
DEVAN POV
21.30
Aku duduk di sofa besar ruang tengah sambil menonton televisi. Sesekali kulirik ke arah ruang makan dan melihat gadis itu yang masih duduk menangis disana. Sudah sejam lebih dia masih menangis seperti itu.
Cih! Sebenarnya kenapa dia menangis seperti itu. Aku tidak memukulnya dan hanya menciumnya sebagai hukuman untuknya tadi. Apa sebegitu menjijikannya dicium olehku ?
Pikiranku kacau mendengar suara tangisannya terus. Aku berdiri lalu menghampirinya di ruang makan.
“Hei, sudahlah. Tak perlu menangis seperti itu. Itu hanya ciuman biasa. Kenapa kau harus menangis?” ucapku saat duduk di sampingnya.
Mendengar ucapanku, dia malah menoleh padaku dan menatapku tajam seakan hendak mencakar wajahku.
“Ap-apa kau bilang ? Ha-hanya sebuah ciuman biasa ?” tanyanya sambil mengernyitkan dahi kepadaku yang membuatku semakin bingung, Apa yang salah dengan ucapanku ?
“Hah! Kau mencuri first kissku dan kau bilang hanya ciuman biasa ? Kau sudah mengotori mulutku! Aku merasa jijik karenamu! Kau sudah merenggut kesucian bibirku brengsek!” teriaknya dengan penuh amarah kepadaku.
Ya ampun, aku tak percaya ternyata masih ada gadis polos sepertinya di dunia zaman sekarang ini. Betapa mengagumkannya seorang gadis diusianya yang sudah dibilang dewasa tapi masih menjaga kesucian dirinya, bahkan hanya sebuah ciuman pun dia tidak pernah melakukannya ? Kemana saja sebenarnya gadis ini ?
Baiklah, kurasa aku memang harus mengganti rugi karena telah merenggut kesucian bibirnya yang telah dia jaga selama ini.
Aku mengambil cek dan segera menuliskan jumlah yang cukup besar untuk menghargainya.
“Ambillah cek ini dan cairkan di bank nanti. 3 milyar cukup kan ? kalau belum, kau bisa sebutkan berapa saja yang kau mau. Aku akan menuliskannya lagi untukmu” ucapku sembari memberikan selembar cek padanya.
Aku tersenyum saat dia menerima selembar cek dariku.
Huh! Semua wanita memang hanya ingin uang.
Dia terdiam beberapa saat menatap selembar cek di tangannya. Mungkin dia tak percaya dengan nominal yang kuberikan. Kemudian dia berdiri dari duduknya, lalu menatap diriku dalam-dalam.
Ternyata untuk membujuk gadis ini sangatlah mudah.
“Aku tak percaya ternyata kau serendah itu!” ucapnya tiba-tiba setelah diam beberapa saat menatapku, lalu merobek selembar cek di tangannya hingga menjadi serpihan-serpihan kecil yang berterbangan di hadapanku.
Mataku melebar tak percaya melihat apa yang dilakukannya.
“Kenapa ? Apa kurang ? Berapa maumu ? aku bisa memenuhinya sampai kau puas!” ucapku terperangah menatapnya.
PRAKK!!
__ADS_1
Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Aku memegang pipiku yang memanas dan terasa amat perih. Sepertinya dia menamparku dengan sekuat tenaganya. Aku hanya terpaku menatapnya yang kini menatapku dengan pandangan mencemooh.
“Kau....... Kau tak pantas disebut manusia! Aku tak mau melihat dirimu lagi! Kesepakatan kita berakhir! Aku tak peduli dengan dirimu dan pesta bodohmu itu! Sekarang tolong biarkan aku pulang! ”ketusnya lalu berlalu melewatiku namun kucegah dengan menahan tangannya membuatnya berbalik dan mengangkat kepalanya untuk menatapku.
“LEPASKAN TANGANMU ITU!” teriaknya memberontak namun dengan segera aku merangkul badannya erat, menenggelamkan kepalanya di pundakku.
“Maafkan aku. Aku yang salah. Aku minta maaf. Aku memang keterlaluan padamu. Maafkan aku Widel. Tolong jangan berbicara seperti itu padaku” ucapku bersungguh-sungguh sambil terus memeluknya erat. Kurasakan tubuhnya bergetar dengan suara isakan yang terdengar.
“Kau boleh memakiku, memarahiku. Kalau perlu pukul aku. Kau boleh melampiaskan semuanya padaku sampai kau puas. Tapi kumohon maafkan aku, aku tak bermaksud merendahkan dirimu... Aku.... aku hanya tidak tahu bagaimana caranya membujuk seorang wanita. Aku hanya tahu uang bisa menyenangkan semua orang.... Maafkan aku” ucapku lagi dengan tulus dan dia hanya bisa terisak di pundakku.
Aku terus memeluknya dengan erat, sambil mengelus rambutnya naik turun dengan lembut berusaha menenangkannya dalam pelukanku sampai ia berhenti menangis.
