I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
mimpi


__ADS_3

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Hari ini tepat satu bulan Vyona menutup matanya dengan begitu damai, seolah-olah gadis itu begitu enggan untuk bangun.


Dan selama itu pula Jazz selalu setia menemani gadisnya berharap mata gadis itu segera terbuka dan menyambutnya dengan senyum manis.


Bahkan selama liburan kenaikan kelas Jazz sama sekali tak pergi kemanapun, segala keperluannya disiapkan oleh teman-temannya. Sampai sekarang pun Jazz masih selalu menemani gadis itu, Jazz akan pergi ketika waktunya untuk pergi sekolah saja.


Sebenarnya Jazz sangat geram karena sampai sekarang kasus tabrak lari yang melibatkan gadis kesayangannya belum menemui titik terang. Satu-satunya harapan mereka waktu itu adalah cctv di rumah haji Ali, tapi nyatanya cctv di rumah haji Ali mati karena sempat ada perbaikan listrik dirumah haji Ali. Hingga sekarang Jazz, Areksa, dan juga Alan hanya bisa memasrahkan semuanya kepada Tuhan, karena mereka tau Tuhan itu maha adil.


"Jazz, om pergi dulu ya. Om ada rapat" pamit Agra sembari membereskan file-file yang berserakan di atas meja. "Jangan lupa makan" lanjutnya sembari menepuk pundak Jazz sebelum akhirnya beranjak dari ruang rawat Vyona.


Setelah kepergian Agra, Jazz hanya melirik makanan yang sudah Agra siapkan untuknya. Lalu fokus cowok itu kembali pada gadis cantik yang sedang tidur di ranjang pesakitan, wajahnya terlihat begitu damai.


"Hai cantik, apa kabar?" Tanya Jazz sembari mengelus puncak kepala gadis itu. bodoh memang, padahal Jazz tau tanyanya tak akan pernah terjawab karena yang ditanya masih tidur dengan damainya.


"Tidur terus nggak capek apa! Ini udah tepat satu bulan kamu menutup mata" Jazz berucap dengan suara yang mulai bergetar, sesungguhnya ia begitu putus asa, ia benar-benar takut kalau Vyona lelah dan memilih untuk pergi meninggalkan dirinya.


"Kamu nggak kangen sama aku ya Queen?" Tanya Jazz dengan tertawa getir. Setiap hari pertanyaan itu selalu ia tanyakan kepada Vyona, walaupun responnya tetap sama, Vyona sama sekali tak menanggapi dirinya.


"Aku kangen banget sama kamu, jadi aku mohon bangun Queen. Kamu tidurnya kelamaan, aku jadi takut. Ta__ takut kalau kamu capek dan memilih pergi ninggalin aku" air mata Jazz semakin deras, hatinya terasa teremas oleh benda tak kasat mata.


"Kamu ingat nggak, kamu masih punya hutang sama aku" di tengah-tengah isakan tangisnya Jazz kembali mengingat kalau dulu Jazz pernah meminta tiga permintaan kepada Vyona, dan gadis itu baru mengabulkan satu permintaan Jazz, jadi masih sisa dua permintaan bukan!


"Sekarang aku minta permintaan yang kedua" ucap Jazz sembari menggenggam tangan Vyona "permintaan keduaku, aku cuma mau kamu bangun dan sehat seperti sediakala" lanjut Jazz sembari menelan ludah kasar.


"Bangun Queen"


"Aku mohon bangun"


"Ona bangun, ayo bangun. Aku tau kamu kuat"


"ONA BANGUN " Jazz berteriak sembari memeluk tubuh Vyona. Jazz benar-benar sudah sangat putus asa, melihat gadis itu berbaring lemah seperti ini membuat hatinya benar-benar hancur.


*****


Karel nampak berjalan mondar-mandir didalam kamarnya, perasaannya akhir-akhir ini benar-benar tak baik, mengingat ternyata Vyona benar-benar terluka, bahkan mantan kekasihnya itu sampai sekarang belum juga membuka matanya.


