
"Kenapa cemberut gitu sih?" Tanya Jazz sembari mengelus Surai hitam legam milik Vyona. Sore ini sepulang sekolah Jazz mengajak gadis itu pergi ke danau yang pernah mereka singgahi dulu.
"Aku mau tanya boleh?"
"Boleh, kamu mau tanya apa?"
"Kenapa sebagian anak ada yang terang-terangan menatap aku secara sinis Jazz! Emangnya aku dulu kayak gimana sih?" Ucap Vyona mengeluarkan unek-uneknya yang lumayan mengganjal.
"Kamu mau aku jujur atau nggak?"
"Ya jujur dong"
"Kamu itu cantik, pintar, nggak manja, galak, jahat, suka bully orang" jawab Jazz sembari menatap danau yang ada di depannya.
"Aku suka bully orang!"
"Emtt"
"Jahat banget ya aku" gumam Vyona sembari menunduk, namun Jazz masih mendengar gumaman itu. Ia tersenyum lalu mengacak-acak rambut Vyona. "Tapi aku percaya kamu pasti punya alasan sendiri, kenapa kamu nge-bully mereka Queen"
"Terus kenapa aku sama Karel bisa putus? Bukan karena aku selingkuh sama kamu kan!"
Jazz tertawa melihat wajah polos Vyona, setelahnya cowok itu menyentil kening gadisnya secara pelan.
"Otak kecil kamu ini isinya apa sih! Bisa-bisanya mikir kayak gitu"
"Aku serius Jazz" ucap Vyona sembari cemberut.
"Emtt, oke-oke jangan ngambek ya!" Seru Jazz sembari menangkup kedua pipi Vyona.
"Karel yang mutusin kamu, dia bilang kamu antagonis. Dan dia nggak mau punya pacar jahat, setelah putus dari kamu sekitar dua atau tiga harian Karel pacaran sama Aretha. Setelah itu baru kita menyusul, jadi nggak ada tuh ceritanya kamu selingkuh sama aku"
"Aihh syukurlah, aku fikir dulu aku sana-sini mau" ucap Vyona merasa lega dengan apa yang Jazz jelaskan. "Kenapa kamu mau sama antagonis kayak aku!" Lanjutnya sembari menyandarkan kepalanya ke pundak Jazz.
"Cinta itu nggak butuh alasan kan Queen. dan jujur aja kamu adalah satu-satunya wanita yang berhasil mengetuk hati aku"
Diam-diam Vyona tersenyum, ternyata dirinya cinta pertama cowok itu.
"Makasih, karena kamu mau menerima segala lebih dan juga kurangku" ucap Vyona sembari memeluk Jazz dari samping.
"Kamu itu adalah kebahagiaan yang Tuhan kirimkan buat aku Queen. dan kamu harus tau, aku sangat bersyukur punya kamu dalam hidup aku" ucap Jazz tepat disamping telinga Vyona hingga membuat setiap hembusan nafas cowok itu terasa begitu hangat.
"aku juga sangat bersyukur punya kamu"
__ADS_1
****
"Papa, nyantai aja nih kelihatannya!" Seru Areksa yang ikut bergabung dengan sang papa yang tengah duduk di ruang keluarga.
"Papa, ini Abang bawain papa kopi sama camilan" ucap Alan yang baru saja datang dengan membawa nampan berisi satu cangkir kopi dan juga beberapa toples camilan.
Agra melirik kedua putranya secara bergantian, sudah pasti ada yang tidak beres dengan keduanya.
"Papa kenapa lihatin kita kayak gitu sih!" Seru Areksa ketika sang papa menatap dirinya dan Alan dengan penuh selidik.
"Kalian kalau sikapnya manis kayak gini pasti ada maunya kan! Udah to the points aja, papa nggak suka basa-basi"
"Hehe papa tau aja" ucap Areksa dan Alan secara bersamaan, kedua cowok itu juga sama-sama menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal.
"Bodoh, kalian ini anak papa. Ya jelas papa tau isi otak kalian"
"Pa, nanti di ulang tahun perusahaan kita mau papa ngenalin Vyona ke publik" ucap Alan sembari menggamit tangan Agra.
"Kenapa?"
