
Widel yang tiba-tiba langsung tumbang, jatuh pingsan di pelukan bos baru, menjadi topik hangat untuk dibicarakan. Semua karyawan dan para staf yang melihat kejadian itu di depan mata kepala mereka masing-masing, seketika menjadi heboh. Semuanya terkejut dengan kejadian yang sangat tiba-tiba itu.
Karyawan wanita kebanyakan merasa iri pada Widel. Mereka ingin juga pingsan tepat di depan bos baru yang ketampanannya bukan seperti manusia biasa lagi, melainkan bak seorang malaikat. Postur tubuhnya yang sempurna, wajah yang rupawan, muda, kaya, seperti tak ada kekurangan sedikit pun. Alangkah beruntungnya Widel, itu yang ada dipikiran mereka.
Namun, tak ada yang merasa curiga sedikitpun hubungan antara keduanya. Mereka berpikir kalau Widel memang benar-benar sakit, dan kebetulan pingsan saat ditatap bos baru yang tampan. Kebanyakan berpikir, kalau Widel hanyalah merasa gugup, makanya ia jadi seperti itu. Namun tidak dengan Rina. Ia merasakan ada suatu keanehan, dan kejanggalan. Ia merasa curiga, ada apa kah diantara mereka berdua, Widel dan sang bos baru itu.
Kejanggalannya adalah ada beberapa hal. Diantaranya, Rina merasa, sebelum CEO baru itu datang, Widel tampak sangat sehat bahkan sempat tertawa dengannya. Namun setelah pria itu datang, tiba-tiba saja sikapnya menjadi berubah. Ia seperti melihat hantu di siang bolong. Lalu, Rina juga tidak merasa masuk akal saat sang CEO baru yang dengan tiba-tiba menjatuhkan penanya tepat di depan Widel juga. Setelah adegan menjatuhkan pena itu, Rina mulai memperhatikan lirikan mata si bos tampan itu. Kecurigaannya mulai beralasan saat ia mengetahui, bahwa bos barunya itu sangat sering mencuri-curi pandang dengan Widel. Dan, ia semakin sangat curiga, ketika Tuan Devan menyentuh dahi Widel dan orang yang disentuh dahinya pun langsung jatuh pingsan seketika. Ada apakah sebenarnya ? Apa mereka saling mengenal sebelumnya ? Tapi di sisi lain, logikanya seakan menolak, karena tidak mungkin Widel yang hanya seorang kurir, mengenal seorang bos besar seperti itu.
Widel yang tiba-tiba jatuh pingsan, membuat Devan menjadi khawatir, apa gadis ini sedang sakit ? Apa gadis ini terlalu keras bekerja sampai-sampai masih di pagi hari seperti ini, ia sudah jatuh tumbang.
Devan mengangkat Widel ala bridal style. “Hubungi dokter Grace” kata Devan pada Riko yang berada tak jauh darinya, sambil membawa gadis yang berada dalam gendongannya itu pada ruangan CEO. Tak ada yang berani mengikutinya sampai ke ruangannya kecuali Riko asistennya.
Devan membaringkan gadis itu ke sofa panjang, lalu duduk di sisi sofa sambil memandangi wajah gadis yang begitu ia rindukan. Devan menyingkirkan anak rambut Widel ke belakang telinganya.
Selang beberapa menit, dokter pun datang dan memeriksa Widel.
“Bagaimana keadaannya dokter ?” Tanya Devan ketika dokter selesai memeriksa.
“Pasien hanya kelelahan dan sepertinya ia sedang penuh tekanan Tuan Devan. Saya hanya memberikannya beberapa vitamin dan dia perlu istirahat selama dua hari.” Dokter Grace menjelaskan.
“Baiklah. Terimakasih dokter”
“Sama-sama. Kalau begitu, saya permisi Tuan Devan” ucap Dokter Grace pamit, lalu pergi.
Widel tak sadarkan diri cukup lama juga, sekitar dua jam sudah ia berbaring di sofa seperti tertidur dengan pulas.
Devan duduk di kursi kerjanya, sibuk memeriksa dokumen-dokumen laporan pengelolaan restoran Luxury Food yang tertumpuk di meja kerja, mulai dari sistem managemennya, keuangan, dan masih banyak lagi, sambil sesekali melirik gadis yang berbaring di sofanya itu.
Widel mulai sadar, ia tak langsung bangun, masih berbaring menatap langit-langit plafon, lalu mulai berbicara sendiri. “Hmmm.. Untunglah semua itu cuma mimpi” Ucapnya masih tak sadar di mana ia berada.
“Mimpi apa ?” Suara bariton seseorang membulatkan matanya lebar-lebar. Widel menolehkan kepalanya ke belakang dengan hati-hati. Seseorang itu sedang duduk menyilangkan kaki di kursi kerja sambil menatap lurus ke matanya.
“HHHAAH!” gumamnya yang sudah seperti orang terkena asma. Ia terkejut, ternyata apa yang ia lihat dan alami hari ini bukanlah mimpi. Namun, itu semua nyata. Bos barunya sekarang adalah Tuan Devano Lewis. Seketika ingatannya tentang Devan, semuanya terputar kembali dalam otaknya. Apalagi saat terakhir, saat mereka berciuman.
__ADS_1
Widel mengigit bibirnya dengan ekspresi anehnya sambil membalikkan kepalanya tak mau melihat seseorang itu, lalu berdiri dan berjalan menuju pintu dengan hati-hati seperti seorang pencuri.
“Mau kemana ?” Tanya Devan yang berdiri dari kursinya, lalu berjalan mendekati Widel yang hendak sampai ke pintu.
