
Reza kembali dari toilet, dan tak melihat Widel di tempat, hanya tas milik gadis itu yang terletak di atas meja. Ia pun menunggu sebentar mengira gadis itu mungkin sedang ke toilet. Tapi, sampai makanan yang dipesan pun datang, Widel belum juga kembali. Sudah sepuluh menitan menunggu, akhirnya Reza mulai khawatir, jangan sampai sesuatu terjadi pada Widel. Ia pun menyusul ke toilet wanita saat sekiranya tak ada orang di dalam, ia pun masuk dan mengecek semua bilik toilet. Tak ada siapapun di dalam, jadi Widel kemana ? pikirnya.
Reza keluar dari toilet, dan bertanya pada seorang pelayan restoran yang berjaga, apakah mereka melihat gadis yang bersamanya tadi.
“Oh, nona itu tadi pergi bersama seorang lelaki. Tadi saya melihat mereka berdua berbicara di depan lalu pergi” kata pelayan itu.
“Pergi sama siapa ? bagaimana ciri-cirinya ?” Tanya Reza.
“Lelaki itu memakai setelan jas, sepertinya bukan orang sembarangan. Ia seperti bos besar, tapi sepertinya umurnya masih cukup muda dan wajahnya juga sangat tampan” Sambung pelayan wanita yang satu lagi.
“Devan ?” gumam Reza.
SIALAAAN!!
“Baiklah, terimakasih” ucap Reza pada pelayan restoran itu, dan langsung bergegas pergi setelah membayar makanan yang telah dipesannya. Semua makanan itu bahkan sama sekali belum tersentuh.
*****
Widel kembali ke restoran jepang itu, seperti janji Devan, pria itu akan memberinya waktu untuk menemui Reza sebentar saja. Namun sesampainya di meja tempat mereka tadi, ia tak melihat apapun di sana. Tas miliknya yang tertinggal pun sudah tak ada, dan Reza juga tak kelihatan batang hidungnya.
Kak Reza sudah pergi.
Widel menjadi semakin merasa tak enak hati pada Reza karena telah meninggalkannya seperti itu tanpa kabar sama sekali.
“O- anda sudah kembali nona ? Tuan yang bersama anda di sini tadi baru saja pergi” ucap salah seorang pelayan yang ditanyai Reza tadi, tiba-tiba datang menghampiri Widel.
“Pergi kemana ?”
“Saya tidak tahu nona. Tampak ia terlihat sangat buru-buru bahkan tidak menyentuh makanannya sama sekali” tutur pelayan itu.
“Kak Reza pergi ke mana ?” batin Widel.
Widel pun keluar dari restoran itu dengan lesu. Devan yang menunggu di dalam mobil yang terparkir di depan restoran pun langsung turun dari mobilnya begitu melihat Widel dan bergegas menghampiri gadis itu.
“Apa kau sudah mengundurkan diri ?” Tanya Devan, menebak raut wajah Widel yang tampak sedih dan lesu.
Widel menatap Devan dengan pandangan jengkel. Lelaki itu hanya mau semua berjalan sesuai kehendaknya. Sibuk memerintah seenaknya, dan tak memikirkan perasaan orang lain. Kenapa juga ia bisa menyukai lelaki macam itu, Widel sama sekali tidak mengerti. Ia tidak mengerti kenapa tadi ia tiba-tiba meledak dan mengatakan yang sejujurnya pada Devan, bahkan bersedia menjadi kekasihnya.
Widel berjalan tanpa memedulikan Devan sama sekali. Ia bersikap acuh, sebab rasa jengkel yang amat besar pada lelaki itu.
“Hei, kau mau ke mana ?” Tanya Devan yang mengikuti Widel yang berjalan cepat. Kepala Widel celingak-celinguk mencari taksi.
“Kenapa kau mengabaikanku Widel ?”
__ADS_1
Widel tetap diam, Devan pun jadi kesal dan menarik tangan Widel secara paksa untuk masuk kembali ke dalam mobilnya.
“Kenapa lagi hah ? Kenapa kau jadi marah padaku ?” Tanya Devan dengan suara yang agak meninggi.
Sungguh, Widel sedang malas berbicara dengan Devan saat ini. Ia masih jengkel, karena kelakuan pria itu, akhirnya ia merasa seperti orang jahat pada Reza. Betapa sungguh kasihan Reza, mengajak dirinya makan di restoran, namun begitu saja ia pergi tanpa bilang apapun pada Reza dan bahkan meninggalkan tasnya di sana. Reza pasti sangat khawatir kepadanya.
“Kurasa aku salah berbicara tadi. Tidak mungkin aku menyukai pria seperti dirimu” ucap Widel dengan dinginnya.
Devan mengerutkan alisnya. “Apa maksudmu ?”
“Aku tidak ingin menjadi wanitamu”
“Apa ? Kau bilang apa ?” Tanya Devan tak percaya.
“Maaf, aku mau turun. Biarkan aku pergi” ucap Widel hendak membuka pintu mobil.
“APA KAU SEDANG MEMPERMAINKANKU?” Tanya Devan dengan nada suara meninggi sembari menarik tangan Widel dengan keras.
