I'M Crazy About You

I'M Crazy About You
Episode 63 - Gara-gara Mengigau + VISUAL TOKOH


__ADS_3

“Ha-haloo ?” jawab Rina linglung mendengar suara yang berbeda.


“Kenapa Rin ? Ini Febby”


Rina mengernyit. “Febby ? Kok kamu yang angkat Feb ?”


“Oh, tadi Kak Reza mengantarkan tas Widel ke rumah, katanya tas Widel ketinggalan”


Mata Rina membelalak. “Ja-jadi Widel sekarang dimana ?”


“Mana aku tahu Rin. Kata Kak Reza tadi Widel ada urusan tiba-tiba, dan meninggalkan tasnya”


“Apa yang terjadi ya ? Apa Tuan Devan tiba-tiba menjemput Widel di depan Kak Reza langsung ? Tapi kalau seandainya begitu, kenapa Kak Reza biarkan Widel pergi ? Atau mungkin mereka pergi diam-diam ? Kalau begitu, kenapa Kak Reza bilang Widel tiba-tiba ada urusan ? apa mungkin dia sudah tahu Widel bersama Tuan Devan ?” gumam Rina dalam hati dengan banyak pertanyaan.


“Halo ?? Rin ? ” sahut Febby sebab Rina hanya diam saja.


“Oh, i-iya Feb. Makasih infonya kalau gitu. Sudah dulu ya byee” ucap Rina lalu menutup teleponnya.


“Gimana Rin ?” Tanya Melda.


Rina menoleh. “Kata Febby tadi kak Reza datang mengantarkan tas Widel ke rumahnya, kata Kak Reza Widel tiba-tiba ada urusan dan tasnya ketinggalan.”


Melda mengernyit. “Yaampun apa yang terjadi ?”


“Mel, menurutmu kenapa kak Reza bilang begitu pada Febby ? Dia tidak menanyakan Widel sama sekali pada Febby, berarti kak Reza tahu kan Widel dimana dan sama siapa ?” Tanya Rina.


“Iya Rin, bisa jadi”


“Wah, apa mereka bertengkar tadi ya ?”


Melda menepuk bahu Rina. “Hmm.. nanti malam kita ke rumahnya saja gimana ?”


“Hmm.. oke”


*****


Hari sudah sore, Widel masih berada di rumah Devan. Ia bahkan sampai ketiduran di sofa saat menonton televisi bersama Devan di ruang tengah. Devan kemudian menyelimutkan Widel dan memberikannya bantal di bawah kepala Widel. Pria itu memandangi wajah polos gadis yang sedang tertidur pulas itu. Devan tersenyum melihat wajah polos itu, rasanya ia sayang sekali dengan gadis itu. Dipegangnya pipi Widel dengan lembut, disapukan tangannya dengan penuh cinta. Ingin rasanya ia pandangi terus seperti ini setiap hari, dan setiap waktu. Setelah cukup puas memandangi gadis itu, ia lalu berdiri dan hendak pergi, namun tiba-tiba saja pergelangannya dipegang oleh Widel. Devan menoleh, namun ternyata gadis itu masihlah tertidur. Gadis itu berbicara dengan suara yang sangat pelan.


“Tuan Devan” Widel mengingau dengan suara yang pelan dan tidak terlalu jelas.


“Apa ? apa yang kau katakan ? ”Devan lalu mendekatkan telinganya lebih dekat lagi agar bisa mendengarnya.


“Tuan Devan” ulang Widel.


Devan tersenyum mendengarnya, merasa senang Widel mengigaukan dirinya.


“Kau.. kau sangat menyebalkan” ucap Widel yang membuat Devan hampir tergelak. Bukannya merasa kesal, Devan malah berpikir gadis itu sangat imut mengata-ngatai dirinya bahkan di dalam mimpinya.


“Tapi...” lanjut Widel.


“Tapi apa ?” tanya Devan penasaran.