“Menangislah dipundakku sepuasmu sampai kau merasa lega” ucapku lembut masih tak melepaskan pelukanku padanya.
Setelah diam beberapa saat, dan dia juga sepertinya sudah tenang. Aku mendorong bahunya perlahan lalu menatapnya yang juga menatapku dengan wajah sendu. Kemudian aku menghapus bekas-bekas air mata di pipinya lalu mencium puncak kepalanya dengan lembut.
“Kenapa kau seperti ini ?” tanyanya dengan wajah bingung menatapku.
Ya, kenapa aku jadi seperti ini Widel ? Aku juga tidak tahu. Aku hanya tidak bisa melihatmu menangis. Hatiku terasa sesak rasanya. Saat kau bilang tak mau melihatku lagi, aku tak tahu kenapa aku jadi begini. Sebenarnya ada apa denganku ? Apa aku hanya sedang kacau karena telah dikhianati oleh kekasihku sendiri ?
“Aku.... aku hanya merasa bersalah padamu” jawabku.
“Widel, apa kau mau memaafkanku ?” tanyaku kemudian dengan nada serius sambil menatap matanya lekat dan dia hanya diam menatapku tak lama lalu ia menggangguk.
“Aku berjanji!” tegasku sambil menyeka air matanya.
“Apa kau mau es krim ?” tanyaku kemudian.
“Kau pikir aku anak kecil ?” jawabnya cemberut.
“Baiklah kalau kau tak mau”
“Siapa bilang aku tidak mau ?” ucapnya polos membuatku tertawa.
“Baiklah. Tunggulah di sofa sana, aku akan mengambilkannya untukmu” ucapku sambil menunjuk ke sofa ruang tengah lalu berjalan ke arah kulkas untuk mengambil es krim.
“Jangan lama, setelah itu aku akan kembali ke tempat kerjaku” katanya sambil berjalan ke arah sofa.
***
Sekarang Widel sudah duduk di sofa menonton acara komedi di televisi. Terlihat Widel yang tertawa lepas, terpingkal-pingkal menonton TV di depannya.
__ADS_1
“Ini. Apa yang kau tonton ? Lucu sekali kayaknya” tanyaku sembari memberikan segelas es krim padanya.
“Tontonlah, ini lucu sekali” jawabnya sambil menerima segelas es krim dariku.
Akupun duduk dan mulai menonton acara yang katanya ‘sangat lucu’ itu. Sesekali aku melirik Widel yang tertawa begitu lepasnya yang membuat hatiku seakan terenyuh.
“Apa yang lucu ? Daritadi hanya kau yang tertawa Widel”
“Astaga, Ini lucu sekali tahu!” jawabnya disela-sela tawanya.
“Dasar memang selera humormu rendah sekali” ucapku menggelengkan kepala namun tersenyum melihatnya tertawa.
“Biarin!” jawabnya lalu kembali tertawa.
Tak lama setelah es krim di gelasnya tandas, dia menoleh ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 22.10.
“Astaga, aku harus kembali” ucapnya yang tiba-tiba tersadar dan beranjak dari duduknya.
“Tuan, saya mohon diri. Bisakah Tuan membuka pintunya?” ucapnya dengan sedikit membungkuk kepadaku.
“Apa kau mau pulang ?” tanyaku.
“Tidak Tuan, ini belum waktunya pulang kerja. Saya harus kembali ke tempat kerjaku. Masih ada waktu sampai jam 12 malam baru saya pulang”
“Baiklah. Apa perlu kuantar ?”jawabku lalu beranjak dari sofa, berdiri dan membukakan pintu.
“Tidak perlu Tuan” jawabnya menggelengkan kepalanya.
“Baiklah, kalau begitu hati-hati” ujarku dan hanya dijawabnya dengan anggukan lalu berlalu melewatiku yang berdiri di ambang pintu. Tiba-tiba aku menahan lengannya, membuat keningnya berkerut mengisyaratkan pertanyaan ‘ada apa’ padaku.
“Widel, bisakah kau tidak membatalkan kesepakatan kita tadi ?” ucapku perlahan namun sedikit terselip nada permohonan. Dia hanya tersenyum dan mengangguk.
“Dan bisakah.... bisakah kau tidak usah bersikap sungkan padaku, dan hanya memanggil namaku ?” tanyaku lagi belum melepaskan tangannya.
“Baiklah. De... Devan” jawabnya terbata sambil menundukkan kepalanya lalu dengan cepat berlari meninggalkanku.
Seketika, ada rasa aneh di dalam diriku yang bergejolak saat mendengarnya menyebut namaku.
Aku mungkin sudah gila. Ada apa denganku ? Hah! Tidak mungkin aku menyukai gadis kecil seperti itu. Dia bukan tipeku sama sekali. Aku hanya mempermainkannya untuk menyenangkan hatiku saja, agar aku melupakan Angel.
***
__ADS_1
Bersambung...