ia mengambil satu persatu bingkai foto di dinding itu dan memasukkannya ke dalam box, hanya menyisakan piagam-piagam penghargaan restoran yang dulu adalah miliknya.
Tok Tok Tok
Seseorang mengetuk pintu ruangan Pak Ervin dari luar.
“Masuk” sahut Pak Ervin.
“Pak Ervin” ucap Bu Mega menghadap Pak Ervin.
“Aku tahu, kau ingin menanyakan alasanku” jawab Pak Ervin sambil mengemaskan barangnya.
“Tolong, setidaknya jelaskan padaku” pinta Bu Mega.
Pak Ervin menoleh pada Bu Mega dan menatapnya “Aku hanya lelah dan ingin istirahat” ucap Pak Ervin sambil tersenyum tipis.
Bu Mega menghela napas. Ia sangat tahu dengan pria ini. Sesungguhnya, apa alasan sebenarnya ? Kenapa tidak mengatakannya dengan jujur ? Apa begitu sulit untuk mengatakannya ? Bu Mega tahu ia tak bisa memaksa bosnya itu untuk jujur.
“Setelah ini Pak Ervin akan kemana ?”
“Aku mau berlibur di luar negeri” kata Pak Ervin lalu lanjut mengemas barang-barangnya lagi.
“.. Oh ya, bagaimana menu sarapannya sudah siap belum ?” tanyanya pada Bu Mega yang menatap Pak Ervin dengan pandangan sedih. Bagaimana tidak sedih ? Bu Mega adalah sekretaris Pak Ervin sejak awal berdirinya Luxury Food. Ia telah membantu dan menemani Pak Ervin sudah lama sekali. Mungkin sudah sekitar sepuluh tahun sejak Pak Ervin masih berada di bangku SMA.
“Sebentar lagi akan siap” jawab Bu Mega.
“Baiklah, bangunkan aku kalau sudah siap” ucap Pak Ervin yang hendak berbaring di sofa panjang, telah selesai mengemasi barang-barangnya. Kini ia hanya ingin berbaring sebentar.
“Baiklah” jawab Bu Mega lalu pergi dari ruangan Pak Ervin.
****
Widel sudah sampai di depan pintu pagar sebuah vila yang besar. Pagarnya dengan otomatis terbuka setelah menampakkan wajahnya di depan camera pintu intercom yang terletak di dinding pagar.
Ia pun masuk lebih jauh ke dalam hingga sampai di depan pintu villa. Widel membunyikan bel, kini ia agak malas berteriak dari luar karena mungkin saja tidak akan terdengar dari dalam. Jadi itu hanya akan membuang-buang suaranya percuma dan akan membuatnya kelelahan. Ia hanya membunyikan bel dengan memberi jeda sebentar saja sampai pintunya terbuka.
“Maaf, dengan siapa ?” Seorang wanita paruh baya membuka pintu itu. Ia memakai seragam tampak seperti pengurus villa ini. Ia adalah Bi Ija, pelayan pribadi Xena Wilkinson.
“Saya mengantarkan pesanan atas nama Xena Wilkinson”
“Oh, baiklah. Terimakasih. Berapa totalnya ?” ucap Bi Ija sambil menerima bungkusan makanan itu.
__ADS_1
“Ini billnya bu” Widel menyerahkan struk daftar harga yang harus dibayarnya.
“Baiklah, mau tunggu di dalam ?”
“Ah, tidak perlu bu. Saya tunggu di sini saja” tolak Widel dengan halus.
“Baiklah. Tunggu sebentar kalau begitu” kata Bi Ija lalu masuk ke dalam dengan membiarkan pintu itu terbuka. Widel menunggu di depan pintu.
***
“Tuan Frans, ini pesanan nona Xena dan ini billnya. Kurirnya menunggu di depan” ucap Bi Ija pada Frans yang sedang duduk di kursi tidur di pinggir kolam renang.
Frans menerimanya, dan segera membangunkan Xena yang tertidur di kursi tidur sebelahnya.
“Nona... Nona Xena ?” panggil Frans sambil menggoyang-goyangkan lengan Xena.
Xena menyipitkan matanya karena silau yang menusuk matanya. Ia terbangun. “Hm.. ada apa ?”
“Nona, pesananmu sudah datang. Bangunlah dan makan. Nona kan tidak suka makanan yang sudah dingin” ucap Frans dengan lembut.
“Hm, kurirnya perempuan atau laki-laki ?” tanya Xena yang sudah duduk.
“Perempuan nona” jawab Bi Ija.
“Sudah pergi belum bi ?” Tanya Xena.
“Baiklah. Aku akan keluar. Aku akan membayarnya langsung” kata Xena yang langsung berdiri dan memakai baju mandinya. “Berikan uangmu Frans” Xena menengadahkan tangannya pada Frans. Seperti inilah dia selalu pada Frans ketika tidak memegang cash.
Frans mengambil dompet dari dalam sakunya dan memberikannya beberapa lembar uang sekaligus dengan billnya tadi.
