
"VYONA"
Baru saja Vyona masuk kedalam kelas Astrid langsung berteriak heboh sambil berlari kearahnya, begitu sampai di dekatnya gadis itu langsung memeluk Vyona.
"Gue fikir loe nggak masuk lagi, V. Abisnya Jazz datang sendirian"
"Gue emang sengaja nyuruh dia berangkat duluan, karena gue bareng dua kunyuk ini"
"Kenapa bisa bareng mereka?" Tanya Astrid dengan heran, pasalnya rumah Vyona memang tidak searah dengan rumah Riri dan juga Ghea.
"Kita nginep dirumah Vyona" jawab Ghea.
"Kok curang sih, gue nggak diajakin"
"Matamu nggak diajak, loe tuh dihubungi susah. Udah kayak idup di hutan loe, trid. Susah sinyal" ketus Riri, sembari berjalan menuju bangkunya.
"Tau nih Astrid, nggak asik"
Vyona yang melihat sang kekasih tengah menatapnya langsung tersenyum, dan segera menghampiri pujaan hatinya itu.
"Selamat pagi, tuan"
"Selamat pagi, princess. Gimana keadaan kamu?"
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja" jawab Vyona sembari tersenyum manis.
"Nggak lihat kamu sekolah, rasanya kangen" ucap Jazz sembari mengelus puncak kepala Vyona.
Sementara itu Rafa, Ghea, Astrid, Riri, Andi, dan juga Niko langsung menunjukkan wajah jijik mereka. Bagaimana bisa kulkas dua pintu seperti Jazz berbicara seperti itu.
******
"Kita duluan ya" pamit Vyona kepada teman-temannya.
"Lah si boss malah pergi, tadi katanya mau ke bengkel"
"Ya suka-suka dia, bengkel punya dia juga" ketus Riri.
"Galak bener loe kalau sama gue, udah ayo pulang" ucap Andi sembari menarik tangan Riri untuk menuju mobilnya, hingga membuat Rafa, Ghea, Astrid, dan juga Niko saling tatap.
"Sejak kapan mereka sedekat ini?" Tanya Astrid sembari menatap Niko, Rafa, dan Ghea secara bergantian.
"Mana gue tau"
"Mereka nggak pacaran, kan!"
"Jangan ngadi-ngadi ye lu, ge. Bisa hancur per uwuan kalau mereka bersama" ucap Niko mengeluarkan argumennya, bagaimana bisa mereka yang setiap hari berantem jadi pacaran.
"Udah ayo ke bengkel, ngapain jadi bahas Andi sama Riri"
Ghea segera naik ke atas motor kekasihnya sebelum cowok itu kesal dan mengomel.
Namun disepanjang perjalanan Ghea terus memikirkan tentang Riri dan juga Andi. Sejak kapan Riri dekat dengan Andi? Pasalnya Riri tidak mungkin mau dekat dengan cowok playboy, yang hanya bisa menyakiti perasaan.
"Ayang turun, kita udah sampai" ucap Rafa ketika Ghea tidak kunjung turun, padahal kini mereka sudah sampai bengkel.
__ADS_1
"Udah sampai ya ayang! Cepet banget"
"Nggak cepet, kamu aja keasikan ngelamun"
Baru saja Ghea ingin membuka mulutnya, namun lagi-lagi kedua netranya melihat Riri dan Andi tengah berduaan duduk di kantor bengkel. Hal itupun semakin membuat Ghea semakin penasaran dan bertanya-tanya, pasalnya selama ini dimana ada Riri dan Andi sudah pasti akan ada adu mulut.
"Ahhh, nggak tau. Ghea pusing" ucap Ghea sembari cemberut, dan langsung duduk di kursi tunggu.
"Cewek loe kenapa, Fa?" tanya Agam yang terheran-heran ketika melihat Ghea yang biasanya ceria kini terlihat agak sedikit aneh.
"Gue juga nggak tau, aneh banget dia. Dari tadi ngelamun, giliran sampai bengkel jadi kayak gitu"
"Kelihatannya ini bengkel ada penunggunya deh, bang"
"Loe kalau ngomong ati-ati ye azamblung" Agam pun langsung menoyor kepala adiknya ketika Azam berbicara sembarangan.
"Serius gue, bang. Hari ini orang-orang pada aneh, pertama bang Andi sama kak Riri, biasanya mereka bakal terus adu bacot, tapi lihat sekarang mereka berdamai, malah mojok berduaan di kantor" ucap Azam sembari menunjuk Andi dan Riri yang berada didalam kantor. "kedua kak Ghea, datang-datang ngedumel sambil cemberut" lanjut Azam dengan menggebu-gebu.
"Masuk akal sih" ucap Aldo menyetujui apa yang baru saja Azam katakan.
"Masuk akal matamu" ketus Aldi ketika adik kembarnya malah menyetujui omongan Azam yang ngaco.
"Pak boss mana?" Tanya Eric sembari masih fokus membongkar body motor.
"Pergi sama kakak iparmu" jawab Rafa sembari menuju kamar mandi bersiap-siap untuk membantu teman-temannya.
"Ngebucin terus, gue juga pengen tapi gue sadar diri kalau gue jomblo" ucap Eric dengan wajah memelas hingga mengundang gelak tawa yang lainnya.
