I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
air got


__ADS_3

Pagi ini suasana rumah Vyona begitu ramai dipenuhi oleh sanak keluarga dan juga para tetangga yang mengucapkan bela sungkawa.


Alan dan Areksa sedari tadi hanya menatap kosong pada tubuh Dahlia yang kini sudah terbujur kaku didepannya, dua cowok tampan itu terlihat sangat kacau karena dari semalam terus menerus menangis.


Ditengah-tengah keramaian itu ada juga Ghea, Rafa, Riri, Andi, Astrid, dan juga Niko. Namun dari banyaknya orang disana tak mereka dapati Vyona, dan juga Jazz, entah pergi kemana mereka berdua.


"Si boss sama Vyona kemana?" Tanya Andi pada Rafa.


"Mana gue tau, gue kan juga baru datang bareng sama loe bego"


Dari semalam setelah jenazah dipulangkan ke rumah duka, Vyona memang tidak mau keluar dari dalam kamar, bahkan Jazz sudah membujuknya sebanyak ratusan kali tapi Vyona tetap kukuh tidak mau turun.


"Queen" panggil Jazz sembari membelai Surai hitam legam milik Vyona. Gadis itu terus saja bersandar pada dada bidangnya.


Menangis! Tidak, Vyona sama sekali tidak mengeluarkan air matanya setelah ia pingsan kemarin. Gadis itu jadi lebih banyak diam, dan hanya memainkan jari tangan Jazz.


"Kita turun ya, ini pasti sebentar lagi Tante bakal dimakamkan"


Lagi-lagi Vyona hanya bisa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Untuk terakhir kalinya, ayo kita antar mama kamu sampai ke peristirahatan terakhirnya. Ikhlas Queen, semua orang pasti akan berpulang. Kita sebagai manusia hanya bisa menunggu giliran aja"


"Aku nggak sanggup kalau harus turun Jazz. Aku takut"


"Jangan takut, ada aku disini. Aku bakal selalu ada disamping kamu, ayo sekarang kita turun. Kak Areksa sama yang lainnya pasti udah nungguin"


Dengan sangat terpaksa akhirnya Vyona mau juga diajak untuk turun kelantai dasar. Dari ujung tangga dapat Vyona lihat disana sudah ada banyak sanak keluarga yang berkumpul, mulai dari keluarga besar mamanya, dan juga keluarga besar papanya.


Sampai pada akhirnya fokus Vyona tertuju pada jenazah sang mama. Rasanya Vyona benar-benar ingin menganggap kalau ini hanya bercandaan saja, tapi lihatlah mamanya terlihat sangat betah menutup matanya.


"Ayo" ajak Jazz sembari mengusap lembut pundak Vyona.


"Ayo V, dicium dulu mamanya. Tapi air matanya jangan sampai jatuh mengenai mamamu ya" ucap Tante melati.


Vyona menatap Tante melati dengan sedikit ragu, karena begitu ia menuruni anak tangga tadi air mata Vyona tiba-tiba saja langsung keluar membasahi pipinya.


"Gapapa, untuk terakhir kalinya" ucap Tante melati sembari menggenggam lembut tangan Vyona. Tante melati adalah kakak dari Dahlia, Vyona memang lumayan dekat dengan beliau, Tante melati pun juga sangat menyayangi Vyona, tapi sayangnya Vyona jarang sekali bisa bertemu dengan Tante melati karena beliau tinggal di Surabaya.


Dengan ragu Vyona menghapus air matanya dan segera mencium kening sang mama. Dingin, itu yang Vyona rasakan. padahal kemarin tubuh itu masih penuh dengan kehangatan, bahkan kemarin mamanya masih bisa membalas pelukannya.


Setelah cukup lama mengecup sang mama Vyona segera menghambur memeluk Jazz, ia sembunyikan wajahnya pada dada bidang milik cowok itu, mungkin sekarang dada Jazz menjadi tempat favorit Vyona untuk menyembunyikan segala lukanya.


******


Allahuakbar Allahuakbar.....


Agra benar-benar tak menyangka akan berada di situasi seperti ini. Dengan suara bergetar Agra mengumandangkan adzan di dalam liang lahat, berdiri tepat disamping jenazah sang istri yang kini sudah terbaring kaku. Dada Agra rasanya sesak, sungguh ini sangat berat untuknya. Melepaskan pujaan hatinya untuk selama-lamanya, air matanya pun sudah tak mampu ia bendung lagi.


