I'M Crazy About You

I'M Crazy About You
Episode 54 - Kemesraan Palsu


__ADS_3

“Adel kemana ?” Tanya Rina sekembalinya di meja, ia menatap bingung sebab hanya Melda yang duduk cantik di situ.


“Adel pulang izin duluan, mamanya telepon suruh pulang” jawab Melda. “Kalian lama sekali sih ?” dumel Melda menatap kesal dua orang manusia itu yang kelamaan di toilet dari tadi.


“Iya nih, Febby bokernya kelamaan” sahut Rina beralasan. Febby menatapnya jengkel tapi hanya diam saja.


“Ini billnya, lihat lah kamu makannya berapa ?” ucap Melda menggeserkan buku bill pada Rina. Begitulah mereka kalau makan, bayar masing-masing.


Tampak Devan yang baru kembali dari toilet. Ia memang sengaja keluar selang beberapa menit setelah Rina dan Febby pergi agar tidak dicurigai apapun.


“Dev, kok lama ?” Tanya Xena sambil tersenyum.


“Maaf” Hanya itu jawaban Devan dengan nada yang sangat datar.


Setelah Rina menyelipkan uangnya di dalam buku bill untuk membayar makanannya sendiri sekalian juga untuk Febby, mereka bertiga pun berdiri dan berjalan pergi. Tentu saja melewati Devan dan wanitanya lagi.


“Kami duluan Tuan Devan” ucap Rina, Melda, juga Febby sambil menunduk sedikit.


“Oh, sudah mau pulang ya ?” Tanya Devan dan dianggukkan oleh mereka sebagai jawaban. “Kamu, sahabatnya Widel, sini sebentar” panggil Devan pada Febby yang ia lupa namanya, jadinya hanya memanggil dengan sebutan 'sahabatnya Widel’ saja. Xena yang melihatnya agak bingung dan risih, kenapa Devan memanggil gadis sok kenal itu ?


Febby hanya bingung dan menunjuk dirinya sendiri. “Saya Tu-tuan Devan ?” Tanya Febby agak merasa aneh memanggil pria itu dengan sebutan ‘Tuan’. Ia menjadi sungkan, saat mengetahui pria itu benar-benar bos Widel, apalagi mereka semua memanggilnya dengan sebutan ‘Tuan’.


“Tidak usah sungkan begitu. Panggil nama saja. Sini duduk dulu sebentar” Ucap Devan suruh duduk di sebelahnya.


Febby menoleh pada Rina dan Melda yang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan oleh Febby sendiri. Ia pun akhirnya berjalan pelan, lalu duduk di tempat yang disuruh Devan. Febby melirik ke arah wanita yang ia yakini adalah kekasih Devan. Wanita itu memandangnya dengan sinis.


“Kenapa panggil dia Devan ?” Tanya Xena yang tampak sekali rasa tidak sukanya. Devan tak menggubrisnya lalu mengajak bicara Febby.


Melda dan Rina merasa aneh dan curiga. Pertanyaan baru muncul kepada Febby lagi. Sebenarnya ada apa sih antara Febby, Widel, dan Tuan Devan ? Melda dan Rina pun hanya duduk sambil memandang Febby dari jarak yang tak begitu jauh.


“Ada apa memanggil saya, Tu-tuan ?” Tanya Febby sungkan. Duduk hanya bertiga seperti ini, membuat ia merasa jadi nyamuk saja.


“Sudah kubilang panggil nama saja. Tadi kau memanggilku begitu, kenapa tiba-tiba jadi sungkan begini ? Tidak perlu sungkan, sekarang kita adalah teman” jawab Devan.

__ADS_1


Febby mengerutkan keningnya merasa bingung. Ada apa ini sebenarnya ? “Oh i-iya De.. Devan”


“Nah begitu. Berikan nomormu” Tanya Devan sambil memberikan ponselnya pada Febby.


