I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
salting brutal


__ADS_3

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 3 dini hari, namun sedari tadi kedua mata Vyona sama sekali tidak bisa ia pejamkan.


"Ahhh sial, kenapa gue kepikiran terus sama kejadian tadi sih" gumam Vyona sembari mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.


Kejadian dimana dirinya dan Jazz saling berciuman terus saja berputar-putar di fikirkan Vyona, dan lebih memalukannya lagi Vyona tadi membalasnya bahkan Vyona dengan nakalnya menggigit kecil bibir Jazz. ahhh sungguh Vyona tengah salting brutal.


"Ya Allah kenapa gue tadi se agresif itu, Jazz ilfil nggak ya sama gue! Jangan-jangan nanti dia ilfil lagi, kan nggak lucu baru aja jadian udah ilfil" gumam Vyona sembari memukul-mukul boneka kesayangannya. "Ehh tunggu-tunggu, gue tadi bilang jadian! Emang gue jadian ya tadi, kelihatannya dia tadi nggak ada ngomong kalau kita sekarang pacaran, tapi dia tadi bilang kalau gue milik dia, dan dia mau gue selalu ada buat dia sampai kita menua. Bodo amat, pokoknya gue anggap kalau kita sekarang emang bener-bener pacaran. Gue maksa banget pokoknya"


Vyona raih figura kecil yang ada diatas nakas, dimana didalamnya ada foto dirinya dan Jazz ketika masih kecil dulu.


"Pokoknya jijiel cuma punya ona, selamanya nggak boleh ada yang rebut jijiel dari ona" gumamnya sembari memeluk figura kecil itu.


*****


Pagi ini Vyona sudah lengkap dengan seragam sekolahnya namun gadis itu tidak segera turun untuk sarapan malah berjalan mondar-mandir seperti setrikaan rusak. Sampai-sampai Vyona tidak sadar jika kedua kakaknya sudah berdiri di ambang pintu sembari menatap dirinya dengan bingung.


"Dek, loe ngapain sih! Gue sama Abang sampai pusing lihattin loe mondar-mandir kayak setrikaan" ucap Areksa dan diangguki oleh Alan.


"Abang, kakak" bukannya menjawab Vyona justru langsung berlari dan memeluk kedua kakaknya.


Melihat tingkah adiknya yang terkesan sangat aneh membuat Areksa dan Alan langsung seperti orang bodoh. Sedari semalam setelah pulang Vyona memang jadi sangat aneh, bahkan ketika dipanggil pun Vyona tak menggubris dan terus berjalan masuk kedalam kamar.


"Loe kenapa sih, V?"


"Gapapa kok, bang"


"Yaudah ayo sarapan, gue laper" ucap Alan sembari menarik tangan Vyona. Sementara itu Areksa langsung mengambil tas sekolah milik Vyona agar nanti adiknya tidak perlu repot-repot naik ke atas lagi.


"Pagi papa, pagi nenek" sapa Alan, Vyona, dan Areksa secara bersamaan.


"Pagi, ayo sarapan dulu. Nenek sudah masakin nasi goreng kesukaan kalian"


"Huahh, nasi goreng nenek kan paling the best" seru Vyona sembari bertepuk tangan.


"Berarti nasi goreng bibi nggak enak dong non" ucap bik yam sembari mencebikkan bibirnya.


"Mampus loe, V. Si bibik ngambek" ledek Alan dan langsung disusul gelak tawa Areksa, papa, dan juga nenek.


"Enak kok bik. Nggak ada ceritanya masakan bibik ataupun simbok nggak enak" ucap Vyona sembari memeluk bik yam yang kini sedang berdiri disampingnya.

__ADS_1


"Dihh manis banget sih non, nggak kebayang gimana jadinya mas Jazz kalau dirayu sama non Vyo" goda bik yam, sebelum akhirnya wanita paruh baya itu melesat ke dapur, karena takut diamuk Vyona.


"Bibik, nyebelin banget sih" teriak Vyona sembari bersidekap dada.


Namun tiba-tiba saja Vyona teringat akan sesuatu. ya, tadi malam setelah pulang dari apartemen Jazz, Vyona langsung menuju kamarnya. Dirinya belum memberitahu keluarganya bahwa ingatannya telah kembali lagi.


"Kesayangannya papa kenapa, pagi-pagi kok kelihatan murung?" Tanya Agra begitu melihat Vyona menjadi sedikit murung.


"Sebenarnya ada yang ingin Vyona omongin, pa" ucap Vyona seserius mungkin.


"Loe nggak mungkin hamil kan, dek!" Terka Areksa yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang papa.


