
Setelah pulang sekolah Jazz langsung bergegas menuju rumah Vyona. Begitu sampai ia langsung meminta izin masuk kepada bik yam yang kebetulan sedang membersihkan mobil milik Vyona. Mobil milik Vyona sekarang memang sangat jarang sekali dipakai, mengingat kemana-mana selalu bersama Jazz.
"Woii anak mana lu?" ucap Alan ketika melihat Jazz yang baru saja akan menginjakkan kakinya di anak tangga.
"Anak metropolitan" ketus Jazz.
"Nggak punya rumah ya loe, bisa-bisanya belum ganti baju udah ke sini"
"Gue mau lihat kondisi tunangan gue, bang"
"Heh ralat, baru calon, nyet"
"Hillih jomblo syirik aja" ejek Jazz sembari meneruskan niat awalnya untuk menemui gadisnya.
"Hlahh malah nistain gue. Isss, babinye" gumam Alan sembari menyeruput kopi buatan mbok sum.
Sementara itu setelah sampai didepan kamar Vyona, Jazz membuka pintu itu dengan perlahan dan segera menyembulkan kepalanya dicelah pintu. Dapat ia lihat kini gadisnya tengah meringkuk dibaluti selimut tebal, padahal siang ini cuacanya cukup panas.
"Kamu udah pulang?" Pertanyaan Vyona cukup membuat Jazz kaget, pasalnya cowok itu mengira jika sang kekasih tengah terlelap, tapi nyatanya gadis itu masih sadar akan kedatangannya.
"Gimana udah mendingan belum?" Bukannya menjawab Jazz justru balik bertanya, cowok itu juga sudah duduk di pinggir ranjang, tak lupa ia cek suhu tubuh gadisnya.
"Udah agak mendingan kok, kamu kenapa nggak pulang dulu!"
"Aku khawatir, sayang"
"Aku udah gapapa, Jazz. Kamu pasti belum makan kan!"
"Belum" jawab Jazz sembari menggeleng.
"Makan dulu ya, biar aku telfon bibik"
"Nggak usah, nanti kalau aku lapar ambil sendiri dibawah"
"Nanti kamu sakit, kalau telat makan"
"Nggak, sayang. Kita periksa ya, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa" ucap Jazz untuk sekian kalinya berusaha membujuk Vyona, namun jawaban Vyona masih tetap sama, gadis itu tidak mau dibawa kerumah sakit.
"Aku gapapa, tadi udah minum obat. Dan ini udah mendingan juga kok" ujarnya sembari menangkup kedua pipi Jazz.
"Maafin aku, aku gagal jagain kamu"
Vyona benci ini, Vyona benci ketika Jazz menyalahkan dirinya sendiri. Padahal Vyona sudah bilang kalau ini bukan salah cowok itu, akan tetapi cowok itu tetap kekeh menyalahkan dirinya sendiri.
"Sayang" Vyona berusaha memanggil Jazz yang saat ini masih sibuk menciumi tangannya.
"Iya, sayang. Kenapa?" Ucapnya sembari menatap kedua mata Vyona.
"Kamu dari dulu nggak pernah berubah, dulu waktu kita kecil kamu pernah janji buat selalu jagain aku. Dan ketika aku terluka, kamu bakal nangis paling keras padahal yang jatuh dan terluka aku, kamu juga bakal nyalahin diri kamu" ucap Vyona sembari menerawang masa lalu. "Dan sekarang pun kamu masih seperti itu, selalu nyalahin diri kamu, padahal aku nggak suka Jazz"
"Ona, kamu tau aku pernah kehilangan kamu selama bertahun-tahun, dan kali ini aku nggak mau gagal lagi"
"Aku udah besar, nanti kalau kamu udah ke London, aku harap kamu bener-bener bisa fokus"
"Kamu beneran gapapa kalau aku pergi jauh?"
__ADS_1
"Aku gapapa" jawab Vyona sembari tersenyum. "Yang dilakuin ayah kamu kan juga buat masa depan kita"
"Nanti kalau aku pergi, kamu jangan nakal ya" ucap Jazz sembari memeluk Vyona, kepergiannya ke London memang masih kurang tiga bulan lagi, akan tetapi rasanya Jazz benar-benar berat untuk meninggalkan gadisnya.
"Jazz, kalau kamu tanya aku gapapa tentu saja aku kenapa-kenapa. Jujur aku belum siap kalau kita harus pisah lagi, tapi itu semua juga buat masa depan kita, lantas aku bisa apa" gumam Vyona dalam hati, gadis itu juga membalas pelukan Jazz tak kalah eratnya.
******
"VYONA" Ghea langsung berteriak heboh ketika baru saja masuk kedalam kamar Vyona.
"Astagfirullah, ge. Budek gue lama-lama kalau loe teriak-teriak kayak gini"
"Gimana keadaan loe, V?" Tanya Riri yang kini masih berdiri diambang pintu.
"Udah enakan kok"
"Aku sama Riri mau nginap di sini, jadi kamu nggak akan kesepian deh" ucap Ghea dengan wajah sumringah.