“Lepaskan Dev!”
“Kau pikir kau bisa seenak hati mempermainkanku ? Apa karena kau pikir aku menyukaimu, maka kau bisa memperlakukan aku seperti itu ? Dengar baik-baik Widel, aku tidak akan melepaskanmu semudah itu” tutur Devan perlahan dan tajam.
“Kau mau membawaku ke mana ?” Tanya Widel ketika Devan mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi.
*****
Widel sampai di sebuah rumah besar nan megah. Lokasi rumah itu berada di perbukitan, hingga pemandangan yang ada di sana sangatlah indah.
“Rumah siapa ini ?” Tanya Widel pada Devan.
“Rumahku” sahut Devan datar. “Turunlah”
“Sebenarnya, punya berapa banyak rumah pria ini ?” batin Widel.
Desain model rumah itu sangatlah modern, dengan mengutamakan taman yang sangat luas. Widel benar-benar terpana dengan rumah itu. Alangkah asri dan damai.
Mereka berdua turun dari mobil, dan tak lupa pula Devan mengambil kardus yang berisi sepasang kelinci yang ditaruh di tempat duduk mobil bagian belakang.
“Tunggu apa ? Ayo masuk ke dalam” Kata Devan karena melihat Widel hanya berdiri diam di dekat mobil.
Widel pun mau tidak mau menuruti Devan dan mengikuti pria itu dari belakang.
---
__ADS_1
“Wah ini benar-benar rumah impian” batin Widel, seraya duduk memperhatikan isi dalam rumah itu.
“Masakkan aku makanan” perintah Devan.
“Jadi, aku dibawa ke sini hanya untuk menjadi pelayannya ?” gerutu Widel dalam hati.
“Kenapa ? Tidak mau ? Kau sudah berjanji waktu itu” Ucap Devan ketika melihat wajah Widel yang cemberut.
“Itukan saat aku masih bekerja di restoranmu. Sekarang kan sudah tidak lagi” sahut Widel.
“Tapi kau sekarang adalah calon istriku. Jadi kau harus berlatih untuk melakukan hal-hal seperti itu. Cepat buatkan aku makanan!”
Mata Widel membulat mendengar sebutan ‘calon istri’ itu. Serasa benar-benar tidak percaya akan apa yang baru saja tertangkap oleh indera pendengarannya. “A-apa ?”
Perasaan, mereka baru saja berpacaran. Belum memikirkan hal itu, dan tanpa pembahasan Devan malah menyebutnya sebagai calon istrinya. Lelaki itu sungguh tidak terduga.
“Kenapa ? Cepat buatkan. Apa kau mau aku mati kelaparan ?” ucap Devan dengan gaya santainya.
Widel pun berdiri dari sofa dengan jengkel. “Iya iya baiklah Tuan”
Devan hanya terkekeh dan duduk di kursi sambil memperhatikan Widel yang akan memasak untuknya. Widel mulai membuka kulkas, melihat ada bahan apa saja di dalam yang bisa ia gunakan.
Widel mengerutkan keningnya. Kenapa bisa bahan makanan di kulkas pria itu bisa lengkap seperti ini ? Rumah ini seperti kosong tanpa terlihat ada pelayan yang lalu lalang.
“Ehm. Siapa yang biasa memasak di sini ?” Tanya Widel menolehkan kepalanya pada Devan.
“Tidak ada. Bahan-bahan itu semua baru di isi oleh Riko. Aku meneleponnya tadi saat sedang membeli kelinci. Aku bilang padanya, segera isi kulkas di rumahku karena calon istriku akan datang”
Kata-kata itu membuat pipi Widel bersemu merah kembali. Ia langsung segera mengalihkan pandangannya dan menyibukkan dirinya dengan urusan dapur.
“Langsung bekerja begitu, apa kau tidak memakai celemek dulu ?” tegur Devan.
Widel menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia biasa seperti ini, bahkan hampir tidak pernah memakai celemek kalau memasak. Maklum, ia hanya anak kos, dan bagi orang biasa, itu adalah hal yang biasa. Sebegitu bedanya kebiasaan mereka, perbedaan antara orang kalangan jet set dan orang kalangan bawah.
“Oh, dimana celemeknya ?”
Devan pun berdiri, dan membuka sebuah laci di dapurnya. Ia mengambil celemek yang terlipat rapih di dalam laci
itu dan langsung memakaikannya pada Widel. Jantung Widel berdetak tak karuan saat Devan mengalungkan tangannya pada pinggang Widel untuk mengikat tali celemek, membuat Widel hampir sulit untuk bernapas, apalagi mendongakkan kepalanya melihat wajah yang sangat tampan itu dalam jarak dekat seperti ini..., aduh! Bisa jadi ia akan lupa untuk sekedar bernapas.
Bersambung...
Beberapa hari kemarin, kesibukan Gadis Mungil terlalu padat, sulit untuk memfokuskan pikiran untuk mengupdate novel ini dan maaf baru bisa update hari ini.
__ADS_1
Terimakasih untuk pengertiannya semua. :)