
Devan berbaring di sofa sambil menonton televisi, diam-diam tersenyum senang melihat wajah Widel yang memasak dengan cemberut.
Ting tung (suara bel rumah)
Ting tung
“Sayang, tolong bukakan pintu. Aku lagi nonton berita ini.” ucap Devan dengan sedikit berteriak.
“Buka saja sendiri ! Apa kau tidak lihat aku sedang memasak ?” sahut Widel meninggikan suaranya. Wajahnya tambah mengkerut karena kesal.
Devan tersenyum sangat tipis, hampir tak terlihat. Tentunya ia sengaja membuat Widel bertambah kesal. Entah kenapa ia sangat senang membuat kekasihnya marah-marah seperti itu, wajah Widel yang ketika cemberut menurutnya sangat menggemaskan.
Ting tung
Ting tung
Ting tung
Ting tung
Ting tung
Ting tung
“DEV!!!” teriak Widel karena Devan hanya mengabaikan suara bel itu.
“Kenapa ?” Tanya Devan seolah-olah tak tahu apa-apa.
Widel tambah geram dengan kelakuan Devan yang menguji kesabarannya. “KENAPA ??? ITU BEL BUNYI TERUS !!”
“Lalu ? Kau kan tidak mau buka. Yasudah, biarkan saja” jawab Devan enteng.
Ting tung
Ting tung
Ting tung
“URRGHHH!!!” Widel menggeram. Ia sudah sangat kesal sekali sekarang. Ditinggalkannya nasi yang sedang digorengnya di atas wajan.
“Kalau nasinya gosong, aku tidak mau tahu ya. Bagus kalau terbakar sekalian!!” gerutu Widel seraya berjalan membuka pintu.
Devan hanya tersenyum dalam hati.
Cklek
“Siapa ?” Tanya Widel ketika melihat seorang pria di depan pintu.
“Devan ada ?” tanya pria itu langsung mengabaikan pertanyaan Widel.
“Ada, maaf dengan siapa ya ?”
“Eh ? Kamu siapa ? Pembantu baru di sini ya ?” Lagi-lagi pertanyaan Widel diacuhkan. Pria itu malah menanyakan dirinya yang ‘siapa’ sambil melihat penampilan Widel dari atas sampai bawah. Wajar saja ia bingung melihat gadis itu sebab yang ia tahu, Devan tak pernah ingin ada pembantu ketika Devan sedang di rumah.
__ADS_1
“Pembantu ?” gumam Widel dalam hati lalu menunduk melihat dirinya sendiri. Pantas saja, penampilannya sudah sangat kucel. Penuh keringat, kotor, celemek pun masih tergantung di lehernya.
“Bukan. Masuklah dan bicara sendiri dengan Devan” Ucap Widel, sudah malas menanyakan siapa pria itu.
Pria itu mengerutkan keningnya. “Devan ? Kenapa dia memanggil nama Devan dengan santai begitu ? Siapa wanita ini ?”
Tanpa menunggu satu patah kata dari pria itu, Widel sudah berjalan masuk.
“Sialan! Aku dikira pembantu ? tapi perkataannya itu tidak salah. Aku ini memang pembantu berdalih kekasih dari pria brengsek yang sedang berbaring santai di sofa itu” gerutu Widel dengan suara pelan sambil berjalan dan sesekali melirik Devan yang sedang menyelonjorkan kaki di sofa, menatap tajam seakan ingin mencakarnya.
“Siapa ?” Tanya Devan pada Widel namun yang ditanya hanya mengacuhkannya.
“Dev, ponselmu kemana ? Dari tadi aku menghubungimu” keluh pria yang tiba-tiba masuk ke dalam.
“Alex ? Kenapa kau kesini ?” Tanya Devan.
“Riko yang memberitahuku” jawab Alex ikut duduk di sofa.
“Ada urusan apa ?”’
“Ada yang ingin kubicarakan denganmu” jawab Alex seadanya lalu berdiri dan sepertinya berjalan ingin menghampiri Widel yang sedang memasak di pantry dapur.
Devan menautkan alisnya. “Kau mau kemana ?”
“Aku haus.” Sahut Alex dan menghampiri Widel. “Hei, buatkan aku jus jeruk. Aku haus. Cepat ya” Katanya yang bisa didengar oleh Devan.
“Berani sekali kau menyuruh-nyuruhnya!” Ucap Devan meninggikan suaranya pada Alex. Ia pun langsung berdiri dan mendekat pada Alex.
Alex berbalik dan menoleh pada Devan. Ia merasa aneh, kenapa Devan sesensitif ini pada seorang pembantu ?
“Pembantu katamu ? Sekarang kau keluar dari rumahku.”
Alex semakin bingung. Ia tak tahu apa kesalahannya. Devan tak biasanya begini padanya. “Loh, kenapa ? Apa salahku ?”
“Keluar! Keluar sekarang juga” Ucap Devan sambil menarik tangan Alex dan mendorongnya keluar dari pintu.
“Dev, kenapa kau begini padaku ? Aku ini sahabatmu”
BRAAKKK!!
Devan membanting pintu dengan keras. Ia lalu berjalan cepat dan menarik tangan Widel yang sedang menyajikan nasi goreng di atas meja makan.
“Kenapa Dev ?” Tanya Widel ketika tangannya ditarik pergi oleh Devan. “Ikut aku”
“Kita mau kemana ?”
