
Di hari aku tidak melihat sekilas dirimu..
Aku seperti orang kesetanan.
Devano Lewis
\====
Gadis itu meninggalkanku lagi. Apa karena aku sudah keterlaluan ?
Berkali-kali Devan menghubungi nomor telepon gadis itu tapi tidak pernah terhubung.
“Segera panggilkan karyawan Rina untuk ke ruanganku sekarang” ucap Devan menghubungi seseorang di telepon.
Orang yang dipanggil pun datang tak begitu lama.
“duduklah” ucap Devan.
“Kau temannya Widel bukan ?” Tanya Devan langsung.
Rina mengangguk. “Iya Tuan”
“Kau pasti tahu alasannya mengundurkan diri dari sini, tolong katakan padaku”
“Ma-maaf Tuan, sebelum saya menjawabnya, bisa kah saya mengajukan pertanyaan pada Tuan Devan ?” ucap Rina.
Devan mengangguk. “Baiklah. Silahkan”
Rina berdehem untuk membenarkan suaranya, mungkin juga untuk memberanikan dirinya. “A-apa.. Tuan Devan.. mencintai temanku Widel ?”
“Menurutmu bagaimana ?” sahut Devan dengan pertanyaan balik. Rina masih diam, mencari kebenaran di mata Devan. “Kau tahu alasanku membeli restoran ini ?”
Rina menggeleng pelan.
“Alasanku adalah dia, temanmu, Widel” jawab Devan sendiri. “Dan yang jadi alasanku itu malah sekarang telah mengundurkan diri bahkan aku tak tahu itu sama sekali” lanjutnya agak meninggikan suaranya di penghujung kalimat.
Rina menatap Devan tanpa berkedip sama sekali. Memandang Devan penuh selidik. “Lalu kekasih anda, nona itu ?” Tanya Rina pelan, agak hati-hati, takut ia salah bicara sedikit saja maka ia juga akan dipecat sama seperti Bu Mega.
Devan menarik rambutnya ke belakang, merasa frustasi. “Dia bukan siapa-siapaku. Aku hanya memanfaatkannya untuk urusan bisnis sekalian agar Widel merasa cemburu dan berharap setelah itu ia akan jujur terhadap perasaannya terhadapku. Namun ternyata kenyataannya malah lain” Tutur Devan. “Sekarang, tolong katakan padaku” sambungnya.
Rina terdiam. Ia tidak menyangka malah jadi seperti ini. Ia tak tahu hubungan diantara keduanya ternyata serumit ini. Apa yang harus ia katakan pada Devan sekarang ? Temannya itu sudah bekerja menjadi sekretaris Reza. “Se sekarang Widel sudah bekerja di perusahaan Reza, Tuan”
“APAAA??? ”Sekali lagi Devan mengusap wajahnya gusar. “Astagaa Wideelll!!!”
Baru kali ini, Rina melihat sosok Devan yang seperti itu. Penuh amarah, dingin, dan menakutkan. Selama ini pria itu terlihat ramah dan penuh senyum, namun hari ini lelaki itu benar-benar menunjukkan sisinya yang lain.
“Bisakah kau menghubungi Widel ? Aku terus menghubunginya dari tadi tapi tidak bisa terhubung” Ucap Devan.
“Jelas tidak bisa terhubung, sehari setelah Widel mengundurkan diri, Widel mengabariku bahwa ia sudah mengganti nomor telepon bahkan alamatnya juga” batin Rina.
“Bba-baik Tuan” jawab Rina langsung melakukan apa yang disuruh oleh Devan. Nomornya terhubung dan tak menunggu lama, yang diseberang sana pun mengangkat panggilannya.
“Halo Rin” sahut Widel.
*****
WIDEL POV
Hari ini, terhitung sudah lima hari sejak aku mengundurkan diri dari restoran itu. Kenapa tak ada kabar sama sekali darinya ? Tidakkah ia mencariku ?
Hahaha.. sebenarnya apa yang aku harapkan ?
__ADS_1
Ketika aku menolak, mengingatkan diriku sendiri bahwa tak seharusnya aku menyimpannya di dalam hatiku, sejujurnya ada waktu dimana aku paling takut.
Aku takut dia mungkin akan berhenti mencariku.
“Kak Reza sudah waktunya makan siang” ucapku mengingatkan. ”Mau kubawakan makanan ke ruangan Kak Reza ?”
“Hmm.. ayo kita makan di luar saja” Ajak Kak Reza sembari menarik tanganku. Aku agak berjalan kesusahan karena heels yang kukenakan.
