
Aku sadar akan sepasang mata yang menatapku ketika sedang mengantarkan Xena masuk ke dalam mobilnya. Setelah Xena pulang, aku berjalan masuk kembali ke ruanganku. Setiap langkah kakiku saat melewati dirinya, ekor mataku sesekali melirik bayangannya yang sedang terbakar cemburu.
Aku ingin kau sadar Widel.
Tidakkah kau merasa sakit hati ?
Aku ingin melihat, sampai kapan kau akan bertahan, karena aku tahu... di dalam hatimu pasti ada tempat untukku.
Tapi... aku tidak tahan akan rasa rinduku padamu.
Kau berada di depanku, tapi seakan ada jarak jauh di antara kita.
Bagaimana aku bisa memberitahumu ketidak berdayaan ini ?
Lagi-lagi aku memanggil gadis itu untuk alasan yang sepele. Entah kenapa aku tidak bisa menahan diri sedikit saja. Aku ingin berbicara dengannya.
“Widel, tolong buatkan kopi” pintaku.
“Baik Tuan” jawabnya dan berbalik badan, melangkah pergi.
Aku memandangi punggungnya yang menjauh, hingga tiba-tiba getaran ponsel di atas meja kerjaku membuat pandanganku teralihkan.
Drrrtt Drrtt Drrtt..
Xena is calling..
Keningku sedikit berkerut, ada apa lagi wanita itu meneleponku, padahal baru saja tadi siang dia datang ke sini bersamaku. “Halo, ada apa Xena ?”
“Devan, kurasa ayahku mulai curiga, dan sepertinya ia sudah mengawasiku lebih ketat” kata Xena di seberang sana dengan suara yang sepertinya berbisik-bisik.
“Hmm.. Bagus kalau begitu” sahutku dan panggilan berakhir.
Tak sampai waktu lima menit, ponselku bergetar lagi. Kali ini Riko yang menelepon.
“Tuan Devan, segeralah ke sini. Ayahmu datang ke kantor dan sekarang sedang menunggumu di ruanganmu” kata Riko.
Aku mengernyit. “Ayahku ?”
Kenapa dia datang tiba-tiba ?
“Iya Tuan” sahut Riko.
“Baiklah. Aku segera ke sana” ucapku dan langsung terburu-buru pergi.
*****
Di ruangan CEO – DL Group
Benar saja, saat aku membuka pintu, lelaki itu sedang duduk santai di sofa sembari meminum segelas teh hijau kesukaannya. Sudah lama sekali kami tidak bertemu, mungkin hampir dua tahun lamanya. Terakhir kudengar, ayah dan ibuku sedang berada di Perancis mengurus bisnisnya di sana. Inilah keluargaku, keluarga yang hanya digilakan dengan pekerjaan.
“Ada apa ayah ? Kenapa datang tiba-tiba ?” ucapku datar.
“Aku dengar kau sedang dekat dengan putrinya Charles. Apa itu benar ?”
__ADS_1
Aku mengernyit. Apa pedulinya ?
“Hmm.. lalu ?”
“Apa kau berencana akan menikahinya ?” Tanyanya yang langsung membuat mataku membulat penuh tak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar.
“Hah.. Tidak mungkin!” ucapku sambil terkekeh atas pertanyaan konyol ayah.
“Sebenarnya bagus juga kalau kau dekat dengannya. Apa kau tidak berpikir untuk mengambil jalan damai saja dengan Charles Wilkinson ? Kalau kau menikahinya, tidak ada permusuhan lagi”
Jujur, sebenarnya aku tidak mengerti dengan apa yang dikatakannya. Kenapa ayah tiba-tiba mengurusi urusanku ?
Aku tertawa dengan ide gila yang ayah lontarkan. “Apa aku sudah gila hingga harus menikahi putri dari musuhku sendiri ?“ Aku beranjak dari sofa dan berpindah ke kursi meja kerjaku, merasa malas untuk menanggapi pembicaraan ayah yang konyol itu. “Sudahlah ayah, jangan mencampuri urusanku sendiri. Aku masih banyak pekerjaan”
Ayah berdiri dan hendak pergi. “Coba pikirkanlah, yang ayah katakan ini adalah jalan yang terbaik”
“Terimakasih ayah, tapi itu tidak perlu” kataku sambil tersenyum paksa pada ayah yang menatapku sebentar lalu pergi lagi.