"Maaf, pa. Berjanda" ucap Areksa cengengesan.


"Lanjut dek, jangan dengerin kakakmu"


"Vyona udah ingat, pa" ucap Vyona sembari memilih kedua tangannya.


"Ingat apa?" Tanya Alan dan Areksa secara bersamaan.


"CK, gue udah ingat semuanya. Gue udah sembuh" terang Vyona sembari berdecak kesal. Bagaimana bisa kedua kakaknya jadi sebodoh ini, padahal mereka adalah CEO yang sangat disegani oleh bawahannya karena terkenal akan kegalakannya.


Tanpa menunggu aba-aba, Vyona segera bangkit dan menghambur memeluk sang papa.


"Papa tau kalau putri papa ini memang yang paling kuat, jadi papa yakin kalau hari ini akan terjadi. Tapi papa masih nggak nyangka, kalau ingatan kamu kembali begitu cepat sayang"


"Papa kok malah nangis sih"


"Papa seneng, akhirnya putri kesayangan papa udah sembuh seperti sedia kala"


"Papa, aku mau tanya sesuatu" ucap Vyona sembari mengurai pelukannya.


"Apa sayang?" Tanya Agra sembari menggenggam tangan Vyona.


"Papa tau kalau Jazz itu jijiel?"


"Papa tau" jawab Agra dengan santainya, tapi pada kenyataannya dia sedikit terkejut. Pasalnya selama ini Jazz selalu melarangnya untuk memberitahu Vyona tentang siapa Jazz sebenarnya.


"Kakak, Abang, sama nenek juga tau?"

__ADS_1


"Iya" jawab ketiganya secara bersamaan.


"Ini nggak adil, kenapa cuma Vyo yang nggak tau"


"Tapikan sekarang udah tau, dek"


"Tetep aja gue tau paling akhir. Selama ini gue nyariin dia, tapi ternyata dia selalu ada di samping gue. Dia cowok gue sendiri"


"Udah nggak usah drama, tuh cowok loe udah datang" ucap Areksa begitu mendengar suara motor milik Jazz.


Dengan segera Vyona menyambar tasnya dan berpamitan sembari mencium pipi sang papa, nenek dan kedua kakaknya.


*****


Jazz yang baru saja ingin masuk kedalam rumah Vyona langsung dibuat terkejut ketika tiba-tiba saja gadisnya telah keluar dari dalam rumah dengan tergesa-gesa.


"Kamu kenapa lari-lari?"


"Gapapa, udah yuk berangkat"


"Belum pamit sama papa dan nenek kamu"


"Nggak usah, tadi udah aku pamitin" ucap Vyona sembari menarik tangan Jazz. Berhadapan dengan Jazz seperti ini benar-benar membuat Vyona merasakan panas dingin, sekarang Vyona yakin kalau wajahnya sudah berubah menjadi merah. Dan ia tidak ingin kembali masuk kedalam rumah bisa-bisa ia jadi bulan-bulanan kedua kakaknya.


Jazz yang sadar kalau ada keanehan pada gadisnya segera menghentikan langkah Vyona, ia putar tubuh Vyona menghadap pada dirinya hingga pada akhirnya dapat Jazz lihat wajah Vyona yang sudah merona merah, dan hal itu sangat menggemaskan bagi Jazz.


"Selamat pagi pacar" bisik Jazz tepat disamping telinga Vyona. "Lain kali kalau habis dicium jangan lari lagi ya, bikin khawatir aja" lanjutnya masih dengan berbisik.


Sial, rasanya sekarang Vyona ingin menghilang dari muka bumi ini. Vyona benar-benar malu, bagaimana tidak kemarin ia membalas ciuman Jazz dengan sangat agresif, namun setelah selesai berciuman Vyona langsung lari pulang karena malu.


"Nyebelin" ucap Vyona sembari memukul-mukul dada Jazz.


Bukannya merasa sakit karena dipukul, Jazz justru tertawa karena kini wajah Vyona terlihat begitu sangat imut.


Dengan sekali gerakan Jazz tarik pinggang ramping Vyona, hingga hal itu membuat jarak antara mereka semakin menipis.


"Jangan malu, akukan pasangan kamu" ucap Jazz sembari mengecup kening Vyona.


"Oke, cut. Bubar-bubar, Disni bukan tempat buat ajang pamer kemesraan" ucap Alan mengacau keuwuan yang ada di depan matanya.

__ADS_1


"Dasar jomblo, ganggu aja" ketus Vyona sembari menarik tangan Jazz agar segera berangkat ke sekolah.


__ADS_2