“Kemana kak ?” Tanyaku.
“Ikut saja”
Kak Reza membawaku masuk ke dalam mobilnya. Tak tahu akan membawaku ke mana sekarang. “Apa kau suka makanan ala jepang ?” Tanya Kak Reza.
Aku mengangguk. “Iya kak. Aku suka kok”
“Oke, kita akan ke restoran Jepang”
Sekitar lima belas menit, kami pun sampai di tempat tujuan. Sebuah restoran mewah dengan khas makanan jepang. Setelah duduk, seorang pelayan restoran menghampiri kami dan menyerahkan buku menu.
Aku pun bolak balik membuka buku menu itu untuk mencari harga termurah, namun sepertinya hampir semuanya mahal di sini. Apa tidak ada yang diskon ya ?
“Mau pesan apa ?” Tanya Kak Reza.
Kuangkat kepalaku menatap Kak Reza. “Ehm.. kalau Kak Reza ?”
“Aku mau shasimi. Kamu mau apa ?”
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Lalu memajukan kepalaku ke depan dan agak menunduk sambil menutupi mukaku ke samping agar tidak di lihat pelayan restoran. “Ehm. Kak Reza, apa kita benar-benar akan makan di sini ? Di sini sangat mahal” ucapku berbisik.
Kak Reza pun melakukan hal yang sama padaku, memajukan kepalanya ke depan dan agak menunduk sedikit seraya berbisik. “Aku yang traktir. Tenang saja”
“Benarkah ?” Tanyaku dengan tersenyum lebar dan Kak Reza mengangguk membenarkan.
Saat Kak Reza berbicara dengan pelayan restoran, menyebutkan apa saja yang dipesan, ponselku tiba-tiba berdering. Aku izin pada Kak Reza untuk mengangkat telepon sebentar, mencari tempat yang kiranya tidak terganggu.
“Halo Rin” ucapku.
“Ehm, Widel kau ada dimana sekarang ? Apa kau sedang sibuk ?” Tanya Rina dari seberang sana.
“Tidak Rin, kebetulan lagi mau makan siang. Aku ada di restoran jepang bersama Kak Reza sekarang”
“Oh, aku ingin bertemu denganmu, ada yang ingin aku bicarakan. Bisakah kau mengirimkan lokasimu saat ini ?”
Ada apa ? Kenapa Rina tiba-tiba ingin bertemu siang-siang begini ? Apa ia sedang tidak bekerja ?
“Oke baiklah, aku akan mengirimkannya padamu” sahutku.
“Oke, terimakasih Widel”
Aku kembali duduk.
“Siapa ?” Tanya Kak Reza.
“Rina Kak” jawabku datar lalu kami pun mengobrolkan beberapa hal yang terkait masalah pekerjaan sembari menunggu makanan yang kami pesan datang.
---
AUTHOR POV
Sekitar mungkin lima belas menitan lebih menunggu, Reza pun izin pada Widel ingin ke toilet, dan gadis itu akhirnya menunggu sendiri. Ia membuka game yang ada di ponselnya untuk membunuh rasa bosannya.
Baru saja Widel bermain dengan ponselnya, suara seseorang yang tiba-tiba memanggil namanya membuatnya langsung menengadah.
__ADS_1
“Widel”
Bukan Rina yang datang, melainkan pria itu, orang yang benar-benar ingin Widel hindari. Mulutnya menganga melihat pria itu ada samping mejanya sekarang.
“Tu-tuan Dd-devan ?” ucap Widel gelagapan.
“Kenapa dia ada di sini ? Apa mungkin tadi, Rina ?” batin Widel.
“Mari kita bicara” ucap Devan tiba-tiba menarik pergelangan tangan Widel dan berjalan pergi meninggalkan restoran.
“LEPASKAN!!” Sekuat tenaga Widel langsung menghempaskan tangan Devan hingga terlepas.
Saat ini, mereka berdua berdiri di depan restoran. “Widel, ikut saya sebentar saja. Kita harus berbicara” ucap Devan dan menarik tangan Widel lagi, membawa gadis itu masuk ke dalam mobilnya yang berada di seberang jalan.
“Apa yang ingin dibicarakan ?” Tanya Widel ketus. “Kuharap cepat saja, aku sedang bersama seseorang”
“Kenapa kau tiba-tiba mengundurkan diri ? Kenapa tidak bilang padaku ?”
“Aku sudah bilang pada Bu Mega, surat pengunduran diriku juga sudah kuserahkan pada beliau. Kupikir itu sudah cukup” jawab Widel lalu mengalihkan pandangannya ke kaca jendela mobil.
