
Saat Widel telah sampai di tempatnya bekerja, sekitar pukul 08.30, ia hampir saja terlambat. Ternyata meja restoran sudah ramai dengan para staf dan karyawan restoran. Restoran di tutup sejenak ketika itu. Menu sarapan yang disediakan khusus untuk semua karyawan Luxury Food dari Pak Ervin sudah tertata di meja. Ada nasi goreng, soto ayam, berbagai jenis bubur, roti dan lain-lain, tinggal dipilih saja. Semua rasa makanannya sudah jelas tak diragukan lagi.
“Widel, sini cepat. Duduk di sini”panggil Melda di salah satu meja sambil menepuk kursi di sebelahnya.
Widel pun segera mengambil makanan lalu duduk di sebelah Melda.
“Eh-eh.. kira-kira kenapa ya Pak Ervin tiba-tiba mengundurkan diri ?” bisik teman yang satu meja dengan Widel yang bernama Adel.
“Jangan-jangan.....?” bisik Rina mulai mencondongkan kepalanya.
“Kenapa Rin ? Kamu tahu sesuatu ?” Tanya Melda yang mulai penasaran.
“Sini sini. Dengarkan aku. Dua hari yang lalu, aku sempat mendengar Pak Ervin menelpon seseorang. Dan kalian tahu tidak orang itu siapa ?” Bisik Rina.
Widel, Melda, dan Adel pun memasang telinga mereka baik-baik dan mendekatkan kepala masing-masing. Untung saja di meja sekeliling mereka sangat ribut, tampak tertawa dan sibuk masing-masing sambil makan. Hanya di bagian meja Widel saja yang tidak begitu, sibuk menggosip.
“Siapa Rin ?” Tanya Widel penasaran.
“Aku tidak tahu siapa” jawab Rina yang membuat teman-teman lainnya dongkol seketika. “Tapi....” ia melanjutkan perkataannya “Pak Ervin menyebut-nyebut nama dokter. Sepertinya, dia mendapat usulan dari orang yang berbicara dengannya di telepon untuk menemui dokter itu”
“Terus ? maksudnya ?” tanya Melda yang masih tidak paham.
“Kalian belum mengerti ?” Rina mengerutkan kening lalu lanjut berbisik “Sepertinya, Pak Ervin sedang sakit, tapi tidak tahu sakit apa. Mungkin itulah sebabnya Pak Ervin tiba-tiba mengundurkan diri”
“Hahh?? Jangan sembarangan ambil kesimpulan Rin. Siapa tahu yang sakit itu bukan dia tapi orang terdekatnya” jawab Widel.
“Coba deh kalian pikir, Pak Ervin bukan orang yang dengan gampang mengundurkan diri seperti itu. Pak Ervin itu sangat mencintai restoran ini. Sepertinya penyakit yang di deritanya itu bukan penyakit yang bisa disepelekan” lanjut Rina dengan berbisik-bisik.
__ADS_1
“Ah, masa sih ?” sahut Adel yang juga masih tidak percaya.
“Tapi, benar juga sih kayaknya apa yang Rina bilang” Melda menambahkan. “Akhir-akhir ini, Pak Ervin kayak pucat gitu. Coba deh kalian perhatikan” lanjut Melda.
Mereka berempat dengan seketika menatap Pak Ervin dari kejauhan.
“Eh-eh.. Jangan terlalu kelihatan begitu lah” kata Rina. “Satu-satu saja dan lihatnya jangan terlalu kentara”
“Eh, memang benar sih, aku baru perhatikan. Pak Ervin terlihat sedikit pucat” kata Widel yang kembali menatap teman-teman satu mejanya.
Mereka berempat melanjutkan makannya sambil sesekali menoleh pada Pak Ervin dari jauh.
“Jadi, nasib restoran ini bagaimana kalau Pak Ervin mengundurkan diri ?” tanya Widel sambil berbisik.
“Dengar-dengar....” Rina mencondongkan kepalanya. “Restoran ini telah dijual pada seseorang”
Widel, Melda, dan Adel serentak membulatkan matanya “Serius kamu Rin ?” Tanya Adel tak percaya dengan apa yang didengarnya. Rina mengangguk.
“Ya tahulah. Aku kan selalu pasang telinga dimana-mana” jawab Rina sambil terkekeh.
“Dijual pada siapa ?” Tanya Melda.
Rina menggeleng, ia tidak tahu jelasnya. “Yang jelas, aku mendengar Pak Ervin berbicara di telepon dengan seseorang kemarin. Aku dengar, Pak Ervin bilang dia sudah menyiapkan surat-surat jual belinya, dan katanya orang itu akan menandatanganinya hari ini atau paling lambat besok pagi”
Rina memang benar-benar hebat, dia selalu mengetahui informasi-informasi penting. Ia memang rajanya tukang gosip.
“...Sejak aku mengaitkan dua hal yang sempat kucuri-curi dengar itu, Pak Ervin sakit dan menjual restoran ini, aku tahu hari ini pasti akan terjadi, hanya aku tidak yakin kapan pastinya” lanjut Rina.
__ADS_1
“Tapi kok kenapa sepertinya Bu Mega tidak tahu ya Pak Ervin akan mengundurkan diri ?” Tanya Adel.
Rina mengangkat bahunya “Kayaknya Bu Mega itu tidak peka orangnya. Dia tidak sigap memasang telinga, padahal dia sering kali lewat di rua-”
“Sedang cerita apa ? seru sekali kayaknya” Suara bariton seseorang membuat mereka diam seketika. Tentunya mereka berempat sangat mengenal suara tersebut. Makanan di mulut Rina sampai-sampai terjatuh ke piringnya. Sedangkan Widel, Melda, dan Adel membulatkan matanya. Mereka berempat menengadahkan kepalanya, menoleh ke atas dengan hati-hati ke orang yang barusan berbicara pada mereka dengan tiba-tiba itu. Pak Ervin tiba-tiba berdiri di samping meja makan mereka.
Widel terbatuk-batuk, apalagi Rina yang sudah seperti melihat malaikat maut di depannya.
“Kk-ki-kita tadi lagi ngobrolin p-pa-pacar Pak. Hahahhaa... Iya kan ?” ucap Rina tergugu dan bertanya meminta bantuan pada yang lain.
Widel, Melda, dan Adel pun segera menganggukkan kepala sambil menyengir kuda.
“Ooohh.. hahahaha... lagi curhat-curhatan ya ?” jawab Pak Ervin sambil terkekeh.
“Hhehe.. I-i-iya pak” sahut mereka berempat dengan kompak.
“Oh ya bagaimana makanannya ? enak kah ?” Tanya Pak Ervin.
“Iya pak. Enak. Terimakasih.” jawab mereka kembali serentak. Seperti tentara yang ditanyai pimpinannya.
“Ooh.. baguslah. Kalian lanjutkan makannya, saya pergi ke sana dulu sebentar” ucap Pak Ervin.
Widel, Melda, Rina, dan Adel pun akhirnya mengembuskan napas lega setelah Pak Ervin pergi.
“Eh-eh Pak Ervin kira-kira dengar tidak ya yang kita bicarakan tadi ?” Tanya Rina yang masih pucat.
“Mudah-mudahan saja tidak Rin” jawab Widel.
__ADS_1
Mereka pun makan tanpa membicarakan apa-apa lagi, paling hanya sesekali berbicara dengan topik yang ringan. Menyudahi topik tadi, takut tiba-tiba ada yang mendengar lagi.
Bersambung...