
“Ya Tuhan... jantungku seperti mau meledak!” gumam Xena setelah berlari cukup jauh keluar dari ruangan Devan.
“Dia benar-benar tampan dan tingkah lakunya seksi sekali..” ucap Xena bermonolog dengan senyum lebar dan gurat merah di tulang pipinya yang tidak hilang-hilang.
“Baiklah, sampai jumpa lagi jodohku” ucap Xena dalam hati sembari melihat pintu ruang CEO itu. Ia berjalan cepat dan keluar dari gedung itu.
-----
“Bagaimana tadi nona ? sukses ?” tanya asistennya ketika Xena sudah masuk ke mobilnya.
“Sukses dong.. Saranmu benar-benar ampuh Frans. Dia tak berkutik sama sekali!” jawab Xena dengan menggebu-gebu.
“Iya nona. Tapi bagaimana jika Tuan besar tahu kalau Nona ada di London sekarang ? Nanti Tuan akan marah besar, dia menyuruh Anda untuk tinggal sementara di Indonesia untuk urus bisnis disana tapi Nona malah kesini”
“Kau bawel sekali Frans. Ya jangan sampai ketahuan lah! Nanti aku akan memikirkan caranya, kau tenang saja! Sekarang bawa aku ke restoran Sea Food, aku lapar”
“Hm.. baiklah nona”
Dia adalah Xena. Xena Wilkinson. Gadis cantik berumur 23 tahun, satu-satunya putri kesayangan dari keluarga Wilkinson yang terpandang. Namun Xena tidak seperti gadis lainnya yang terlahir anggun, dan kalem dari keluarga kaya. Dia gadis periang, bandel dan aktif. Kalau berpakaian ia lebih suka memakai celana jeans dibandingkan dress yang anggun. Gayanya sedikit tomboy, karena dia memiliki pikiran yang simple dan tak suka repot. Kalau bicara suka blak-blakan. Hobinya minum dan suka membuat onar. Karena itulah, ayahnya menyuruhnya untuk mempelajari bisnis di perusahaan ayahnya di Indonesia dengan ancaman jika Xena tak menurutinya maka ayahnya akan menarik seluruh fasilitas yang dia miliki, berharap dengan cara itu bisa membuat Xena bersikap dewasa dan berhenti dari tingkahnya yang gila. Namun cara itu tetaplah tak mempan bagi Xena. Dia pandai mengelabui ayahnya karena memiliki asisten yang sama gilanya dengan dirinya. Xena menyukai kebebasan, semakin ia dikekang maka ia akan semakin bertindak semaunya. Tapi itu harus dengan cara yang cerdik. Karena itulah dia sering bekerjasama dengan asistennya sendiri, bertindak pintar agar ayahnya tak mencurigainya.
Xena sangat menyukai tantangan. Sampai saat ini, dia tidak pernah jatuh cinta dengan pria manapun, sampai akhirnya ia bertemu dengan Devan secara tak sengaja di Club malam itu. Pria itu telah membuatnya kalah atas tantangannya sendiri. Sikap dingin dan gaya tidak peduli lelaki itu membuatnya semakin jatuh cinta. Aneh bukan ? Padahal rata-rata wanita akan menyukai laki-laki yang perhatian dan peduli dengannya, tapi dia malah sebaliknya. Xena merasa laki-laki yang dingin dan acuh itu sangat seksi, membuatnya sangat penasaran dan tertantang untuk meluluhkan hati pria semacam itu. Sejak saat itu, ia terus mengikuti lelaki itu bahkan sampai harus terbang ke London demi mengejar cintanya.
***
“Kau yakin tidak mau makan Frans ?” tanya Xena pada asistennya sembari duduk makan dengan lahapnya di sebuah restoran.
Frans menggeleng “Aku ingin minum saja, tadi aku sudah makan. Baiklah apa rencana nona selanjutnya ? Tuan besar tadi menelponku lagi, aku hanya menjawab seperti yang nona perintahkan, nona menemukan lahan yang cocok untuk pembangunan Resort baru, jadi nona sedang pergi untuk mengeceknya selama satu minggu”
“Apakah dia curiga ?” tanya Xena dengan menaikkan alisnya.
