
WIDEL POV
Degdeg Degdeg Degdeg Degdeg Degdeg
Astaga.. astaga.. jantungku..
Semoga ia tidak dengar, semoga.. semoga..
“Sudah, sana lanjutlah” Ucap Devan lalu kembali duduk.
Aku pun lanjut memotong-motong bahan seperti wortel, kentang, daun bawang, dan lain sebagainya.
Loh, kok aku jadi memasak di sini ? Tadi kan aku lagi marah sama dia. Kak Reza, bagaimana dengannya ?
Seketika aku langsung menghentikan proses potong-memotong itu, dan melipat tanganku di atas perut seraya menatap tajam ke arah pria menyebalkan yang sedang duduk itu. “Dev, aku lagi marah ya sama kamu. Lagipula urusanku sama Kak Reza belum selesai. Aku belum mengundurkan diri dari pekerjaanku, jadi aku harus kembali. Saat ini aku masih dalam jam kerja”
“Baiklah, jadi apa maumu nona Widelia Syaqilla ?”
“Ehm.. Aku ingin pergi, dan menjelaskan dengan baik-baik pada Kak Reza”
“Besok saja sekalian kamu bawa surat pengunduran diri padanya. Aku yang akan menanggung semua kompensasinya”
Apa ? Kenapa dia selalu bertindak sesuai keinginannya ? Ini hidupku, kenapa dia yang memegang kendali ?
“Tidak. Aku mau berbicara dengannya hari ini juga! Titik!” tegasku.
“Baiklah, baiklah. Aku akan menghubunginya kalau itu maumu. Kau bisa berbicara dengannya lewat telepon. Tapi kalau mau bertemu, besok saja. Aku akan mengantarmu ke kantornya. Ini satu-satunya toleransiku untukmu, sekarang lanjutlah memasak, buatkan aku makanan yang enak. Aku sudah sangat lapar”
“KAU??”
Benar-benar tidak dipercaya. Dia terlalu otoriter.
“Kau terlalu pengatur! Aku mau pergi!” ucapku dan langsung bergegas keluar.
“Benar-benar keras kepala” gumam Devan hendak mengejarku, namun ponselnya yang berdering tiba-tiba membuatnya langsung merogoh ponsel di dalam sakunya.
“Hm, iya, dia bersamaku”
Langkahku terhenti mendengarnya berbicara di telepon. Seketika aku langsung berbalik melihatnya.
Devan terkekeh. “Memangnya kenapa ? Dia sekarang adalah kekasihku. Lagipula dia akan berhenti bekerja mulai sekarang, mengenai kompensasinya nanti pengacaraku yang akan mengurus”
Ya Tuhan.. orang ini bicara apa ? Se-enteng itu dia mengatakannya
“DEV!!!” bentakku menegurnya.
__ADS_1
“Sudah dulu, kekasihku memanggilku” Ucapnya lalu mematikan teleponnya.
“Kenapa sayang ?”
Aku tidak tahu mau bagaimana lagi menghadapi lelaki satu ini. Benar-benar habis akalku dibuatnya, terlalu jengkel tapi kok sayang.
“Aku tidak mau bicara lagi denganmu, aku mau pergi saja” ucapku dan berjalan pergi.
Devan menahan pergelangan tanganku, menarikku hingga aku membentur badannya. Pandangan kami saling bertemu, mengunci tatapan satu sama lain. “I love you, my girl, my love, I’ve never been like this, I love you so much that I want to go crazy. Please janganmarah padaku”
Aku tersipu malu sekali lagi. Ucapannya, tatapannya yang tulus benar-benar hampir membuatku meleleh. Bagaimana aku bisa marah padanya kalau dia seperti itu ?
Aku tersenyum tipis. “Hm, iya” kataku.
Devan pun tersenyum lalu memelukku dengan erat. “Aku senang dan tak percaya kau mau menerimaku. Terimakasih sayangku”
Senyum yang mengembang dengan sendirinya di pipiku tidak bisa kukendalikan. Aku tersenyum lebar diam-diam di dalam pelukannya.
“Jadi, mau masak, atau pesan makanan saja ?” Tanyanya setelah melepaskan pelukannya.
“Apa kau sudah lapar sekali ?” Tanyaku.
