I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
rumah Ghea


__ADS_3

Malam ini langit nampak indah, bulan bersinar dengan terang di temani Gemerlap bintang, yang membuat langit semakin mempesona. Kini Vyona sedang duduk di balkon kamar Ghea sembari menatap bulan dan juga bintang.


Dipikirannya masih terus berputar kejadian tadi siang sewaktu dikantin, apa itu tadi benar-benar Karel laki-laki yang begitu mencintai dirinya.


"Vyona" panggil Karel sembari menyelipkan anak rambut Vyona kebelakang telinga ketika dengan nakalnya angin meniupnya.


"Iya kenapa rel?"


"Aku mau kamu janji satu hal sama aku"


"Janji apa?" Vyona menatap Karel dengan penuh tanda tanya.


"Jangan pernah tinggalin aku ya, apapun keadaannya"


"Kenapa kamu ngomong gitu"


"Karena aku takut kehilangan kamu, aku sayang banget sama V"


"Oke, kalau gitu janji itu juga berlaku buat kamu"


"Pasti sayang" senyum cerah tercetak indah dibibir Karel, cowok itu lantas membawa Vyona kedalam pelukannya.


kepingan-kepingan ingatan masa lalu kembali berputar di fikiran Vyona, janji itu Karel yang buat, tapi lihatlah sekarang Karel sendiri yang mengingkari.


"Pembohong" gumam Vyona sembari mengepalkan kedua tangannya.


"V nih aku bawain kamu susu" Ghea yang baru saja datang memberikan satu gelas susu kepada Vyona sedangkan satu gelas lagi untuk dirinya sendiri.


"Makasih ge"


"Iya. Kamu ngapain sih V malem-malem diluar, dingin loh nanti kamu bisa masuk angin"


"Gue cuma ngerasa sedikit suntuk aja didalam ge"


"Kamu masih kepikiran Karel ya V?"


"Emtt apa satu tahun itu buat dia nggak ada artinya ya ge"


Ghea sendiri sebenarnya masih bingung, kenapa Karel memutuskan Vyona seperti ini. Padahal hubungan keduanya sebelumnya terlihat baik-baik saja, bahkan Ghea juga tau kalau Karel begitu mencintai Vyona. Ahh, Ghea rasa bukan hanya dirinya yang tau, tapi semua orang disekolah juga tau, lantas kenapa cowok itu memilih mengakhiri hubungannya dengan Vyona.


"Menurut loe apa bener hati dia udah bukan buat gue lagi ge?"


"Karel itu sayang banget sama kamu V"


"Kalau dia sayang sama gue, lalu kenapa dia memilih buat pergi ge?"


"Mungkin Karel butuh waktu buat menjernihkan pikirannya V"


"Emang ada yang salah sama gue?"


"Emtt...." Ghea nampak menggantung omongannya seolah-olah ragu untuk mengutarakannya.


"Ngomong aja ge, gue nggak bakal marah kok"


"Bener ya nggak bakalan marah!"


"Iya bawel. Lagian sejak kapan sih gue bisa marah sama sahabat gue yang gemesin ini" ucap Vyona sembari mencubit gemas kedua pipi Ghea.


"Sakit Vyo" dengan bibir manyun Ghea mengusap-usap kedua pipinya karena Vyona mencubitnya lumayan keras. "Kalau menurut gue sih Karel berubah karena loe suka ngebully orang V"


"Tapi sebelum kita pacaran dia kan udah tau kalau gue suka ngebully ge"


"Iya. Tapi Karel juga udah sering ingetin kamu, buat hilangin sifat buruk kamu yang itu Vyo"

__ADS_1


"Terus menurut loe ini salah gue?"


Skakmat pertanyaan Vyona begitu membunuh hingga membuat Ghea kebingungan untuk menjawab. Kalau Ghea jawab iya, pasti Vyona bakal marah karena Ghea juga ikut menyalahkan Vyona, padahal Ghea tau pasti alasan kenapa Vyona suka sekali membully. Tapi kalau dijawab tidak, itu artinya ia semakin mendorong sang sahabat kedalam jurang.


"Jawab woi, malah diem-diem Baek"


"Kamu tadi tanya apa V?"


"Astagfirullah, gue nanya terus ini semua terjadi karena salah gue gitu"


"Aku tau alasan kamu ngebully itu sebenarnya baik V, tapi apapun alasannya ngebully itu tetap nggak diperbolehkan"


"Terus"


"Iya mungkin aja Karel capek karena sering diomongin sama orang-orang. Dia seorang ketua OSIS tapi malah pacaran sama gadis iblis"


"Terus gue harus gimana ge?"


