
"aduh ini cleaning servis bisa bersihin kamar mandi nggak sih" Riri yang baru saja masuk kedalam kamar mandi langsung menutupi hidungnya. sementara itu Ghea nampak terheran-heran dengan kelakuan temannya, karena menurut Ghea kamar mandinya lumayan bersih.
"Riri kenapa sih! Ini toiletnya bersih, nggak bau juga"
"Idung loe bermasalah, ge" ketus Riri sembari mengendus-endus layaknya anjing pelacak.
Gadis itu terus saja mengendus hingga akhirnya ia berdiri tepat di dekat dua gadis yang tengah berdiri didepan wastafel.
"Nah baunya dari sini, ge"
"Bau apa Riri?"
"Bau pelakor" jawab Riri sembari tertawa sinis.
"Heh maksud loe apaan!" Aretha langsung saja ngegas, sudah pasti yang Riri maksud tadi adalah dirinya.
"Loe kenapa? Ngerasa kesindir! Ya bagus kalau loe masih punya rasa"
"Mau loe apa sih!" Aretha hampir sama maju dan mencabik-cabik wajah Riri jika saja tak ditahan oleh zhavira.
"Apa loe, dasar jelek" Riri memasang wajah semenyebalkan mungkin hingga membuat Aretha semakin naik pitam.
"Yuk ge kita pergi. Gue nggak bisa berada di toilet yang ada bau busuknya" ucap Riri sembari menarik tangan Ghea.
"Gimana sih Ri, tadi katanya kebelet" Ghea jadi kesal sendiri pada temannya yang satu ini, tadi setelah makan di kantin Riri langsung menarik tangannya hanya karena cewek itu kebelet pipis, tapi sekarang lihatlah sudah sampai toilet tapi malah keluar lagi.
"Uhh, janc*kk loe tuh nggak bisa baca kondisi ya ge. Udah ayo buruan" Riri mengumpat sembari menarik tangan Ghea.
"Jangan cepet-cepet, Ri. Kita mau kemana?"
"Toilet lantai dua" jawab Riri dengan ngegas.
Ghea hanya mampu mengelus dadanya berusaha sabar mempunyai teman aneh seperti Riri.
"Suka banget nyusahin diri sendiri sih, Ri!"
"Diem loe bachhot banget, udah di pucuk nih"
*****
Ketika tengah asik mengobrol dan bercanda, Vyona dan Jazz dikagetkan oleh kedatangan Octavia yang secara tiba-tiba. Entah datang darimana bundanya Jazz itu.
"Bunda bisa nggak sih, kalau datang itu ucap salam. Jazz sama Queen jadi kaget bunda"
"Hehe iya maaf sayang" ucap Octavia sembari senyam-senyum. "Vyona, bunda kangen sayang" lanjut Octavia sembari merentangkan kedua tangannya dan langsung disambut hangat oleh Vyona.
"Vyona juga kangen sama bunda"
"Kapan-kapan main lah kerumah, bunda juga pengen lama-lama sama kamu"
"Kalau itu sih tergantung Jazz, bunda" ucap Vyona sembari melirik Jazz.
"Anak nakal itu emang kurang ajar, dia saja jarang pulang. Kalau bunda telfon sambil marah-marah baru dia mau pulang" Octavia mengadu pada Vyona sudah seperti ibu mertua yang meminta pembelaan kepada menantunya.
"Jazz kamu gitu sih sama bunda, pokoknya mulai sekarang pas weekend kamu harus pulang. Awas aja kalau kamu buat bunda sedih" ucap Vyona dengan menggebu-gebu, bisa-bisanya Jazz mengabaikan ibunya sendiri.
"Iya Queen sayang" seru Jazz dengan wajah yang penuh keterpaksaan, sementara itu Octavia yang merasa menang karena telah dibela oleh Vyona langsung menjulurkan lidahnya mengejek sang putra.
"Queen lihat tuh muka bunda, nyebelin banget" adu Jazz sembari menunjuk sang bunda yang kini tengah menyandarkan kepalanya di pundak Vyona.
