I'M Crazy About You

I'M Crazy About You
Episode 25 - Pertengkaran


__ADS_3

Ervin melaju dengan cepat menuju rumah sakit terdekat. Sesampainya disana, Widel langsung dibawa ke ruang UGD, dan Ervin pun menunggu di luar dengan penuh kecemasan. Ia merogoh ponselnya hendak menghubungi Devan, mengingat Devan adalah kekasih Wilona saat ini.


Devan mengernyit saat melihat nomor baru yang tertera di ponselnya, memanggilnya berkali-kali. Ia pun menerima panggilan itu karena merasa penasaran. “Halo ?” ucapnya.


“Halo Devan, aku Ervin, pemilik dari restoran Luxury Food. Maaf menghubungimu malam-malam begini. Aku hanya ingin memberitahumu, kalau tadi kekasihmu datang mengamuk di restoranku, dan menyebabkan salah seorang pegawaiku terluka parah. Sebaiknya kau jaga kekasihmu itu, dan jangan biarkan dia menyebabkan kekacauan lagi di restoranku.”


Ekspresi Devan seketika memucat “Wilona... melukai.. salah seorang pegawai.. di restorannya ?  Semoga pegawai yang dimaksudkannya itu bukanlah Widel” gumamnya dalam hati.


Devan terbata penuh kekhawatiran “Si.. siapa nama pegawaimu yang terluka ?”


“Widelia Syaqilla. Dia pegawaiku yang pekerja keras dan rajin. Aku ingin kau menyuruh Wilona untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Setidaknya dia datang untuk meminta maaf!”


Deg!


Widel ?


“Baiklah... Sekarang Widel dimana ?” ucap Devan dengan sangat cemas.


“Dia sedang dirawat di UGD, di rumah sakit Pondok Indah”


Tanpa ba bi bu, Devan yang masih berada di kantornya, langsung melangkah dengan buru-buru bersiap menuju ke rumah sakit.


“Riko, kau ikut denganku!” ucap Devan pada asistennya.


Begitu sampai di pintu utama gedung perusahaannya, ia langsung disambut dengan petugas berbadan tegap yang telah membukakan pintu mobilnya.


“Tidak! Aku akan menyetir sendiri”


Ia pun langsung masuk ke dalam mobil bersama Riko dan melaju dengan cepat.



Sementara disisi lain, Reza juga sedang berusaha menghubungi Widel sejak tadi, tapi tak pernah sekalipun diangkatnya. Ia pun menghubungi Ervin, kakak sepupunya itu yang merupakan atasan Widel.


“Apa Widel masuk kerja hari ini ? Aku menghubunginya berkali-kali tapi tidak ia angkat. Jadi aku menghubungimu” ucap Reza begitu panggilannya terhubung.


“Widel sekarang di UGD Rez, ada kecelakaan kecil tadi di restoran”


“Hahh?? Kenapa bisa Vin ? Kalian di rumah sakit mana sekarang ?” terdengar suara Reza yang begitu terkejut.


“Ceritanya panjang Rez, mending kamu cepetan kesini aja, di rumah sakit Pondok Indah”

__ADS_1


Reza yang kebetulan sedang menyetir mobil, segera memutar arah mobilnya mengambil jalan pintas dan menancap gas agar segera sampai dengan cepat ke rumah sakit.



Saat Devan berlari tergesa-gesa menuju ke arah ruang UGD, ia tak sengaja berpas-pasan dengan Reza yang juga tengah berlari hendak menuju ke arah yang sama. Langkah keduanya terhenti seketika dan saling melemparkan tatapan tajamnya yang bak samurai siap mengebas satu sama lain. Ervin yang tak sengaja melihat mereka dari kejauhan, berdiri segera menghampiri keduanya.


“Untuk apa kau kesini ?” ucap Reza dingin dengan nafas memburu menahan sulut api yang hendak meledak dalam dirinya.


“Tentu saja aku ingin melihat keadaan Widel. Apa urusanmu menanyakan itu ?” sahut Devan dengan ketus.


Reza terkekeh “Hah! Apa urusanku ? Yang seharusnya bertanya itu adalah ‘aku’ ! Ada urusan apa kau dengan Widel hingga kau harus melihat keadaannya ?”


Devan hanya tersenyum sinis “Kau siapa... mengatur-ngatur siapa yang berhak menemui Widel ?”


Reza mulai tersulut emosi, ia langsung mencengkram kerah baju Devan ke atas dan menatap tajam penuh peringatan. “Aku ? Aku.. kekasihnya!”


Melihat itu, Ervin segera meleraikan mereka agar tidak membuat keributan di dalam rumah sakit. “Sudah! Hentikan Reza! Jangan bertengkar di sini. Kalau kalian masih mau bertengkar, jangan harap kalian berdua bisa menemui Widel!”


Reza pun melepaskan tangannya dan Devan langsung merapikan kemejanya.


“Jadi.. ceritakan padaku.. kenapa Widel bisa sampai masuk UGD Vin!” ucap Reza menuntut penjelasan pada Ervin.


