I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
panti


__ADS_3

Semingu setelah kejadian itu, Vyona sudah nampak biasa saja. Bukan karena sebab, itu karena semua orang terdekatnya menasehati dirinya untuk mengikhlaskan perpisahan kedua orangtuanya.


Jazz bilang dirinya egois jika terus menerus menentang perpisahan kedua orangtuanya, sedangkan Vyona tau betul kalau hubungan kedua orangtuanya memang sudah tidak bisa diperbaiki.


Jazz juga bilang secara tidak langsung Vyona telah menyiksa batin papanya, hal itu yang membuat Vyona benar-benar merenung. apa benar kata Jazz jika selama ini dirinya sudah sangat egois, apakah benar selama ini dirinya telah menyiksa batin sang papa, ahh jika itu benar dirinya benar-benar merasa bersalah sekali.


Brukk


Ketika baru saja Vyona kembali dari kantin, tak sengaja Andin menabrak dirinya hingga membuat seluruh buku yang Andin bawa jatuh berserakan.


"Anjir mata loe, loe taruh mana sih ndin!"


"Ma... Maaf V, aku nggak sengaja" ucap Andin sembari menunduk dan tak berani menatap mata Vyona. Andin tau setelah Vyona berpacaran dengan jazz, Vyona sudah sedikit berubah. Namun itu tak merubah kenyataan kalau Andin akan selalu takut kepada gadis yang kini berdiri didepannya.


Dalam diamnya Andin meremat rok sekolah, bahkan gadis itu nampak keringat dingin. Dalam hati ia berdoa semoga Vyona segera melepaskan dirinya.


"Ngapain loe nunduk gitu?"


"Ma.. maaf V" hanya kata itu yang dapat keluar dari mulut Andin.


Diluar dugaan Andin, Vyona justru berjongkok ikut membantu Ghea membereskan buku-buku yang dibawa oleh Andin tadi.


"Nih, lain kali hati-hati. Nih gue ada roti sama susu, dimakan ya" ucap Vyona sembari menyerahkan buku-buku ditangannya kepada Andin, tak lupa sebungkus roti dan sebotol susu.


"Emtt, nggak udah V. Inikah punya kamu, nanti kamu malah kelaparan kalau kamu kasih aku"


"It's oke. Itu mau gue kasih ke cowok gue, tapi kelihatannya anaknya nggak jadi latihan tuh" ucap Vyona sembari menunjuk kearah belakang Andin.


Dan benar setelah Andin menoleh, dibelakangnya sudah ada Jazz dan kedua temannya.


"Nggak jadi latihan?" Tanya Vyona begitu Jazz sudah berdiri disampingnya dan merangkul pundaknya.


"Nggak jadi, anak-anak lagi pada males" bukan Jazz yang menjawab melainkan Rafa. sedangkan Jazz, cowok itu malah asik mengendus-endus rambut Vyona.


"Kamu kenapa sih?" Tanya Vyona dengan sedikit heran.


"Gapapa kok. Kamu nggak lagi habis ngebully anak orang kan?"


"Mana ada. Aku tadi udah beliin kamu roti sama susu, tapi aku bagi ke Andin. Yaudah ke kantin yuk, aku kita beli lagi. Kamu belum makan apa-apa dari pagi tadi, aku takut kamu sakit lagi"


"Males Queen"


"Nggak ada males-malesan, udah ayo"


Dengan sangat terpaksa, Jazz hanya bisa menurut ketika Vyona menariknya kekantin. Padahal sejujurnya Jazz sangat malas untuk makan, hal itu dikarenakan Andi menyimpan dua ekor bebek di gudang basecamp. Hal itu baru Jazz dan Rafa ketahui kemarin setelah keduanya pergi ke basecamp, dan ada salah satu temannya melapor jika Andi menyimpan bebek di gudang kosong. Dan benar setelah jazz dan Rafa cek gudang itu sudah sangat bau dengan kotoran bebek bercampur dengan makanan bebek yang sudah basi.


"Masih marah sama Andi?"


"Nggak marah, cuma kesel aja"


"Bohong tuh V, kemarin aja begitu tau gue melihara bebek di basecamp, si boss langsung telfon gue. Dan lebih parahnya lagi, malem-malem gue disuruh ngepel"


"****** loe, udah ngotorin rumah gue. Masih berani nyolot" ucap Jazz sembari berapi-api.


"Ampun boss"


"Ya lagian loe gabut banget sih ndi, ngapain melihara bebek di basecamp!"


"Abisnya imut sih V "


"Imut ndasmu" ucap Jazz dan Rafa secara bersamaan.


"Kok kamu jadi mirip Riri yang suka bebek sih ndi" ucap Ghea sembari menatap heran Andi.


