
Widel meletakkan nampan yang berisi makanan yang telah disiapkannya di atas meja di bagian dapur. Ia duduk dengan wajah muram sembari memegang sendok, lalu memasukkan sesuap demi sesuap makanan itu ke dalam mulutnya. Akhirnya, ia memakan makanan itu sendiri. Air matanya jatuh bercucuran di pipinya. Hatinya terasa sakit sekali. Kenapa cinta semenyakitkan ini ? Kenapa harus cemburu begini ? Widel benci dengan perasaannya sendiri. Kalau saja ia tidak memiliki perasaan apapun pada Devan, ia tidak akan merasa sakit seperti ini. Berulang kali ia ingin membunuh perasaan itu, tapi kenapa malah semakin bertumbuh ?
“Widel ?” Sapa seseorang yang tiba-tiba menyentuh pundak Widel. Dengan cepat Widel menyeka air mata di pipinya dan berusaha senyum seceria mungkin.
“Hm ? Ada apa Adel ?” Tanya Widel menoleh pada orang tersebut yang ternyata adalah Adel.
“Kenapa makan sendiri di sini ? Biasanya makan bersama kami” Kata Adel yang kemudian menarik kursi dan duduk di samping Widel.
“Maaf Del, aku lapar sekali, jadi aku makan duluan. Kamu sudah makan ?”
“Ini baru mau makan. Aku makan di sini ya sama kamu” ucapnya sambil membuka kotak bekal makannya.
“Iya Adel. Oh ya, Rina dan Melda kemana ? Belum makan juga kah?”
Adel menggeleng. “Mungkin belum”
Widel menganggukkan kepalanya dan melanjutkan makannya.
“Itu kamu masak sendiri ya Widel ?” Tanya Adel melirik makanan Widel.
Widel menganggukkan kepalanya lagi, merasa malas membahas makanan ini.
“Wah, sepertinya enak. Boleh kucoba ?”
Widel mengangguk sambil tersenyum kecut.
“Terimakasih” sahut Adel dengan tersenyum lebar lalu mencicipi lauk milik Widel.
“Kalian makan di sini rupanya. Kok tidak ajak-ajak kami ?” Ucap Rina yang kebetulan lewat bersama Melda, datang menghampiri Widel dan Adel. Mereka pun duduk berempat.
Widel dan Adel tak menjawab, hanya tersenyum sambil menikmati makanannya.
“Eh kalian lihat tidak wanita cantik yang datang bersama Devan tadi ?” Tanya Melda sambil membuka kotak bekalnya.
Rina melirik Widel dengan pandangan sungkan. Ia sadar, itu bukanlah topik yang baik untuk dibicarakan di depan Widel saat ini. Ia pun langsung mengalihkan pembicaraan. “Eh jalan yuk nanti malam ?”
“Tumben sekali Rin, tiba-tiba ngajak jalan ?” sahut Melda.
Rina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar, tampak senang sekali.
“Kita kan memang sepertinya sudah lama tidak keluar jalan-jalan berempat. Keluar yuk malam ini, belanja, makan sama-sama, atau nonton bioskop kek, kan hitung-hitung sebagai penghiburan diri setelah bekerja keras”
“Hmm.. Boleh-boleh. Aku juga rasanya sudah jenuh sekali” sahut Adel.
__ADS_1
“Iya sih Rin, ayoklah kalau begitu nanti malam” ucap Melda sambil tersenyum semangat. Sementara Widel hanya tersenyum tanpa berbicara.
“Widel, kamu ikut juga yaa” sapa Rina yang melihat Widel tak berbicara dari tadi.
Widel tersenyum dan mengangguk. “Iya Rin”
“Aku duluan ya” Kata Widel lagi sembari membereskan makanannya ketika sudah selesai makan. Hari ini mood nya sedang tidak baik untuk bercanda ria bersama teman-teman kerjanya.
Rina dan yang lain menganggukkan kepalanya. “Iya Widel”
*****
WIDEL POV
Aku duduk menatap jam di pergelangan tanganku.
Baru pukul 14.12
Kuhembuskan napasku, merasa bosan dengan waktu yang kenapa terasa berjalan lambat sekali hari ini. Aku memperhatikan pintu, seorang laki-laki datang dan langsung duduk di meja tak jauh dari pintu. Aku pun berjalan mengampiri pelanggan yang baru saja duduk itu.
“Mau pesan apa Tuan ?” Tanyaku sambil menyerahkan buku menu pada pelanggan yang baru datang itu. Ia pun segera mengambil buku menu dari tanganku, membolak-balik buku itu, memikirkan apa yang ingin ia pesan. Aku tetap berdiri dan menunggu dengan sabar, namun tiba-tiba saja mataku teralihkan memandang Devan dan Xena yang baru saja keluar ke pintu utama, wanita itu menggandeng lengan Devan sambil menyandar di pundak Devan.
Mereka tampak serasi sekali. Sepertinya Tuan Devan mengantar wanita itu sampai ke depan pintu. Secepat itukah akhirnya mereka berdua pacaran ?
