
Devan sedang duduk di kursi meja kerjanya, sambil menatap lurus ke depan, memandang seorang gadis kecil yang berdiri beberapa langkah di depannya yang terus saja menunduk, tak menampakkan wajahnya sama sekali.
Hening tanpa satupun dari mereka yang bersuara. Widel semakin terintimidasi, pikirannya dipenuhi hal-hal negatif tentang nasibnya yang sepertinya akan berakhir buruk. Ia menggigit bibir bawahnya, dan tangannya meremas roknya kuat-kuat, memaksakan keberanian yang tersisa dari dalam dirinya.
“Minta maaf Widel... Minta maaf” hati kecilnya terus menerus membujuk Widel, namun bibirnya terasa terkunci rapat.
Devan mengetuk-ngetukkan jarinya. “Jadi ?” Ia membuka suara, ingin mengetahui jawaban dari wanita mungil yang tiba-tiba meninju lalu mencium bibirnya itu dan langsung berlari pergi tanpa memberinya penjelasan atas tingkah lakunya yang konyol.
Widel semakin terdesak atas pertanyaan pria di depannya itu. Ia pun langsung menjatuhkan dirinya, berlutut di depan Devan, dengan penuh penyesalan. “Tu-tuan, maafkan saya. Jangan pecat saya, kumohon”
Sudut bibir Devan terangkat sedikit sekali, tampak menahan senyumnya. Ia lalu berdiri dan melangkah menghampiri gadis yang berlutut dengan menyedihkan itu yang seakan menyerahkan nyawanya pada sang algojo.
Inilah yang sangat dirindukan Devan. Entah kenapa, hanya gadis ini yang berani padanya, dan juga sekaligus takut padanya seperti kelinci lucu yang sangat menggemaskan.
“Kalau aku tidak memecatmu, kau akan meninju wajahku lagi” ucap Devan sambil melipat tangannya di atas perut.
Widel pun menengadahkan wajahnya. “Ti-tidak Tuan. Saya tidak akan melakukannya lagi. Ta-tadi itu ss-sa-saya hanya refleks Tuan. Mohon jangan pecat saya”
“Kalau begitu...” Devan duduk dengan bertumpu pada satu lututnya, menatap Widel dalam jarak dekat. “Jelaskan padaku kenapa kau..” sambungnya sambil menyentuh bibirnya sendiri dengan jari telunjuknya.
Tatapan Widel jadi teralihkan melihat bibir Devan yang tampak basah. Pipinya bersemu merah melihatnya, merasa malu sekali. Ia pun menundukkan kepalanya lagi mencoba mengalihkan penglihatannya.
Tangan Devan bergerak menarik dagu Widel agar gadis itu menatap matanya. “Coba jelaskan, maka aku tak akan memecatmu”
Pipi Widel semakin memerah, terpaksa menatap wajah tampan itu dalam jarak yang sangat dekat. “Ehm.. ehem.. Sss- sa-saya tidak sengaja Tuan. Maafkan saya”
Devan menggeleng sambil tersenyum. “Aku bukan ingin mendengar permintaan maafmu itu, tapi ingin mendengar kenapa kau tiba-tiba mencium bibirku”
Mata Widel bergerak ke kiri kanan, menatap mata tajam pria di hadapannya itu. Ia tak bisa menunduk atau menoleh kemanapun, karena wajahnya ditahan oleh tangan besar Devan yang sekarang mendesaknya menghadapi rasa malunya yang amat sangat.
“A-aku melakukannya untuk... u-untuk....” Widel tergugu. Ia merasa sangat malu sekali.
Devan menunggu jawaban gadis itu. Terus menatapnya dengan pandangan yang seakan mendesak gadis itu untuk menyelesaikan ucapannya.
“U-untuk meredam amarah Tuan” lanjut Widel dengan ekspresi anehnya karena menahan malu.
Ingin sekali Devan mencubiti pipi Widel yang sangat merah seperti kepiting rebus itu, merasa gemas sekali.
__ADS_1
Devan berdehem lalu berdiri, karena bahaya menatap gadis itu dalam jarak dekat terus menerus. “Em, baiklah. Tapi aku belum memaafkanmu”
Widel menengadahkan kepala lagi. “Saya janji tidak mengulanginya lagi Tuan”
“Ehm.. Mana makanan yang akan kau bawakan padaku ? Aku menunggu sejak tadi” ucap Devan memanyunkan bibirnya.
Widel baru teringat. Ia merutuki diri dalam hatinya sekali lagi. “A-akan saya bawakan Tuan. Kalau begitu, saya permisi” kata Widel dan berlalu pergi untuk membawakannya makanan secepat mungkin.
*****
Devan tersenyum lebar begitu Widel keluar dari ruangannya. Sesekali ia terkekeh, mengingat betapa gemasnya ia pada gadis itu.
Riko yang tiba-tiba masuk kembali ke ruangannya, membuatnya terkejut tak biasanya. “Kalau masuk ketuk pintu dulu” ucap Devan kesal.