"Kamu lihat kan V, Jazz itu emang kurang ajar anaknya. Kok kamu yang cantik ini mau sih sama, anak nakal itu"
"Nanti kalau Queen nggak mau sama Jazz, bunda nggak jadi dapat menantu cantik. Terus nanti bunda ngerengek ke Jazz"
"Oh, iya bunda lupa Jazz. Kalau gitu Vyona harus mau sama anak bunda yang nakal itu ya"
Sementara itu Vyona langsung tertawa melihat perdebatan antara ibu dan anak itu. Octavia adalah seorang ibu yang baik, bahkan terkadang Octavia sering menelfon dan mengirimi Vyona chat. Padahal baru saja Vyona mengenal Octavia, namun Vyona sudah sangat menyayangi ibunya Jazz.
"Terus aja manja-manja sama pacar Jazz, bunda kelihatannya kurang di manja sama ayah"
__ADS_1
"Heh bocah tengik, mulutmu pengen bunda jahit ya" ucap Octavia sembari melotot galak.
"Bunda" Rafa dan Andi langsung berlari begitu antensi kedua cowok itu melihat keberadaan Octavia.
"Anak-anak bunda yang paling ganteng" Octavia langsung merentangkan kedua tangannya dan tanpa membuang-buang waktu Rafa dan Andi langsung memeluk ibu dari sahabatnya itu.
"Bunda kangen sama kalian, kenapa nggak pernah main ke rumah! Sesekali tengokin bunda lah"
"Akhir-akhir ini kita agak sibuk, Bun. Nanti kalau udah nggak sibuk pasti kita tengokin bunda" ucap Rafa dengan lembut.
"Jeng via apa kabar?" Tanya Layla mamanya Rafa.
"Baik jeng. Jeng Layla, jeng Bella baik juga kan!" Jawab bunda sembari menatap mama Rafa dan mama Andi secara bergantian.
"Alhamdulillah baik jeng" jawab keduanya.
"Jazz, selamat ya sayang kamu juara lagi" ucap Bella memberi selamat kepada sahabat putranya.
"Makasih mi" ucap Jazz sembari menyalami ibu dari sahabatnya itu secara bergantian.
"Kalau aja mami bisa milih, mami bakal pilih kamu sebagai anak mami. Dari pada Andi, sudah jelek, nggak pinter lagi"
"Ishh mami suka banget menistakan anak sendiri" ucap Andi dengan bibir yang sudah monyong lima centimeter.
"Mami ini berbicara sesuai fakta, Andi. Mana ada mami menistakan kamu"
"Info tukar tambah emak" ucap Andi sembari bersidekap dada. Hingga membuat para ibu-ibu dan juga teman-temannya itu tertawa.
******
Setelah teman-temannya pulang kini hanya tinggal Jazz dan Vyona yang masih setia duduk di bangku taman. Sebenarnya tadi Vyona sudah menyuruh Jazz untuk pulang terlebih dahulu, akan tetapi cowok itu menolak katanya mau nunggu sampai kak Eksa keluar.
"Yuk dek kita pulang, Abang udah nungguin dirumah" ucap Areksa yang baru saja datang sembari membaca raport milik Vyona.
"Emang mau kemana kak?"
"Kak, tega bener loe ngrebut cewek gue" ucap Jazz yang tak terima jika Areksa membawa pergi Vyona.
"Heh Samsul, dia adik gue anjir. Lagian loe tiyap hari ketemu Vyona, nah ini hari terakhir gue dirumah sebelum besok gue berangkat ke LA"
"Besok masih ada waktu Jazz" ucap Vyona dengan begitu lembut.
"Yaudah deh. Tapi loe jagain cewek gue kak"
"Palelu Jazz, ya jelas gue jagainlah orang dia adik gue" Areksa jadi kesal sendiri kepada Jazz, lah memangnya selama ini siapa yang jagain Vyona kalau bukan dirinya dan juga Alan.
"Iye-iye percaya gue"
"Yaudah ayo pulang V, bisa gila gue kalau lama-lama ngobrol sama pacar loe"
"Sampai berjumpa lagi" ucap Vyona sembari melambaikan tangan, sebelum akhirnya gadis itu berlari menyusul Areksa yang telah dulu pergi.
"Kita mau kemana kak?" Pertanyaan itu sudah Areksa dengar untuk kesekian kalinya, disepanjang perjalanan pulang Vyona tak pernah lelah menanyakan hal itu.
"Bisa diam nggak dek"
"Lah gue kan nanya kak, emang salahnya apa sih!"
