I'M Crazy About You

I'M Crazy About You
Episode 45 - Devan dan Widel


__ADS_3

Widel duduk mengurung diri di dalam bilik toilet sambil menepuk-nepuk bibirnya. Ia merutuki diri yang entah kenapa bertindak begitu bodoh. Bagaimana ia akan menampakkan wajahnya lagi di depan Devan ? Setelah meninjunya begitu keras, ia dengan tidak tahu malunya malah mencium bibir pria itu. Kini, bagaimana harus menghadapinya nanti ? Jangankan menghadapinya, mungkin ia harus bersiap-siap diri untuk dipecat.


“Aaaaaaarrghhhhhh” teriak Widel sambil mengacak-acak rambutnya.


“Apa yang harus kau lakukan sekarang Widel ?” ucapnya bermonolog, lalu menghentak-hentakkan kakinya frustasi.


“Aku harus meminta maaf. Benar, minta maaf dengan sungguh-sungguh” Widel mengembuskan napasnya dan meyakinkan dirinya sendiri. Setelah agak tenang, ia berdiri hendak membuka pintu bilik untuk keluar, namun ia mengurungkannya ketika mendengar seseorang di luar menyebutkan namanya.


“Sil, kamu lihat kan tadi, Widel sama bos baru yang tampan itu ?”


“Iya. Kayaknya aku curiga pasti mereka ada apa-apa”


“Pasti si Widel itu pake guna-guna deh, atau pasang susuk, biar menarik hati Tuan Devan. Ih dasar penggoda”


Hal seperti inilah yang dihindari oleh Widel. Ia sudah tahu, ketika orang biasa seperti dirinya dekat sedikit saja dengan orang seperti Devan, yang dikata-katai pastilah dirinya. Ia akan habis dicaci maki, difitnah, hanya karena alasan yang tidak jelas. Sampai dibilang dirinya memakai guna-guna lah, pasang susuk dan lain sebagainya, cuma karena dia adalah orang biasa.


“Hmm.. Bilang saja kalian iri. Dasar pendengki.” Ucap seseorang yang sepertinya baru datang. Suara itu terdengar seperti suara Rina. Widel pun ingin mendengarkannya sedikit lagi.


“Apa sih Rin datang-datang langsung main dorong-dorong kami” gerutu orang yang bernama Sisil itu.


“Memangnya kenapa ? Kalian itu seperti kutu busuk, harus disingkirkan. Kalau tidak, bahaya, bisa busuk semua yang didekatnya” ucap Rina santai namun tajam.


Widel tersenyum mendengarnya. Ternyata ada baiknya juga mendengar diam-diam seperti ini. Widel jadi bisa tahu orang-orang yang suka membicarakannya di belakang, dan orang yang juga membelanya. Rina walaupun orangnya begitu, suka kepo, ceplas ceplos, namun ia ternyata memang teman yang baik.


“Ayo kita pergi Sil, daripada meladeni orang gila seperti dia ini” kata Fara yang akhirnya berlalu pergi.


“Pergi sana! Huss Huss” sahut Rina.


Setelah mendengar suasana sudah sepi, hanya terdengar suara keran air yang diputar di luar, Widel pun memutar gagang pintu bilik itu. Ia keluar dan melihat Rina sedang mencuci mukanya di wastafel. Widel pun ikut mencuci mukanya di sebelah Rina.


“Widel ?” ucap Rina ketika sudah mengelap kering wajahnya. Widel menggumam sambil mengelap wajahnya yang basah.


“Kamu, kenapa tiba-tiba ditarik-tarik sama bos, tadi ?” Tanya Rina yang biasa dengan sifat keponya.


Widel jadi teringat dengan kelakuannya tadi. Wajahnya yang baru saja segar terkena air, berubah menjadi kusut lagi dengan raut mukanya yang sangat kelihatan khawatir. Widel diam menatap Rina lalu memegang tangan temannya itu. Rina menjadi bingung dengan tingkah Widel yang aneh, matanya seperti mengatakan ‘Tolong...selamatkan aku’.


“Ada apa Widel ?” Tanya Rina dengan kening yang berkerut.


Widel menatap Rina lamat-lamat, masih bingung, antara ia harus menceritakannya atau sebaiknya disimpannya baik-baik sebagai rahasia saja.

__ADS_1


“Kenapa ? Ada apa ?” Rina menjadi tak sabar dengan Widel yang hanya diam saja.


“Tadi aku menonjok wajah bos, juga mencium bibirnya. Huwaaaaa” rengek Widel dalam hati.


Widel mengembuskan napasnya. “Bawa aku ke psikiater Rin. Sepertinya aku sudah gila” ucapnya dengan wajah yang hampir merengek. Jelas, Rina menjadi tambah bingung dengan sikap dan perkataan Widel.


“Ada apa sih Widel ? Kenapa ?” Tanya Rina yang mulai geram dengan Widel yang tak juga bercerita padanya hanya mengucapkan kata-kata yang membuatnya semakin bingung.


“Sepertinya hari ini adalah hari terakhirku bekerja di sini” jawab Widel lalu meraung, menangis memeluk Rina yang tiba-tiba kaget.


“Tu-tunggu tunggu. Kamu dipecat ?” Tanya Rina sembari melepaskan pelukan Widel untuk menatap matanya, jangan-jangan temannya itu hanya berbohong.


Widel menatap dengan lemas, seperti besok adalah hari kematiannya. “Aku benar-benar sudah gila Rin”


“Aduh. Kenapa ? Kamu dipecat dan kamu sudah gila, mana yang benar ? Bicara yang benar Widel. Aku pusing” kata Rina frustasi sambil menggaruk kepalanya karena geram.