“Maaf Tuan. Saya hanya ingin memberitahu, nona Xena datang kemari Tuan. Dia ingin menemui anda”
Devan tampak berpikir sejenak. “Baiklah. Bawa dia masuk”
Xena pun akhirnya masuk dengan penampilan yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini, wanita cantik itu tampak lebih formal dan anggun menggunakan setelan kantor wanita yang bergaya modis. “Selamat siang Tuan Devan” sapanya berdiri beberapa langkah di depan Devan.
Xena pun duduk dengan sopan. Entah kenapa kali ini, ia sangat berbeda, tidak seperti Xena yang dulu Devan ketahui. Wanita itu tampak sangat professional, sopan, dan anggun. Berbanding terbalik dengan dulu yang sangat blak-blakan, berani, agak terkesan tomboy, dan berbuat semau hatinya, seperti tak ada rasa malu.
“Saya tidak menyangka akan menemukanmu di sini Tuan” ucap Xena berbasa-basi.
“Ternyata, cepat juga anda tahu, pemilik restoran ini telah berubah nama. Katakan, ada apa anda kemari” kata Devan langsung ke to the point. Ucapannya pun sopan menghargai kedatangan wanita itu yang juga bersikap santun.
Xena hanya tersenyum. “Maafkan saya mengganggu waktu anda Tuan Devan. Saya rasa, pasti Tuan Devan sudah mengetahui siapa saya. Karena itu, makanya anda menyuruh orang untuk memata-matai saya. Benar kan Tuan ?"
Ternyata Xena cukup pintar, karena mengetahuinya dengan sangat cepat, bahkan sebelum Devan bergerak untuk mengurus putri dari musuh bebuyutannya itu.
Devan mengangguk. “Itu memang benar. Ternyata nona Xena adalah wanita yang cukup pintar”
“Kalau itu memang benar, sebenarnya saya merasa agak tersinggung Tuan Devan. Ternyata anda sangat meremehkan perasaanku pada anda” ucap Xena yang kemudian terkekeh seakan menertawai betapa lucunya dirinya ketika diremehkan oleh orang yang ia sukai.
“Hmm, itu wajar” jawab Devan mewajarkan perasaan Xena yang tersinggung karena dirinya.
“Kalau begitu, biarkan saya membuktikan kalau perasaan saya tidak serendah yang anda pikirkan” ucap Xena dengan tetap tersenyum.
__ADS_1
Devan mengerutkan keningnya. “Apa maksud anda ?”
“Saya akan membantu anda mulai dari sekarang. Anda bisa memanfaatkan saya sebagai mata-mata anda, untuk memata-matai ayah saya sendiri”. Xena mengulurkan tangannya ingin berjabat tangan dengan pria di hadapannya itu. “Apa anda mau bekerja sama ?”
Devan hanya menatap tangan wanita yang menggantung di udara itu tanpa membalas uluran tangannya. “Kenapa saya harus percaya dengan anda ? Bisa jadi itu hanya jebakan untuk saya”
Xena tertawa kecil. “Apa anda takut dengan wanita seperti saya Tuan ? Jadi Tuan pikir, saya cukup hebat dong untuk melawan bos besar seperti Tuan Devan”
Devan terkekeh. “Tentu tidak nona Xena. Saya yang ingin menanyakan itu padamu, apa anda tidak takut perusahaan ayah anda akan jatuh untuk kedua kalinya ?”
“Saya hanya ingin ayah saya cukup sadar, untuk tidak menganggu orang yang putrinya cintai. Bagaimana ? Saya rasa, anda tidak akan sebodoh itu, menolak kerja sama denganku”
Devan pun akhirnya membalas uluran tangan wanita itu, bersepakat untuk saling bekerja sama. “Baiklah, apa yang akan kau lakukan selanjutnya ?” Tanya Devan langsung tak ingin berbasa-basi.
“Kita harus-”
Tok Tok Tok
Ucapan Xena terpotong begitu mendengar seseorang mengetuk pintu.
“Masuk” sahut Devan.
Ternyata Widel yang mengetuk pintu itu. Ia masuk dengan membawa nampan yang berisi menu makan siang untuk Devan.
“Maaf Tuan, saya tidak tahu anda sedang ada tamu. Saya permisi” ucap Widel. Ia segan dan hendak keluar lagi namun ditahan oleh Devan.
“Tidak apa-apa. Bawa masuk makan siangku Widel, aku sangat lapar” kata Devan pada Widel. “Maafkan saya nona Xena, saya pikir kita harus menyudahi dulu pembicaraan kita siang ini. Sejak tadi saya belum sempat untuk makan siang, kuharap anda bisa mengerti”
“Baiklah Tuan Devan, saya permisi dulu kalau begitu. Nanti kita bertemu lagi” ucap Xena pamit pergi. Ia melirik Widel dengan pandangan sinis sebelum akhirnya pergi dan menghilang dari balik pintu.
Bersambung...
Hari ini aku baru sempat update, sibuk banget soalnya. Makanya kali ini
up double sebagai pengganti hari kemarin. Terimakasih ya buat semua yang sudah
mendukung novel ini :)
__ADS_1