Sebelumnya saat dia melihatku, dia selalu saja menyuruh-nyuruhku, selalu marah-marah. Tapi dengan wanita itu dia begitu memperlakukannya dengan manis.
Aku tidak mengerti, apa maksudnya dulu berkata merindukanku, memintaku menjadi kekasihnya ? Belum lagi menyuruhku menjadi asisten yang lebih cocok disebut sebagai pelayannya ? Menyuruh aku memasakkan makanan untuknya setiap hari namun kenapa hari ini malah....
Aku tahu, aku menolaknya. Tapi apakah perlu secepat itu bersama dengan wanita itu ?
Aku tidak mengerti dirinya tapi sebenarnya aku lebih tidak mengerti diriku sendiri.
Arrghh.. ada apa denganku ? Aku sendiri yang menolaknya, kenapa merasa begini ? Aku benci perasaan ini. Tidak bisakah aku mengabaikannya saja ?
“Hei, nona” panggil pelanggan itu yang sepertinya sudah menyapaku beberapa kali. Aku tersentak, dan baru tersadar kalau aku masih melayani pelanggan. “Maaf Tuan. Mau pesan apa ?” ucapku lalu mencatat menu yang dipesan oleh pelanggan itu.
Setelah menyerahkan pesanan yang telah ku catat itu pada bagian dapur, aku pun duduk pada ruang karyawan. Kuhembuskan napasku sekali lagi seakan melepas beban yang terasa berat. Mataku terasa panas, aku pun melebarkan mataku sambil mengibas-ngibaskan tanganku untuk mengeringkan pelupuk mataku yang terasa mulai penuh dengan air yang akan segera tumpah.
Apakah aku masih sanggup bekerja di sini setiap harinya ?
Kenapa sulit sekali membunuh perasaan sendiri ?
“Widel, dipanggil sama bos ke ruangannya” ucap salah seorang karyawan laki-laki yang entah darimana, menghampiri diriku.
__ADS_1
“Oh iya” sahutku cepat dan langsung bergegas pergi. Sesampainya di depan pintu ruangan Devan, seperti biasa aku selalu mengembuskan napas untuk memantapkan mentalku. Setelah merasa tenang, aku mengetuk pintu itu.
Tok Tok Tok
“Masuk” sahut Devan dari dalam.
Aku pun membuka pintu itu dan masuk ke dalam beberapa langkah. Laki-laki itu tampak sibuk bekerja di meja kerjanya. “Ada yang bisa saya bantu Tuan ?”
“Widel, tolong buatkan kopi” pintanya.
“Baik Tuan”. jawabku lalu berbalik badan dan melangkah pergi.
“Halo, ada apa Xena ?” ucapnya yang sepertinya menjawab panggilan masuk di ponselnya. Kakiku terhenti sejenak tepat saat aku akan membuka pintu untuk keluar.
“Hmm.. bagus kalau begitu” ucapnya lagi. Dengan cepat kubuka pintu dan melangkah keluar. Aku tidak ingin mendengarkan lagi.
Kenapa tidak menyuruh orang lain saja untuk membuatkannya kopi ?
“Buat kopi lagi ya Widel ?” Tanya Rina yang ketika melihatku melangkah ke mini bar resto dan tampak sedang membuat kopi.
Aku mengangguk, merasa malas untuk berbicara apapun.
“Aku bingung pada Tuan Devan. Kenapa masih memanggilmu, kalau dia sudah punya kekasih ?” Tanyanya yang membuat tanganku berhenti sejenak ketika sedang menyeduh kopi.
“Iya kan ? Buat apa coba ? Apa untuk membuatmu cemburu ?” ucap Rina lagi.
Aku pun akhirnya menoleh padanya. “Aku tidak ada urusan dengan Tuan Devan, Rin. Jadi berhenti bahas itu” ucapku lalu melangkah pergi membawa nampan dengan secangkir kopi panas di atasnya. Rina hanya diam menatapku pergi, tak berbicara lagi.
Sesampainya di depan pintu ruangan CEO, kulihat pintunya terbuka sedikit.
Perasaan tadi aku menutup pintunya. Kenapa terbuka ?
Aku pun langsung mendorong pintu itu dan masuk ke dalam.
Hening, tak ada siapapun di dalam ruangan itu. Kuletakkan cangkir kopi itu di atas meja kerja Devan, dan keluar mencari pria yang adalah bosku itu.
“Mel, lihat Tuan Devan tidak ?” Tanyaku ketika melihat Melda berjalan melewatiku.
“Itu baru saja keluar” Tunjuk Melda ke arah luar.
Mataku tertuju pada arah telunjuk Melda. Devan terlihat menaiki mobilnya dan berlalu pergi.
Perasaan diabaikan seperti ini..., membuat hatiku terasa sakit sekali. Kenapa dia seperti itu ? Kenapa menyiksaku seperti ini ? Kenapa menyuruhku membuatkannya kopi kalau dia akan pergi seperti ini ?
__ADS_1
Bersambung...