Setiap malam, Karel selalu bermimpi Vyona datang menemuinya, hingga membuat Karel tidur dengan tidak nyaman.


"Vyo, maafin gue" gumam Karel sembari menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.


Karel merasa kalau dirinya benar-benar pengecut, karena tak berani mengakui perbuatan bejatnya itu. Sebenarnya Karel sudah menceritakan semuanya kepada kedua orangtuanya, namun Kenan dan juga Dewi menyuruh Karel untuk menutup mulutnya secara rapat-rapat agar rahasia besar itu tak terungkap.


Ketika Dewi tau, kalau Aretha juga mengetahui rahasia besar itu, Dewi sudah mulai mau menerima Aretha sebagai kekasihnya, berharap kalau gadis itu tak membocorkan rahasia itu kepada siapapun.


Hal besar itu terbongkar ketika Kenan terus-menerus menanyakan keberadaan mobil Karel. Pada awalnya Karel bilang kalau mobilnya sedang berada di bengkel, namun ayahnya itu bukan orang bodoh. Ayahnya langsung datang ke bengkel langganan keluarga mereka, ketika mobil Karel tak kunjung selesai. Hingga akhirnya mau tak mau Karel mengaku kepada kedua orangtuanya.


"Gue capek, V. Jadi gue mohon, jangan teror gue kayak gini" gumam Karel di tengah Isak tangisnya.


"Karel, ayo kita pergi" ucap Dewi yang baru saja masuk kedalam kamar Karel.


Dengan cepat Karel menghapus air matanya, berharap sang mama tak melihat cairan bening itu jatuh dari kedua matanya. Namun sekeras apapun Karel berusaha menyembunyikan Dewi tetap tau bahwa sang putra sedang menangis.


"Kamu nangis lagi?" Tanya Dewi dengan tatapan tajam. "Sudah berapa kali mama bilang, jangan buang-buang waktu kamu buat nangisin orang nggak penting kayak mantan pacar kamu itu" dengusan terdengar sangat jelas, menandakan bahwa Dewi benar-benar tidak suka akan hal itu. "Ingat ya Karel, kamu masih punya hutang janji sama mama. Sampai sekarang kamu belum juga menemukan adik dari CEO gentala grup"


"Ma, mama bisa nggak sih nggak bahas itu terus! Karel capek ma, kenapa mama terus-menerus memikirkan diri mama sendiri, kenapa mama nggak pernah mikirin perasaan Karel ma!"


"Cukup Karel, mama seperti ini juga demi kebaikan keluarga kita" bentak Dewi.


"Kebaikan keluarga kita!" Ulang Karel dengan sinisnya. "Bukan kebaikan keluarga kita, ma. Tapi buat kebaikan mama, Karel tau mama udah mulai bosan hidup susah kan!" Lanjutnya sembari menatap tajam mata ibunya.


"Karel, tutup mulut kamu" Dewi mulai tersulut emosi, terlihat dari urat-urat dilehernya yang terlihat menonjol, menandakan kalau sang empunya sedang mati-matian menahan emosi.

__ADS_1


"Hidup kita sekarang juga masih serba kecukupan, ma. Mama aja yang selalu menuntut, kita harus bisa ikhlaskan perusahaan papa, ma."


Plakk.....


Satu tamparan keras Dewi layangkan pada pipi kiri sang putra, ia juga menatap Karel dengan bengis. "Tutup mulut kamu Karel, apa mama pernah mengajarkan kamu buat kurang ajar seperti ini!"


"Mama memang tidak pernah mengajari Karel buat kurang ajar, ma. Itu karena mama memang nggak pernah ngerawat Karel dan kemal, dari kecil kami selalu diasuh sama bibi. sedangkan mama, mama selalu sibuk dengan dunia mama"


"TUTUP MULUT KAMU " teriak Dewi sembari kembali menampar pipi kanan karel.


"Ada apa ini?" Tanya Kenan yang baru saja datang dengan nafas yang terengah-engah, terlihat jelas kalau Kenan berlari dari lantai dasar menuju kamar Karel.


