
WIDEL POV
Pagi ini, aku memulai hari seperti biasa lagi, karena mulai hari ini aku sudah bisa bekerja kembali dengan normal. Aku mulai menghidupkan motorku dan melaju menuju restoran tempatku bekerja.
Sesampainya di sana, ternyata semua karyawan sedang berkumpul.
“Widel, cepat. Katanya ada pemberitahuan dadakan. Sangat penting katanya” kata Melda yang tiba-tiba menyenggolku sambil berlari dan bergabung dengan karyawan lainnya. Aku pun akhirnya ikut berlari kecil dan berdiri di antara mereka.
Pak Ervin, beberapa staf, dan karyawan lainnya kini sudah berkumpul tanpa terkecuali. Pak Ervin pun sudah berdiri di depan, hendak menyampaikan sesuatu. Beberapa di antara kami, ada yang berbisik-bisik kalau sepertinya akan ada kenaikan gaji, ada juga yang bahkan berpikir akan ada pemecatan karyawan lagi, dan beberapa lainnya juga masih terlihat bingung, sebab jarang-jarang Pak Ervin sendiri yang mengumpulkan kami semua di pagi hari begini sebelum restoran dibuka.
“Halo semuanya, selamat pagi” sapa Pak Ervin dengan tersenyum lebar, tampak sangat ramah pagi ini. Kami pun membalas ucapannya serentak.
“Sudah semangat kah semuanya ? atau masih mengantuk ?” canda Pak Ervin sambil tertawa.
“Semangat Pak” jawab kami semua dengan kompak.
”Baiklah, maaf harus mengumpulkan kalian semua pagi-pagi begini. Semuanya sudah sarapankah atau belum ?”
Beberapa di antara kami ada yang menjawab sudah, dan ada juga yang belum.
“Wah, belum ? Baiklah nanti saya akan menyiapkan menu sarapan untuk kalian semua, khusus untuk hari ini!” Kata Pak Ervin sambil tersenyum dan berbicara dengan semangat.
Semuanya bersorak gembira, termasuk aku sendiri. Lumayan sarapan pagi, tidak pernah terjadi satu kalipun selama ini, dan hari ini Pak Ervin yang tidak tahu kerasukan apa di pagi ini, hingga begitu baik ingin menyiapkan menu sarapan untuk kami semua.
“Yeaa.. terimakasih Pak Ervin” kata kami dengan gembira.
“Senang rasanya melihat kalian semua bersemangat, dan riang seperti ini” kata Pak Ervin seakan terharu melihat karyawannya begitu bersemangat.
“Rasanya baru sebentar, tapi ternyata sudah cukup lama, saya mendirikan restoran ini mulai dari nol bersama kalian semua”
Aku merasa bingung, kok Pak Ervin berbicara seperti itu ? dan matanya terlihat berkaca-kaca. Apa begitu terharunya kah beliau ? batinku yang merasa ada keanehan dalam diri Pak Ervin hari ini. Ia tidak seperti biasanya.
“Sering kali mengalami jatuh bangun, sampai bisa membuat restoran ini, hingga seperti sekarang ini”
__ADS_1
Benar saja, Pak Ervin menyeka sudut matanya yang mulai berair.
“E-eh Pak Ervin nangis ya ?” bisik-bisik yang lain.
“Pertama-tama saya ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada kalian semua yang berjuang demi kesejahteraan restoran ini, khususnya juga kepada Bu Dewi, Pak Anton, dan Bu Mega, yang masih setia berjuang di sini bersama saya, bahkan sejak awal restoran ini didirikan. Menemani saya dan tumbuh bersama dengan restoran Luxury Food. Saya mengucapkan terimakasih banyak”
Pak Ervin terlihat sangat berusaha menahan air matanya. Ia mengembuskan napasnya sebelum melanjutkan perkataannya. “.. dan juga saya meminta maaf pada kalian semua, mungkin saya bukanlah pemimpin yang baik selama ini, juga kadang terlalu keras pada kalian semua” katanya sambil terkekeh seolah bercanda.
Senyumnya perlahan menghilang dan memasang wajah serius yang tidak pernah kulihat selama ini. “Baiklah, seperti yang kalian tahu, saya ingin menyampaikan sesuatu hal yang sangat penting hari ini”. Pak Ervin tampak mengambil napas dan mengembuskannya sekali lagi.
“Maafkan saya karena sepertinya saya tidak bisa menemani kalian lagi”
DEGG!!
Ada apa ini ? Apa maksud perkataan Pak Ervin barusan ?
Semuanya jelas sangat kaget, dengan pemberitahuan tiba-tiba yang sama sekali tidak terpikirkan oleh seorang pun di ruang ini.