********
Pagi ini Vyona baru saja datang bersama dengan Jazz, akan tetapi dirinya merasa kalau orang-orang menatapnya dengan tatapan jijik dan kesal.
"Jazz" panggil Vyona sembari mengeratkan genggaman tangannya, Vyona juga berhenti melangkah hingga mau tak mau Jazz juga ikut berhenti.
"Kenapa, sayang?"
"Apa ada yang aneh sama aku?" Tanya Vyona sembari menatap kedua mata Jazz.
Bukannya langsung menjawab Jazz justru diam sejenak sembari memperhatikan Vyona dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Ckk aku nanya loh, kamu bukannya jawab malah natap aku kayak gitu" Vyona berdecak kesal karena Jazz tak kunjung menjawab.
"Nggak ada, tetap cantik"
"Kamu ngerasa nggak__"
"Iya" ucap Jazz memotong omongan Vyona.
"Apa?"
"Mereka natap kamu dengan ekspresi kesal"
"Iyakan, bukan perasaan aku aja. Emang aku ada salah apa sih!"
"Udah nggak usah dipikirin, apapun yang terjadi aku akan selalu ada disamping kamu" ucap Jazz sembari mengelus puncak kepala Vyona.
__ADS_1
"Dihhh sok romantis, nggak tau malu"
"Tau tuh, udah dapetin Jazz masih aja kurang"
Sungguh Vyona dapat mendengar dengan jelas kasak-kusuk yang berasal dari teman seangkatannya itu.
"Apa lihat-lihat" ketus Jazz sembari menatap galak beberapa anak yang menatap dirinya dan Vyona, Jazz paham betul kalau gadisnya merasa tak nyaman jika ditatap seperti itu.
Dengan segera Jazz menarik tangan Vyona agar segera menuju kelas mereka yang terhitung tinggal beberapa meter lagi dari tempat berhenti tadi.
Namun sesampainya didalam kelas semua teman-temannya langsung pada heboh.
"Kalian baik-baik aja kan?"
"Kan apa gue bilang, itu pasti cuma gosip aja"
"Vyo, loe sama Jazz baik-baik aja kan?" Tanya Riri dan diangguki oleh Ghea dan Astrid, yang tentunya pertanyaan Riri barusan juga ingin ditanyakan oleh Astrid maupun Ghea.
"Gue baik-baik aja. Ini sebenarnya ada apa sih? Kenapa orang-orang dari depan sinis banget ngelihat gue"
"Kamu belum buka grup sekolah ya, V?" Tanya Ghea dan dijawab gelengan oleh Vyona.
"Vyona kalau punya HP digunakan dengan baik ya, percuma mahal kalau yang punya kagak pernah update" ucap Reva dengan kesal. "Loe juga Jazz, loe pasti juga belum buka HP kan!" Lanjutnya sembari menghampiri Vyona dan Jazz, tak lupa Reva memukul Jazz dan Vyona menggunakan buku paket yang lumayan tebal.
"Sakit bege, mana loe mukul cewek gue juga lagi"
Dapat Reva lihat dengan jelas aura gelap pada diri Jazz telah keluar, namun Reva berusaha biasa saja, walaupun kenyataannya dirinya mulai ketar-ketir.
"Ini mewakili temen-temen sekelas. Gara-gara berita di grup kita jadi mikir yang nggak-nggak dan ngehawatirin kalian berdua, nyet" ucap Reva sembari menyerocos kesal.
"Betul tuh" sahut yang lainnya, menyetujui apa yang baru saja Reva katakan.
Karena merasa penasaran Vyona pun memutuskan untuk membuka grup angkatannya, dan benar saja ternyata disana sudah ada ratusan notifikasi, entah apa yang mereka bicarakan.
Baru beberapa yang Vyona baca, namun rasanya emosi Vyona sudah naik di ubun-ubun.
"Berita macam apa ini" ucap Vyona dengan alis mengerut.
Sementara itu Jazz mencoba mengintip ponsel kekasihnya karena merasa penasaran berita apa yang beredar di grup.
"Gila siapa nih yang ngefotoin gue" ucap Vyona sembari menatap teman-temannya, jadi ini alasan kenapa sedari tadi orang-orang menatapnya dengan sinis.
"Ohhh, gitu aja heboh" ucap Jazz sembari tersenyum tipis, setelahnya cowok itu berjalan menuju bangkunya.
"Tolong klarifikasinya mbak Vyona, sedari tadi kami menunggu" ucap Reva dan langsung disetujui oleh teman sekelasnya.
"Dia sepupu gue anjir"
"Terus kenapa kalian di butik, mana pegang-pegang gaun lagi!"
"Ya karena itu butik punya gue, gue baru aja kelar bikin gaun pertunangan"
Brakkk
"Pantesan Jazz malah senyum dan kelihatan santai aja" ucap Reva sembari menggebrak meja.
__ADS_1
"Makanya jangan gampang terhasut sama gosip murahan" ucap Vyona sembari terkekeh.
"Kan apa aku bilang, Vyona nggak mungkin selingkuh" ucap Ghea sembari merangkul pundak Vyona.