"Lah loe bener ge, Riri kan si ratu bebek" timpal Vyona.


"Ishh apaan sih jadi bawa-bawa Mak lampir satu itu"


"Baik-baik loe ndi, ntar jatuh cinta baru tau rasa" ucap Vyona berusaha menggoda Andi.


"Dihh amit-amit, jangan sampai deh"

__ADS_1


*****


"Ingat jangan sampai ada yang tau kalau yang menyuruh kalian adalah saya" ucap Dahlia kepada tiga preman yang kini berdiri di depannya.


"Beres boss"


"Tapi anak ini terlihat sangat mirip dengan anda boss"


"Dia memang putri saya, tapi saya tidak pernah menganggapnya ada"


"Kenapa nggak langsung singkirin aja boss?"


"Itu terlalu enak buat dia. Saya ingin dia merasakan hidup bagaikan di neraka" ucap Dahlia sembari mengangkat sebelah bibirnya.


"Anda benar-benar gila boss"


"Sudah sana pergi, pagi tadi dia bawa mobil sendiri dan nggak di jemput sama pacarnya, jadi kalian akan lebih gampang menjalankan pekerjaan kalian"


"Baik, kami pergi dulu boss" pamit ketiga preman bawahan Dahlia.


"Vyona kamu tunggu saja pembalasan saya. Dasar anak tidak tau diri, harusnya dulu saya tidak melahirkan kamu, jika pada akhirnya saya harus kehilangan mas Agra"


Dahlia sangat geram ketika kemarin ia benar-benar menerima surat dari pengadilan, kenyataan bahwa Agra menggugat cerai dirinya benar-benar sangat melukai hatinya.


Jujur saja dari dulu hingga sekarang hanya Agra yang Dahlia cintai. sedangkan Tio mendiang ayah Vyona, itu hanya sebuah kesalahan.


*****


Setelah pulang sekolah Vyona segera mengganti bajunya, hari ini ia akan ikut Jazz dan juga teman-teman cowok itu untuk mengunjungi salah satu panti asuhan.


"Non mau kemana?" Tanya bik yam yang melihat Vyona keluar dengan tergesa-gesa.


"Vyo ada janji sama Jazz bik"


"Den Jazz nggak jemput?"


"Nggak bik, kita langsung ketemu di lokasi aja. Soalnya Jazz harus bantuin temen-temennya"


"Kalau gitu non Vyo hati-hati ya"


Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam, Vyona akhirnya sampai juga di panti asuhan yang Jazz maksud. Letaknya memang di pinggiran kota, jadi tak jarang yang tau lokasi itu. Bahkan Vyona pun harus di jemput oleh Jazz karena bingung arah.


"Buset cakep bener, bidadari darimana nih!" Seru salah satu teman Jazz.


"Jaga mata loe" tegur Jazz sembari menatap tajam Aldo.


"Pawangnya galak Al, awas loe kalau dimakan Ama pawangnya" ucap Andi sembari terkekeh.


"Wah jadi ini toh kakak ipar kita, cantik banget"


"Mereka kembar?" Tanya Vyona sembari menatap Aldo dan cowok yang baru saja keluar secara bergantian.


"Iya. Namanya Aldi, kalau yang tadi namanya Aldo. Terus yang pakai baju biru itu Agam, yang pakai baju putih itu Eric" jawab Jazz sembari mengenalkan teman-temannya.


"Anggota geng motor?"


"Kita nggak punya geng motor V. kita emang punya basecamp, tapi ya cuma buat ngasah kemampuan. Jadi loe tenang aja, nggak usah takut kalau Jazz bakal ikut-ikutan geng nggak jelas"


"Iya kakak ipar tenang aja, kita kalau kumpul paling-paling juga cuma buat modif motor. No, bikin rusuh"


"Ehh mas Jazz udah datang" ucap ibu panti yang baru saja keluar dengan membawa sebuah nampan yang berisikan poci dan beberapa buah gelas.


"Iya buk, tadi harus jemput dia dulu" jawab Jazz sembari melirik Vyona.


"Ini siapa mas Jazz?"


"Dia pacar Jazz buk" jawab Jazz dengan sedikit malu-malu, pasalnya ini memang untuk pertama kalinya ia mengenalkan seorang gadis apalagi gadis itu adalah kekasihnya. Ya, walaupun hanya pacar pura-pura saja.


"Cantik" puji ibu panti sembari tersenyum hangat ke arah Vyona. "Ini untuk pertama kalinya Jazz memperkenalkan pacarnya ke ibu"


"Ya karena dia jomblo sejak lahir kan buk" ucap Vyona sembari tersenyum dan disambut oleh kekehan yang lainnya.