"Anak kamu, makin hari makin kurang ajar sama aku, mas" ucap Dewi sembari melengos pergi.


"Karel, bisa nggak kamu jangan cari gara-gara sama mama kamu!" Seru Kenan sembari berjalan mendekati Karel yang kini duduk di atas ranjang.


"Nggak bisa, pa" Karel berucap sembari tersenyum sinis. "Papa sama Mama tau nggak, setiap malam Karel selalu di teror sama Vyona, Karel selalu diliputi rasa bersalah, pa"


Tangis Karel kembali pecah, ia menyadari bahwa tak ada satupun orang yang mengerti tentang perasaannya. Semua orang hanya memikirkan perasaannya masing-masing, tanpa mau mengerti perasaannya sedikit saja.


"Terus kamu mau apa? Kamu mau menyerahkan diri ke kantor polisi! Kamu mau membusuk disana? Kamu jangan gila ya Karel, Aretha sudah susah-susah nyembunyiin mobil kamu, berharap semuanya akan baik-baik aja. Tapi kamu malah mau hancurin semuanya" ucap Kenan mulai tersulut emosi. "Kamu harusnya mikir, kalau kamu nyerahin diri kamu ke polisi, gimana nasib kemal? Adik kamu butuh kamu, rel. Papa cuma minta jangan egois" lanjut Kenan sembari pergi meninggalkan Karel, sebelum tangannya menambah luka lebam di kedua pipi Karel.


******


(mimpi Vyona)


Vyona kini berada di suatu tempat yang sangat indah, disana terdapat banyak bunga-bunga indah. Namun Vyona merasa kalau hanya ada dirinya sendiri disitu, pakaian yang Vyona pakai pun semuanya serba putih.


"Tempat apa ini?" Tanya Vyona yang ia tujukan entah untuk siapa. "Kenapa indah sekali" lanjutnya sembari tersenyum manis.


"Vyona"


Sayup-sayup Vyona mendengar suara lembut itu, Vyona ingat dengan jelas kalau suara itu suara milik mamanya.


"Mama, Vyona kangen banget sama mama" ucap Vyona sembari mengeratkan pelukannya..


"Mama juga kangen banget sama kamu"


"Mama, tempat apa ini? Kenapa disini begitu indah dan juga menenangkan"


"Vyona anakku, tempat ini terlalu jauh dari rumah, nak. Kamu mainnya kejauhan, papa kamu pasti bakal khawatir" ucap Dahlia sembari menoel hidung mancunga Vyona.


"Gapapa, ma. Yang penting Vyona bisa bertemu dengan mama"


"Pulang sekarang Vyona"


"Tapi Vyona pengen bareng terus sama mama" ucap Vyona sembari mencebikkan bibirnya.


"Ini belum saatnya, Vyona. Papa masih sangat butuh kamu, begitu pula dengan Abang dan kakak kamu"


"Tapi mama ikut Vyona pulang ya ma"


"Nggak bisa Vyo, kita sudah beda"


"Apa bedanya ma, nyatanya sekarang kita sama-sama disini"


"Kita memang sama-sama disini sekarang, tapi raga mama sudah sangat lama menyatu dengan tanah, nak"


"Vyona mau terus bareng sama mama" Vyona mulai terisak ketika mendapat penolakan dari sang mama.


"Vyona, suatu saat nanti kita akan berkumpul kembali. Tapi tidak untuk sekarang belum waktunya sayang" ucap Dahlia sembari menangkup kedua pipi Vyona.

__ADS_1


"Kenapa, ma?"


"Karena kebahagiaan sedang menunggu kamu. Pangeran kecil kamu sudah menunggu kamu"


"Pangeran kecil!" Ulang Vyona dengan alis mengerut, sedangkan sang mama hanya mengangguk sembari tersenyum.


"Siapa, ma?" Tanya Vyona dengan penasaran.


Namun tak lama ada sebuah cahaya putih yang begitu terang muncul tak jauh dari tempat Vyona dan Dahlia berdiri.