"Mama kan udah nggak ada, pa. Terus kenapa harus ditunda-tunda, Vyona udah besar, pa. Papa nggak mungkin nyembunyiin dia teruskan"
"Sudah Agra, turuti saja kemauan cucu-cucuku" ucap Rosmalinda yang baru saja datang bersama melati.
"Agra mau aja bund. tapi Agra takut, kalau orang-orang tau nanti banyak pria yang mendekati putri Agra" jawab Agra dengan wajah tak senang.
"Tuh Tante aja peka loh, pa"
"Yaudah-yaudah, terserah kalian aja" final Arga, pada akhirnya hanya bisa menurut. Karena tak ada satupun yang berpihak kepada dirinya. "Kalian berdua pasti lagi nyusun rencana buat adik kalian kan!" Lanjutnya sembari melirik Alan dan Areksa secara bergantian, hingga membuat kedua anak muda itu langsung mengangguk untuk membenarkan ucapan sang papa.
"Rencana apalagi yang kalian susun? Belum puas kalian mengakusisi perusahaan keluarga anak itu, setelah kalian tau adik kalian dicampakkan dan diselingkuhi"
"Ya belum lah pa, pokoknya Eksa sama Abang mau buat anak itu hancur"
"Terserah kalian aja lah, papa nggak mau ikut-ikutan drama kalian"
"Hih dasar pak tua" ucap Areksa sembari mendengus.
"Hehe mulutnya, jangan fikir papa nggak dengar ya"
"Hehe canda, pa"
******
__ADS_1
Sore ini Karel sedang duduk di teras belakang rumahnya, namun tak lama Kenan datang dengan meletakkan sebuah undangan di atas meja.
"Apa ini pa?"
"Undangan"
"Iya Karel tau kalau ini undangan. Maksud Karel ini undangan apa?"
"Perayaan ulang tahun gentala grup "
Karel nampak kaget mendengar jawaban dari papanya, kenapa perusahaan itu memberi undangan untuk keluarganya.
"Papa mau datang?"
"Tentu, perusahaan yang baru berdiri beberapa tahun lalu tapi sudah bisa mengakusisi perusahaan kita. Papa ingin lihat seberapa hebat CEO mereka"
"Terserah papa aja. Karel ngikut, kalau gitu Karel ke kamar dulu"
Sebenarnya Karel sangat malas untuk menanggapi papanya, karena sudah jelas nanti ia akan dipaksa untuk mendekati adik dari CEO gentala grup itu.
"Kenapa hidup gue harus serumit ini sih, kenapa semuanya harus di bebankan sama gue" gumam Karel sembari menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
Rasanya Karel ingin hidup normal seperti teman-temannya, bermain dengan bebas tanpa harus memikirkan bisnis keluarga. Karel terlalu lelah karena sering di tuntut oleh Kenan dan juga Dewi.
Prang...
Baru saja Karel ingin menutup matanya, terdengar suara pecahan kaca dari kamar kemal yang terletak persis disamping kamarnya.
Dengan segera Karel bangkit dan segera berlari menuju kamar kemal.
"Mal, loe gapapa kan!" Seru Karel begitu sampai di kamar kemal.
"Gue gapapa kok bang. sorry ya, gue pasti ngagetin loe"
"Ckk, nggak usah dipikirin. Yang penting itu loe nggak kenapa-kenapa"
Kemal menatap Karel yang tengah memunguti pecahan gelas yang kini berceceran di lantai, dapat kemal lihat wajah itu penuh dengan guratan-guratan lelah. Namun apalah daya, kemal juga tak mampu berbuat apa-apa untuk meringankan beban yang kini tengah Karel tanggung.
"Bang, maafin gue"
"Loe tuh selalu aja minta maaf, ini belum lebaran, mal"
"Gue selalu nyusahin loe ya, bang!"
__ADS_1
"Nggak pernah sekalipun loe itu nyusahin gue, udah jangan mikir yang nggak-nggak" ucap Karel sembari berlalu pergi dan membawa serpihan gelas itu untuk ia buang.
"Tuhan tolong, ringankanlah beban bang Karel" gumam kemal dalam hati, bahkan kini matanya pun mulai memerah karena menahan tangis.