Hanya itulah yang dikatakannya, bahkan setelah lama tak bertemu dengan putranya sendiri. Aku juga tidak peduli.
Aku memijit pelipisku merasa pusing. Kedatangan ayah dengan perkataan konyolnya membuat moodku menjadi jelek. Aku tidak suka pembahasan itu. Setelah sekian lama, kenapa tidak membicarakan yang lain saja ?
Aku ingin semua ini cepat selesai. Aku tidak tahan menunggu lebih lama lagi. Dengan cepat aku menekan tombol call pada nomor Xena yang tertera di kontak ponselku.
“Xena, ayo kita jalan nanti malam di tempat yang ramai”
*****
WIDEL POV
“Jangan lupa nanti malam ya jam tujuh” teriak Rina padaku yang sedang memakai helm bersiap untuk pulang, ia juga hendak menuju pada letak motornya diparkirkan.
“Iyaaa” jawabku yang juga berteriak setelah memakai helm lalu menjalankan motorku.
---
Setibanya di rumah, aku langsung merebahkan diri di kasurku sejenak, tanganku bergerak merogoh isi dalam tas untuk mengambil ponselku. Ternyata banyak sekali pesan grup, semuanya dari grup yang beranggotakan hanya empat orang yaitu aku, Rina, Melda, dan Adel. Kami sudah lama memang membuat grup khusus pribadi berempat. Karena orang-orang itulah yang dekat denganku di restoran tempatku bekerja. Isi nya kadang menanyakan shift kerja masing-masing, bergosip, dan lelucon yang terkadang membuatku tertawa. Walau anggotanya hanya empat orang, namun grup inilah yang selalu ramai tak kenal masa.
Saat aku menutup semua aplikasi dan hendak mengunci layar ponselku, waktu yang sudah menunjukkan pukul enam lewat bahkan hampir setengah tujuh, membuatku terperanjat dan bergegas bangkit dari rebahan malasku. Aku harus mandi, dan segera bersiap-siap karena sebentar lagi kita berjanji akan bertemu di salah satu Mall besar, tempat kami akan jalan-jalan, makan, dan mungkin kalau ada film bagus, kita juga akan nonton di bioskop di sana. Mungkin memang sudah waktunya harus mencari hiburan untuk diri sendiri.
---
Aku terlambat, waktu di jam tanganku sudah menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit, segera aku mengecek ponselku lagi, ternyata sudah ada pesan baru di grup, isinya adalah sebuah foto yang menunjukkan Rina dan Adel sudah berada di tempat janjian kita, di salah satu resto di Mall yang biasa kami nongkrong berempat.
Aku segera mengambil tas kecil ku dan menyilangkannya di bahuku. Kulangkahkan kakiku cepat lalu menyambar kunci motor juga kunci rumah yang terletak di atas nakas samping tempat tidurku. Rina sudah menelepon-nelepon dari tadi.
Bertepatan saat aku hendak menjalankan motorku dan beranjak pergi, Febby datang dengan motor Scoopy nya, berhenti tepat di depan rumahku.
“Kau mau keluar Del ? Lah, kemarin kan aku bilang mau ke rumah kamu hari ini setelah kamu pulang kerja” ucap Febby dengan cemberut.
Astaga, aku benar-benar lupa.
“Maaf Feb, aku lupa” ucapku menyesal.
__ADS_1
Febby berdecak kesal. “Jadi sekarang kamu mau ke mana Del ?”
“Aku mau jalan sama teman-teman dekatku di tempat kerja Feb, aku sudah janji sama mereka. Lagipula sudah lama aku tidak keluar senang-senang. Maaf ya nanti aku ke rumahmu deh, besok malam” tuturku.
