
"Karel kemana sih, kenapa dia nggak balas chat aku"
sedari tadi Vyona terus mondar-mandir bagaikan setrikaan, perasaannya mendadak tidak tenang ketika sang kekasih tak kunjung membalas pesan yang ia kirim. jangankan untuk membalas pesannya, Karel membaca pesan yang ia kirim pun tidak. padahal sedari tadi cowok itu sedang online.
rasanya Vyona ingin sekali langsung menelpon Karel, tapi Vyo takut jika mengganggu Karel. takut-takut kalau Karel masih ada urusan perusahaan, karena memang Karel sudah terjun ke lapangan untuk membantu bisnis keluarganya.
"Vyo tayang"
"ge loe kesini? ngapain malam-malam kesini, gue ogah ya nanti kalau loe suruh nganter pulang"
"siapa juga yang mau pulang. malem ini gue nginep disini"
"oh mau nginep. tapi loe nggak lagi ngambek sama Rafa kan?" Vyona bertanya dengan penuh selidik, pasalnya Ghea akan selalu kabur ke rumahnya jika sedang bad mood hanya karena bertengkar dengan Rafa.
"dihh siapa juga yang berantem sama ayang. tadi aku ditelfon mbok sum, katanya Tante pulang. makannya sekarang aku nginep disini buat temani kamu"
senyum Vyona mengembang. ia sampai lupa kalau hari ini mamanya pulang, jika Dahlia sedang berada dirumah seperti ini Ghea memang akan menginap untuk menemani dirinya agar terhindar dari amukan sang mama. Vyona selalu bersyukur memiliki sahabat seperti Ghea. bagi Vyo, Ghea itu sudah ia anggap seperti adik sendiri. Vyona menyayangi Ghea sama seperti ia menyayangi areksa kakaknya.
"baik banget sih sahabat aku" dengan gemas Vyona memeluk Ghea, tak lupa tangan kanannya mencubit gemas pipi chubby Ghea.
"sakit V" merasakan sakit di pipinya dengan penuh tenaga Ghea berusaha menepis tangan Vyona.
tengah asik berpelukkan tiba-tiba saja ponsel Vyona berdering, menandakan ada panggilan masuk di dalamnya. setelah memeriksa siapa yang menelfon Vyona segera mengangkatnya.
"kakak" sapa Vyona dengan manjanya.
"hai adik kakak yang paling cantik.lagi apa nih?"
"nggak lagi ngapa-ngapain sih kak"
"kak Eksa Ghea kangen" ucap Ghea sembari merebut ponsel milik Vyo.
"hai, Ghea apa kabar?"
"Ghea baik. kak Eksa kapan pulang?"
"nanti kalau kerjaan kakak udah beres. kakak bakal pulang dan ajak adik kakak yang cantik-cantik ini jalan-jalan"
"bener ya kak!"
"iya bener Ghea"
"issh ge, nyebelin banget sih loe. main rebut-rebut aja, kakak gue nih" protes Vyona sembari kembali merebut ponselnya.
"kakak kamu kan kakak aku juga V jangan pelit-pelit dong"
"udah-udah jangan pada berantem. sekarang tidur ya, di Indonesia kan udah tengah malam. jangan begadang, jaga kesehatan"
__ADS_1
"iya kak" jawab Vyona dan Ghea secara bersamaan.
"good night girls"
setelah panggilan telfon dari areksa terputus Vyona dan Ghea langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang dan tanpa butuh waktu lama keduanya sudah dibuai oleh mimpi.
******
brukkk
"MATA LOE BUTA YA" teriak Vyona ketika tak sengaja salah satu temannya menabrak dirinya dan jus yang dibawa tumpah membasahi seragam sekolah Vyona. padahal baru saja ia dan Ghea menginjakkan kakinya disekolah, ini sudah ada saja yang membuat gara-gara dengan dirinya. apalagi gadis yang menabraknya itu adalah zhavira teman sekelasnya yang selalu ia bully.