Xena pun pergi ke luar hendak menemui Widel langsung. Sebenarnya ia sengaja memesan makanan di restoran itu, sudah beberapa kali sejujurnya, tapi yang datang selalu kurir laki-laki. Menurut informasi yang ia dapatkan, kurir yang disukai Devan namanya adalah Widel, dan wanita itu adalah satu-satunya kurir perempuan di restoran itu. Ia tak mungkin mengatakan pemintaannya langsung, ingin diantarkan oleh wanita yang bernama Widel pada karyawan yang bertugas menerima pesanan di restoran itu, karena itu sangatlah mencurigakan. Jadi beberapa kali, jika ia sempat dan ingat, ia akan terus memesan di restoran itu sampai orang yang dicarinya datang sendiri. Dan hari ini, kesempatan itu ada padanya.
Agak lama Widel menunggu, akhirnya seorang wanita muda dan cantik datang menghampirinya bersama ibu tadi yang mengikuti wanita cantik itu selangkah di belakangnya. Xena agak diam sebentar memandangi Widel dari atas ke bawah.
“Oooh.. jadi ini yang namanya Widel” batin Xena. Ia tersenyum miring, karena merasa saingannya ternyata jauh dari ekspektasinya, sangat di bawah standar.
Xena hanya ingin melihatnya secara langsung. “Ini uangnya. Coba dihitung kembali”
Widel pun menghitung uang yang diberikan. “Kembaliannya tujuh puluh ribu ya nona” ucap Widel.
“Tidak usah, untukmu saja” ucap Xena dan langsung berbalik meninggalkan Widel di ambang pintu tanpa menunggu apapun perkataan Widel. Ia berjalan sambil tersenyum meremehkan. Ia tak menyangka selera Devan seperti itu. Tapi, ada pertanyaan kecil di benaknya. Sebenarnya, apa yang ada di dalam diri wanita itu yang tidak ia miliki ? Kenapa Devan menyukainya ?
“Kalau begitu, saya permisi bu. Sampaikan terimakasih ku padanya” ucap Widel pada Bi Ija yang masih berdiri di ambang pintu sambil tersenyum ramah.
__ADS_1
“Baiklah sama-sama”
Widel pun pergi dari villa itu, ia merasa aneh dengan ekspresi wanita yang bernama Xena itu ketika melihatnya. “Kenapa dia melihatku seperti itu ?” ucapnya bermonolog sambil mengendarai motornya.
“aahh.. sudahlah. Aku harus cepat, tak ingin ketinggalan sarapan bersama Pak Ervin nanti”
Widel melajukan motornya kembali ke restoran.
****
“Baiklah, saya rasa sudah jelas semua. Rapat selesai” Devan telah selesai memimpin rapat. Ia pun keluar dari ruangan rapat itu dan segera kembali ke ruang kerjanya.
“Sarah, hubungi Tuan Robert Harryson, katakan aku ingin bertemu dengannya” ucap Devan sambil melangkah dan menoleh ke samping pada sekretarisnya.
“Baik Tuan” Dengan sigap, Sarah langsung menghubungi orang tersebut sambil berjalan mengikuti bosnya yang melangkah dengan cepat.
“Tuan Robert Harryson, Tuan Devan ingin bertemu dengan anda. Apakah anda memiliki waktu ?” ucap Sarah ketika panggilannya sudah tersambung.
“Baiklah, siang ini aku akan datang menemuinya” jawab Robert di seberang sana.
“Sayangnya, Tuan Devan ingin sekarang juga! Kuharap anda mengerti” sahut Sarah dengan intonasinya yang tegas.
“Baiklah. Tiga puluh menit dari sekarang, aku akan sampai di sana”
“Terimakasih Tuan Robert Harryson” ucap Sarah lalu memutuskan panggilannya.
“Tuan Robert Harryson akan sampai tiga puluh menit lagi Tuan” lanjut Sarah menyampaikannya pada Devan.
“Hm. Oke. Satu lagi, percepat jadwal terbangku, aku ingin berangkat jam sepuluh pagi ini, tepat setelah menemui Tuan Robert” ucap Devan lagi pada sekretarisnya itu.
“Baik Tuan. Ada lagi yang perlu kusiapkan ?”
“Tidak ada”
Devan membantingkan dirinya di sofa ruang kerja pribadinya. Ia melonggarkan dasinya lalu mengembuskan napasnya.
“Bawakan aku segelas kopi” katanya pada sekretarisnya yang setia mengikuti.
“Baik Tuan”
Devan merogoh ponsel dari dalam saku jasnya. Ia menekan tombol, menghubungi asisten pribadinya Riko. “Bagaimana dengan yang kusuruh kemarin ?”
“Beres Tuan, tinggal menunggu Anda untuk menandatangani surat-suratnya” jawab Riko.
__ADS_1
“Mungkin aku akan tiba nanti malam di sana”
“Baik Tuan”