Ia mengangguk dengan memasang mimik manjanya. “Iya. Kamu kebanyakan marahnya sih”
Aku terkekeh melihatnya seperti itu. “Kita pesan saja kalau begitu, menungguku masak akan membutuhkan waktu yang lumayan lama”
“Hm” gumamku lalu berjalan pelan melihat-lihat seisi rumah dengan perbot-perabotnya yang unik dan indah.
“Jadi, kau sering tinggal di sini ?” Tanyaku.
“Tidak, hanya sekali-kali saja jika aku ingin mengistirahatkan pikiranku. Kadang juga aku tinggal di villaku yang terletak di dekat pesisir pantai. Tapi, lebih sering aku tinggalnya di apartemenku karena dekat dengan kantor”
Aku mengangguk-ngangguk.
Enak ya punya rumah banyak, bisa pilih mau tinggal di mana saja.
Kapan ya aku bisa seperti itu ?
“Kamu tinggal di sini saja ya” ucapnya membuatku dengan cepat langsung menoleh padanya.
“Tidak. Kenapa aku harus tinggal satu atap denganmu ? Kita masih pacaran, belum menikah”
Devan tiba-tiba tersenyum dengan lebarnya. “Jadi kamu mau kita menikah ?”
Astaga. Kenapa penangkapan maksudnya jadi lain ?
__ADS_1
“Bu-bukan begitu maksudku”
Devan tertawa kecil. “Saat waktu yang tepat, aku akan melamarmu di hadapan kedua orang tuamu dengan cara yang pantas”
Aku seperti orang yang dimabuk cinta, hari ini berkali-kali aku tersenyum walaupun diselingi kesal dan marah, aku terus tersipu malu, dan pipiku merona merah. Dia terus saja berucap manis, membuatku ingin berteriak histeris sangking hampir meledaknya jantungku.
Aku langsung berlari keluar ke halaman belakang, ingin kabur dari dirinya sebentar saja.
Halaman di belakang ternyata begitu luas, hijau, banyak pepohonan, dan ada juga danau buatan yang begitu tenang, sungguh pemandangan yang sangat indah. Kubaringkan punggungku di rerumputan hijau sambil menatap langit. Di sini sangat tenang dan damai.
Devan menyusul baring di sampingku. Aku menolehkan kepalaku kepadanya dan dia pun sama.
“Kapan kau mulai cemburu padaku ?” Tanyanya.
“Hah ? a-aku... tidak tahu” kualihkan pandanganku dengan cepat mengusir rasa malu yang tiba-tiba datang menyelimuti perasaanku.
Kenapa dia harus menanyakan itu sih ?
Dia terkekeh. “Dasar pemalu. Kita sudah pacaran, jadi tidak ada salahnya menanyakan hal itu. Aku hanya penasaran”
“Emm.. Ka-kalau kamu kenapa bisa suka sama aku ?”
Astaga. Astaga. Apa yang kutanyakan barusan ?
“Mungkin pada pandangan pertama”
Mataku membulat mendengar jawabannya. Dia hanya tersenyum sangat manis.
Yang benar saja pada pandangan pertama. Aku ? gadis yang terlalu biasa ini. Sungguh tidak masuk akal.
“Yang benar saja!” celetukku.
“Memang benar, masih ingat pertemuan pertama kita ?”
Ya Tuhan.. Ini orang kenapa terus tersenyum seperti itu sih ? Membuat jiwa ini seakan ingin meronta saja, berada di dekatnya disuguhkan senyuman manis seperti itu.
Aku berdehem. “I-ingat”
Devan tertawa kecil sambil menatap langit ke atas. “Kau sangat polos dan lucu. Mungkin itu yang membuatku tertarik dengan dirimu”
Tanpa sadar aku memandanginya beberapa saat.
Tiba-tiba saja ia menoleh melihatku, menangkap diriku yang sedang memandanginya. Ia tersenyum seperti itu lagi lalu bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya padaku. “Ayo masuk ke dalam, makanannya mungkin sudah akan datang”
Aku pun meraih tangannya lalu ikut berdiri dan berjalan kembali masuk ke dalam rumah bersama.
__ADS_1
Bersambung...
Segitu dulu ya sayang-sayangku. Besok up lagi insyaAllah. Aku usahakan. Maaf updatenya selalu lama, authornya punya kesibukan lain, ga bisa fokus sama satu hal. Terimakasih atas pengertian dan kesabaran teman-teman readers semua selama ini. :)