I'M Crazy About You

I'M Crazy About You
Episode 39 - Kenapa Harus Dia ?


__ADS_3

“Ada hal apa yang ingin anda bicarakan denganku Tuan Devan ?” Tanya Robert Harryson.


Devan duduk menyilangkan kakinya membuat lawan bicaranya terasa sangat terintimidasi dengan tatapan matanya yang sangat tajam. “Katakan padaku yang sebenarnya, kenapa anda membatalkan perjanjian dengan begitu tiba tiba ?”


“Tuan Devan, bagaimana jika anda ditawarkan dengan penawaran yang lebih menjanjikan daripada yang sebelumnya ?”


Devan tersenyum miring sambil menaikkan alisnya. “Ooh.. Jadi Tuan Robert Harryson ingin mengatakan... bahwa anda sudah mendapatkan tawaran yang lebih menarik ? begitu ?”


“Kurasa saya tidak perlu menjelaskan lebih” jawab Robert.


Devan mengeluarkan pistol dari dalam saku jasnya. “Katakan! Siapa ?” tegas Devan menodongkan senjata api itu tepat mengarah ke kepala Robert.


“A-an-anda tidak akan menembak saya” ucap Robert terbata mulai merasa takut dengan pria dihadapannya ini.


Devan menarik pelatuk dengan cepat, ia telah bersiap meledakkan peluru itu ke kepala Robert Harryson. Harusnya Robert tahu betul, kalau pria di depannya ini tak pernah main-main dengan ucapannya. Jika ia ingin membunuh, itu mudah saja. Apalagi Robert dengan bodohnya datang ke sarang Devan sendiri. Kalau Robert mati, juga tak akan ada siapapun yang tahu.


Robert gelagapan. Ia sudah sangat ketakutan. Robert mengangkat kedua tangannya takut-takut. “T-tu-tuan Devan, turunkan senjata anda dulu” ucapnya dengan wajah yang sudah memucat.


Devan malah berdiri lalu melangkah tanpa mengalihkan senjata apinya. Ia malah semakin mendekatkan pistol itu ke kepala pria yang bodoh itu karena berani main-main dengannya. Kini pistol itu sudah tertempel di jidat Robert. “KATAKAN!!” bentak Devan tiba-tiba hingga membuat yang mendengar pun, sontak akan melompat kaget bahkan jika tidak mempunyai nyali yang lebih, ia akan segera terkencing-kencing di celana karena auranya yang sangat gelap dan mengerikan.


“T-ttt-tuan Ccha-charles Wilkinson” jawab Robert gelagapan. Wajahnya sudah pucat seratus persen.


Devan diam sejenak menatap mata Robert mencari kebenaran di dalamnya. “Kalau kau berani berbohong, kupastikan kau akan mati ditanganku, dan nasib anak dan juga istrimu, juga ada ditanganku. Ingat itu!”


“Iya Tuan. S-saya tidak bohong. T-ttt-tuan Charles yang menyuruhku untuk membatalkan perjanjian denganmu” jawab Robert yang sudah gemetaran.


“Charles Wilkinson” Devan menggertakkan gerahamnya.


Devan menurunkan senjata apinya. “pergilah!” ucapnya pada Robert yang dengan segera berlari terbirit-birit.


“Charles Wilkinson.... Apa mendekatkan putrimu padaku juga termasuk rencana busukmu untuk menusukku dari belakang ?” batin Devan.


Devan dengan segera menekan tombol call, menghubungi asisten kepercayaannya Riko.


“Ya Tuan ?” sahut Riko di seberang sana.


“Cari tahu keberadaan Xena Wilkinson sekarang, dan laporkan padaku secepatnya.” Ucap Devan.


“Baik Tuan”


Selama ini, sebenarnya ia sudah tahu, seorang wanita muda dan cantik yang mendekatinya sampai mengikutinya ke London, adalah Xena Wilkinson. Putri dari musuh bebuyutannya, Charles Wilkinson. Devan membiarkan wanita itu melakukan apapun, karena ia yakin tak ada pengaruhnya untuknya. Dan Charles ketika itu tidak melakukan apapun yang akan membuatnya murka. Kini, Charles kembali menantangnya, berusaha untuk menggagalkan proyeknya yang sangat penting, dengan menarik orang-orang pemegang saham yang cukup berpengaruh.