Ghea yang melihat itu hanya mampu menutup wajahnya dengan sebelah tangannya, sedangkan sebelah tangannya ia gunakan untuk memegangi tangan Vyona. ia tak ingin Vyona membuat ulah lagi dan harus berakhir diruang konseling.
"ma.... maaf V aku ng... nggak sengaja" ucap zhavira sembari menunduk, ia sama sekali tak berani mengangkat kepalanya untuk sekedar menatap Vyona. mungkin zhavira hari ini sedang sial karena harus berurusan dengan Vyona sepagi ini, ditambah Aretha belum datang. lalu siapa yang akan membela dirinya jika bukan sepupunya itu. Tuhan rasanya sekarang zhavira ingin sekali menghilang dari muka bumi ini.
"maaf loe bilang?" tanya Vyona dengan wajah bengisnya, ujung bibirnya terangkat membentuk sebuah senyum iblis, membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan merasa takut. "apa dengan maaf loe baju gue bisa bersih lagi?" tanya Vyona tak lupa tangannya bergerak cepat menjambak rambut zhavira, hingga membuat sang empunya meringis kesakitan.
"ampun V. sakit, tolong lepasin" zhavira memohon dengan suara yang mulai serak karena sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi pipinya, Aretha selalu bilang kepada zhavira kalau ia nggak boleh cengeng. tapinya nyatanya usaha zhavira sia-sia ia tetap kalah, air matanya tetap jatuh membasahi pipinya.
"V, lepasin. aku mohon, jangan sampai kamu dipanggil lagi sama Bu Endah ya V. kamu udah masuk ruangan konseling dua kali Minggu lalu"
"tapi loe lihat baju gue kotor ge. padahal gue udah berbaik hati beberapa hari ini buat nggak nindas dia, tapi bukannya sadar diri dia malah nantangin gue"
"dia nggak sengaja V, udah ayo kalau sampai Karel tau dia bakal marah sama kamu V"
dengan berat hati Vyona pun menghempas zhavira begitu saja, hingga gadis itu jatuh terjerembab. Ghea yang melihat sahabatnya telah melepaskan mangsanya pun langsung menyeret Vyona menuju kamar mandi untuk membersihkan baju Vyona yang kotor.
"V kamu harus bisa kontrol emosi kamu. jangan buat aku khawatir terus V, aku selalu takut kalau kamu dipanggil Bu Endah. aku takut kamu dikeluarkan dari sekolah"
"Ghea ku sayang. siapa juga yang berani ngeluarin gue, loe lupa siapa bokap gue" ucap Vyona sembari memegang kedua pundak Ghea. "jangan nangis, gue nggak suka kalau loe cengeng kayak gini"
"gue sayang sama loe V"
"gue tau. udah ayo masuk kelas"
"tapi baju loe ngeplat V"
"ck ya mau gimana lagi. lagian gue juga pakai tank top, udah biarin aja. yuk masuk kelas, jam pertama pak Yanu kalau loe lupa"
Vyona segera menarik tangan Ghea untuk segera menuju ke kelas mereka. ia tak ingin mencari gara-gara dengan pak Yanu yang terkenal garang itu. disepanjang koridor Vyona menjadi pusat perhatian karena bajunya yang basah.
"pagi sayang" sapa Rafa begitu Ghea dan juga Vyona baru saja duduk di bangkunya.
"pagi"
"mata kamu kenapa merah gitu? kamu habis nangis"
__ADS_1
mendapat perlakuan selembut itu dari Rafa membuat Ghea kembali menangis, ia sembunyikan wajahnya pada perut sixpack sang kekasih.
"loh kok malah nangis lagi sih"
"Vyo berantem lagi"
"iya aku tau, tadi aku lihat kok. Vyo kita emang paling keren" ucap Rafa sembari mengacungkan kedua jempol nya kepada Vyona.
