I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
kembali ingat


__ADS_3

Malam ini Vyona sudah nampak rapi dengan pakaian casualnya, gadis itu berencana pergi ke cafe untuk menemui Mita.


"Jadi keluar?" Tanya Alan begitu melihat Vyona sudah terlihat rapi.


"Jadi dong, gue pergi dulu ya bang"


"Mau gue antar?"


"Gue bisa sendiri bang. Papa, sama kakak udah berangkat?"


"Udah"


"Kalau nenek belum pulang?"


"Belum"


"Yaudah gue pergi dulu"


Pada akhirnya Vyona memutuskan untuk mengendarai mobilnya sendiri, sebenarnya tadi Jazz menawarkan untuk mengantar tapi langsung di tolak oleh Vyona karena tidak mau merepotkan, padahal kondisi tubuhnya juga tidak terlalu fit.


Setelah hampir 30 menit menempuh perjalanan akhirnya Vyona sampai juga di cafe yang dimaksud oleh Mita.


"Kenapa cafenya terasa nggak asing ya" gumam Vyona sembari mengamati sekitarnya.


Dari dalam cafe sudah nampak Mita yang tengah melambaikan tangannya kearah Vyona, karena kebetulan cafe itu pintunya terbuat dari kaca tembus pandang.


"Udah nunggu lama ya kak?"


"Belum. Mau pesen apa?"


"Orange juice aja deh kak"


"Makannya mau apa?"


"Nggak usah deh kak, tadi udah makan"


"Oke"


Dengan segera Mita memanggil pelayan cafe untuk memesan orange juice pesanan Vyona.


"Orange juice satu ya mbak"


"Baik, kak. Mohon ditunggu sebentar" ucap pelayan itu sebelum pamit pergi.


"Nih kak, desain yang baru gue buat" ucap Vyona sembari menyerahkan kumpulan desainnya kepada Mita.


"Bagus" puji Mita setelah melihat gambar Vyona.


"Iyalah, Vyona gitu"


"Dihh sombongnya" ucap Mita sembari terkekeh.


"Minumnya, mbak" ucap pelayan cafe sembari menaruh segelas orange juice pesanan Vyona. "Mbak cantik, apakabar?" Tanyanya yang jelas ditujukan kepada Vyona.


"Mbaknya kenal saya?" Tanya Vyona dengan sedikit bingung.


"Iya. Beberapa bulan yang lalu kan mbak kesini sama suaminya, oh iya gimana kondisi kandungannya mbk?"


Vyona dan Mita langsung melotot kaget ketika pelayan cafe itu menanyakan kondisi kandungan Vyona, padahal Vyona tidak sedang berbadan dua. Bagaimana bisa hamil jika melakukannya saja Vyona tidak pernah.


"Maaf mbak, mungkin mbaknya salah orang" ucap Mita sembari tersenyum. "Adik saya ini masih seorang pelajar mbak, jadi mana mungkin dia hamil dan memiliki seorang suami"


"Astaga, apa iya saya salah orang. Kalau begitu maaf mbak, habisnya mbaknya mirip sekali dengan pasangan muda yang pernah kesini, sekali lagi saya minta maaf mbak" ucap pelayan itu sebelum akhirnya kembali lagi ke belakang.


"Ada-ada aja" ucap Mita sembari menggelengkan kepalanya.


"Tapi tempat ini emang nggak asing buat gue kak"


Tiba-tiba saja potongan-potongan ingatan Vyona berputar begitu saja membuat kepalanya sedikit sakit, namun sebisa mungkin Vyona menahan rasa sakitnya. Ia tak ingin membuat Mita khawatir.


"V, loe gapapakan dek?" Tanya Mita ketika melihat Vyona mengernyit seperti sedang menahan sakit.


"Gue gapapa kok kak, kepala gue agak pening aja" jawab Vyona sembari memasang senyum manisnya.


Kedua tangan Vyona ia gunakan untuk mencengkram kedua lututnya berharap rasa sakit akan cepat hilang, namun sayangnya semakin lama rasanya semakin sakit, dan potongan-potongan ingatannya terus bermunculan di dalam kepalanya layaknya sebuah puzzle.


"Mau makan apa?"

__ADS_1


"Aku nggak mau makan disini"


"Terus?"


"Aku mau makan nasi Padang"


"Kenapa nggak bilang dari tadi sih"


"Selamat siang kak, ada yang bisa saya bantu?"


