I'M Crazy About You

I'M Crazy About You
Episode 29 - Wanita Aneh


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu, Widel sudah boleh dipulangkan dari rumah sakit. Kondisinya sudah hampir sepenuhnya pulih dengan baik. Sementara Wilona, wanita itu kabarnya telah mendekam di dalam jeruji besi, dan tak cukup dengan itu bisnis orangtuanya pun juga berada di ambang kebangkrutan. Tentu saja, itu semua tak luput dari campur tangan Devano Lewis, pria muda berkekuasaan tinggi.


Entah bagaimana kabar Devan sekarang, ia tak pernah muncul lagi di depan Widel sejak hari itu. Bahkan kabarnya tak terdengar sama sekali. Senyap, hampa bagai ditelan bumi. Merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidup Widel ? Ya tentu saja. Tapi egonya terlalu tinggi untuk menerima perasaannya sendiri. Terlalu minder untuk mengakuinya. Selalu saja merasa tak pantas dan tak sebanding dengan lelaki itu. Menurut Widel, perbedaan mereka terlalu menakutkan. Pikirannya tentang Devan bagai sebuah bola yang dilempar ke dinding, bola itu akan selalu saja terpantul kembali. Jadi, sekuat apapun Devan muncul di pikirannya, sekuat itu pula ia akan terpantul lebih kuat kembali ke tempatnya semula. Karena keduanya tak akan bisa bersama, begitulah pikirannya tentang Devan yang ia tanam baik-baik di benaknya. Menyakitkan ? Tentu saja, namun Widel bersikap seolah baik-baik saja.


......


Hari ini, Widel sudah bersiap untuk meninggalkan rumah sakit, ditemani oleh Reza tentunya, dan Ervin selaku bosnya yang juga merasa bertanggung jawab atas musibah yang menimpa pegawainya, juga tak kurang dari teman-teman dekatnya yang selalu datang tiap waktu untuk menjenguk Widel.


“Apa kau yakin sudah baik-baik saja sayang ?” tanya Reza yang masih khawatir. Widel hanya mengangguk dengan senyum.


“Kau masuk kerja mulai minggu depan saja Del, tidak usah memaksakan diri. Aku tidak mau ambil resiko. Jahitan di kepalamu belum terlalu kering, jadi sebaiknya kau istirahat saja di rumah..”


Sebelum Widel hendak menggelengkan kepalanya, Ervin langsung memasang ekspresi tegasnya yang seperti berkata kalau ucapannya tak bisa dibantah. Widelpun menghela napas dan akhirnya mau tak mau harus menuruti perintah bosnya sendiri.



Disisi lain, Devan baru saja tiba di London, untuk mengurus perusahaannya yang sedang ada masalah sedikit disana, selain itu sebenarnya ia sengaja untuk mencoba melupakan Widel dengan pergi sejauh mungkin. Baru kali ini lelaki itu ditolak oleh seorang gadis. Ia semakin gila dengan pekerjaannya, mencoba menyibukkan diri, untuk menghilangkan gadis itu dari pikirannya yang selalu saja muncul tiba-tiba jika ia lengah sedikit saja dari kesibukannya.


Sementara Riko, asisten pribadinya sekaligus tangan kanannya, disuruh tetap tinggal dan tak ikut Devan ke London. Devan mempercayakan Riko, untuk mengurus perusahaan menggantikan dirinya sementara. Devan ingin menenangkan pikirannya di London, dan tak ingin diganggu dulu. Tapi ia akan kembali, jika merasa Riko benar benar sudah tak mampu meng-handle-nya.


Dari bandara, ia langsung menuju perusahaannya. Sesampainya disana, semua orang berbaris membuka jalan untuk menyambutnya, tak ada yang berani memandang wajahnya yang selalu saja dingin tanpa ekspresi. Semuanya menunduk dengan membungkukkan badannya tanda hormat. Devan berjalan dengan penuh wibawa dan elegan diikuti oleh beberapa orang berjas hitam nan tinggi dan tegap di belakangnya. Aura bos memang sudah terasa sangat kental bahkan hanya berdiri di dekatnya.


“Siapkan rapat dalam 10 menit !” titahnya pada sekretaris yang berjalan mengikuti di sampingnya.


“Baik Tuan”



PLAAK!!


Sebuah map berisi laporan dilempar begitu saja di meja rapat oleh Devan “APA INI ?” bentaknya yang membuat semua orang yang berada di dalam ruang rapat itu bergetar ketakutan terutama orang yang mengerjakan laporan itu.


“Saya beri waktu sampai besok pagi. Perbaiki laporan itu! Periksa sebaik-baiknya jangan sampai ada kesalahan sedikitpun! Kalian akan tahu akibatnya sendiri, kalau saya menemukan sedikit kejanggalan pada laporan itu. Rapat selesai!” ujarnya lalu meninggalkan ruang rapat.


Devan menyandarkan diri di sandaran kursi putarnya dalam ruang kerjanya. Berkali-kali ia menghela napasnya, menenangkan diri.


BRAKK!!

__ADS_1


Ia menggebrak mejanya lalu mengerang frustasi dengan keadaannya yang terasa menyedihkan, seolah hidup dengan jantung yang tak berdetak, merasa hidup tetapi mati. Entah Dewa Cinta mana yang telah mengutuknya sampai seperti itu. Tak pernah ia merasa semenderita itu hanya karena seorang wanita.