“Tapi.. aku jatuh cinta padamu”


Devan tersenyum lebar lalu menggenggam tangan Widel. “Aku tahu”


“Sial!!” umpat Widel seketika membuat mata Devan membulat mendengarnya.


“Berani-beraninya kau menganggap itu adalah kesialan untukmu. Awas saja kau kalau kau bangun nanti” gerutu Devan sembari berdiri lalu berjalan pergi dari ruang tengah.


Devan bersiap untuk mandi. Badannya sudah terasa sangat gerah. Mumpung gadis itu lagi tidur sebaiknya ia menyegarkan dirinya dulu, pikirnya.


Bahkan saat mandi pun, umpatan Widel dalam tidurnya masih terngiang-ngiang di telinga Devan. “Sial ??? Aku jatuh cinta padamu.. Siall ???” gerutu Devan tak habis-habisnya.


“HHAAH!! Aku tidak percaya. Sial ?”


*****


Widel terjatuh dari sofa saking lasaknya gaya tidurnya, berguling-guling menganggap ia baring di ranjang yang besar. Pada akhirnya ia terjatuh dan membuatnya langsung terbangun tiba-tiba. Untung saja dibawahnya ada sofa bulu tebal yang membuatnya tidak terlalu merasakan sakit karena jatuh.

__ADS_1


Widel masih linglung selama beberapa saat. Ia menatap ke sekeliling ruangan dengan wajah bingung. Apalagi tak ada siapapun yang ia lihat. Kepalanya sedikit pusing akibat terbangun secara tiba-tiba. Setelah cukup sadar, ia akhirnya sadar kalau ia saat ini sedang berada di rumah Devan.


“Sudah jam berapa ini ?” gumam Widel seraya melihat jam dipergelangan tangannya.


“Astaga sudah jam lima lewat dua puluh menit. Aku harus pulang”


Kepala Widel celingak celinguk mencari Devan. Ia lalu berjalan karena tak melihat sosok yang ia cari. Ia tak menemukan pria itu di dapur, ruang makan, halaman belakang pun tidak ada.


“Dia dimana ?” gumam Widel. Ia lalu melihat sebuah pintu yang terbuka sedikit yang menghadap ke ruang tengah. Ia mengetuk pintu itu terlebih dahulu dan kemudian memanggil nama Devan. Saat dirasa tak ada jawaban di dalam, ia lalu mendorong pintu itu agar terbuka lebih lebar.


“Apa ini kamarnya ? kenapa dia tidak ada juga ? pergi kemana sih dia ?” ucapnya sembari berjalan masuk melihat lihat isi kamar pria itu.


“Waahh.. kamar ini sangat luas” pukau Widel sambil menatap sekeliling kamar. Kemudian ia melihat sebuah bingkai foto kecil di atas meja. Di dalam foto itu, ada gambar seorang laki-laki remaja dan seorang anak perempuan yang lebih pendek darinya. “Siapa anak ini ? adiknya kah ?”


Setelah memperhatikan foto itu sejenak, ia berjalan lagi lalu duduk di tepi ranjang berukuran king milik Devan. Widel duduk sambil mengguncang-guncangkan badannya, ingin mencoba empuknya tempat tidur itu. Ya mumpung tidak ada Devan, pikirnya.


“Wah, kasurnya empuk sekali. Belum pernah seumur-umur aku tidur di tempat tidur beginian. Entah bisa senyenyak apa ya ?” gumamnya dalam hati sembari tersenyum cengengesan.


“coba baring ah” batinnya.


Widel lalu membaringkan badannya dengan kaki menggelantung ke bawah ranjang. Ia menyapu-nyapukan kedua tangannya ke samping seolah sedang berenang. “Nyamannya...”


Cklek


“Sedang apa ?” Suara bariton yang sudah sangat ia kenali membulatkan mata Widel seketika. Ia langsung bangun dengan cepat dan dengan refleks ia langsung membalikkan wajahnya ke samping sambil menutup matanya sebelah ketika melihat Devan hanya memakai sehelai handuk yang terlilit di pinggangnya.