“Yah, ikut dong” kata Febby dengan wajah memelasnya membuatku menghembuskan napas pasrah.
“Ya sudah, ikut. Motormu simpan di sini saja, biar kamu kubonceng” ucapku pasrah, karena tidak ingin membuang waktu lagi. Rina, Melda, dan Adel sudah di sana semua, tinggal aku saja yang ditunggu mereka.
“Hahah.. Makasih Widel” sahut Febby dengan riang, dan dengan cepat memarkirkan motornya di halaman depan rumahku yang kecil. Setelah Febby sudah duduk di belakangku, aku pun langsung menjalankan motor dan beranjak pergi.
*****
Sampailah kami di Kota Kasablanka, sebuah mall dengan konsep gedung dan desain interior unik terinspirasi dari kemegahan mosaik istana di Maroko nan eksotis. Selain itu juga banyak patung-patung yang membuat mall ini menjadi 'art mall'.
Aku menarik tangan Febby, berjalan lebih cepat menuju ke arah restoran dimana Rina, Melda, dan Adel sudah menunggu di sana.
“Itu mereka” ucapku segera menghampiri mereka setelah melihat lambaian tangan Rina ke arahku.
Kuhembuskan napasku setelah duduk di antara mereka. “Maaf terlambat guys. Oh ya ini Febby, sahabatku. Febby, ini Rina, Melda, dan Adel” kataku memperkenalkan mereka satu sama lain.
Febby mengulurkan tangannya pada ketiganya. “Hai aku Febby. Senang berkenalan dengan kalian”
Melda, Adel, dan Rina pun membalas sama ramahnya.
“Nah, pesanlah. Kami sudah pesan, tinggal tunggu datang” kata Rina memberikan buku menu padaku.
Aku pun melihat-lihat menu yang tertera di buku itu. Seperti biasa, mencari yang harganya lumayan murah biar hemat sedikit.
“Eh eh Widel, Widel.. Itu bukannya, lelaki yang pernah aku lihat di kamarmu ya ?” ucap Febby tiba-tiba yang membuatku memelototkan mata padanya. Perkataannya itu ambigu sekali, mengundang gosip yang tidak-tidak.
Sama halnya dengan ketiga teman kerjaku ini, menatapku terkejut lalu memandang ke arah yang ditunjuk Febby. Aku pun memandang ke arah yang sama, ke arah luar restoran yang sedang ada keramaian dipenuhi paparazi.
Mataku lagi-lagi membelalak terkejut, bisa-bisanya aku melihatnya lagi bahkan di tempat seperti ini. Devan sedang berada di sini bersama wanita itu lagi.
“Iya Widel, aku pasti tidak salah lihat. Itu kan namanya.. namanya... De.. De.. ” kata Febby lagi berusaha mengingat dengan keras.
Astaga, kenapa mulut temanku yang satu ini tidak bisa diam saja sih ?
“Devan maksudmu ?” Tanya Rina pada Febby.
“Ah iya, benar, namanya Devan. Aku sempat berkenalan dengannya waktu itu. Widel sendiri yang mengenalkanku padanya. Iya kan Widel ?” Tanya Febby menoleh padaku.
Aku memelototkan mataku pada Febby mencoba memberinya kode untuk diam, tapi dia seakan tidak peka, tetap saja berbicara seenaknya tanpa disaring dulu, membuatku ingin menghilang saja dari muka bumi ini.
Astaga Febby... mulutmu itu.. ingin kusumpal pakai kaus kaki busuk rasanya Feb.. Feb..
Aku tidak tahu mau bilang apa lagi sama mereka kalau sudah seperti ini. Rina, Melda, dan Adel sudah menatapku dengan pandangan yang seolah ingin menerkamku dengan seribu pertanyaan.
Aku hanya menyengir dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan saat ini. “A-aku ingin ke toilet” ucapku lalu berdiri.
“Jelaskan pada kami!” ucap Rina, Melda, dan Adel secara serentak membuatku duduk kembali.
Dasar Febby sialan!
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like, komen, dan votes nya ya. Terimakasih..😘😘