Tok tok tok


“Masuk!”


Cklek


“Hai Tuan” sapa ceria dari seorang wanita muda yang baru saja membuka pintu.


Devan mengerutkan kening merasa asing dengan wanita itu “Siapa kau ?”


“Ya ampun, ternyata ingatanmu payah ya Tuan.. ” ucap wanita itu dengan santainya melenggang masuk dan duduk dengan manisnya di sofa tamu Devan.


Devan menatap heran dengan tingkah laku seorang perempuan asing yang tiba-tiba duduk dengan santainya seolah ini ruangannya sendiri.


Devan masih tak bergeming dari duduknya “Aku tak pernah merasa mengenalmu. Sebaiknya kau keluar dari sini sebelum aku memanggil seseorang untuk menyeretmu keluar!” ucapnya tajam sama halnya dengan tatapannya yang sangat risih dengan kehadiran wanita aneh di dalam ruang kerjanya.


“Ih, kau kejam sekali Tuan.. Jangan kejam-kejam begitulah dengan seorang perempuan cantik seperti diriku” jawab wanita itu sembari mengedipkan mata pada Devan. Ia lalu mengeluarkan sebotol anggur mahal dari tasnya dan memamerkan botol itu pada Devan “Apa sekarang kau sudah ingat ? Apa kau lupa dengan si ‘wanita anggur merah’ ?“


Kening Devan tampak semakin berkerut dalam, lalu tak lama ekspresinya kembali datar seperti semula. Sepertinya ia telah mengingat wanita itu karena sebutannya yang aneh sangat melekat di ingatannya.


“Aku memang ingat. Tapi kau sama sekali tak penting bagiku. Sebaiknya kau keluar saja. Kau sudah menggangguku dengan kehadiranmu” ujar Devan kembali fokus dengan dokumen-dokumen di atas mejanya.


“Waw.. kasar sekali!” Wanita itu menghembuskan napas kasar, dan berjalan mendekati Devan lalu...


Grep


Ditariknya tangan Devan dengan paksa, membawanya duduk di sofa tamu. Bisa saja Devan menepis tangan wanita itu, dan menyeretnya keluar. Namun ia seolah malas membuang-buang emosi dan tenaganya untuk wanita aneh itu. Ia juga sudah lelah dengan pekerjaannya.


“Anggur ini sangat enak dan langka, aku bawa khusus untukmu” ucap wanita itu seraya membuka tutup botol anggur itu.


“Ya” sahut Devan dengan malas.


“Nih, coba saja. Kau tak akan menyesal!” wanita itu menyodorkan botol minuman itu langsung di hadapan Devan.


Devan melirik minuman itu “Maksudmu, kau menyuruhku minum langsung di botolnya ? Lalu kau minum bagaimana ?”

__ADS_1


“Ya aku juga minum di botol itu” jawab wanita itu dengan santainya.


Terlihat ekspresi jijik di wajah Devan. Ia lalu menggelengkan kepalanya “Tunggu aku akan mengambil gelas dulu” Devan langsung berdiri, namun tak sempat ia melangkahkan kaki, wanita itu mencekal tangannya dan tertawa “Aku bercanda, duduklah”


Devanpun duduk kembali dan akhirnya mencicipi minuman itu langsung pada botolnya. Setelah itu terlihat senyum tipis di bibirnya lalu meneguk minuman itu kembali.


“Bagaimana ?” tanya wanita itu penasaran sambil mengawasi ekspresi Devan.


Devan menaruh botol anggur itu kembali dan kini menatap wanita itu. “Lumayan”


“Kan sudah kubilang” seru wanita itu lalu bersorak gembira.


Devan hanya terkekeh melihat tingkah wanita aneh yang entah datang dari mana itu “Siapa namamu ? dan kenapa kau bisa sampai berada disini ? Darimana kau bisa tahu tentangku ?” tanya Devan panjang lebar.


Wanita itu mengulurkan tangannya “Aku Xena. Untuk tahu tentangmu, itu sangat mudah Tuan!”


Melihat tangannya yang tak disambut oleh lelaki itu, Xena berdecak lalu mengambil tangan Devan sendiri dan memaksanya untuk menyambut jabat tangannya. Devan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah wanita aneh itu. Begitu berani dan penuh paksaan. Sementara Xena hanya menyengir kuda dan tak melepaskan tangan Devan.


Devan melepaskan tangannya dengan paksa “Jadi kau mengikutiku sampai kesini ?”


“Tepat sekali. Kau memang pintar Tuan.” Sahut Xena sambil mengacungkan jempolnya.


Devan tak merespon dan meneguk botol anggur itu kembali.


“Aku mencintaimu Tuan!”


Uhuk uhukk uhuk


Devan terbatuk dan menyemburkan minumannya seketika ketika mendengar ucapan Xena yang blak-blakan dan terasa tak masuk akal itu. Sementara wanita itu hanya menyengir. Pipinya memerah malu.


Cup!


Dengan cepat wanita itu mencium pipi Devan lalu terbirit-birit pergi meninggalkan ruangan Devan.


Seketika Devan mematung lalu memegang pipi kirinya yang dicium oleh wanita itu.


“Dasar wanita aneh!” batinnya lalu tersenyum tipis.

__ADS_1



__ADS_2