"Sudah waktunya pulang, nak"


"Tapi mama belum jawab pertanyaan Vyona "


"Cepat pulang Vyona, takutnya pintu itu akan segera hilang kalau kamu tidak cepat-cepat pergi "


"Tapi mama gimana?"


"Tempat mama memang disini, sekarang kamu pulang ya. Lain kali kamu nggak boleh main sejauh ini, kalau kamu sampai mengulang mama bakal marah besar sama kamu" ucap Dahlia sembari memasang wajah segarang mungkin. "Ayo cepat pulang " lanjutnya sembari mendorong tubuh sang putri.


Untuk sekali lagi Vyona memeluk tubuh Dahlia dengan erat, setelah melerai pelukannya, Vyona segera berbalik menuju cahaya itu. Benar kata mamanya cahaya itu sekarang sudah sedikit meredup, dan bisa saja sebentar lagi akan menghilang. Dengan berat hati Vyona melangkah mendekati cahaya itu, namun sebelum benar-benar pergi Vyona melambaikan tangannya kepada sang mama. Dari dalam cahaya itu, Vyona dapat mendengar dengan jelas ada seseorang yang terus memanggil-manggil namanya namun Vyona terus abaikan. Karena fokusnya saat ini hanya tertuju kepada sang mama yang melepaskan kepergiannya sembari tersenyum manis.


Vyona berjalan mundur sembari terus menatap Dahlia dari kejauhan "selamat tinggal mama" gumamnya.


******


Jazz terbangun dari tidurnya ketika merasakan gerakan pada jari-jari Vyona yang sedari tadi ia genggam.


"Kamu udah bangun?" Tanya Jazz dengan mata berkaca-kaca, namun binar kebahagiaan terlihat sangat jelas dari kedua mata cowok itu. "Aku panggil dokter ya" lanjutnya sembari memencet tombol emergency.


"Kamu siapa?" Tanya Vyona sembari menatap bingung Jazz.


"Queen, jangan bercanda. Bercanda kamu nggak lucu"


"Tapi aku benar-benar nggak kenal kamu" ucap Vyona dengan wajah sungguh-sungguh.


Deggg..


Jantung Jazz rasanya mencelos begitu saja, gadisnya tidak mungkin lupa dengan dirinya kan.


Tak lama, dokter Angga dan beberapa perawat masuk kedalam ruang rawat Vyona.


"Vyona kamu sudah sadar?" Tanya dokter Angga sembari tersenyum.


"Syukurlah kamu sudah sadar. Kasihan Jazz, dia nungguin kamu udah kayak orang gila" ucap dokter Angga sembari memeriksa keadaan Vyona.


"Jazz siapa?"


Dokter Angga nampak menghentikan pemeriksaannya sejenak, prediksi ternyata tepat, setelah sadar Vyona benar-benar kehilangan ingatannya.


"Pacar kamu" jawab dokter Angga sembari menepuk pundak Jazz. "Nggak perlu maksa buat mengingat, itu juga nggak baik buat kesehatan kamu" lanjutnya sembari tersenyum.


"Kalau gitu saya permisi dulu" pamit dokter Angga.


"Dia pacar gue! Buset ganteng bener. Gue nggak lagi menang lotrekan ya, pas dapetin dia" gumam Vyona dalam hati sembari menatap Jazz. Cowok itu sekarang duduk disampingnya sembari menggenggam tangan erat.


"YaAllah, dia ganteng banget. Jantung gue kenapa rasanya berdetak nggak normal gini sih, ahhh ****" batin Vyona, sembari tangan kirinya memegang dadanya yang sama sekali tak bisa diajak kompromi ketika berhadapan dengan cowok tampan itu.


"kenapa? ada yang sakit? aku panggilin dokter ya"


"nggak perlu, aku gapapa kok. cuma agak nyeri sedikit" dusta Vyona.

__ADS_1


"makasih, sayang. makasih Karena kamu masih mau bertahan sampai saat ini" ucap Jazz sembari mencium tangan Vyona.


__ADS_2