
Malam ini Jazz menemani Vyona untuk menjaga Dahlia mengingat besok weekend maka Areksa mengizinkan Vyona untuk menginap dirumah sakit.
"Tidur ini udah jam 1 pagi loh Queen" ucap Jazz yang baru saja kembali dari kantin sembari membawa sebotol susu untuk Vyona, dan satu cup kopi panas untuk dirinya.
"Belum ngantuk"
"Sini" ucap Jazz sembari menepuk sofa kosong disebelahnya, memberi isyarat untuk gadisnya agar segera mendekat.
"Apa?" Tanya Vyona sembari beralih duduk disamping Jazz.
"Aku beli susu buat kamu. diminum ya, habis itu tidur"
"Tapi kamu tidur juga kan!"
"Emt" Jazz berdehem sembari menggeser duduknya. "Sini" sambungnya sembari menepuk pahanya, memberi isyarat agar Vyona menjadikan pahanya sebagai bantal.
"Nggak ahh, nanti kaki kamu bisa sakit"
"Gapapa" ucap Jazz sembari menarik Vyona, agar gadis itu segera berbaring. "Tidur yang nyenyak nona"
Namun bukannya tidur, Vyona justru sibuk dengan perasaannya sendiri.
"YaAllah jantung aku nggak bisa diajak kompromi banget sih" gumamnya sembari memainkan jari-jari tangannya.
"Kok belum tidur juga"
"Aku nggak bisa tidur Jazz"
"Gimana kalau kita tahajud"
"Tapi kita belum tidur"
"Iya juga. Yaudah makanya sekarang kita tidur bentar, habis itu kita sholat tahajud sama-sama "
Dengan segera Vyona bangun dari tidurnya, Vyona merasa benar-benar tidak bisa tidur dengan posisi seperti itu. Akan lebih baik jika dirinya bersandar saja pada pundak Jazz
"Kok malah bangun sih?" Tanya Jazz sembari mengelus Surai hitam milik Vyona.
"Gini aja lebih nyaman" ucap Vyona sembari memeluk Jazz dari samping.
Tak butuh waktu lama keduanya sudah tidur dengan pulasnya. Hingga tanpa terasa jam di dinding sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.
"Jazz bangun" ucap Vyona sembari menepuk pelan pipi Jazz.
"Kenapa Queen?"
"Katanya mau sholat tahajud bareng"
"Oh iya, yaudah ayo ambil air wudhu dulu"
Keduanya segera menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
"Anjir ini bukan untuk pertama kalinya gue sholat berjamaah sama Jazz, tapi kenapa jantung gue berasa disco gini sih" gumam Vyona sembari mengatur nafasnya agar detak jantungnya kembali normal.
"Ayo dong Vyona, jangan kayak gini. Nanti Jazz bisa ilfil sama loe" gumamnya dengan sangat pelan.
"Queen kamu kenapa?"
"Gapapa kok, yuk kita sholat"
"Oke. Nanti kamu yang doa, dan aku yang mengaminkan"
"Kenapa nggak kamu aja yang berdoa, dan aku yang mengaminkan"
"Aku doanya nanti aja pas udah jadi suami kamu" ucap Jazz sembari mengedipkan sebelah matanya.
Ahh sial, Vyona tau kalau Jazz hanya bercanda. Tapi lihatlah Vyona sekarang benar-benar baper.
Setelah hampir 5 menit berlalu akhirnya keduanya telah selesai sholat tahajud. Vyona segera menengadahkan kedua tangannya untuk memanjakan doa kepada sang pencipta.
__ADS_1
"YaAllah, tolong angkatlah semua penyakit mama. Lekaslah beri mama kesembuhan, Vyo cuma pengen mama bangun dan bisa sehat kembali Tuhan"
Sementara itu Jazz hanya mampu mengaminkan semua doa Vyona, Karena yang Jazz mau juga sama seperti yang Vyona mau. Karena bagi Jazz kebahagiaan Vyona, adalah kebahagiaannya juga.
Setelah selesai berdoa Jazz segera menghadap ke belakang dimana Vyona berada sekarang. Cowok itu juga mengulurkan tangannya, hingga membuat Vyona tak paham.