Vyona sedari tadi menangis, bahkan gadis itu sudah jatuh pingsan berkali-kali di pelukan Jazz.


Areksa? Cowok itu sedari tadi juga menangis sesegukan disamping sang papa.


Sedangkan Alan, dia hanya bisa diam. Berusaha menyangkal bahwa semua ini hanyalah mimpi. Tapi nyatanya, disinilah ia berada sekarang. Berdiri kaku disamping Om dan juga sepupunya ikut andil untuk menguburkan jenazah tantenya, wanita yang selama ini sudah merawat dirinya, wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu kedua. Matanya menatap lurus wajah Dahlia untuk yang terakhir kalinya, tak pernah terlintas sedikitpun dalam fikiran Alan, kalau ia akan kembali ditinggalkan oleh orang yang ia sayangi.


Tangisan semakin menjadi-jadi ketika secara perlahan tanah mulai dimasukkan kedalam lahat. Vyona hanya bisa menatap pilu gundukan di depannya, sudah tidak bisa ia lihat lagi sosok mamanya, mamanya benar-benar sudah menghilang dan menyatu dengan tanah.

__ADS_1


Setelahnya Arga, Vyona, Areksa, dan juga Alan menaburkan bunga disepanjang gundukan tanah itu, lalu disusul oleh Tante melati dan juga suaminya.


Setelah acara pemakaman selesai, semua orang telah bubar pergi meninggalkan area pemakaman, kini hanya tersisa Vyona, Areksa, Alan, Arga, dan juga Jazz.


"Anak-anak ayo kita pulang, biarkan mama kalian beristirahat dengan tenang"


"Vyo masih mau disini" ucap Vyona ketika sang papa, kakak, dan juga Abang mulau beranjak untuk pergi.


"Biar saya yang temani Queen, om"


"Om titip Vyona ya Jazz" ucap Agra sembari menepuk pundak Jazz.


"Iya, om"


Setelah kepergian Arga, dan yang lainnya. Yang Vyona lakukan hanya melamun sembari menatap gundukan tanah didepannya.


"Queen"


"Mama udah nggak ada Jazz" ucapnya dengan suara yang serak. "aku udah nggak bisa lihat mama lagi. Kalau aku bisa memilih, aku akan memilih mama pukul aku terus-menerus dari pada aku harus kehilangan mama kayak gini"


"Di dunia ini nggak ada yang tau sampai kapan kita hidup, karena sejatinya hanya Allah yang tau. Ikhlasin Tante ya, biar beliau tenang diatas sana"


"Kamu mau janji sesuatu sama aku!" Ucap Vyona sembari menatap mata teduh milik Jazz.


"Tentu, kamu mau aku berjanji apa?"


"Jangan pernah tinggalin aku ya" ucap Vyona sembari mengulurkan hari kelingkingnya.


"Aku janji, tapi jika Allah ambil aku lebih dulu. Kamu harus ikhlas, karena mungkin satu-satunya hal yang bisa membuat aku mengingkari janji itu adalah kematian"


******


Sudah hampir dua Minggu semenjak kepergian Dahlia, dan selama itu juga Vyona lebih banyak diam. Sesekali gadis itu juga kembali membully Andin, zhavira, maupun Radit.


Seperti saat ini, setelah pulang sekolah Vyona mengguyur Radit menggunakan air got, hingga membuat cowok berkacamata itu basah kuyup dan bau.


"Vyona, ampun. Aku salah apa sih"


"Salah loe lemah. Loe cowok kan, tapi kenapa setiap kali loe di ganggu loe nggak mau lawan, atau jangan-jangan loe banci ya" ucap Vyona sembari terkekeh dan disusul oleh tawa renyah Riri dan juga Astrid. Sedangkan Ghea, cewek itu hanya mampu menatap iba pada Radit, mau membantu pun juga nggak bisa karena bagaimanapun orang yang telah membully cowok itu adalah sahabatnya.


Dari kejauhan Jazz, Rafa, Andi, dan Niko hanya bisa melihat aksi Vyona sembari bersidekap dada.


"Loe nggak ada niat buat nenangin Vyona, Jazz?" Tanya Niko sembari melirik Jazz yang kini tengah berdiri tepat disampingnya.


"Nggak, biarin aja. Kita lihat aja mau diapain lagi itu bocah" jawab Jazz sembari terus menatap lurus ke depan.


Namun tak berselang lama Karel datang bersama dengan Aretha dan juga zhavira.