“Sepertinya tidak nona, tapi Tuan bukanlah orang bodoh, dia akan mengetahuinya cepat atau lambat. Jadi sebelum aku dipecat dan rencana nona jadi berantakan, sebaiknya nona harus memikirkan cara selanjutnya”
Xena mengangguk-anggukkan kepalanya “Rencana yang baik adalah, membuat kebohongan menjadi nyata”
Frans mengerutkan keningnya “maksudnya nona?”
Xena menghela napas “Apa kau lupa ? aku ini orang yang tak bisa berdiam diri, percuma dong aku punya banyak kenalan dan suka berjalan kesana kemari kalau tidak tahu hal sepele semacam itu. Liburanku saat baru tiba disana kemarin tidaklah sia-sia Frans, tentu saja aku sudah tahu lokasi yang cocok. Dan besok kau harus kesana, untuk mengurus lokasi itu dan siapkan laporan untukku dalam dua hari”
“Hmm.. sudah kuduga, aku lagi yang dijadikan sasarannya. Apeeess apees.. Dalam dua hari ? Yang benar saja” batin Frans.
Xena menaikkan alisnya, menangkap ekspresi Frans yang tak mengenakkan “Kenapa ? Kau tidak suka ? Kalau begitu gajimu-”
“Ti-tidak nona. Tentu saja aku akan melakukannya” potong Frans cepat, tahu yang akan dikatakan oleh wanita penyihir itu yang selalu saja mengancamnya akan memotong gajinya. Menjengkelkan sekali.
__ADS_1
“Good Boy” ucap Xena dengan tersenyum puas.
***
Devan baru saja merebahkan diri di tempat tidurnya. Seperti biasa dia habis menyibukkan diri lagi sampai pulang kemalaman. Melelahkan diri sampai ia mengantuk. Baru saja matanya akan terpejam, suara bel pintunya terus berbunyi dengan nyaringnya seakan tak sabar untuk segera di buka. Dan tak cukup dengan itu, suara gedoran pintu yang keras membuatnya bersumpah akan menghajar siapa saja yang telah menganggu istirahatnya itu.
Cklek (pintu terbuka)
“Hai Tuan” sapa Xena bersemangat dengan senyum lebarnya.
“KAU!” desis Devan dengan geram sambil mengarahkan telunjuknya pada Xena.
“... Mau apa lagi kau ke sini ?” sambungnya dengan nada tak suka.
“Bertamu” jawab Xena santai “Aku tetangga barumu sekarang. Apartemenku berada di lantai bawah. Hehe”
Devan menghela napas “Kalau saja kau bukan wanita, sudah kuhajar kau!” batinnya.
“Maaf, tapi aku tidak terima tamu!” ketus Devan lalu menutup pintu dengan cepat.
Cklek (pintu tertutup)
Baru saja beberapa langkah kakinya berjalan masuk kembali, pintunya digedor lebih kencang dari sebelumnya, ditambah dengan suara nyaring bel yang tak berhenti berbunyi sedetikpun.
TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK
“Aaaarrghhhh!!!” Devan mengerang sambil mengacak rambutnya. Perempuan itu benar-benar menguji kesabarannya. Dengan cepat Devan membuka pintu dengan kasarnya.
Cklek (pintu terbuka)
“Sekali lagi kau mengetuk pintu dan membunyikan bel, akan kubuat kau menyesal, tak peduli jika kau adalah seorang wanita sekalipun!!”
“Hehehe” Wanita itu malah menyengir kuda, tak gentar sekalipun dengan ancaman dan ucapan kasar dari Devan.
Devan mengernyit “Apa kau tidak waras nona ?” ucapnya seraya menggerakkan telunjuknya memutar di atas pelipisnya (sebuah isyarat yang menandakan ‘apa otakmu gesrek ?’).
Xena hanya menggeleng, masih terus tersenyum. Lalu mengangguk kemudian. Membuat Devan lebih yakin, bahwa wanita di depannya ini memang benar-benar kelainan jiwa.
Devan berdecak “Kenapa aku harus berurusan dengan wanita gila ini ?” batinnya.
“Apartemenmu di lantai bawah kan ? Pulanglah hei wanita! Hush hush hush” ujarnya sembari menggerakkan tangannya seperti mengusir seekor kucing.