"ihh sayang kamu kok gitu sih. kamu taukan Minggu lalu Vyo udah masuk ruang konseling dua kali, aku nggak mau kalau sampai Vyo di keluarin dari sekolah"
"ayang Ghea. kamu itu mbokya yang cerdas dikit ngapa sih, yang punya yayasan ini kan bokapnya Vyo. terus siapa yang berani ngeluarin anak pemilik yayasan"
Ghea menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Rafa dengan melongo. kenapa dia bisa lupa kalau papanya Vyona adalah pemilik yayasan.
"oh iya ya. jadi maksud Vyo di kamar mandi tadi ini" ucap Ghea dengan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"dasar telmi" Vyona mengacak-acak gemas rambut Ghea hingga membuat sang empunya memberengut.
"pakai, baju loe ngeplat" jazz yang baru saja datang langsung menyerahkan hoodienya kepada Vyona.
"makasih" ucap Vyona sembari tersenyum. namun tak ada tanggapan apapun dari jazz, cowok itu itu pun juga langsung duduk di bangkunya.
"buset wangi banget" gumam Vyona dalam hati. tanpa membuang-buang waktu Vyona segera memakai Hoodie milik jazz, karena dari tadi sebenarnya Vyona merasa agak risih karena bajunya yang basah.
"Vyo kamu apain lagi zhavira?" tanya Karel yang baru saja masuk kedalam kelas. bahkan cowok itu menatap sang kekasih dengan tatapan nyalang tanpa ada sedikitpun kelembutan.
"aku nggak apa-apain"
"kalau kamu nggak apa-apain dia, dia nggak mungkin nangis"
"dia tumpahin jus di baju aku, sampai baju aku kotor rel"
"tapi kamu nggak harus pakai kekerasan kan, kayak bocah tau nggak"
"kamu bilang aku kayak bocah"
"iya. kamu selalu bersikap sesuka kamu, aku muak sama kelakuan kamu V"
Vyona hanya bisa tersenyum sinis menanggapi setiap kata yang keluar dari mulut Karel, Karel bilang dia muak kepada dirinya. bahkan sebelum mereka menjalin hubungan pun Karel tau kalau Vyona itu gadis iblis yang suka membully, lalu apa maksud Karel sekarang. setelah satu tahun lebih mereka menjalin hubungan, kenapa baru sekarang Karel merasa muak.
"selama ini aku udah berusaha sabar buat ngertiin sikap kamu yang suka seenaknya itu V. bahkan aku abaikan setiap omongan jelek tentang kamu, dimana aku seorang ketua OSIS berpacaran sama kamu gadis iblis yang suka membully. aku abaikan semuanya karena aku sayang sama kamu, tapi kamu nggak pernah nyadar dan malah berbuat semau kamu, tanpa mau dengerin apa yang aku nasehatin buat kamu. kamu fikir aku apa V? aku bener-bener muak sama semua ini"
sangat jarang sekali Vyona melihat Karel berbicara sepanjang itu. Karel memang bukan tipe orang yang suka bicara panjang. bahkan dapat Vyona lihat urat-urat leher Karel yang menonjol, menandakan bahwa cowok tampan itu benar-benar marah besar sekarang.
"ya Loe biasa aja dong rel, nggak usah bentak-bentak Vyo kayak gitu. dia cewek loe rel" Rafa jadi kesal sendiri karena dari tadi Karel terus-menerus membentak Vyona.
"tanpa loe ingetin gue, gue juga sadar kok kalau dia itu cewek gue" ucap Karel sembari menunjuk tajam Vyona. "tapi kalau dia ngelakuin kesalahan apa menurut loe gue harus terus-terusan diem"
__ADS_1
"ya tapi nggak usah bentak lah"
Karel yang malas berdebat dengan Rafa pun memutuskan untuk segera duduk di bangkunya. sementara itu diam-diam Vyona mengepalkan kedua tangannya dibawah meja. demi Tuhan ini untuk pertama kalinya Karel membentak dirinya seperti itu, karena biasanya jika Karel marah cowok itu hanya akan mendiami dirinya. tapi kali ini Karel bahkan memarahi dirinya ditempat umum, hati Vyona benar-benar sakit, lelakinya benar-benar telah berubah.