"Maaf mbak kelihatannya kami nggak jadi pesan" ucap Jazz dengan sedikit malu-malu. "Istri saya tiba-tiba pengen makan nasi Padang, nanti kalau nggak di turutin takutnya anak kami ileran" lanjutnya sembari tersenyum manis.


"Jazz" gumam Vyona sebelum akhirnya gadis itu tak sadarkan diri.


"VYONA" Mita berteriak heboh ketika tiba-tiba saja Vyona jatuh pingsan.


******


"Loe tadi jadi kerumah Vyona boss?" Tanya Andi yang kini sudah ikut bergabung dengan Jazz dan Rafa di balkon apartemen Jazz.


"Iya"


"Belakangan Karel selalu aja deketin Vyona, loe nggak takut kalau tu bocah ngerebut Vyona boss!" Seru Andi sembari menyesap puntung rokoknya.


"Nggak"


"Kenapa?" Tanya Rafa dan Andi secara kompak. Bagaimana bisa Jazz menjawab segampang itu, padahal Rafa dan Andi tau seberapa dalam perasaan Jazz untuk Vyona.


"Kalaupun Queen mau balik sama Karel, gue pasti bakal ngelepasin dia. Karena yang terpenting buat gue adalah kebahagiaan Queen. Jadi gue hanya bisa nyerahin semuanya ke Tuhan, gue rasa takdir yang Tuhan tentuin lebih bagus dari pada apa yang gue inginkan"


"Uhh masyaAllah ustadz Jazziel al-Bukhari, bangga gue ama lu" ucap Andi sembari menepuk pundak Jazz.


"Gue yakin kalau Vyona bakal lebih memilih loe boss"


Diam-diam Jazz hanya bisa mengaminkan ucapan Rafa sambil tersenyum.


Setiap kali melihat Karel berusaha mendekati Vyona, Jazz selalu merasa was-was. Bagaimana jika gadisnya memilih untuk kembali dengan mantan pacarnya itu, lalu bagaimana Dengan dirinya! Padahal Jazz sudah jatuh sejatuh jatuhnya pada gadis itu.


Namun pada akhirnya Jazz hanya bisa memasrahkan semuanya kepada Tuhan, bukankah apa yang Tuhan gariskan akan lebih indah. Jika memang nanti Vyona akan lebih memilih Karel, Jazz akan mencoba mengikhlaskan Vyona, yang penting gadis kesayangannya bisa bahagia.


Namun tiba-tiba saja dari dalam apartemen Jazz terdengar suara yang lumayan gaduh, ketiga cowok tampan itu langsung mengerti siapa yang datang ketika teman-teman mereka yang ada didalam sedang bermain game langsung menjadi heboh seperti itu.


"Jazz"


Bukannya menjawab Vyona justru menangis dan langsung membuat bingung Jazz, Rafa, dan juga Andi.


"Queen, kamu kenapa?" Tanya Jazz sembari menghampiri Vyona, ia hapus air mata yang mengalir di kedua pipi gadis kesayangannya. "Kenapa?" Tanyanya sekali lagi.


Bukannya menjawab Vyona justru memeluk Jazz dengan begitu erat, seolah-olah takut jika cowok itu akan pergi meninggalkan dirinya.


"Jangan pergi" ucap Vyona disela-sela tangisnya.


"Aku nggak akan kemana-mana. Kamu kenapa?"


"Jangan tinggalin aku"


Jazz pun tersenyum sembari membalas pelukan Vyona dengan tak kalah eratnya. Entah apa yang terjadi dengan gadisnya, sampai-sampai gadis itu mempunyai fikiran jika ia akan pergi meninggalkan gadis itu.


"Aku nggak akan pernah pergi ninggalin kamu"


Diam-diam Rafa mengajak Andi untuk pergi meninggalkan keduanya. Agar kedua sejoli itu bisa lebih leluasa untuk mengobrol, namun sebelum pergi, Andi justru mengabadikan momen Jazz dan Vyona yang tengah berpelukan.



"Kamu kenapa? Mau berbagi denganku!" Ucap Jazz sembari mengajak Vyona duduk di kursi yang tadi sempat ia duduki bersama dengan Rafa.


Vyona nampak ragu-ragu ketika menatap kedua mata Jazz, namun cowok itu malah berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Jazz, kamu pernah minta tiga permintaan sama aku kan!"


"Iya. Kamu ingat soal itu?" Tanya Jazz dengan senyum yang nampak merekah.


