
Setelah selesai latihan jazz, Rafa, dan juga Andi segera berpamitan kepada bang Akbar untuk segera pulang karena hari memang sudah mulai gelap.
"Cabut duluan kita bang"
"Yoi, hati-hati kalian"
"Siap" jawab jazz, Rafa dan Andi secara bersamaan.
"Boss nanti gue ama Mama's Rapa balik dulu ambil ransel, baru abis itu ke apartemen loe"
"Hmtt"
"Udah yuk cabut, ponsel gue lowbat. Takutnya ayang gue nyariin"
"Dasar bucin"
"Loe kalau jomblo mending diem aja deh ndi"
"Iya Mama's Rapa"
Malas menanggapi kedua temannya yang tengah adu mulut jazz memilih untuk berjalan lebih dulu. Setelahnya ia segera naik keatas motor dan memacu motornya menuju apartemen, rasanya seluruh badannya sudah terasa lengket dan itu benar-benar membuat jazz merasa tak nyaman.
Namun ketika dalam perjalanan pulang jazz merasa kalau ada seseorang yang mengikuti dirinya, hingga akhirnya jazz terpaksa membelokkan motornya pada sebuah gang kecil yang cukup sepi.
Setelah dirasa cukup jauh dari keramaian jazz segera menepikan motornya sembari menatap remeh orang-orang yang sedari tadi mengikutinya.
"Punya nyali juga ya loe!" Ucap Yuda sembari turun dari atas motornya dan melempar helmnya secara asal.
"Apa mau loe?" Tanya jazz langsung pada intinya. Karena memang selama ini ia tidak pernah membuat gara-gara kepada Yuda, namun sialnya cowok itu selalu mencari masalah dengan dirinya.
"Gue mau loe mundur dari pertandingan"
"Kalau gue nggak mau?"
"Wahh malah nantangin dia boss" ucap salah satu anak buah Yuda.
"Loe cari mati" ucap Yuda sembari melayangkan satu pukulan diperut jazz.
"Ck, loe kalau mau jadi juara harus sportif dong, jangan kayak gini. Loe fikir lawan loe cuma gue doang, lawan loe ada banyak tapi kenapa loe selalu nyari gara-gara sama gue"
"Itu karena loe yang paling susah gue kalahin. Kalau gue nggak bisa ngalahin loe di sirkuit, maka gue bakal habisin loe saat ini juga"
"Kita lihat aja siapa yang bakalan abis" bukannya merasa takut, jazz justru menantang balik Yuda. Hingga membuat cowok itu naik pitam dan langsung menyerang dirinya.
Lima lawan satu, benar-benar jumlah yang tidak imbang. Namun sedari tadi jazz belum sama sekali terkena pukulan, cowok itu cukup mahir dalam menangkis dan juga menghindari serangan lawan.
Hingga 15 menit kemudian jazz dapat melumpuhkan Yuda dan ke empat temannya.
"Lain kali nggak usah sok keras. Dunia ini terlalu keras buat pecundang kayak loe" ucap jazz sebelum pergi meninggalkan Yuda dan juga teman-temannya.
*****
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 22.00 namun Rafa belum juga membalas chat yang Ghea kirim, bahkan ponsel cowok itu tidak aktif, hingga membuat Ghea uring-uringan sendiri.
"Loe kenapa sih ge?"
"Ayang Rafa nggak bales chat gue V, ponselnya juga nggak aktif"
"Mungkin aja Hpnya lowbat kan"
__ADS_1
"Tapi aku khawatir V"
"Ck, Rafa bukan bocah kemarin sore ge. Loe kan tau kebiasaan buruk Rafa, dia sering banget lupa ngecas. Lagian kalau Hpnya udah dicas dia pasti langsung hubungin loe kan"
"Iya sih"
"Yaudah gih, dari pada Loe mikir yang nggak-nggak mending loe tidur"
"Ntar kalau ayang Rafa hubungin gue gimana?"
"Ya nanti tinggal gue bangunin elo, gitu aja kok repot"
"Yaudah deh aku tidur ya V. nanti kalau ayang Rafa telfon, kamu bangunin aku"
"Iya Ghea ku sayang"
Setelah hampir 1 jam Ghea tidur ponsel gadis itu bergetar menandakan bahwa ada panggilan masuk didalamnya, dengan segera Vyona mengangkat panggilan video tersebut.
"Hai fa"
"Lah kok elo sih V, cewek gue mana?"
"Nih tidur, kecapean nungguin loe" jawab Vyona sembari memperlihatkan Ghea yang sudah asik dibuai oleh mimpi.
"Ya ampun kasian banget ayang gue, yaudah deh biarin aja dia tidur"
"Lagian loe kemana aja sih Panjul?"
"Kan tadi gue udah bilang mau nemenin jazz latihan, pulang latihan gue langsung pulang terus packing"
"Loe packing mau kemana? Nggak mau kabur dari rumah kan loe!"
"Ohh, yaudah gue tutup dulu"
Setelah mengakhiri panggilan videonya bersama Rafa, Vyona segera merebahkan tubuhnya dan membungkusnya dengan selimut, untuk segera menyusul Ghea di alam mimpi.
*******
Pagi ini Ghea benar-benar tidak bersemangat, setelah tadi pagi ia mendapat kabar dari Rafa bahwa cowok itu tidak masuk karena harus menemani jazz yang tengah mengikuti lomba balap motor.