“... Mulai hari ini... saya.. mengundurkan diri sebagai CEO restoran Luxury Food”
“Maafkan saya..., saya tidak bisa bersama kalian lagi” lanjut Pak Ervin dengan suara yang sudah terdengar sedikit bergetar. Ia pun kemudian menundukkan badannya hampir 90o menghadap kami semua yang ada di ruangan ini. Bu Dewi, Pak Anton, dan Bu Mega, karyawan lama yang tersisa di restoran ini, sama terkejutnya, bahkan sangking terkejutnya mereka sampai tak bisa berkata apa-apa. Tidak terpikirkan sama sekali oleh mereka, seseorang yang tegas dan pekerja keras seperti Pak Ervin tiba-tiba saja mengundurkan diri. Padahal jika dipikir-pikir, Pak Ervin sudah berjuang dengan sangat keras ketika mendirikan restoran ini dulunya.
Sebenarnya apa alasan Pak Ervin di balik semua ini ?
Pak Ervin menunduk agak lama, hingga sunyinya suara karena terkejut perlahan menjadi ribut karena pertanyaan banyak orang yang berbisik-bisik.
Jadi, bagaimanakah nasib kita sekarang ? Apakah kita termasuk dipecat ? Apakah restoran ini akan ditutup ? Mengapa begitu sangat tiba-tiba ?
Banyak pertanyaan yang bergejolak di benakku. Mungkin bukan hanya dibenakku, tapi juga benak orang-orang yang selama ini sudah bekerja sangat keras di sini.
Pak Ervin pun akhirnya mengangkat bahunya, dan berdiri dengan tegap. “Tenang saja, kalian tidak akan dipecat. Restoran ini akan tetap berjalan dengan stabil, bahkan mungkin kelak akan lebih besar dari saat ini. Jadi, kalian bekerjalah dengan baik. Saya titip Luxury Food pada kalian semua” katanya sambil tersenyum tulus walau matanya masih tampak sedikit berkaca-kaca.
“Ayoo.. semuanya kembali bekerja. Sebentar lagi menu sarapan kalian akan disajikan” ucapnya lagi sambil menepuk tangan menutup pembicaraan.
__ADS_1
Pak Ervin kembali ke ruangannya, dan kami pun bubar dengan wajah linglung tanpa bisa bertanya apapun. Mungkin ada suatu alasan yang tak bisa beliau katakan.
“Widel, ini tolong di antar ke alamat ini” kata Rina karyawan lain selain Melda yang dekat denganku di restoran ini.
“Baiklah” kataku menerimanya dengan baik.
Tepat pukul 07.30, aku siap mengantar pesanan pertama. Kali ini lokasinya agak jauh, karena harus mengantarnya ke sebuah Vila yang jauh dari hiruk piruk kota.
***
AUTHOR POV
Xena berbaring santai di kursi tidur di pinggir kolam berenang. Ia berjemur setelah berenang menyegarkan diri dan pikirannya. Tepat pukul dua tadi pagi, ia kembali dari London, melakukan perjalanan udara yang lumayan lama sekitar enam belas jam untuk sampai ke sini.
Setelah ditolak mentah-mentah oleh Devan, hatinya hancur hingga ia memutuskan untuk kembali dan segera mengurus bisnis yang sempat tertunda. Bisnis yang sebelumnya diperintahkan oleh ayahnya kepada Xena untuk mengurusnya.
“Frans, ingatkan aku, jam 10 nanti temani aku untuk mengecek lokasi” kata Xena pada Frans asistennya, sambil berbaring memejamkan mata.
Frans duduk di kursi sebelahnya sambil menatap layar laptop di pangkuannya. “Baik nona” jawabnya lalu kembali membaca sebuah e-mail di layar laptop.
“Em.. Nona..” panggil Frans pada Xena yang hanya menjawabnya dengan gumaman.
“Nona yakin akan menyerah begitu saja ? Menurutku, itu sama sekali bukan dirimu yang secepat itu menyerah. Xena yang kukenal adalah orang yang pantang menyerah”
Xena membuka matanya perlahan “Aku juga tidak mengerti Frans. Sekarang aku hanya ingin menjernihkan pikiranku dulu” jawab Xena lalu memejamkan matanya kembali. Frans hanya mengangguk seakan mengerti dengan situasi Xena saat ini. Memang sebaiknya seperti ini juga, pikir Frans. Alangkah baiknya jika Xena tidak terlalu keras kepala, dan mengikuti perintah ayahnya dulu.
Bersambung...
**Jangan lupa mampir di novel terbaru ku yah..
Judulnya "MY FLOWER NEIGHBORS"..
Menceritakan tentang bagaimana rasanya dikelilingi oleh tetangga-tetangga tampan dengan beda-beda karakter..
__ADS_1
Ini sampulnya**..