“Nomor ? Maksudnya apa ini minta-minta nomor ?” Batin Febby. Febby pun mau tidak mau akhirnya menuliskan nomornya pada editan kontak baru di ponsel Devan. Setelah itu ia mengembalikannya pada sang pemilik ponsel.


“Oke, terimakasih. Nanti aku hubungi ya” Ucap Devan dan akhirnya Febby pun pamit pergi dengan raut wajah yang masih kebingungan.


“Jangan jangan Devan suka padaku. Bagaimana ini ? Bagaimana dengan Widel ? Mungkin saja Widel menyukai pria itu” Batin Febby.


*****


Setelah mereka bertiga pergi dari restoran itu, sudah jelas dirinya diserang oleh berbagai pertanyaan oleh Rina dan Melda. Tapi Febby bukanlah Widel yang suka merahasiakan sesuatu.


“Ada apa tadi Feb ? Kenapa kamu dipanggil ?” Tanya Rina dan Melda.


Febby menoleh pada mereka berdua dan memandang mereka dengan raut wajah yang risau. “Sepertinya Tuan Devan suka padaku. Bagaimana ini ? Apa yang harus kulakukan ?”


Rina dan Melda hanya menganga mendengan ucapan Febby. Kenapa sahabat Widel ini terlalu pede seperti ini ?


“Pria itu tadi meminta nomorku. Katanya nanti akan dia hubungi” jawab Febby membuat Rina dan Melda memelototkan matanya.


“Haahh ??” sahut Rina dan Melda bersamaan.


“Iya, sepertinya Tuan Devan tertarik padaku. Bagaimana jika Widel ternyata juga menyukai pria itu ? Apa ia nanti tidak cemburu ?” ucap Febby dengan pedenya.


Rina dan Melda sudah menjadi malas untuk melanjutkan pembahasan itu lagi. Mereka tidak bertanya apapun lagi dan hanya berjalan sampai ke parkiran motor. Sementara Febby hanya sibuk dengan pikirannya sendiri.


Bahkan setelah sampai di rumah Widel, Febby tak berani memanggil Widel, ia hanya diam karena merasa segan lalu menarik motornya sendiri diam-diam.


*****


Semalaman Widel hampir tak bisa tidur, memikirkan penjelasan apa yang harus ia berikan pada teman-temannya yang kepo itu. Apa ia harus bolos kerja saja besok, izin sakit begitu ? Ataukah harus menceritakan saja semuanya pada mereka ? ia juga lelah ditanyai terus-terusan. Atau mungkin abaikan saja ? Kepalanya pusing memikirkan itu semua.

__ADS_1


Pagi hari pun tiba dengan cuaca yang mendung, membuat Widel semakin malas saja untuk berangkat bekerja dan hanya ingin berleha-leha di rumah. Namun itu tak mungkin dilakukan oleh seorang pekerja keras seperti dirinya. Ia sangat bertanggung jawab dengan pekerjaannya, jadi bagaimana pun juga ia harus tetap pergi bekerja. Terserahlah bagaimana urusannya dengan teman-temannya nanti.


Widel menarik dan mengembuskan napasnya perlahan selama beberapa kali, menyiapkan mentalnya untuk siap berperang hari ini, tentu saja berperang dengan teman-temannya sendiri. Setelah itu, ia menjalankan motornya dan menembus jalan raya segera menuju ke restoran tempatnya bekerja.


---


Sesampainya di restoran, saat ia memarkirkan motornya di parkiran, Rina ternyata baru datang juga dan memarkirkan motornya tepat di sebelah motor Widel. Widel merasa sangat canggung, namun Rina tampak seperti tak terjadi apapun tadi malam, ia tersenyum dan menyapanya seperti biasa. Mereka pun masuk ke dalam restoran bersama-sama, tanpa ada pertanyaan yang diajukan oleh Rina. Widel pun tampak bernapas lega sebab ternyata ini tak seperti ekspektasinya bahwa ia akan dihujani berbagai pertanyaan tepat ketika bertemu dengan temannya yang sangat kepo itu.