"Semangat Napa ge" ucap Riri yang sedari tadi duduk di kursi milik Andi, karena sedari tadi kursinya di duduki oleh Niko.
"Lemes besti, belum ketemu ayang"
"Lebay loe ge, padahal pagi tadi udah video call lama banget" sarkas Vyona.
"Kalian para jomblo mending diem deh"
"Woo juanc*k" ucap Vyona dan Riri secara bersamaan.
"Astagfirullah berdosa sekali kalian besti, nggak boleh ya ngumpat kayak gitu. Kata pak ustadz berdosa"
"Auk ahh anak anji*g, udah ayo V"
"Kemana?"
"Perpus, lagian bakal jam kos"
Vyona hanya bisa menurut ketika Riri sudah menarik tangannya, hingga pada akhirnya Vyona meninggalkan Ghea yang masih saja menelungkupkan kepalanya pada lipatan tangannya.
__ADS_1
Gadis itu benar-benar lemas, sudah seperti orang yang kehilangan gairah hidup. Padahal belum ada sehari berpisah dengan Rafa, lalu kenapa harus selebay itu.
Sesampainya di perpustakaan Vyona dan Riri segera mencari tempat duduk paling pojok, yang agak sepi.
"Loe ngapain ajak gue ke perpus Ri!"
"Baca buku lah V, ya kali di perpus mau beli cendolnya mbak juminten"
"Yaelah kesambet apaan sih loe sampai mau baca buku"
"Daripada dikelas lihat Astrid sama Niko ngebucin, sama Ghea yang lemes kayak ayam kena flu, mendingan baca buku dapat manfaat"
"Tumben-tumbenan loe pinter" ucap Vyona sembari terkekeh.
*****
"Ta, kamu baik-baik aja kan! kalau sakit mending pulang aja ya" Ucap Karel sembari mengelus Surai legam milik Aretha.
Keduanya kini sedang berada di UKS, karena sedari tadi Aretha mengeluh kalau perutnya sedang sakit, jadilah Karel membawanya ke UKS.
"Aku gapapa rel" jawab Aretha sembari mengeratkan pelukannya pada Karel, dan menyenderkan kepalanya pada dada bidang Karel.
"Tapi kamu lemes banget, pucet lagi. Aku takut kamu kenapa-kenapa"
"Aku lagi dapet rel, nanti juga bakal mendingan kok"
Karel sebenarnya tidak terlalu paham dengan hal seperti ini, dulu selama pacaran dengan Vyona, gadis itu tidak pernah sekalipun mengeluh jika tengah datang bulan.
Ini benar-benar pengalaman pertama Karel menemani gadis yang tengah kesakitan karena datang bulan.
"Kerumah sakit aja ya!"
"Ishh rel, kamu bisa diam nggak sih. Aku bilang gapapa ya gapapa" ucap Aretha dengan sedikit membentak.
Nahkan padahal Karel hanya ingin membawanya ke rumah sakit, karena Karel khawatir. Kenapa ini malah dibentak-bentak. Benar kata Rafa dulu, cewek kalau lagi datang bulan moodnya suka naik turun, bahkan bisa saja cosplay jadi singa ngamuk.
Dulu Karel selalu menertawakan Rafa jika Ghea sedang menstruasi, karena pada saat itu Ghea akan sangat sensitif. tapi sekarang Karel malah mengalami hal yang sama dengan Rafa
"Kebanyakan ngejek Rafa deh kelihatannya, jadinya gue sekarang kena karma" gumam Karel dalam hati, sembari tangan kanannya terus mengelus lembut punggung Aretha.
*****
"Gimana udah siap semuanya kan?" Ucap jazz begitu mereka sudah berada di basment .
"Beres boss" jawab Andi dan Rafa secara bersamaan.
"Yuk berangkat, udah mepet banget ini kita"
Tanpa membuang-buang waktu Andi segera melajukan mobilnya dengan kecepat tinggi, karena mereka benar-benar mengejar pesawat. Salahkan saja Andi, sudah tau mau pergi keluar kota tadi malam malah minta ditemani minum hingga Rafa dan jazz juga ikutan teler.
Waktu tadi ditanya Rafa kenapa itu anak ngajak mabuk, jawabnya habis kena ghosting. Pada akhirnya Rafa hanya bisa tertawa terbahak-bahak, pasalnya selama ini Andi yang selalu ngegosting, ehh sekarang malah kena ghosting.
Setelah hampir 30 menit akhirnya mereka sampai juga di bandara. Hampir saja mereka tertinggal pesawat karena begitu ketiganya sampai pesawat yang akan mereka tumpangi akan segera lepas landas.
"Untung masih keburu, kalau sampai ketinggalan pesawat. Leher loe gue potong" ucap jazz tak henti-hentinya ngedumel sudah seperti emak-emak yang memarahi anaknya.
"Buset kejam banget sih loe boss. Nanti kalau gue koit, loe cuma punya temen si Rapa aja, ntar nggak ada yang ngehibur loe boss. Si Rapa kan sebelas dua belas sama loe boss"
"Bachot" bentak jazz dan Rafa secara bersamaan hingga ketiganya menjadi pusat perhatian saking kerasnya suara jazz dan juga Rafa. Hingga pada akhirnya Andi hanya mampu cengar-cengir sembari menyatukan kedua tangannya didepan dada, seolah-olah meminta maaf kepada penumpang lain yang telah terganggu oleh bentakan kedua temannya yang berhati es.
__ADS_1