Ia tak menyangka, Charles tak juga menyerah setelah kegagalannya bersaing dengan dirinya lima tahun yang lalu. Devan berpikir, pria tua itu tak akan mengganggunya lagi. Tapi Charles ternyata mengumpulkan segenap kekuasaannya lagi, untuk membalaskan dendamnya dengan berusaha menjatuhkan Devan.


Devan duduk menunggu panggilan dari Riko. Ia terus melihat jam di dinding yang terus berdenting. Sudah pukul sembilan lewat dua puluh menit. Sedikit lagi ia harus segera pergi ke bandara. Devan mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas meja. Ia akan menunggu sepuluh menit lagi. Kalau dalam sepuluh menit Riko tak segera menghubunginya, maka ia yang akan menghubungi Riko langsung.


Selang dua menit, ternyata panggilan yang ditunggupun masuk. Devan langsung mengangkatnya.


“Xena Wilkinson sudah berada di Indonesia sejak kemarin malam Tuan” ucap Riko.


“Hmm.. bagus. Aku juga ingin ke sana. Ternyata aku tak perlu jauh-jauh untuk menemukan gadis itu”


“Apa yang ingin Anda lakukan pada gadis itu Tuan Devan ?” Tanya Riko.


Devan terkekeh. Senyumnya mempunyai arti lain. “Kau akan tahu nanti”.


Setelah memutuskan panggilannya, Devan langsung segera menuju bandara. Tepat pukul sepuluh seperti yang


dikatakannya tadi. Ia sudah berada di dalam pesawat dan sebentar lagi akan lepas landas.


*****


WIDEL POV


Hari ini, waktu terasa berjalan dengan sangat cepat, hingga tanpa sadar teriknya matahari telah berganti dengan terangnya bulan di langit. Malam ini, aku hanya duduk di kamar sambil menyelesaikan skripsi yang sudah lama tak selesai. Kepalaku terasa pusing hanya dengan memikirkannya. Tanganku bergerak hendak menghubungi Kak Reza, siapa tahu saja malam ini ia tak sibuk dan bisa membantuku mengerjakan skripsiku ini.


“Halo, kak Reza” ucapku begitu panggilannya tersambung.


“Iya Widel, ada apa ?” jawabnya.


“Kak Reza, kira-kira ada waktu tidak malam ini ?”


“Hmm.. kenapa ?”


“Sibuk tidak ?”

__ADS_1


“Tidak, ada apa Widel ?”


“Mau minta tolong kak. Aku lagi kerjakan skripsi di rumah, kak Reza bisa bantu aku tidak ?” Tanyaku dengan hati-hati. Sebenarnya, aku merasa tidak enak hati juga merepotkannya terus.


“Ooohh.. oke, aku ke sana sekarang ya”


“Oke. Makasih kak” ucapku sambil tersenyum senang.


Tak lama menunggu, Kak Reza benar-benar datang. Kami duduk berdua di ruang tamu, sama-sama menatap layar laptopku. Aku mengetik, dan Kak Reza membantuku berpikir.


Fokus berkutat dengan buku-buku tebal yang berserakan di meja, juga banyaknya artikel yang di baca dari dalam internet, aku memijit leherku yang terasa tegang sangking lamanya mengetik. Kulirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku, sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tak terasa sudah dua jam lebih terhabiskan dengan begitu cepatnya. Tapi tak sia-sia berkat bantuan dari Kak Reza yang jenius, akhirnya tinggal sedikit lagi akan selesai.


“Sudah dulu deh kak, capek. Lagipula, tinggal sedikit lagi, besok aku kerjakan sendiri juga bisa” ucapku pada Kak Reza.


“Hmm.. Iya terserah kamu saja Widel. Kalau begitu, aku pulang ya, sudah mulai larut juga, tidak baik kalau dilihat orang”


“Iya kak. Makasih banyak ya kak” kataku sambil mengantarnya ke depan pintu.


“Oh ya kak” ucapku teringat pada sesuatu. Kak Reza sudah hendak akan naik ke mobilnya.