“A-aku.... akuu...” gumam Widel yang seperti susah untuk mengatakannya.


Rina menatap Widel dengan tak berkedip, menunggunya bicara.


“Aku...”


“Aku sudah meninju dan mencium bos Rin” lanjut Widel dengan sangat cepat lalu meraung lagi di depan Rina.


Mata Rina membulat sempurna dan seketika menutup mulutnya tak percaya. “A-a-aapa?? Apa katamu barusan ?” ulang Rina ingin memastikan pendengarannya.


“Aku meninjunya Rin.... lalu aku mencium bibirnya.. Aku benar-benar sudah gila Rin... Tolong bawa aku ke psikiater. Sepertinya hari ini aku akan dipecat. Aku memang bodoh dan gila.” ucap Widel sambil merengek karena frustasi.


Rina menarik napasnya sangking terkejutnya dia. Matanya membelalak, bahkan dagunya sampai jatuh ke bawah, menatap Widel dengan pandangan tak percaya. “K-kk-ka-kau ... meninju .. wajah .. bos tampan itu ??? Dan kau juga menciumnya ? Mmm-me-mencium... bibirnya ????” Ulang Rina perlahan, ia menjadi gugu karena mendengar hal yang sangat luar biasa itu.


Widel mengangguk dengan wajahnya yang hampir menangis.


Mata Rina semakin membulat. “WAHHH!!.... WAH WAH!! Kau.. benar-benar.... luar biasa Widel” ucap Rina yang sambil terkekeh takjub bahkan ia bertepuk tangan seolah mendengar hal hebat.


Untunglah di toilet kala itu sedang sepi, hanya mereka berdua saja. Kalau tidak, Widel benar-benar akan merasa tamat hidupnya.


“Waahh... Hahahaha... Kau benar-benar hebat Widel”. Ucap Rina lagi sambil tertawa kagum dan menepuk-nepuk lengan Widel.


“Jangan mengejekku. Aku harus bagaimana sekarang Rin ?” ucap Widel dengan bibirnya yang mengerucut cemberut melihat respon Rina yang ternyata jauh dari ekspektasinya. Temannya itu malah tertawa, dan terkagum kagum dengan tindakan Widel, bukannya memarahinya yang sudah bertindak tak masuk akal.

__ADS_1


“Tenanglah... Kamu tidak akan dipecat. Percayalah padaku” kata Rina dengan begitu santainya.


“Tidak masuk akal. Aku sudah menonjok wajah bos Rin. Hidungnya sampai berdarah. Aku pasti akan dipecat” ucap Widel yang tak menerima ucapan Rina di akal sehatnya.


“Hmm.. Baiklah, tak mengapa kalau kau tak percaya padaku. Sekarang, pergilah dan minta maaf pada bos” sahut Rina lalu membalikkan punggung Widel, mendorongnya ke arah pintu.


“Rin.. Aku belum siap melihat wajahnya. Aku... aku.. ”


“Sudah. Tenanglah. Bersikaplah penuh tanggung jawab seperti Widel yang kukenal”


Widelpun akhirnya berjalan keluar, dan menuju ke ruangan Devan. Ia berhenti di depan pintu ruangan kerja bosnya itu, menggigit jarinya sebab ia memang masih belum siap melihat wajah lelaki itu. Ia terlalu malu untuk menampakkan wajahnya.


Tangan Widel bergerak untuk mengetuk pintu di depannya itu. Namun ia urungkan lagi, menurunkan tangannya ke bawah. Berulang kali ia lakukan mengulang seperti itu, hingga Riko tiba-tiba memegang pundaknya. Asisten pribadi Devan ternyata sudah berada di belakangnya tanpa Widel sadari.


“Kenapa tidak masuk ?” Tanya Riko yang bingung dengan Widel karena sejak tadi ia perhatikan, gadis itu hanya berdiri di depan pintu.


“Emm, i-ini aku baru mau masuk. Tuan Riko mau ke dalam ?” sahut Rina dengan senyum yang dipaksakannya.


“Iya. Aku dipanggil oleh Tuan Devan”


“Oohh.. Heheh.. Tuan Riko masuklah terlebih dahulu kalau begitu”


“Baiklah. Aku masuk dulu kalau begitu” ucap Riko lalu membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Devan. Sementara gadis itu tetap berdiri di depan pintu sambil menggesek-gesekkan ujung kakinya di lantai.


Riko menutup pintu sambil terkekeh melihat tingkah gadis itu. Seperti anak kecil yang takut untuk pulang ke rumah, pikir Riko.


“Kenapa kau tertawa ?” Tanya Devan heran melihat Riko yang tak ada angin, tak ada hujan tiba-tiba tertawa.


Riko menggeleng sambil tersenyum. “Ada anak kecil di depan pintu Tuan”


Devan mengerutkan keningnya lalu tersenyum. “Ooh.. Panggil anak kecil itu masuk”


Riko pun mengangguk dan melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.


“Nona Widel, masuklah ke dalam. Anda dipanggil oleh Tuan Devan”


Widel yang semula menunduk sambil berkomat-kamit entah mengucap apa, langsung menengadahkan wajahnya menatap Riko.


“Ooh.. Ehm.. I-iya” jawab Widel lalu melangkahkan kakinya untuk masuk dengan terpaksa.

__ADS_1


Riko mengikutinya dari belakang. Setelah melihat Tuannya menggerakkan tangan, tanda menyuruhnya keluar, ia pun segera keluar dari ruangan itu. Tersisalah dua orang manusia itu di dalam, Devan dan Widel.


__ADS_2