Widel menghentikan langkahnya, lalu berbalik menoleh pada Devan yang dengan cepat sudah berada selangkah di depannya. “M-ma-mau kerja Tuan”.
Devan menggelengkan kepalanya “Tidak, dalam dua hari ini kata dokter kau harus istirahat, tidak boleh bekerja yang berat-berat. Jadi, sebagai gantinya, kau akan menjadi asistenku sementara karena Riko tak mungkin harus di sampingku terus. Ada hal lain yang harus dia urus.”
“Tapi Tuan ?”
“Tidak boleh membantah. Aku sekarang adalah bosmu. Apa kau mau kupecat ?” ucap Devan memasang ekspresi yang dingin, ingin berakting seperti seorang bos yang kejam.
Widel menunduk murung. “Baiklah Tuan”.
“Hmm” gumam Devan dan berbalik badan lalu tersenyum diam-diam. Ia berjalan ke meja kerjanya dan duduk bekerja. “Kemari” panggil Devan. Yang dipanggil pun menurut, ia segera datang dan berdiri di samping Devan.
“Pijit bahuku. Aku merasa lelah.” Kata Devan sambil menepuk pundaknya.
“Kenapa ? Tidak mau ?”
Widel mengalah, ia pasrah, lagipula ini hanya berlangsung dalam dua hari saja, pikirnya. Setelah itu ia akan kembali bekerja seperti semula. Ia pun berdiri di belakang Devan dan mulai memijit bahu bosnya itu dengan wajah kesalnya.
“Yang kuat dikit, tidak terasa itu” komplen Devan.
Widel tambah kesal, namun kekesalannya itu hanya di tampungnya di dalam hati, mencoba menyabarkan diri. Ia pun memijitnya dengan sekuat-kuat tenaga, sampai Devan meringis-ringis kesakitan.
“Arghh. Ahh. ah. sakit. Yang pelan dikit. Kamu mau membunuhku ya ?” ucapnya marah-marah sambil menoleh pada wajah Widel”
Widel pun dengan bersabar hati, memelankan pijitannya. “Ya Ampun. Kamu ini memijit atau apa ? Yang kuat dikit, itu tadi tidak terasa”
Widel mengigit bibirnya, menahan seluruh kemarahannya. Ia pun memijitnya lebih kuat seperti yang bosnya bilang.
Sementara yang dipijit walaupun mengucap dengan marah-marah, namun sebenarnya tersenyum diam-diam merasa sangat senang. “Ya begitu, turun ke bawah dikit.”
__ADS_1
Devan merasa keenakan dipijit oleh Widel. Sementara Widel merasa sebaliknya, ia menatap kepala Devan dengan penuh kebencian. Bahkan ia membayangkan kepala Devan seperti samsak tinju yang sangat ingin ditinjunya. Ia memijitnya tanpa disuruh berhenti. Betapa kesalnya Widel. Bukankah tadi dia dibilang jangan bekerja yang berat berat ? Tapi ini malah sebaliknya, begini tambah menyiksa dirinya.
“Kenapa mulai pelan, yang kuat dikit” Tanya Devan ketika pijitan Widel terasa memelan. Gadis itu sudah merasa lelah. Sudah satu jam lamanya ia memijit tanpa disuruh berhenti.
“Dia pikir aku ini robot, apa ? Yang tidak merasa lelah ? Aku ini manusia, bisa merasa lelah juga” Widel mengoceh dalam hati. Sementara mulutnya mengerucut cemberut.
“Kurasa hari ini aku akan kehilangan jari-jariku” batinnya menangis.
“Yang kuat dikit Widel”. Yang disuruh pun menurut saja walau sebenarnya jarinya sudah tidak kuat lagi.
“Kamu tidak dengar ya ? Aku bilang, yang kuat. Kenapa pelan ?” oceh Devan tak henti-hentinya.
Napas Widel memburu cepat. Ia rasa, ia akan meledak saat ini juga.
“Apa kau tidak mendengarku ?” Devan terus saja mengoceh.
Widel menurunkan tangannya dari bahu Devan. Ia berhenti. “TUAN PIKIR AKU INI ROBOT, APA ? AKU JUGA BISA CAPEK, APA TUAN TIDAK MENGERTI ? SUDAH SATU JAM AKU MEMIJIT TANPA BERHENTI. TUAN BILANG, AKU TAK BOLEH BEKERJA YANG BERAT-BERAT, TAPI SEPERTI INI MALAHAN TERASA SANGAT MENYIKSAKU. APA TUAN SUDAH PUAS SEKARANG ?” teriak Widel dengan dada yang naik turun cepat, napasnya memburu, ia sudah mengeluarkan semua emosinya.
Devan berdiri dari kursi dan menghadap ke Widel. “Kenapa tidak bilang kalau kau capek ? Kau cuma diam saja, bagaimana aku bisa tahu ?”
“HHHah!!” Widel membuang wajahnya dari Devan.
Devan mengerutkan kening melihat Widel yang membuang muka darinya. “Tunggu, tunggu, apa barusan kau meneriaki aku ? Lalu kau dengan berani, membuang muka dari bosmu sendiri. Karyawan macam apa kau ini ?”
Widel yang baru tersadar, akhirnya menggigit bibir merasa malu. “Ma-maaf Tuan” Ia menundukkan kepalanya.
“Sudahlah” ucap Devan lalu duduk di sofa. Ia berpura-pura marah. Widel pun entah kenapa jadi merasa bersalah. Ia berjalan mendekati Devan dengan hati-hati.
“Apa... Tuan Devan mau kopi ?” Tanya Widel yang berlaku sok manis.
Bersambung...
Beri like, komen, dan vote yaa... :)
__ADS_1