
Sesampainya dirumah Kenan langsung marah-marah, bahkan ia membanting beberapa barang hingga membuat istrinya merasa heran sendiri.
"Pa, kamu ini kenapa? Kenapa setelah pulang dari pesta kamu marah-marah kayak gini?"
"Gimana aku nggak marah, kamu tau gentala grup mengakusisi perusahaan kita ternyata karena tidak terima Karel telah menyakiti hati adik dari CEO gentala grup" ucap Kenan menggebu-gebu. "Ternyata gadis yang selama ini kita cari adalah mantan pacar Karel, ma"
Dewi yang mendengar penjelasan dari suaminya nampak terkejut, ternyata mantan pacar putranya itu bukan gadis sembarangan, dia adalah anak seorang pengusaha terkenal.
Dewi nampak menatap Karel dengan sengit, sebelum akhirnya satu tamparan keras ia layangkan pada pipi kiri Karel.
"Ini semua gara-gara kamu, dasar anak bodoh. Keluarga kita jadi seperti ini gara-gara kebodohan kamu Karel" ucap Dewi tak kalah emosinya dengan Kenan.
"Dari tadi Karel terus yang disalahin, bahkan papa sama Mama aja juga nggak sadar kan kalau Vyona ternyata anak orang paling berpengaruh di kota ini. Jangan egois dan terus-terusan nyalahin Karel. Bahkan dulu papa juga minta Karel buat ninggalin Vyona" ucap Karel sembari bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
"Ahh, br*ngsek. Mama nggak mau tau pokoknya gimanapun caranya, kamu harus bisa mendapatkan gadis itu lagi" teriak Dewi sembari menatap punggung Karel yang kian menjauh.
Karel berusaha menulikan pendengarannya, terserah saat ini ia hanya butuh ketenangan. Mau melawan kedua orangtuanya pun Karel juga tidak akan mampu, pada akhirnya nanti Karel juga akan mengikuti keinginan kedua orangtuanya.
Disaat kacau seperti ini Kemal adalah tempat ternyaman bagi Karel bersandar. Alih-alih masuk kedalam kamarnya, Karel justru masuk kedalam kamar kemal yang berada disamping kamarnya.
Setelah masuk kedalam kamar kemal, Karel kunci kamar itu setelahnya tersenyum hangat kepada adiknya yang berada diatas ranjang.
"Abang kenapa?" Tanya kemal ketika Karel sudah berbaring disampingnya dan langsung memeluknya. Kemal tau kalau Karel pasti habis dimarahi oleh mama dan papa.
"Abang gapapa kok, cuma kangen aja sama loe" dusta Karel.
Apa Karel fikir jika kemal itu anak kemarin sore yang dengan gampangnya dibohongi, jelas-jelas tadi kemal mendengar keributan yang diciptakan oleh kedua orangtuanya, bahkan kedua orangtuanya menyudutkan Abangnya itu.
Kemal usap lembut punggung Karel, kemal tidak tau berapa banyak beban yang Karel pikul. Dan disaat seperti ini kemal selalu merasa bersalah karena tidak bisa berbuat apapun untuk membantu dan melindungi sang kakak.
"Maafin gue ya, bang. Gue nggak berguna, gue cuma bisa nyusahin" ucap kemal sendu, bahkan tanpa terasa air mata kemal sudah lolos begitu saja.
"Ngomong apa sih loe, loe tau nggak sih mal, kalau loe itu anugerah paling indah yang Tuhan kasih buat keluarga kita"
Bungkam, kemal hanya bisa diam. Ia tak ingin membantah omongan sang kakak, apalagi sekarang terlihat sangat jelas jika Karel sedang banyak fikiran.
"Tidur disini ya, bang. Temenin gue, udah lama juga loe nggak tidur di kamar gue bang" pinta kemal sembari memeluk Karel dari samping.
Nyaman, itu yang dirasakan Karel saat ini. Pelukan kemal memang selalu memberi kenyamanan tersendiri untuk Karel, atau bahkan pelukan kemal menjadi obat bagi Karel.
Dengan perlahan Karel tersenyum dan mengangguk. Karel fikir kemal ada benarnya, memang sudah lama Karel tidak tidur bersama sang adik sejak masalah di keluarganya datang silih berganti.
__ADS_1
*****
"VYONA" Ghea langsung berteriak heboh ketika baru saja datang bersama dengan Rafa.
Setelah duduk gadis itu bergegas membuka tasnya dan mengambil sebuah kotak makan dan langsung diserahkan kepada Vyona.
"Apanih?" Tanya Vyona dengan alis yang memicing.
"Nasi goreng buat kamu. Tadi mama masakin spesial"
"Dari Tante Dea?" Tanya Vyona dan langsung di jawab anggukan oleh Ghea.
Vyona tersenyum senang ketika menerima bekal yang mamanya Ghea berikan untuknya. Hampir setiap hari jika Ghea menelfonnya wanita paruh baya itu selalu ikut menimbrung, Tante Dea bilang kalau beliau sangat merindukan Vyona dan meminta Vyona untuk sesekali menginap lagi di rumah Ghea.