“Kenapa Widel ?” Kak Reza menoleh sambil mengerutkan kening karena melihatku seakan ragu-ragu untuk bicara.


“Kak, aku mau tanya suatu hal. Kak Reza....” ucapanku menggantung sejenak, memikir-mikir haruskah aku menanyakan hal ini pada Kak Reza ?


“Hmmm ??” gumamnya menungguku bicara.


“Kak Reza.... tahu tidak... ? Pak Ervin mengundurkan dirinya tadi pagi ?” ucapku perlahan-lahan.


Tampak raut wajah Kak Reza yang seketika berubah saat aku menanyakan hal itu. Ia terlihat kaget, tak percaya dengan yang barusan ia dengar. “Maksudnya ?” Tanyanya ingin memastikan apa yang baru saja ia dengarkan.


“Jadi, kak Reza baru tahu ?” tanyaku heran karena kupikir, kak Reza sudah tahu ini semua sejak lama, sebelum Pak Ervin mengundurkan dirinya.


Ia menggeleng dan tampak mengerutkan keningnya lebih dalam. “Coba jelaskan maksud kamu barusan gimana Widel ?”


Aku menggigit bibirku.


Apa aku terlalu bermulut besar ya.


Apa aku katakan saja sejujurnya ? Lagipula sudah terlanjur ia dengar juga. Tanpa aku katakan pun, suatu saat kak Reza juga akan mengetahuinya, cepat atau lambat.


“Haaaahhh ???? Kenapa ?? Apa alasannya ?” Tanya Kak Reza seperti tak terima di akal sehatnya.


Tidak mungkin aku akan memberitahunya tentang gosip-gosip yang kudengar tadi pagi. Itu kan masih dugaan, belum tentu benar.


“Aku tidak tahu kak. Sebaiknya kak Reza tanya sendiri langsung sama beliau”


“Oke, baiklah. Makasih infonya Widel. Aku pergi dulu” ucap Kak Reza yang langsung terburu-buru pergi. Mungkin saja ia akan langsung menemui Pak Ervin, sepupunya itu.


*****


AUTHOR POV


Reza melajukan mobilnya sangat cepat menembus jalan raya yang sudah mulai sepi. Tangannya menekan tombol untuk menghubungi Ervin. Namun, panggilannya tak diangkat. Reza mencobanya sekali lagi, dan panggilannya diterima ketika ia mengulangnya yang ketiga kali.


“Ervin, kamu dimana ?”


“Di rumah, kenapa Za ?” jawab Ervin.


“Tunggu aku, sepuluh menit lagi sampai”


“Hmm.. oke”


Ervin sudah tahu alasan kedatangan Reza. Ia pasti akan memarahinya, kenapa ia tak memberitahunya lebih dulu. Kenapa ia mengetahuinya dari orang lain, bukan dari Ervin sendiri. Setelah memarahinya, ia pasti akan menanyakan alasannya mengundurkan diri.


Ervin menghela napasnya lalu kembali berbaring di sofanya sambil menunggu Reza datang.


Setelah menunggu beberapa saat, Ervin hampir ketiduran kalau saja ia tak mendengar suara orang memasukkan passcode ke pintu apartemennya.


Cklek


Ervin mengangkat kepalanya sedikit tapi tidak bangun dari posisinya yang berbaring di sofa panjang. Ia melihat Devan masuk dengan wajah yang muram dan terlihat kesal.


“Ervin, jelaskan padaku. Kenapa kamu tidak memberitahu padaku kalau kamu akan mengundurkan diri ?” Tanya Reza menyergapnya dengan pertanyaan.


Ervin kembali berbaring, tampak terlihat malas untuk menjawab pertanyaan.

__ADS_1


“ERVIN!!” bentak Reza.


“Hmm.. aku lelah, ingin istirahat” jawab Ervin malas dan ingin tidur saja.


“Kalau kamu mengundurkan diri, kamu akan kemanakan restoran yang sudah kamu bangun dengan susah payah Ervin ?” Tanya Reza lagi.


“Aku jual” jawab Ervin datar.


Reza memijit pertengahan antara kedua alisnya. Ia merasa tak habis pikir dengan Ervin yang dengan mudahnya menjawab seperti itu. Ini seperti bukan Ervin yang ia kenal selama ini. “Serius Vin ? Jangan bercanda.” Kata Reza pelan.