"Nanti juga tau, nggak usah bawel deh"
Tak berselang lama akhirnya mereka sampai juga dirumah. Dari pekarangan Vyona dapat melihat Alan yang sudah menunggu dan duduk di teras rumah, begitu melihat mobil Areksa, Alan segera bangkit dan langsung naik ke dalam mobil Areksa.
"Ini gue gapapa kalau pakai seragam kayak gini?"
"Gapapa, orang cuma mau jalan-jalan aja"
"Oh jalan-jalan, bilang kek dari tadi. Sok misterius banget" sinis Vyona sembari melirik kakaknya.
"Sengaja biar kamu penasaran "
__ADS_1
"Ashu banget emang loe kak"
"Mau kemana kita bang?" Tanya Areksa kepada Alan, dan memilih mengabaikan adik kesayangannya itu.
"Mancing aja, sa. Ke empangnya Akbar, udah lama juga kita nggak kesana"
"Oke gaskan" ucap Areksa dengan penuh semangat.
"Yah kok mancing sih, katanya tadi mau jalan-jalan"
"Terkadang kita juga butuh ketenangan dek" ucap Alan dan Areksa secara bersamaan, hingga mau tak mau Vyona pun hanya bisa pasrah.
*****
Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam akhirnya mereka bertiga sampai juga di empang milik keluarga Akbar.
Akbar itu adalah sahabat baik Areksa waktu masih duduk di bangku SMA, dan dia juga pelatihnya Jazz.
"Akbar woii" Areksa berteriak heboh begitu melihat Akbar.
"Eksa" Akbar pun tak kalah heboh dari Areksa, bahkan cowok itu kini sudah berlari menghampiri Areksa. "Apa kabar loe bro" ucap Akbar sembari memeluk Areksa.
"Gue baik, loe sendiri gimana?"
"Alhamdulillah seperti yang loe lihat sekarang"
"Syukur Alhamdulillah, gimana udah nikah?"
"Baru tunangan, loe kapan?"
"Kapan-kapan gue" ucap Areksa sembari menepuk pundak Akbar, sebelum akhirnya cowok itu pergi menghampiri haji Abdul ayah Akbar.
"Dia masih gitu aja ya, bang!"
"Ya gitu deh" ucap Alan sembari terkekeh.
"Vyona apakabar? Udah lama kita nggak ketemu"
"Gue baik kok kak"
"Makin cantik aja loe" puji Akbar sembari tersenyum, namun setelahnya Akbar ingat jika Vyona Sekarang sedang berpacaran dengan salah satu anak didiknya. "Gimana ceritanya loe bisa pacaran sama Jazz? Sumpah gue masih nggak percaya V, orang-orang berfikir Jazz itu homo karena nggak pernah mau di deketin sama cewek, tapi ternyata loe malah bisa dapetin hatinya"
"Itu bocah pasti punya alasan kenapa selama ini nggak mau di deketin sama cewek-cewek"
"Loe bener juga sih, bang"
"Udah ahh, ayo ikutan Jazz"
Pada akhirnya Vyona hanya bisa duduk di pinggir Empang sembari menunggu tiga cowok tampan yang sedang memancing itu, sesekali Vyona juga bertukar chat dengan Ghea untuk mengusir rasa bosannya.
Dari kejauhan Vyona mendengar ada suara penjual ice cream keliling. Hal itu membuat Vyona merasa bersemangat.
"Kak, gue kedepan beli ice cream ya" pamit Vyona
"Mau ditemenin nggak?" Tanya Areksa sembari menatap Vyona.
"Nggak usah, gue bisa sendiri" ucap Vyona sembari berlari kedepan.
Diseberang jalan sana Vyona dapat melihat sekumpulan anak-anak yang tengah membeli ice cream. Hingga pada akhirnya Vyona langsung saja berlari menghampiri penjual ice cream tersebut.
"Kakak awas" teriak salah satu anak.
Hingga pada akhirnya Vyona baru sadar, kalau dari arah kirinya ada sebuah mobil yang melaju dengan cepat.
Hingga pada akhirnya brakk kecelakaan itu tak bisa Vyona hindari.
Tubuh Vyona terpental beberapa meter bahkan darah sudah nampak membasahi tubuh gadis itu.
"Jazz tolong" gumam Vyona sebelum akhirnya gadis itu menutup matanya dan tidak sadarkan diri.
__ADS_1