"Enak" ucap Vyona sembari menyantap nasi goreng itu dengan lahapnya. Mungkin ingatan Vyona boleh hilang, akan tetapi rasa makanan ini benar-benar terasa tidak asing bagi Vyona.
"Mama bilang kangen sama anak keduanya, mama bilang cepet sembuh, V. Mama kangen bercanda sama kamu lagi" ucap Ghea dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Bilang sama Tante, kalau gue juga kangen" ucap Vyona sembari memeluk Ghea.
Sementara itu Rafa dan juga Jazz yang duduk tepat di belakang Vyona dan Ghea hanya bisa menonton drama pagi hari yang di mainkan langsung oleh kekasihnya.
"Kasih judul apa nih boss?" Tanya Rafa sembari bersidekap dada.
"Nggak cocok, lebih bagus kalau ratapan anak tiri"
"Loe goblok emang, fa. Emaknya Ghea kagak nikah sama bokapnya Queen, gimana bisa anak tiri"
"Lah iya juga, boss. Terus apanih judul yang cocok!"
"Terserah loe aja deh" sahut Jazz sembari mulai menelungkupkan kepalanya diatas meja, ngapain juga dirinya jadi ikut-ikutan Rafa yang random. Jazz fikir lama-lama Rafa ketularan Andi, semakin tidak jelas.
******
"Mau langsung pulang, atau mau jalan-jalan dulu?" Tanya Jazz begitu dirinya dan Vyona sampai di parkiran.
"Kalau mau jalan dulu boleh?"
"Boleh, mau kemana emang?"
"Kemana aja yang penting sama kamu" jawab Vyona dengan wajah yang terlihat sumringah.
__ADS_1
Namun ketika baru saja akan naik ke atas motor Jazz, tangan Vyona ditarik oleh seseorang hingga membuat tubuh Vyona terhuyung ke belakang.
"Loe apa-apaan sih!" Seru Vyona sembari menatap tajam sang pelaku, yang tidak lain adalah Aretha.
"Loe apain Karel, sampai dia putusin gue!"
Vyona berdecih pelan ketika Aretha datang dan langsung menuduh dirinya seperti itu. Vyona rasa gadis yang ada di depannya ini sudah gila.
"Kalau loe di putusin ya loe nanya sama cowok loe dong, ngapain loe malah nyamperin gue dan nuduh gue yang nggak-nggak" ucap Vyona dengan ngegas "atau dia mutusin loe karena udah dapat yang baru, yang lebih baik dari loe. Ya kalaupun bener, anggap aja karma ya, ta. Kan dulu loe juga rebut Karel dari gue, jadi kalau sekarang Karel di rebut cewek lain, ya berarti karma Tuhan masih berlaku" lanjutnya sembari tersenyum mengejek, sebelum akhirnya Vyona naik ke atas motor Jazz dan segera mengajak cowok itu pergi.
Disepanjang perjalanan Vyona hanya diam saja, Jazz pun paham jika gadisnya sekarang sedang dalam kondisi kesal setelah dituduh yang bukan-bukan.
Setelah beberapa saat Jazz memilih menghentikan motornya tepat pada taman kota, karena ia sendiri juga tak tau akan membawa Vyona kemana.
"Mau ice cream nggak?" Tanya Jazz ketika tak jauh dari situ ada penjual ice cream.
"Nggak" jawab Vyona masih dengan wajah yang ditekuk.
"Udah jangan difikirkan lagi, gimana kalau kita naik sepeda!" Seru Jazz sembari mengelus puncak kepala Vyona.
"Mau" ucap Vyona dengan penuh antusias.
Jazz segera menggandeng tangan Vyona untuk menuju tempat penyewaan sepeda.hingga pada akhirnya sore ini Jazz dan Vyona lalui dengan bermain sepeda, keduanya saling kejar dan tertawa dengan lepas .
"Indah Tuhan" gumam Jazz sembari menatap Vyona yang masih lari-lari sembari berputar-putar.
Sebelum akhirnya gadis itu berhenti dan terlihat memegangi kepalanya, sontak saja hal itu membuat Jazz khawatir.
"Kamu kenapa?" Tanya Jazz sembari memegang kedua pundaknya Vyona.
"Kepalaku pusing Jazz"
"Kan, makannya jangan muter-muter kayak tadi Queen"
"Tapi tadi aku ingat, aku dulu pernah berputar-putar sama seorang anak laki-laki Jazz"
Jazz hanya tersenyum lalu membawa Vyona kedalam pelukannya. "Pelan-pelan, kamu pasti bakal ingat lagi. Jangan pernah di paksain buat mengingat ya"
"Iya" ucap Vyona singkat. Vyona ingat betul kalau anak laki-laki tadi adalah orang yang sama dengan foto yang ada di dalam kamarnya, sebenarnya siapa anak laki-laki itu kenapa sekelebat ingatan itu justru mengarah pada anak laki-laki itu.
"Pulang, ya. Udah sore, takutnya papa kamu nyariin " ucap Jazz memecah keheningan setelah cukup lama keduanya saling diam.
__ADS_1
"Iya"