Ervin menjelaskan perlahan pada Reza “Tenang dulu Rez.. Kejadiannya begitu cepat. Tadi Wilona datang berbicara berdua dengan Widel di restoran, lalu tiba-tiba menghantam kepala Widel dengan botol anggurnya”


Devan menepis telunjuk Reza “Hah! Apa hubungannya denganku ? Seharusnya kau yang intropeksi diri, karena kau tak becus menjaga Widel!”


BUUKK!!


Devan terhuyung mendapatkan bogem mentah dari Reza yang secara tiba-tiba. Riko yang sejak tadi berdiri di belakang Devan, langsung menahan Devan agar tidak terjatuh. Begitu pula dengan Ervin yang menahan Reza.


“HENTIKAN REZA!!” bentak Ervin “Sebaiknya kalian berdua keluar, selesaikan dulu masalah kalian di luar!” sambungnya sembari mendorong keduanya tanda mengusir.


Keduanya pun terpaksa menurut karena security telah datang hendak mengamankan mereka. Namun sesampainya di luar, bukannya berhenti, emosi keduanya bahkan semakin tersulut, tak melepaskan pandangan menusuk satu sama lain.


Devan tertawa seakan mengejek perilaku Reza “Kenapa kau marah hah ? Betulkan apa yang aku katakan ? Jangan kau sok mengatakan dia kekasihmu kalau kau tak mampu menjaganya dengan baik“


“Brengsek kau ! Kau tidak pikir kenapa Wilona bisa sampai menyerang Widel hah ? Semua itu karena kau! Jangan kau pikir aku tidak tahu kelakuan brengsekmu itu. Aku tahu selama ini kau terus mengganggu Widel, bahkan di pesta kemarin, aku melihatmu memeluknya dengan paksa. Aku tidak tahu, sebenarnya apa alasanmu terus mengganggunya hah ? Kalau kau mau mempermainkan wanita, carilah wanita lain, jangan Widel ! Dia wanita baik baik, jangan kau samakan dengan wanita-wanitamu itu!”


Devan menatap Reza dengan tajam, tidak terima dengan perkataan yang dilontarkan Reza “Asal kau tahu, aku tidak pernah berniat mempermainkannya sekalipun, karena aku mencintainya!”


Reza tertawa merasa lucu dengan ucapan Devan “Apa aku tidak salah dengar ? Tuan Devano Lewis, candaanmu benar-benar lucu”

__ADS_1


“Aku tidak bercanda! Aku benar-benar mencintai Widel! Dan kali ini... aku tidak akan mundur begitu saja, karena kau telah membuktikan... bahwa kau tak pantas untuk Widel!” jawab Devan dengan lantang lalu berjalan hendak naik ke mobilnya.


Reza tertegun, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku tangannya memutih, menatap Devan yang bersiap melaju dengan mobilnya.


“Riko, ke apartemen Wilona sekarang!” tegas Devan pada Riko yang tengah menyetir.


“Baik Tuan”



Begitu sampai di depan pintu apartemen Wilona, Devan langsung membunyikan bel, dan menggedor-gedor pintunya.


Cklek


Wilona tersenyum lebar, tak percaya melihat Devan datang mengunjunginya “Sayang ? Aku sangat senang kau datang mengunjungiku”


PLAAKKK!!


Tangan Devan sudah gatal ingin menampar, dengan cepat ia langsung mengayunkan tangannya ke pipi Wilona dengan keras, membuat Wilona langsung jatuh tersungkur.


Wilona menangis sembari memegang pipinya yang memerah “Devan ? Kenapa kau menamparku ?”


Devan membungkuk lalu menatap Wilona dengan ekspresi tak terbaca “Kau tidak merasa bersalah sedikitpun Wilona?”


Wilona mengernyit merasa tak pernah berbuat salah pada Devan.


“Beraninya kau menyentuh wanitaku Wilona!” bentak Devan tepat di depan wajah Wilona membuat Wilona semakin menjerit menangis, gemetar ketakutan dengan aura Devan sekarang yang begitu mengerikan.


Hening beberapa saat, Devan mengatur deru napasnya, mencoba mengontrol emosinya.


“Hubungan kita telah berakhir! Jangan sampai aku melihatmu lagi!” ketus Devan lalu bangkit hendak pergi, namun Wilona memeluk kaki Devan seraya menggeleng kuat.“Tidak Devan... Kau tidak boleh begini padaku, aku sangat mencintaimu Dev!”


“Berhentilah Wilona... Aku tidak mencintaimu..!” ucap Devan sambil melepaskan tangan Wilona paksa lalu berjalan pergi.


“Lihat saja... Aku akan membunuh wanita itu Dev!” teriak Wilona.


Devan menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya lalu mendekat pada Wilona dan mencengkram rahang wanita itu. “Coba saja! Kau yang akan kubunuh duluan!” ucap Devan dengan nada pelan namun tajam. Ia lalu melepaskan cengkeraman tangannya dan berjalan cepat meninggalkan Wilona yang masih terisak.


“Riko, kau tahu apa yang harus kau lakukan kan ? Hancurkan karir wanita itu!” ucap Devan ketika berada di dalam mobilnya.


“Baik Tuan” Riko mengangguk patuh bersiap menghubungi beberapa pihak untuk menjatuhkan Wilona.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2