__ADS_1


"Si mbak bisa aja" ibu panti pun terkekeh ketika Vyona mengeluarkan candaannya.


"Kak Jazz"


Dari kejauhan ada dua orang anak kecil yang berumur kurang lebih 6 tahun, berlari kearah Jazz dan langsung memeluk cowok itu.


"Hai princess apakabar?"


"Kita baik kok kak. Kakak Jazz dari mana kok baru kelihatan? padahal kakak Rafa sama kakak yang lainnya udah datang dari tadi"


"Kakak tadi lagi jemput kak Queen tuh" jawab Jazz sembari menunjuk Vyona yang kini berdiri tepat disampingnya.


"Hai adik kecil, kenalin aku kakak Vyona"


"Kakak itu namanya kak Vyona, kok kak Jazz manggilnya kakak Queen "


"Itu namanya panggilan spesial"


"Nama aku Sofia kak" ucap gadis yang lebih tinggi.


"Kalau aku Nayla kak. Aku pacarnya kakak Jazz "


Mendengar penuturan Nayla, Vyona pun hanya bisa tertawa, bagaimana gadis sekecil Nayla bisa secentil itu, bahkan di usianya yang masih tergolong kecil ia sudah tau cowok tampan.


"Kakak Jazz, kakak Vyona malah ngetawain Nayla" adunya pada Jazz sembari memasang wajah seimut mungkin.


"Heh bocil jelas Vyo ngetawain elu, orang dia yang pacarnya Jazz aja nggak pamer. Nah elu masih bocil, ngaku-ngaku jadi pacarnya Jazz" Andi membawa Nayla dalam pelukannya sembari menoel-noel pipi gembul Nayla.


"Kakak itu pacarnya kakak Jazz!"


"Iya, gimana cantik kan!"


"Jelek, masih cantik Nayla" ucap Nayla sembari meronta agar terlepas dari pelukan Andi, setelah terbebas gadis kecil itu pun langsung lari kedalam panti dengan mata yang berkaca-kaca.


"Yah ngambek deh"


"Gila sih boss, pesona loe emang nggak main-main. Sampai bocil kayak Nayla aja ngarep jadi cewek loe" ucap Aldi sembari tertawa. "kakak ipar, loe harus hati-hati. saingan loe banyak"


Tak ingin mempedulikan Aldi, Vyona pun berlari masuk untuk menyusul Nayla. Baru saja ia datang tapi sudah membuat anak orang menangis kan nggak lucu banget.


"Nayla" panggilnya ketika baru saja masuk kedalam sebuah kamar.


"Ngapain kesini! Pergi sana, nay benci kak Vyona"


"Nayla nggak boleh kayak gitu. Kak Vyona tamu disini" ucap Sofia berusaha menasehati teman sekamarnya.


"Habisnya kak Vyona udah rebut kak Jazz dari Nayla, Nayla kan jadi sebel"


"Kakak boleh ngomong nggak?" Tanya Vyona sembari berjongkok didepan Nayla.


"Nggak mau" ucap Nayla sembari memalingkan wajahnya.


"Kakak nggak pernah bermaksud merebut kak Jazz dari Nayla. Tapikan Nayla masih kecil, jadi nggak mungkin juga kan kalau kak Jazz jadiin Nayla pacarnya. Nanti kalau Nayla udah besar, semua keputusan kak Vyona serahin ke kak Jazz kok. Kakak bakal terima kalau kak Jazz lebih memilih Nayla dari pada kakak"


"Jadi Karena Nayla masih kecil ya, makannya kak Jazz nggak mau jadi pacar Nayla!"


"Iya, sekarang kita temenan ya" ucap Vyona sembari tersenyum.


"Oke deh, berhubung kakak cantik jadi Nayla mau temenan sama kakak"


"Tadi kamu bilang kak Vyona jelek, sekarang kamu bilang kak Vyona cantik. Dasar plin-plan " sarkas Sofia.


"Sofi berisik"


"Udah yuk keluar. Kasian kakak-kakak yang diluar pasti nunggu Nayla, sama Sofia"


Vyona pun menuntun kedua bocah cilik itu keluar dari dalam kamar, untuk ikut bergabung dengan yang lainnya.


"Kok bisa dia nggak ngambek lagi?"


"Vyona gitu"

__ADS_1


"Pacar siapa sih gemes banget" ucap Jazz sembari mengelus puncak kepala Vyona.


"Pacar kamu, tapi sayangnya cuma pura-pura ya Jazz. Boleh nggak kalau jadi pacar beneran! Kelihatannya aku udah mulai suka kamu" gumam Vyona dalam hati sembari berusaha mengontrol detak jantungnya.


__ADS_2