“Lihat aku” ucap Devan. “Lihat aku Widel!” Tangannya mengapit wajah Widel, membuat gadis itu memandangnya secara langsung tanpa melihat kemana-mana lagi.
“Kau anggap apa diriku hm ?” Tanya Devan dengan suara memelan.
“Sebatas atasanku. Tidak lebih”
“Aku tahu kau cemburu melihatku dengan wanita lain, makanya kau tiba-tiba mengundurkan diri. Iya kan ?”
“Tidak. Aku tidak punya perasaan apa-apa pada anda” jawab Widel.
Tangan Devan pun bergerak melepaskan wajah Widel.
“Kau bohong. Kalau begitu karena apa ? Apa karena gaji yang kuberikan kurang ? makanya kau lebih memilih kerja dengan pria itu sebab gajinya lebih tinggi ? Iya begitu ? Kalau begitu, aku juga bisa memberimu gaji yang tinggi, tinggal katakan saja, berapa maumu ?” Ucap Devan sudah sangat frustasi dan muak terhadap Widel yang selalu saja berbohong padanya.
PLAKK!!
Widel menampar Devan dengan keras, sambil menatap lelaki itu dengan penuh kemarahan.
“Kenapa kau menamparku ? Apa yang kukatakan itu salah ? Kalau begitu, katakan sejujurnya. Jangan terus membohongiku. Bukan hanya membohongiku, kau juga membohongi dirimu sendiri. Apa kau tidak lelah menjadi pengecut Widel ?”
“Hentikan” ucap Widel pelan namun dingin.
“Kau bahkan tak berani menghadapi perasaanmu sen-”
“CUKUP!!” Bentak Widel.
“Kenapa ? Kau tidak ingin dibilang pengecut ? Kalau begitu jujurlah, dan beranikan dirimu. Apa itu sulit ?” lanjut Devan seakan sudah muak dengan unek-uneknya selama ini. Ia sudah mati akal dengan apa yang akan ia lakukan lagi terhadap wanita ini. Widel terlalu menguji kesabarannya.
“IYA! IYA! KAU BENAR” jawab Widel dengan suara meninggi. Ia benar-benar sudah tidak tahan lagi sekarang. “AKU BERHENTI KARENA AKU TAK SANGGUP LAGI MELIHATMU DENGAN WANITA LAIN. AKU CEMBURU PADAMU. AKU CEMBURU, APA KAU DENGAR ? APA KAU SUDAH PUAS SEKARANG ?” teriak Widel dengan mata yang memerah, sudah berkaca-kaca. Napasnya memburu cepat, karena amarah, kesal, bercampur muak terhadap dirinya sendiri.
Tangan Devan bergerak menyentuh pipi Widel, mengapitnya, dan menatap wanita itu lekat. “Hei, dengarkan aku. Aku tak ada hubungan apa-apa dengan wanita itu Widel. Apa kau percaya padaku ? Aku melakukan itu hanya karenamu, karena kau tidak pernah mau jujur padaku, jadi aku memanfaatkan wanita itu hanya untuk membuatmu cemburu” ucap Devan dengan suara pelan.
Widel hanya diam, setetes air matanya telah berhasil jatuh di pipinya.
“Wanita itu namanya Xena Wilkinson, putri dari musuh bisnisku Charles Wilkinson. Aku hanya memanfaatkan wanita itu.” Lanjut Devan.
“Aku hanya mencintaimu seorang. Apa kau tahu, aku membeli restoran itu hanya untuk dekat dengan dirimu. Tiap hari aku menyempatkan waktuku yang sempit hanya untuk melihatmu. Tapi kau malah terus lari dariku. Bahkan kau sampai mengundurkan diri. Aku hanya mencintaimu Widel.”
Widel telah salah paham selama ini. Wanita itu tak bisa membendung air matanya lagi. Ia menangis di depan Devan.
“Maukah kau menjadi kekasihku Widel ? Aku tahu kau juga mencintaiku kan ?” Tanya Devan lembut dan menatap mata Widel lamat-lamat.
Ini adalah kali ketiganya Devan menyatakan cinta pada Widel. Apa sudah saatnya Widel memberanikan dirinya sendiri untuk menerima perasaan Devan ? Apakah ini sudah saatnya ia akan jujur terhadap dirinya sendiri, dan membiarkan semuanya berjalan sesuai alur ? seperti daun yang bergerak sesuai arah angin, seperti sungai yang mengalir ke muara.
__ADS_1
Bersambung...