“Iya, restoranku itu sudah kujual” ulang Ervin.


“Kenapa tidak jual padaku saja ? Kenapa kamu tidak cerita apapun padaku ERVIN ?” kata Reza pelan dan membentaknya di ujung kalimatnya. Merasa muak dengan tingkah Ervin yang seperti tak pernah menganggapnya selama ini. Mereka begitu dekat sudah seperti saudara, tapi hal seperti ini malah ia mengetahuinya dari orang lain, bukan dari Ervin sendiri.


“Aku menjualnya pada orang yang lebih potensial. Aku yakin ia akan membuat restoranku lebih besar dan maju dari sekarang” jawab Ervin tanpa memikirkan perasaan Reza sama sekali. Karena secara tidak langsung, perkataannya itu termasuk merendahkan Reza.


“Baiklah. Sebenarnya itu terserah padamu. Tapi, aku ingin tahu, siapakah orang itu ? Orang yang kamu bilang lebih potensial dari pada diriku ?”


Ervin diam sesaat, menatap lamat-lamat pada Reza. “Devano Lewis. Aku menjual restoranku padanya”


DEGGG!!!


Reza membelalakkan matanya tak percaya. “A-aapp-apaaaa ????”


“Aku menjualnya pada Tuan Devano Lewis” ulang Ervin perlahan-lahan, agar dimengerti oleh Reza.


Reza menghela napasnya. “Ervin, kenapa harus dia ? Kamu boleh menjualnya pada orang lain, tapi jangan dia!!”


“Jangan campur antara urusan pribadi dan urusan bisnis Reza!!”


“Tapi.. kenapa Vin ? kenapa harus dia ?”


“Kamu tahu sendiri jawabannya, aku capek Reza, aku ingin tidur.” Ucap Ervin sambil berdiri dan berjalan melangkah masuk ke dalam kamarnya.


Reza terdiam di ruang tengah Ervin. Tangannya dengan cepat menghubungi Widel. Selang beberapa menit, akhirnya panggilannya diangkat oleh sang penerima telepon.


“Halo ? Ada apa kak Reza ?” ucap Widel.


“Widel, besok jangan masuk kerja ya ?” kata Reza dengan nada khawatir.


Widel mengerutkan keningnya. “Kenapa kak ?”


“Pokoknya besok jangan masuk ya Widel, kalau perlu kamu resign saja. Nanti kamu kerja sama aku saja”


“Kak, kalau tidak ada hal lain. Aku matikan ya” ucap Widel lalu mematikan ponselnya. Ia tidak suka dengan cara Reza yang tiba-tiba mau mengatur-ngatur dirinya.


“Halo ? Hal- “ Reza melihat ke layar ponselnya. Panggilannya sudah terputus. Ia lalu menghubungi Widel kembali.


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.


“AAARRGGHHHHHH!!” teriak Reza sangat marah.


Bersambung...


Mau ijin promosi bentar ya.. 😁😁


Teman-teman readersku yang setia, jangan lupa mampir dan baca novel terbaru ya, “MY FLOWER NEIGHBORS”



Sinopsis :


Aila, gadis manis dan imut, yang mencoba peruntungannya di kota Jakarta. Tak sengaja bertemu dengan para pria tampan yang ternyata adalah tetangga-tetangga dekatnya.


Varrel, si pria tampan berkacamata dengan pembawaannya yang santai, baik, dan penuh perhatian.


Dave, si pria genit yang dengan senyum termanisnya bisa membuat para wanita bertekuk lutut di hadapannya. Dia adalah sang pangeran playboy yang mesum.


Alex, si pria berbadan atletis dengan wajahnya yang berkarisma. Ia ternyata adalah seorang ahli bela diri, pelatih karate.


Elvano, si pria tampan yang tak mudah didekati. Ia begitu misterius, cuek, dan dingin.


Dikelilingi para pria yang tampannya bisa melelehkan hati para kaum hawa, Aila adalah gadis beruntung, yang tiba-tiba menjadi seorang putri di antara para pangeran itu.


Beri like, komen, dan vote yaa...😘😘

__ADS_1


__ADS_2