Grep
__ADS_1
Devan tertegun, karena tiba-tiba saja wanita itu langsung memeluknya dan membenamkan kepalanya di dada bidang Devan.
Devan sedikit memberontak “Hei, lepaskan ! Kenapa kau memelukku ?”
“Aku tak akan melepaskanmu kalau kau tak membiarkanku masuk! Aku hanya ingin bertamu!” ucap Xena semakin mengeratkan pelukannya.
Devan memijit keningnya yang terasa pening, lalu menghela napas “Huft.. berhadapan dengan wanita gila sepertimu membuatku susah! Baiklah, cepat lepaskan tanganmu itu, aku biarkan kau masuk, tapi ingat--HANYA SEBENTAR SAJA! Karena aku sangat lelah sekarang dan ingin cepat istirahat”
Xena menengadah dan tersenyum puas menatap Devan lalu melepaskan pelukannya. Dengan cepat wanita itu langsung menyelusup masuk ke dalam apartemen Devan. Berjalan sambil tertawa, sesekali melompat, lalu membantingkan dirinya ke sofa. Devan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dan mengusap dadanya berusaha tetap sabar menghadapi wanita gila seperti itu.
“Hm.. lalu apa yang ingin kau lakukan ?” tanya Devan tanpa berbasa-basi saat dia menyusul duduk di sofa.
“Kau tidak ingin mengambilkan tamumu ini minum ?” jawab Xena sambil mengerucutkan bibirnya.
“Ambillah sendiri, lagipula kau yang memaksa masuk kesini bukan ?”
Xena membuang muka dan berdecak “Walau bagaimanapun sekarang aku bertamu di rumahmu, setidaknya kau memberikanku minum Tuan”
Devan menghela napas sekali lagi. Sungguh, saat ini ia benar-benar sangat lelah dan di saat seperti ini, entah datang darimana wanita gila ini selalu saja mengganggu ketenangannya. “Hmm.. baiklah. Tunggu sebentar”
Xena tersenyum senang lalu mengangguk.
Sekitar 5 menit, Devan kembali dengan membawa segelas air putih dan menaruhnya di atas meja tepat di depan Xena duduk.
“Ckckck.. apartemenmu besar begini, tapi melayani tamu hanya dengan air putih ?” gumam Xena.
“Kalau kau tidak mau ya sudah! Aku lelah dan sekarang keluarlah!” Ingin sekali Devan mengumpat, bukannya terimakasih tapi wanita itu malah bersikap mengesalkan.
Xena tertawa melihat Devan yang telah marah “Tuan... Aku hanya bercanda...! Terimakasih ya sudah menerima tamu sepertiku”
Devan tak menjawab, dan malah sibuk memainkan ponselnya.
“Kau seperti orang yang patah hati Tuan” celetuk Xena yang membuat Devan seketika menghentikan geraknya memainkan ponsel dan langsung menatap Xena tapi tak menjawab apapun.
Xena membulatkan matanya tak percaya kalau tebakannya memang benar. “Benarkah ? Waahh.. Aku jadi penasaran, wanita seperti apa yang sampai membuatmu begini!” serunya dengan heboh.
“Hei wanita! Sebaiknya kau pulang saja, aku tambah lelah menghadapi dirimu!” ucap Devan dengan memasang pandangan datarnya pada Xena.
“Tuan, aku tahu mungkin aku menyebalkan dimatamu. Tapi melihatmu seperti ini membuatku sedih” Xena bangkit lalu duduk tepat di samping Devan, dan menepuk dada Devan pelan “Berdamailah dengan perasaanmu sendiri Tuan. Aku tahu itu memang tak mudah, tapi kau harus berusaha. Kau menyiksa dirimu sendiri dengan sok sok menyibukkan diri” sambungnya sambil tersenyum tulus membuat Devan seketika tergugu.
Xena beranjak dari duduknya “Baiklah, sebaiknya aku pulang sekarang. Terimakasih tetangga!” ucapnya sembari melambaikan tangannya di ambang pintu lalu pergi.
Cklek
__ADS_1
Devan masih terpaku, terkejut karena wanita yang bertingkah aneh itu ternyata bisa menebaknya dengan tepat.
***