"Cium tangan aku, hitung-hitung belajar jadi istri yang baik"
"Halu terus" ucap Vyona sembari terkekeh, namun gadis itu tetap menuruti perintah Jazz.
"Aku berharap kita bisa seperti ini untuk selamanya Queen" gumam Jazz sembari menatap intens Vyona.
"Vyona"
Sayup-sayup Vyona dan juga Jazz mendengar seseorang memanggil Vyona dengan lirih, keduanya langsung saja bangkit dan segera mendekat ke ranjang Dahlia.
Dilihatnya wanita paruh baya itu sudah membuka kedua matanya. Vyona begitu lega, akhirnya matanya bisa bertubrukan dengan netra sang mama.
"Mama udah bangun? Vyona seneng ma" ucap Vyona sembari beruraian air mata, namun gadis itu sama sekali tidak ingin memeluk Dahlia. Vyona tidak ingin jika mamanya marah, karena kini Dahlia baru saja siuman.
"Jangan nangis" ucap Dahlia sembari menghapus air mata Vyona.
Apa ini? Mamanya menghapus air matanya, apakah ini mimpi! Tapi ini terasa begitu nyata.
"Mama jangan banyak gerak dulu ya, mama harus banyak-banyak istirahat"
Tak berselang lama satu dokter, dan dua orang perawat masuk kedalam ruang rawat Dahlia. Karena begitu Dahlia bangun, Jazz langsung memencet tombol emergency.
"Vyona sama Jazz bisa minggir dulu, biar saya periksa keadaan ibu Dahlia" ucap dokter Angga sembari tersenyum.
Dengan sangat terpaksa Jazz dan juga Vyona pun akhirnya menunggu diluar ruangan.
"Mama sadar Jazz" ucap Vyona sembari beruraian air mata.
"Aku tau, udah jangan nangis lagi" Jazz segera membawa Vyona kedalam dekapannya.
Sementara itu Vyona semakin menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Jazz. Melihat mamanya telah sadarkan diri membuat perasaan Vyona menjadi sedikit lebih lega.
Pagi ini semua orang tengah berkumpul di ruang rawat Dahlia, kecuali Vyona dan juga Jazz.
Setelah semalam dokter Angga keluar Vyona tidak mau masuk kembali kedalam ruang rawat Dahlia. Ia takut jika sang mama, akan marah kepadanya. Maka dari itu Vyona memutuskan untuk menunggu di kursi tunggu, dengan Jazz yang senantiasa setia menemani dirinya.
"Eksa, Alan" panggil Dahlia sembari menatap Areksa dan Alan secara bergantian.
"Kenapa ma?"
"Tante kenapa? Tante mau apa? Bilang sama Alan, biar Alan yang beliin"
Dahlia menggeleng dengan pelan sembari tersenyum.
"Adik kalian mana?"
Areksa dan Alan hanya bisa saling tatap, ini benar-benar kejadian langka.
"Tante mau ketemu Vyona?"
"Iya, cari adik kecilmu bang"
"Tante nggak akan sakiti Vyona kan!" Ucap Alan berusaha memastikan, ia tidak ingin jika Dahlia menyakiti Vyona tepat didepan matanya.
"Nggak, bang. Tante cuma mau ngomong sebentar"
"Oke" jawab Alan sembari berjalan keluar untuk mencari keberadaan adik kecilnya.
"Vyo"
"Abang kok keluar?"
"Tente cari kamu"
__ADS_1
"Mama nyariin gue, ini nggak mimpikan!" Gumam Vyona sembari mengerutkan kedua alisnya.
"Anehkan! Gue juga ngerasa yang sama dek, tapi ya mau gimana lagi. Yuk masuk"
"Sana masuk, mama kamu pasti udah nungguin" dengan penuh sayang Jazz mengelus pipi Vyona, berusaha meyakinkan gadisnya bahwa semua akan baik-baik saja.
"Kamu juga ikut" ucap Vyona sembari menggenggam tangan Jazz.
Jazz yang pasrah hanya bisa mengangguk kepalanya sebagai jawaban atas permintaan Vyona.
"Tuhan semoga Tante Dahlia tidak berbuat jahat, sama Queen" ucap Jazz sembari menggenggam balik tangan Vyona.
Dan dengan perlahan keduanya pun masuk kedalam ruangan dimana Dahlia dirawat.
