
WIDEL POV
Aku kembali ke dalam aula bersama Kak Reza. Kami berjalan sesekali berjabat tangan dengan rekan-rekan bisnisnya. Sesekali aku menatapnya bingung dan dia balas menatapku dengan tersenyum.
Pikiranku masih terngiang-ngiang dengan ucapan Kak Reza tadi.
Oh ya, kenalkan ini gadisku
“Apa aku tidak salah dengar ya tadi ? Apa maksud Kak Reza bilang aku ini gadisnya ?” gumamku dalam hati.
“Kak Reza ?” ucapku ragu.
“Hm ?” sahutnya.
“Kak Reza tadi...itu..” ucapku ragu ingin menanyakan maksud ucapannya tadi.
“Hm..? Tadi kenapa ?” gumamnya sambil mengernyit seolah bingung dengan apa yang kukatakan.
“Ah... tidak.. bukan apa-apa..” Aku menyengir hambar dan menoleh ke arah lain. Kuputuskan untuk mengurungkan niatku untuk bertanya mengenai hal tadi.
“Kau duduklah di situ, aku ingin kesana sebentar saja” ucapnya sambil menunjuk ke sebuah kursi tamu VIP yang kosong di deretan bagian tengah, lalu menoleh ke arah depan yang penuh dengan kerumunan orang-orang. Sepertinya dia masih ingin bertemu dengan teman-temannya yang lain.
“Oke.. baiklah” Akupun berjalan dengan tertatih ke arah kursi itu. Kakiku sudah sangat sakit sekali. Mungkin jari-jari kakiku di dalam sepatuku ini sudah lecet semua, terasa sangat perih sehingga aku berjalan sambil meringis sesekali.
Akupun duduk, dan membungkuk untuk membuka sepatuku di bawah meja bundar. Aku ingin memeriksa seberapa lecet kakiku ini.
Kuregangkan telapak kakiku dengan bertelanjang kaki di bawah meja. “Awwhh..” ringisku.
Setelah beberapa lama meregangkan kaki, kurasakan cacing-cacing di perutku ini sudah berdemo ingin mendapatkan jatah makan hingga memciptakan suara gemuruh di dalam perutku.
Untung saja, tidak ada orang di meja ini. Kalau saja ada, aku pasti sudah sangat malu karena bunyi perutku yang tidak tahu malu ini.
“Aku lapaar... berapa lama lagi sih acara ini selesai ?” gumamku bermonolog sambil mengelus perutku yang bergemuruh.
Ini semua gara-gara si pria belagu itu. Kalau saja dia tadi tidak muncul tiba-tiba, aku pasti sudah makan kue-kue lezat itu dengan tenang.
“Eh.. tunggu..! Kenapa tadi aku lari dari dia ya ? Kok aku kayak orang yang ketangkep basah karena ketahuan berbuat salah gitu ? Kalau dipikir-pikir... salah apa aku sampai harus menghindar gitu coba ? Arrgghh.. Bodohnya kamu Widel.....! ucapku bermonolog sambil menjitak kepalaku sendiri.
“Akhirnya sia-sia saja kan aku datang ke pesta ini. Perutku tidak gembira, kakiku menderita dan jiwaku pun merana duduk sendirian di sini” gumamku dengan wajah cemberut.
Aku menoleh ke sekeliling “Kemana sih Kak Reza ? kok dia belum kembali ya? Seenak jidat aja dia ninggalin aku sendiri disini..”
“Ehem.. Widel apa kau mencariku ?” suaranya tiba-tiba terdengar menggema dari sebuah microphone. Dengan refleks kepalaku menoleh ke segala arah berusaha mencari-cari si asal suara.
__ADS_1
“Aku di sini Widel...” sahutnya lembut sembari melambai-lambaikan tangannya dari atas panggung yang berada jauh di depan sana. Keningku berkerut bingung melihatnya.