Beberapa menit kemudian, Widel melihat Melda dan Adel yang baru saja datang. Mereka berdua langsung ditegur oleh Pak Anton karena datang terlambat. Untung saja, Widel datang tepat waktu, telat sedikit lagi saja, maka ia juga sudah akan dipanggil dan dimarahi seperti Melda dan Adel.


Baru saja setengah jam berlalu, saat restoran lagi bersiap-siap untuk dibuka, Devan datang lagi bersama Xena. Mereka berdua tampak semakin mesra dari hari ke hari. Entah kenapa di minggu ini, Devan rajin sekali datang ke restoran dan selalu bersama wanita itu. Bukankah dia orang yang sibuk ? Tak tahu kenapa, sepagi ini sudah datang ke restoran.


Seperti biasa, para karyawan dan staf berkumpul menundukkan kepala tanda hormat ketika bosnya itu datang. Widel tak tahan melihat mereka berdua itu. Siapa lagi ? bos dan kekasih barunya yang mesra sekali. Berjalan sambil menautkan jemari mereka, dan saling tersenyum satu sama lain. Widel sempat melihat Devan melirik padanya, namun pandangan itu segera Devan alihkan dan menatap kekasih yang berada di sampingnya.


Kali ini, Devan—bos mereka itu, tidak langsung masuk ke ruangannya. Melainkan ia duduk di kursi meja restoran yang disediakan untuk para pelanggan yang datang. Widel hanya berdiri sambil sesekali melirik dua insan yang sedang dimabuk cinta itu.


Devan memanggil pelayan restoran, dan memintanya untuk menyajikan menu sarapan yang ia pilih di buku menu. Xena tampak tersenyum bahagia, dan tak melepaskan genggaman tangan mereka di atas meja. Lelaki di depannya itu lalu mencium tangan Xena dengan lembutnya.


“Sok mesra” gerutu Widel dalam hati. Raut wajahnya tak bisa ia sembunyikan, mulutnya mengerucut cemberut dan sialnya~~~~ itu disadari oleh Melda yang kebetulan lewat di depannya.


“Widel ? Kenapa pagi-pagi sudah cemberut ?” Tanya Melda dengan volume suara yang tak bisa ia kondisikan. Di pagi hari seperti ini, saat restoran masih sangat sepi, nada suara yang datar pun bisa jadi besar volumenya. Widel tersentak kaget, dan hanya menggelengkan kepalanya lalu tersenyum menyembunyikan rasa malunya karena beberapa orang di restoran langsung memandang ke arahnya.


Devan tersenyum dalam hati mendengar hal itu. Ia semakin tidak sabar untuk melihat batas kesabaran Widel, dan kapan gadis itu akan mengungkapkan perasaannya padanya. Sejujurnya, Devan sudah tak punya banyak waktu sebab ia harus kembali ke London untuk mengurus bisnisnya yang sedang ada masalah karena ulah Charles Wilkinson. Karena itulah, ia semakin gencar memperlihatkan kemesraannya dengan Xena.


Setelah menunggu kurang lebih setengah jam, menu sarapan mereka pun siap dihidangkan di meja mereka. Tanpa menunggu lama, Devan langsung berinisiatif untuk menyuapi Xena.


“Sayang, ayo dibuka mulutnya. Aaaaaa?” ucap Devan dengan suara manisnya, dan tentu saja Xena semakin senang bukan kepalang. Ia pun membuka mulutnya dengan senang hati.


“Bagaimana ? Enak kan sayang ?”


“Iya sayang enak sekali”


Widel semakin tidak tahan melihat hal itu, ia pun berbalik dan pergi ke belakang dapur untuk mencari-cari pekerjaan apa yang bisa ia bantu di sana, di waktunya yang lagi kosong begini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2