Namun sesampainya di dalam Vyona bukannya mendekat kearah sang Mama, gadis itu justru bersembunyi dibelakang punggung Jazz.
Dahlia yang melihat itu hanya bisa memaklumi, mengingat perlakuan dulu kepada Vyona, Dahlia fikir pantas jika Vyona takut kepada dirinya.
"Vyona"
"Queen mama kamu manggil tuh"
"Aku takut Jazz, semala mama tidur aku udah lancang banget mencium beliau, mama pasti sekarang akan marah"
"Nggak mungkin, tatapan Tante kelihatan lain Queen"
"Kamu emang pernah tau gimana mama natap aku"
"Dari sorot matanya aja kelihatan, udah ayo" dengan lembut Jazz menuntun Vyona untuk mendekat ke ranjang pesakitan Dahlia.
"Pagi Tante, Tante sudah enakan?"
"Alhamdulillah saya sudah baik-baik saja" jawab Dahlia sembari tersenyum.
"Syukur Alhamdulillah"
"Boleh tolong tinggalin mama berdua aja dengan Vyona" ucap Dahlia sembari menatap tiga anak laki-laki tampan yang kini berdiri disamping ranjangnya.
Meskipun ketiganya terlihat tidak yakin, namun pada akhirnya ketiganya mengangguk setuju.
Namun begitu Jazz ingin menyusul Areksa dan Alan untuk keluar, Vyona justru mencekal tangannya. Gadis itu menatap matanya seperti sedang memohon untuk tidak ditinggalkan.
"Kamu disini aja nggak apa-apa nak" pada akhirnya Dahlia mengizinkan Jazz untuk tetap tinggal bersama dengan Vyona.
"Vyo, mama minta maaf nak. Mama nggak bisa jadi ibu yang baik buat kamu. gara-gara keegoisan mama, kamu jadi nggak bisa ngrasain kasih sayang mama dan papa secara utuh" ucap Dahlia sembari mulai terisak.
Sementara itu Vyona semakin erat menggenggam tangan Jazz, sedari tadi Vyona hanya menunduk karena merasa tak mampu untuk beradu tatap dengan mamanya.
"Semua ini terjadi karena mama. Andai kamu tau dulu sewaktu mama mengandung kamu, diam-diam mama juga menantikan kehadiran kamu" ucap Dahlia sembari mengenang masa lalu.
"Mama memang hampir menggugurkan kamu, karena keluarga papamu membenci mama. Tapi papa selalu berusaha meyakinkan mama kalau semua akan baik-baik aja, bahkan dengan lapang papa kamu memaafkan kesalahan mama, bahkan dia juga menganggap kamu sebagai anaknya"
Tubuh Vyona semakin bergetar ketika mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut mamanya, sementara itu Jazz yang peka langsung membawa tubuh Vyona kedalam pelukannya, biarlah gadisnya menyembunyikan kelemahannya dalam dadanya, Jazz rela jika baju yang kini ia kenakan basah karena terkena air mata ataupun ingus Vyona.
"Mama begitu senang ketika tau kalau mama sedang mengandung bayi perempuan pada saat itu, Mama juga begitu antusias untuk menyiapkan segala kebutuhan kamu.tapi begitu kamu lahir, entah mengapa mama merasa benci sama kamu, karena kamu memiliki mata dan hidung yang sama persis dengan pria itu"
"Tante cukup"
"Nggak bisa nak, Tante harus cerita semuanya. Mungkin selama ini Vyona selalu bertanya-tanya kenapa saya begitu membencinya"
"Tante saya mohon cukup" ucap Jazz dengan suara yang mulai meninggi. "Maaf kalau saya nggak sopan, tapi melihat Queen menangis benar-benar membuat saya hancur, kami permisi"
Dengan segera Jazz membawa Vyona keluar dari dalam ruang rawat Dahlia, sesampainya didepan Jazz langsung dicecar beberapa pertanyaan oleh Areksa dan juga Alan.
"Mama ngomong apa?"
"Iya, Tante ngomong apaan?"
"Nanti gue bakal cerita kak, bang. Tapi sekarang gue bawa Queen pergi dulu.
__ADS_1
Tanpa mempedulikan Areksa dan juga Alan, Jazz langsung saja mengajak Vyona pergi dari rumah sakit.