“Selamat malam semuanya.. Para hadirin yang terhormat... Terimakasih sudah datang di acara perusahaan kami yang sederhana ini.. Disini saya berdiri sekalian untuk mengumumkan sesuatu kepada anda semua yang berada disini malam ini” ucapnya yang langsung membuat semua mata tertuju padanya. Keadaan menjadi hening seketika.
“Khususnya untuk seorang gadis cantik yang sedang duduk di sana” sambungnya sambil menunjuk ke arahku.
Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari sosok gadis manakah yang Kak Reza maksud.
“Widel... ?” panggilnya yang membuatku menoleh dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan, entah mungkin malu, bingung, atau terkejut, semua bercampur aduk.
“Widel... aku ingin memberitahumu sesuatu, di hadapan semua orang yang hadir di pesta ini”
Deg deg deg
Ada apa ini ? Kak Reza ingin memberitahuku apa ?
“Widel.... aku mencintaimu”
Jleb!
Aku terkejut setengah mati mendengar ucapan Kak Reza yang menggema di seluruh penjuru ruangan. Kini dia berjalan turun dari panggung dan mendekat ke arahku. Akupun langsung berdiri kaku karena masih sulit mencerna kata-kata yang tertangkap oleh indera pendengaranku barusan. Semakin ia mendekat semakin gugup yang kurasakan.
Oh astaga! Apa yang Kak Reza lakukan ? Apa dia salah makan obat ?
Kak Reza langsung membungkuk tepat dihadapanku dengan bertumpu pada satu lututnya, dan menatap lurus padaku dengan tatapan kesungguhan. Aku menutup mulutku tak percaya dengan apa yang dilakukan Kak Reza saat ini. Cahaya langsung di sorot hanya pada kami berdua.
Sungguh... Aku ingin pingsan saat itu juga. Entah apa yang aku rasakan. Jantungku seakan mau meledak. Detakan jantungku sudah tak bisa dikondisikan lagi. Aku hanya diam membeku membiarkan dia melakukan sesuatu yang membuatku gugup setengah mati.
Kak Reza lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berhiaskan pita satin berwarna putih dari dalam jasnya lalu membuka kotak itu. Sebuah cincin berkilaukan berlian kecil di atasnya.
Ya Allah... Kak Reza ingin melakukan apa ini ?
“Widel... aku mencintaimu sudah sangat lama.. Tapi aku tidak mengatakannya padamu.. karena aku tahu.. kau tidak menyukai seorang pria yang bukan pekerja keras, dan masih mengandalkan uang orang tuanya. Karena itulah aku menunggu saat yang tepat sampai aku menjadi seperti sekarang ini. Aku sudah bekerja keras dan sukses membantu mengembangkan perusahaan ayahku. Sekarang aku sudah siap untuk mengatakan ini padamu... di hadapan semua tamu undangan sebagai saksi akan ungkapan cintaku padamu..” Ucap Kak Reza tak lepas dari pandangannya padaku.
“Kak Reza, apa yang kau lakukan ? Aku masih kuliah Kak..” bisikku panik sambil membungkuk mendekat ke wajah Kak Reza.
“Tenang saja Widel, aku belum akan melamarmu.. Aku akan menunggumu sampai kau selesai kuliah.. Sampai kau siap membuka hatimu padaku. Aku hanya ingin kau tahu perasaanku padamu.. Mau kah kau memberiku waktu untuk membuatmu jatuh cinta padaku ?”
Deg!
Rasanya aku ingin berteriak dan berkomat-kamit sepanjang waktu. Sungguh lelaki dihadapanku ini membuatku sangat.. sangat.. tersipu malu. Wanita mana sih yang tidak kelepek-kelepek dengan perlakuan pria yang sungguh gentle mengumumkan perasaannya dengan berlutut sambil mengulurkan cincin di hadapan banyak orang ?
Aku tidak pernah tahu kalau Kak Reza ternyata orang yang seromantis ini. Dia selalu bertingkah selengek an di depanku dan selalu menggodaku dengan rayuan-rayuan gombalnya. Selama ini aku berpikir rayuan nya itu sekedar candaan dan omong kosong belaka yang bertujuan hanya untuk menggangguku.