"Permintaan kedua kamu apa? Kenapa kamu belum bilang sampai sekarang"


"Aku udah minta, Queen"


"Apa?" Tanya Vyona sembari mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Aku minta sama Tuhan, supaya kamu bisa bangun dari tidur panjang kamu"


Vyona merasa sedikit tertegun ketika mendengar jawaban Jazz barusan. Permintaan pertama Jazz memintanya untuk tidak membully, dan yang kedua Jazz meminta kepada Tuhan untuk kesembuhannya. Kenapa semuanya untuk dirinya, bukan untuk kepentingan Jazz sendiri.


"Kenapa semua permintaan kamu, nggak ada yang untuk kepentingan pribadi kamu, jazz"


Mendengar itu Jazz justru tersenyum, lantas ia usap dengan penuh sayang puncak kepala Vyona.


"Karena kamu adalah separuh dari hidup aku"


Vyona tak ingin berekspetasi terlalu tinggi, Jazz masih mempunyai satu lagi permintaan. Bisa saja satu permintaan itu Jazz gunakan untuk menjauhi dirinyakan.


"Permintaan terakhir kamu apa?"


"Aku belum tau"


"Aku mau kamu jawab sekarang Jazz"


Jazz tatap kedua mata Vyona seolah ingin mengeluarkan semua isi kepalanya, namun terlihat sangat jelas ada keraguan dari sorot matanya.


"Ngomong aja, aku nggak akan marah"


"Kalau aku minta buat kamu selalu ada disamping aku, sampai kita menua apa kamu mau wujudin" ucap Jazz dengan penuh kesungguhan. "Aku pengen egois, Queen. Aku pengen kamu jadi milikku"


"Aku mau kok"


"Kamu serius"


"Emtt"


Apa ini mimpi? Ahh Jazz rasa tidak, nyatanya ketika ia mendekap tubuh Vyona rasanya begitu nyata, gadisnya menyetujui permintaannya barusan.


"Lalu hubungan kita sekarang apa?"


Mendengar pertanyaan Vyona membuat Jazz langsung mengurangi pelukannya.


"Maksudnya?"


"Jazz, aku ingat semuanya. Aku ingat kalau kita hanya sa__"


Belum sempat Vyona menyelesaikan kalimatnya Jazz sudah membungkam bibir Vyona dengan bibirnya.


Ciumannya memang cukup singkat tapi mampu membuat Vyona membatu, jantungnya berdegup dengan sangat cepat. Dan yah jangan lupakan wajahnya yang kini mulai bersemu merah.


"Kamu, milikku. Sampai kapanpun kamu adalah milikku, ona" bisik Jazz tepat di samping telinga Vyona, hingga Vyona dapat merasakan hembusan nafas Jazz.


"Jazz, kamu tau darimana nama kecil aku?"


"Ikut aku" bukannya menjawab pertanyaan Vyona, Jazz justru menarik Vyona masuk kedalam dan mengajaknya masuk kedalam kamar. Hingga membuat keduanya dapat sorakan heboh dari teman-teman Jazz.


"Jazz kamu ngapain ngajak aku ke kamar sih, aku nggak mau mereka mikir yang nggak-nggak tentang kita"


"Aku mau kasih tunjuk ini" ucap Jazz sembari memberikan sebuah kotak yang Jazz ambil dari laci meja.


"Ini apa?"


"Buka aja"


Dengan patuh Vyona membuka kotak yang Jazz berikan. Setelah kotak itu terbuka sempurna, kedua mata Vyona terbelalak saking kagetnya.


"I__ini"


"Iya, jangan pergi lagi ya"


"Harusnya aku yang bilang kayak gitu, jangan tinggalin aku lagi, jijiel" ucap Vyona dengan bercucuran air mata.


"Aku janji nggak akan pernah ninggalin kamu lagi, maafin aku ya, karena dulu nggak sempat pamit sama kamu" ujar Jazz sembari membawa Vyona kedalam pelukannya, ia hujani kening Vyona dengan ciuman.


"Jijiel, kamu jahat"


"Aku tau"


"Kenapa kamu nggak langsung bilang sama aku, kalau kamu jijiel. Kamu bahkan diam aja, apa kamu tau setiap kali Abang, atau kak Eksa ke Surabaya aku selalu menyuruh mereka buat nyari kamu"


"Maafin aku sayang, tapi aku sekarang disini. Aku nggak akan pergi lagi, aku akan selalu ada disamping kamu. I love you Vyona Queensha Arabella"


"I love you too Jazziel Devandra Alaris"

__ADS_1


Dengan perlahan Jazz memajukan wajahnya hingga hidung mancungnya bertemu dengan hidung mancung milik Vyona, sebelum akhirnya ia kecup bibir indah milik gadisnya.


__ADS_2