"Ashh mending pada pulang aja deh, gue tau Ujung-ujungnya kalian pasti ngerusuh"
"Enak aja. Ghea aja tuh, gue sih nggak" ketus Riri, gadis itu tak terima jika dibilang suka buat rusuh, walaupun pada kenyataannya dirinya dan Ghea memang sama saja.
"Serah lu dah" ucap Vyona sembari berbaring dan bersembunyi dibawah selimut.
"V, ayo ngedrakor" ucap Riri sembari membuka paksa selimut Vyona.
Nahkan apa Vyona bilang, pasti kedua temannya itu akan berbuat obat.
"Woii gue ini lagi sakit, bisa lebih slow dikit nggak sih"
"Letoi ndasmu, gue ini masih lemes"
"Iye-iye sorry bestie" ucap Riri sembari memeluk Vyona. "Ge, loe ambil camilannya Vyona gih"
"Oke" ujar Riri sembari bergegas menuju dapur.
Sementara itu Riri langsung mengambil laptop milik Vyona yang berada diatas meja belajar, setelahnya ia segera berunding dengan Vyona tentang drama apa yang ingin mereka tonton.
"Astagfirullah, bocah anzengg. Loe nguras isi kulkas gue atau gimana Weh" Vyona langsung ngegas ketika Ghea kembali dengan membawa sekantong plastik besar, dan sudah pasti camilan Vyona yang ada didalam kulkas Ghea ambil semuanya.
"Dikit doang, V. Lagian tadi sama Abang boleh kok, katanya nanti biar dibelikan sama kak Eksa"
"Serah lu dah"
Pada akhirnya malam ini ketiganya menghabiskan malam hanya untuk menonton drama, ketiganya larut dalam kisah cinta pada drama tersebut.
"Udah matiin, ge"
"Tanggung ini, Ri"
"Lanjut besok, ini Vyona udah tidur. Kasiankan kalau sampai keganggu"
"Iyaudah deh"
Pada akhirnya Ghea hanya bisa menurut, ia segera mematikan laptop milik Vyona dan mengembalikannya ke tempat semula. Setelah selesai ia segera merebahkan tubuhnya disamping Vyona sebelah kanan, sedangkan disebelah kiri ada Riri yang juga sudah mulai memejamkan matanya, bahkan gadis itu memeluk Vyona. Ghea yang melihat hal itu pun juga tak mau kalah, ia juga ikut memeluk Vyona.
__ADS_1
"Selamat malam sahabat aku, semoga kalian mimpi indah ya" gumam Ghea sebelum akhirnya ia memejamkan kedua matanya.
*****
Jam menunjukkan pukul 04.00 dan Vyona sudah terbangun, gadis itu segera menuju kamar mandi untuk mandi dan juga mengambil air wudhu. Takutnya nanti kalau menunda mandi malah akan berebut dengan kedua temannya.
Setelah hampir setengah jam, Vyona pun telah selesai mandi. Begitu ia keluar kedua temannya ternyata masih tertidur dengan lelapnya.
"Kan belum bangun, emang kebo banget mereka ini" gumam Vyona sembari berjalan mendekati kedua temannya.
"Riri, Ghea bangun. Ayo berangkat sekolah" ucap Vyona sembari menepuk-nepuk pantat Ghea, dan juga Riri secara bergantian.
"Jam berapa sih, V? Gue masih ngantuk banget" gumam Riri masih dengan mata tertutup.
"Jam setengah tujuh ini, loe nggak mau sekolah"
Mendengar jawaban Vyona, Riri dan Ghea pun secara bersamaan langsung terbangun.
"Anj*ng kenapa loe nggak bangunin kita sih, V"
"Lah ini gue bangunin loe, udah pada ambil air wudhu sana. Gue mau sholat duluan" ucap Vyona sembari terkekeh, sebelum akhirnya ia bersiap-siap untuk menunaikan ibadah shalat subuh.
"Lah si monyet, ini baru setengah lima. Tadi dia bilang setengah tujuh" ucap Riri begitu sadar jika jam di dinding menunjukkan pukul 04.30 "udah kayak emak gue aja si, Vyo"
"Udah ahh, aku mau mandi"
"Heh bego jangan mandi dulu, kalau loe mandi nanti gue kesiangan sholat subuhnya"
"Iya udah aku cuci muka sama wudhu duluan"
Begitu Ghea pergi ke kamar mandi, Riri justru kembali berbaring sembari memainkan ponselnya.
Namun ketika ia membuka akun media sosialnya, ia dibuat kaget dengan unggahan terbaru Karel.
"Gila nih orang"
"Siapa?" Tanya Vyona yang baru saja selesai sholat.
"Karel"
"Kenapa?"
"Ini tangan loe kan, V" ucap Riri sembari menunjukkan layar ponselnya kepada Vyona.
Sementara itu Vyona hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan yang Riri berikan.
"Wah gila, kalau Jazz tau apa nggak ngamok dia"
"Gue rasa nggak"
"Kenapa gitu?"
"Karena dia udah pasti percaya gue, sebanyak apapun cowok yang berusaha deketin gue, atau mau sekeras apapun usaha Karel buat dapetin hati gue. Gue bakal tetep milih Jazz"
"Dihh, si bucin" gumam Riri sembari memasang wajah jijik yang seolah-olah ingin muntah.
__ADS_1