“Ke-kenapa kau tidak pakai baju ?” Tanya Widel gelagapan. Wajahnya langsung memerah.


“Kau tidak lihat aku baru selesai mandi ? Kau sedang apa di sini ?”


“A-aku mencarimu”


“Ada apa ?” Tanya Devan mendekat pada Widel.


“Ja-jangan mendekat” Jantung Widel rasanya berpacu dengan sangat cepat. Wajahnya terasa memanas. “A-aku akan keluar. K-kau pakailah bajumu dulu” ucap Widel terbata-bata lalu berlari cepat keluar dari kamar Devan.


Widel menepuk-nepuk wajahnya sendiri setelah keluar dari kamar Devan karena masih terbayang akan apa yang ia lihat barusan, badan Devan yang masih basah, rambut yang masih meneteskan air, dada bidangnya, roti sobek dan handuk yang terlilit di pinggang pria itu cukup membuat Widel menelan salivanya kuat-kuat. “Astaga.. astaga.. apa yang kupikirkan ?”


“Nanti aku mandi di rumahku saja. Antarkan aku pulang Dev, sekarang sudah hampir jam enam”


Devan hanya diam saja tak menyahut ucapan Widel.


“Devan!”


“Yasudah, kamu bantu aku dulu kalau begitu” jawab Devan.


“Bantu apa ?”


“Ikut aku” kata Devan lalu beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke kamarnya.


Langkah Widel terhenti. “K-kenapa masuk ke kamar ?”


“Ya, kamu tolong bantu aku keringkan rambutku. Memang apa yang kamu pikirkan ?”


“Ooo.. ti-tidak ada” ucap Widel dan melanjutkan langkahnya masuk ke kamar Devan. Devan sudah duduk di kursi menghadap ke meja rias cowok.


Widel pun mendekat dan mengambil hairdryer yang ada di atas meja lalu menghidupkannya. Ia kemudian memegang rambut Devan dengan lembut sambil mengarahkan hairdryer itu ke arah rambut Devan agar cepat kering.


Devan tersenyum dalam hati.


Setelah beberapa menit dan rambut Devan juga sudah kering, Widel mematikan hairdryer itu dan meletakkannya kembali di atas meja. “Sudah selesai. Ayo antar aku pulang Dev” pinta Widel dengan nada bujukan.


“Tapi aku belum makan. Buatkan aku makanan dulu sayang, baru itu aku akan antar kamu pulang” ucap Devan.


“Hahaha.. rasakan itu ! Tidak akan kubiarkan kamu pulang Widel sayang. Siapa suruh tadi kau bilang jatuh cinta padaku itu sial” batin Devan.


“Kamu kan bisa singgah ke restoran nanti pas antar aku pulang Dev” keluh Widel.


“Kan perjalanan dari rumah aku ke rumah kamu itu jauh sayang, butuh tahan lapar berapa jam lagi ? Belum lagi kalau macet” tutur Devan alasan.

__ADS_1


“Ih!! Yasudah deh. Tunggu bentar aku masak” jawab Widel dengan wajah kesalnya.


“Makasih sayang” ucap Devan dengan manisnya. Sementara dalam hati ia tertawa gembira.


 


 


Bersambung...


Karena banyak yang sudah menanyakan gambar Visualnya... dan episodenya juga sudah cukup jauh, yaudah deh aku kasih ya sebagai bonus di episode kali ini. 😁


Yang pertama Widel dulu yaa..


Ini dia..


WIDELIA SYAQILLA





 


 


 


Terus yang berikut


DEVANO LEWIS





 


 


 


Berikutnya adalah keuwuan


DEVAN DAN WIDEL






Yang terakhir uwuuu banget kann??? 😍😍😍


Oh ya ada yang mau lihat visual Reza gak ?


hehe nanti menyusul yaaa beb..


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2