"Loe gila ya!" Karel langsung saja membentak Vyona begitu melihat Radit yang sudah kotor dan bau.


"Dari dulu gue emang gila, emang bapak ketua OSIS yang terhormat baru sadar" ucap Vyona dengan santainya seolah-olah ia tidak sedang melakukan kesalah apapun.


"Loe jahat tau nggak, salah dia sama loe apa? Sampai loe selalu gangguin dia"


"Urusan loe apa?" Tanya Vyona sembari berjalan maju, mengikis jarak antara dirinya dan juga Karel. Matanya menatap Karel dengan tajam, sudah seperti burung elang yang tengah mengincar mangsanya.

__ADS_1


"Gue ketua OSIS disini, jadi gue harus melindungi teman-teman gue dari orang gila kayak loe" ucap Karel tak kalah berani dengan Vyona, cowok itu juga menatap Vyona dengan tajam.


Byurrr...


Lagi, namun kali ini Vyona bukan menyiram Radit, melainkan menyiram Karel dengan air got yang tadi juga Vyona gunakan untuk menyiram Radit


"Anjing" Karel langsung mengumpat, begitu Vyona menyiram dirinya. Karena terlalu fokus menatap mata gadis itu, hingga membuat Karel tidak sadar jika Vyona telah bersiap untuk menyiram dirinya.


"Cewek jahat kayak loe, sampai kapanpun juga nggak akan ada yang mau. Gue merasa lega karena gue bisa lepas dari iblis kayak loe"


"Kata siapa nggak ada yang mau!" Jazz yang baru saja datang langsung saja memeluk pinggang Vyona dengan posesif. "Gue mau kok, nyatanya sekarang dia cewek gue brow. Gue juga mau mengucapkan terimakasih sama loe, karena loe udah lepasin berlian yang begitu berharga ini"


"Buang berlian buat batu kali" sarkas Niko, sembari tersenyum mengejek.


"Sayang ayo pulang, jangan kotori mulut kamu buat ngomong sama sampah kayak mereka" ucap Jazz sembari menyelipkan anak rambut Vyona kebelakang telinga.


"Kamu nggak jadi latihan?"


"Latihan diundur besok, yaudah yuk pulang"


"Oke"


Pada akhirnya Vyona, Jazz dan juga yang lainnya pergi meninggalkan Radit, Karel, Aretha, dan juga zhavira.


"Sial gue jadi kotor kayak gini" ucap Karel sembari mengepalkan kedua tangannya.


"Karel kamu gapapakan?" Tanya Aretha sembari membantu membersihkan tubuh Karel dengan tisu.


"Aku gapapa, yaudah ayo kita pulang"


"Tapi kamu basah, mendingan ganti baju dulu"


"Nggak usah, aku gapapa" jawab Karel sembari tersenyum, bagi Karel Aretha yang terlihat khawatir seperti itu jadi lebih menggemaskan.


"Loe bisa pulang sendiri kan?" Tanya Karel pada Radit


"Bisa kok, makasih ya udah nolongin aku. Dan maaf, karena kamu nolongin aku, kamu jadi ikut kotor"


"It's oke, gue gapapa kok. Yaudah kalau gitu kita cabut dulu"


"Iya, hati-hati rel"


"Oke"


******


"Kamu marah ya sama aku?" Tanya Vyona ketika dari tadi Jazz hanya diam saja.


"Nggak kok. Kenapa aku harus marah"


"Kan aku ngebully orang lagi. Padahal permintaan pertama kamu waktu itu minta aku buat berubah dan nggak ngebully lagi"


"Aku emang minta itu, tapi semua kan juga butuh proses. Aku juga nggak minta kamu untuk berubah secara langsung, karena aku tau kamu nggak akan bisa" ucap Jazz sembari mengacak-acak rambut Vyona.


"Tuhan, terimakasih karena engkau sudah hadirkan pria sebaik dia di dalam hidupku" gumam Vyona dalam hati, gadis itu pun segera memeluk Jazz dari samping.

__ADS_1


"Andaikan Jazz datang lebih dulu, maka aku akan memilih untuk langsung jatuh cinta sama dia, tanpa harus jatuh cinta terlebih dahulu dengan Karel. Hey, tuan bersiaplah aku akan mengejar hatimu sampai akhirnya kamu benar-benar menjadi milikku" ucap Vyona dalam hati sembari menatap Jazz.


__ADS_2