I'M Crazy About You

I'M Crazy About You
Episode 59 - Sayang


__ADS_3

Widel menggigit bibir dalamnya kuat-kuat. “Em, i-iya. Aku mau”


Devan membulatkan matanya tak percaya dengan yang ia dengar sekarang. Ia sampai mengerjap beberapa kali dan menyuruh Widel untuk mengulangi perkataannya. Perjuangannya selama ini tidak sia-sia. Gadis itu akhirnya mau menerimanya. Seketika Devan langsung memeluk Widel dengan erat.


“Terimakasih sayang” ucap Devan lalu melepaskan pelukannya dan mengecup bibir Widel secepat kilat. Widel langsung membeku di tempat, seakan tak siap dengan apa yang dilakukan Devan padanya. Ia pun merasa sangat canggung dipanggil ‘sayang’ seperti itu oleh Devan.


“Em, a-aku akan kembali. Kak Reza menungguku” Ucap Widel yang ingin menghindar dari situasi ini, merasa perlu untuk mempersiapkan dirinya. Ia hendak membuka pintu mobil namun pergelangan tangannya ditahan oleh Devan.


“Kau mau menemui pria itu lagi ?” Tanya Devan dengan pandangan tak suka.


Widel menoleh. “Aku sekarang sudah bekerja sebagai sekretarisnya”


“Berhenti saja. Aku tidak suka melihatmu bersama lelaki itu terus” Ucap Devan dengan wajah kesalnya.


“Tapi aku baru saja bekerja, tidak mungkin untuk berhenti sesuka hati De-devan” Widel merasa belum terbiasa menyebut nama Devan langsung seperti itu.


“Kau sekarang adalah wanitaku, aku tidak ingin kau bekerja dengan orang lain lagi. Nanti aku akan memberikan kompensasi padanya untuk pengunduran dirimu”


“Selalu bertindak dan memerintah semaunya. Kenapa aku bisa menyukai lelaki seperti dia ?” gerutu Widel dalam hati.


“Dia mungkin sekarang sedang mencariku. Tasku juga masih di sana, kau tiba-tiba menarikku ke sini dengan paksa” Ucap Widel sangat menahan kekesalannya. Bersama Devan entah kenapa ia selalu saja emosi.


Devan menaikkan alisnya. “Jadi kau menyalahkanku ?”


“Bu-bukan begitu maksudku. Aku hanya tidak ingin pergi seperti ini meninggalkannya. Rasanya tidak sopan” tuturku.


“Baiklah. Aku akan pergi bersamamu menemui dia sekarang”


“Oh Tuhaaann... Kenapa ada laki-laki seperti dia ini ?” batin Widel.


Widel mengembuskan napasnya berusaha menyabarkan diri. “Tidak. Aku tidak mau!”


“Kalau begitu aku akan membawa lari dirimu. Tidak usah bertemu lagi dengan lelaki itu!” Ucap Devan langsung mengunci semua pintu mobilnya dan hendak menjalankannya, pergi dari tempat itu.


“ISS.. KENAPA KAU SELALU SEPERTI INI ?” Widel meninggikan suaranya.


Devan menoleh dan menatap Widel. “Tapi kau suka kan ? Kau cinta padaku” ucap Devan seraya tersenyum licik.


Kalimat itu seperti sebuah skakmat untuk Widel. Gadis itu hanya bisa merutuki dirinya sendiri dan menatap Devan dengan sangat kesal.


“Turunkan aku Devan. Tasku masih di sana, ada ponsel dan lain-lain semuanya ada di dalam tasku” ucap Widel lagi tak mau menyerah walau Devan sudah menjalankan mobilnya entah akan membawa dirinya kemana sekarang.


“Tinggalkan saja di sana. Nanti kubelikan ponsel baru untukmu” Ucap Devan sambil menatap jalan ke depan, tetap tak mau menuruti keinginan Widel untuk kembali menemui Reza.


Widel membuang mukanya ke arah kaca jendela mobil seraya mengembuskan napasnya dengan kasar. Ia tak ingin melihat wajah pria yang sangat menyebalkan itu. Rasanya ia ingin mencakar wajah itu habis-habisan jika terlalu lama melihatnya.

__ADS_1


Devan melirik ke samping, melihat Widel yang masih cemberut tidak henti-hentinya. Ia pun berdehem ingin memecahkan suasana. Di saat yang kebetulan ia melihat ada yang menjual kelinci di pinggir jalan. Ia pun meminggirkan mobilnya dan keluar menghampiri si penjual kelinci itu.


Beberapa saat kemudian ia masuk kembali ke dalam mobil dengan tangannya memegang sebuah kardus bekas indomie yang ditutup, dan telah dilubang-lubangi bagian sisi-sisinya. Widel masih tak mau melihat dirinya, ia masih saja betah melihat ke arah jendela mobil di sebelahnya. Saat Devan mendekat, ia langsung menutup matanya berpura-pura tidur.


“Widel, peganglah ini” kata Devan langsung menaruh kardus itu di atas paha Widel membuat gadis itu langsung membuka matanya dan melihat barang apa yang dipangkunya itu. Widel penasaran dengan isi dari kardus itu karena ada yang bergerak di dalamnya.


“Apa ini ?” Tanya Widel masih dengan nada ketus.


“Buka saja” ucap Devan yang kini telah menjalankan mobilnya kembali.


“Kau pasti mengerjaiku kan ? Tidak mau!”