“Antar kamu pulang” jawab Devan berjalan keluar dari pintu rumah. Ternyata Alex belum pergi juga, ia menunggu Devan di depan pintu.
“Devan kau mau kemana ?” Tanya Alex. Melihat Devan yang berjalan sambil memegang tangan gadis itu, ia semakin penasaran. Sebenarnya siapa gadis itu ?
Devan tidak menjawab. Ia hanya diam dan masuk ke dalam mobil bersama Widel, kemudian pergi mengabaikan Alex.
***
__ADS_1
“Dev, kenapa kau begitu pada temanmu sendiri ?” Tanya Widel lembut menatap Devan yang sedang menyetir.
Devan menoleh. “Aku tidak suka kau dihina oleh orang lain. Siapa pun itu. Aku tidak suka”
Widel tersenyum. Sebagaimana pun menjengkelkannya pria ini, ternyata ia sangat peduli terhadapnya.
“Tapi kan temanmu itu tidak tahu siapa aku Dev. Menurutku wajar dia berpikir seperti itu”
“Aku tidak ingin mendengar orang lain merendahkanmu lagi” ucap Devan.
Hati siapa yang tidak terenyuh ketika kekasihnya ternyata begitu membela dan peduli pada dirinya seperti itu. Sekesal apapun Widel pada Devan, entah kenapa malah rasanya perasaan sayang itu semakin bertambah.
“Devan, nasi goreng yang kubuatkan untukmu tadi tidak jadi kamu makan. Sia-sia saja aku masaknya” ucap Widel memasang mimik cemberut.
“Nasi goreng gosong gitu kok” celetuk Devan.
Widel tergelak. “Jadi dibuang ? Kan aku sudah capek masak Dev”
“Kau mau membunuhku dengan nasi goreng gosong itu ?”
“Tapi kan tidak terlalu gosong Dev, masih bisa dimakan kok. Nanti dimakan ya ? Masa kamu tidak menghargai aku masak Dev. Aku sudah keringatan begini sampai dikira pembantu, malah nasinya tidak kamu makan” keluh Widel dengan wajah cemberutnya.
Devan menoleh dan menatap Widel lalu tersenyum. Dengan cepat ia mencubit pipi merah Widel yang menggemaskan itu. “Iya sayang”
Widel tersenyum. Tanpa sadar ia memandangi wajah Devan yang sedang fokus menyetir.
“Kenapa ? baru sadar aku ini sangat tampan ya ?” ucap Devan sadar dirinya sedang diperhatikan.
Widel jadi salah tingkah. “Ti-tidak. A-aku hanya teringat sesuatu”
Devan terkekeh. “Teringat kalau aku sangat tampan ?”
“Bukan ih!!” Widel membuang mukanya ke arah kaca jendela di sampingnya.
Devan tersenyum lebar sambil melirik sekali-kali ke arah Widel yang terus menyembunyikan wajahnya.
***
Cukup lama di perjalanan membuat Widel sampai ketiduran di mobil. Mereka sudah sampai, tapi bukan di rumah Widel melainkan di sebuah salon besar dan ternama di kota itu. Devan menjawab asal saja tadi agar Widel tidak banyak pertanyaan dan hanya menurut padanya.
“Widel, bangun sayang” ucap Devan seraya mengaitkan rambut-rambut Widel yang jatuh menutupi wajah cantiknya.
“Widel ?” Panggilnya sekali lagi namun Widel tak juga bergeming. Sepertinya gadis itu sudah sangat kelelahan. Ia tertidur sangat nyenyak. Devan pun tak tega untuk membangunkannya lagi. Ia lalu menurunkan sandaran kursi Widel agar bisa berbaring dengan nyenyak, kemudian mengecup kening Widel dengan penuh sayang.
Saat Widel dihina seperti tadi, Devan langsung ingin pergi dan membawa Widel untuk mempercantik diri di salon agar tak ada lagi yang merendahkan kekasihnya seperti itu lagi. Namun sepertinya Widel tidur sangat nyenyak, sudah lewat tiga puluh menit, belum ada tanda-tanda ia akan bangun.
Devan tak tahu alamat baru Widel, yang ia tahu saat berbicara empat mata dengan Rina di restorannya tadi, Widel sekarang tinggal dengan sahabatnya Febby. Ia pun merogoh saku celananya mencari ponsel untuk menghubungi Febby menanyakan alamat detilnya. Kebetulan seingatnya ia pernah menyimpan nomor Febby di ponselnya.
“Oh shit! Ponselku ketinggalan”
Mau tidak mau, akhirnya Devan terpaksa membawa Widel ke hotel terdekat saja. Rumah dan apartemennya lumayan jauh dari tempat ia berada. Devan juga sudah mencoba membangunkan Widel beberapa kali tapi yang dibangunkan itu tak bergeming sama sekali. Widel terlalu lelah kayaknya sampai-sampai ia tidur seperti orang mati, sulit untuk dibangunkan.
Setelah check in dan mendapatkan kunci kamar, Devan menggendong Widel dan membawa gadis itu ke kamar yang telah di pesannya. Ia lalu membaringkan gadis itu di atas tempat tidur dan menyelimutinya. Widel menggeliat seperti cacing dan memeluk guling dengan erat. Devan tersenyum melihat gaya tidur Widel yang seperti anak kecil dan kemudian mengecup kening gadis itu sekali lagi.
__ADS_1
Bersambung...