__ADS_1
Ya Allah... apakah ini mimpi ?
Aku mencubit pipiku “Aww!” ringisku pelan.
Ini bukan mimpi. Jadi ini nyata ?
“Apa kau bersedia memberikan waktumu untuk membiarkanku berusaha mendapatkan hatimu Widel ?” tanyanya lagi dengan ekspresi penuh kesungguhan.
Aku tersenyum menitihkan air mata kebahagiaan dan mengganggukkan kepalaku membuat senyum Kak Reza semakin merekah lebar. Ia lalu memakaikan cincin itu di jari manisku. Setelah itu ia mencium jemariku dengan lembut dengan senyum yang tak hilang dari bibirnya.
“Terimakasih sayang..” ucapnya setelah berdiri lalu memelukku dengan erat. Sorakan dan tepuk tangan seluruh tamu undangan menggelegar di seluruh sudut ruangan.
Untung saja tidak ada para reporter saat itu, karena mereka memang dilarang keras untuk masuk dengan alasan acara privasi perusahaan. Kalau saja ada, mau ditaruh dimana mukaku ini ? Aku tidak akan sanggup melihat wajahku yang muncul dimana-mana sebagai berita nantinya. Sumpah! aku tidak akan siap menerima caci maki netizen di luar sana. Aku hanya ingin hidup tenang menjalani kuliahku dan bekerja dengan baik.
***
AUTHOR POV
Tanpa Reza dan Widel sadari, ada sepasang mata yang melihat aksi romantis mereka dengan ekspresi gelap dan tatapan mengerikan yang seakan hendak menerkam mangsanya. Sepasang mata itu ialah milik Devan yang sedang mengepalkan tangannya sekuat tenaga, mencoba menahan aura panas yang hendak meledak dari dalam tubuhnya. Sekali hentakan, Ia melepaskan dengan keras lengan Wilona yang terus menggandengnya erat sejak tadi. Devan langsung berbalik dan berjalan cepat tanpa menghiraukan Wilona yang mengejarnya.
“Devan... Kau mau kemana ? Tunggu akuu...” teriak Wilona seraya berlari dengan susah payah mengejar Devan yang berjalan sangat cepat.
Sesampainya di luar, segera ia naik ke dalam mobilnya dan bruumm..! Mobil melaju dengan cepat meninggalkan Wilona di tengah keriuhan pesta.
Wilona terpaku dengan wajah sendu menatap mobil Devan yang melaju hingga menghilang dari pandangannya.
Devan.. tak bisakah kau melihat isi hatiku ? Sampai kapan baru kau akan melihatku ?
Wilona terduduk lemas di pinggir jalan dengan air mata yang membanjiri pipi tirusnya.
“Sepertinya sudah menjadi passionku melihat seorang wanita menangis yang duduk tersungkur di lantai” ucap seseorang berbadan tinggi, membuat Wilona mengangkat kepalanya ke atas berusaha melihat asal suara itu. Wajah pria itu terlihat buram karena air mata yang menggenangi mata Wilona.
“bangunlah! usap air matamu itu. Seorang wanita harusnya berdiri dengan penuh percaya diri!” tegas pria itu sambil membungkuk sedikit, memberikan sehelai sapu tangannya.
“Pergilah! Aku tak butuh belas kasihanmu” jawab Wilona tak mau menerima sapu tangan dari pria itu.
“Cih! Wanita lemah” gumam pria itu dengan nada yang terkesan mengejek lalu pergi meninggalkan Wilona yang masih terduduk di pinggir jalan itu.
Wilona hanya menatap sinis punggung pria itu yang semakin pergi menjauh.
***
__ADS_1
Bersambung...
Dear pembaca setiaku yang tersayang... Bagaimana ya kalau kalian diposisi Devan saat itu ? Apa gak mo makan orang kayak gitu kalo liat keromantisan pria lain pada gadis yang ditaksirnya ? didepan banyak orang lagi... Hanya bisa diam membeku tanpa bisa melakukan apa-apa. Kasian juga yaaa... Hahahaha...