Devan menoleh pada Widel. “Astaga. Untuk apa aku melakukan itu ? Buka saja, kau akan suka”


Widel menatap Devan dengan pandangan selidik. Lalu melihat kardus itu kembali dengan ragu. Devan merasa gemas melihat Widel yang tak juga membuka kardus itu.


Di dalam kardus itu terus saja bergerak membuat Widel menelan salivanya kuat-kuat. Tangannya bergerak penuh kewaspadaan saat hendak membuka penutup kardus itu.


“BAAH!!!” Teriak Devan sambil menghentakkan tangannya di atas tangan Widel membuat Widel kaget setengah mati.


Dengan rasa kesal yang amat sangat, Widel langsung memukuli Devan dengan tangannya sendiri. “Sialan!! Aku kaget Dev”


Devan tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah Widel. “Sini deh aku bantu buka” ucap Devan sembari menggerakkan tangannya untuk membuka kardus yang dipangku Widel itu.


Widel tersenyum sambil menatap sepasang kelinci menggemaskan dengan mata yang berbinar-binar. Kelinci itu berwarna abu-abu dan satunya bercorak hitam putih seperti polkadot. Tangan Widel pun bergerak otomatis mengelus kelinci-kelinci itu.


Widel menganggukkan kepalanya, dan menoleh pada Devan sambil tersenyum lebar. Marahnya hilang sudah setelah melihat dua ekor kelinci yang sangat menggemaskan itu. “I-ini... ”


“Itu untukmu. Pelihara dengan baik. Mereka itu sangat sensitif” Ucap Devan sambil tersenyum.


“Sungguh ? Terimakasih Devan” sahut Widel dengan sangat bersemangat. Ia sangat senang, dan tak menyangka Devan-pria menyebalkan itu mau melakukan hal beginian.


Devan menyengir lebar. “Panggil aku sayang maka aku akan terima rasa terimakasihmu itu”


Mimik Widel pun langsung berubah. Rasanya Widel menyesal telah menunjukkan rasa senangnya pada pria menyebalkan itu.


“S a y a n g” Ucap Devan mencontohkannya pada Widel. “Panggil aku begitu”


Widel hanya menjulurkan lidahnya pada Devan lalu kembali melihat kelinci-kelinci lucu itu.


Devan terkekeh. “Baiklah kalau kamu tidak mau. Tadinya aku ingin mengantarkanmu kembali ke restoran jepang tadi untuk mengambil tasmu dan membiarkanmu menemui lelaki itu sebentar saja. Tapi.. ya sudahlah. Tidak ja-“


“Sa- sayang” ucap Widel cepat dengan suara yang sangat pelan.


“Apa ? kau bilang apa ?” Tanya Devan ingin mendengar lagi.

__ADS_1


Widel menunduk dan mengelus kelinci-kelinci itu. “Sayang, apa kalian sudah makan ? Nanti aku akan memberi kalian makan. Mau apa ? wortel, seledri ?” ucap Widel berbicara pada kelinci.


Devan melihatnya gemas. Ia terkekeh, gadis itu tampak sangat malu menyebut kata ‘sayang’, padahal sebenarnya itu adalah ungkapan biasa  yang sering  diucapkan pasangan kekasih. Gadis itu malah berimprovisasi sedang berbicara pada kelinci.


Devan pun meminggirkan mobilnya di pinggir jalan lagi, lalu menoleh dan memegang kedua pundak Widel. Perlahan ia memajukan badannya, mendekatkan wajahnya pada wajah Widel yang seketika memerah. Widel terkesiap, matanya membelalak dan agak memundurkan kepalanya ke belakang sedikit. Devan tersenyum dan memiringkan wajahnya namun Widel dengan segera menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Devan tetap tersenyum lalu akhirnya ia mencium pucuk kepala Widel dengan lembut dan kemudian mencubit pipi Widel dengan gemas.


“Jadi, kau beri nama kelinci itu ‘sayang’ ?” Tanya Devan.


Widel mengangguk dengan cepat. “Iya. Memangnya kenapa ?”


Devan menggelengkan kepalanya. “Tidak. Tidak apa-apa. Lalu aku ?”


Widel berdehem dan berbicara dengan terbata-bata. “Ehm.. Ka-kamu kan a-ada nama”


“Tapi aku juga ingin dipanggil sayang” Ucap Devan sambil mengerucutkan bibirnya.


“Ta-tadi katamu mau antar aku kembali ke restoran tadi” Widel ingin mengalihkan topik.


“Kan aku bilang kalau kamu panggil aku sayang”


“Sudah tadi” sahut Widel tak ingin kalah.


“Apa ? Kapan ? Tadi kan kamu sedang bicara dengan kelinci, bukan padaku”


“Emm.. ta-tadi sebelum bicara dengan kelinci”


“Kapan ? Aku tidak mendengarnya”


“Em, baiklah. Sa-sa-sayang” ucap Widel dengan cepat.


“Ulangi, aku tidak dengar”


Widel menghela napas. “Terserah kalau kau tidak dengar” ucapnya dan kembali melihat kelinci.


“Yasudah, akan kubawa lari kamu ke rumahku. Tidak jadi menemui Reza” Kata Devan lalu menjalankan mobilnya kembali.


“Em.. Jangan dong, sayang...”


Devan tersenyum senang. “Hmm.. gitu dong”


Bersambung...


Makasih banyak ya atas dukungan kalian semua pada novel ini. Semoga novel ini selalu menghibur kalian.


Saranghae 💕💕

__ADS_1


__ADS_2