"Berubah Vyo. Loe harus mencoba berubah sedikit demi sedikit, gue yakin loe pasti bisa" jawab Ghea sembari memegang kedua bahu Vyona.


"Susah ge"


"Nggak ada yang susah Vyona sayang. Inget kamu punya aku, ayang Rafa, ada jazz juga. Kita semua bakal selalu ada dibelakang kamu"


"Gue nggak mau kalian dibelakang gue ge, gue maunya kalian semua selalu berdiri disamping gue. Menuntun gue, supaya gue bisa keluar dari dalam jurang ini"


"Itu pasti" jawab Ghea sembari memeluk Vyona.


Memiliki sahabat seperti Ghea itu adalah anugerah tersendiri untuk Vyona, ya walaupun kadang-kadang Vyona dibuat kesal karena kelemotan Ghea.


******


Pagi ini jam masih menunjukkan pukul 06.30 namun Vyona dan Ghea sudah nampak sampai disekolah, keduanya keluar dari mobil secara bersamaan. Ya pagi ini Ghea memilih nebeng Vyona, katanya ia sedang malas membawa mobil sendiri.


"Mobil siapa V? Perasaan nggak pernah lihat" ucap Ghea sembari memperhatikan mobil yang berada disampingnya.


"Gue juga nggak tau. Yaudah yuk cabut"


"Emttt yuk, aku mau nyontek pr kamu"


"Huu dasar kang contek" Vyona menoyor kepala Ghea saking gemasnya, gadis polos itu memang selalu saja menyontek.


"Ayang"


"Ayang, kok kamu turun dari mobil ini?"


"Mobil pak boss" jawab Rafa sembari merangkul Ghea.


Melihat ke uwuan yang diciptakan oleh Rafa dan juga Ghea, membuat Vyona teringat dengan Karel. Dulu Karel juga sering menunggu diparkiran, Karel juga akan merangkul dirinya, sama persis seperti yang dilakukan Rafa ke Ghea sekarang. Ahh andai waktu bisa di ulang kembali, baru saja satu hari putus, tapi Vyona sudah sangat merindukan Karel.


"V, loe tadi malam nggak nangis kan?"


"Kagak, udah ayo masuk kelas"


Sesampainya dikelas Vyona kembali melihat Karel yang tengah asik bercanda dengan Aretha, dapat Vyona lihat senyum yang keluar dari bibir Karel bukanlah sebuah senyum palsu, bahkan tak tampak sedikitpun kesedihan diwajah Karel. Apa secepat itu untuk Karel melupakan dirinya.


"V are you oke?" Tanya Ghea yang menyadari raut wajah Vyona berubah murung ketika melihat Karel tengah asik bercanda dengan Aretha.


"Emtt gue oke kok ge"


Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Vyona membuat hati Ghea juga ikut teriris, Ghea tau betul kalau Vyona berbohong. Terlihat dengan jelas dari perubahan mukanya yang berubah sedikit muram.


Direngkuhnya Vyona kedalam pelukannya, berusaha menyalurkan kekuatan untuk sang sahabat.

__ADS_1


"It's oke V. Aku percaya, kamu pasti bakal nemuin yang lebih baik lagi dari Karel"


"Emtt semoga aja ge" ucap Vyona dengan tersenyum semanis mungkin, walaupun dihati kecilnya ia sendiri tak yakin akan menemukan pria seperti Karel.


Bel tanda masuk sudah berbunyi sekitar 10 menit lalu namun Bu sila tak kunjung datang, hingga membuat beberapa murid cowok galau, karena takut jika guru cantik mereka tidak masuk kelas.


"Yaelah calon masa depan gue kemana ya! Jangan sampai dia nggak ngajar, nanti hati gue bisa sedih" pekik richy seolah menyalurkan suara hati anak-anak cowok.


"Lah iya bener, bebeb sila kemana ya" timpal yang lainnya.


"Woilah bachoot loe semua. Bu sila sama ayang Ghea masih cantikan ayang Ghea lah" Rafa yang mendengar keluh kesah teman-temannya segera angkat bicara, karena jujur saja keluh kesah teman-temannya sedikit mengganggu konsentrasinya ketika sedang bermain game melawan jazz.


"Gue menang" ucap jazz dengan gaya tengilnya.


"Ahhh oashuu" umpat Rafa sembari melempar ponselnya keatas meja.


"Ayang ihh nggak boleh ngomong kasar" Ghea melotot galak ketika mendengar sang kekasih baru saja mengumpat, hingga membuat Rafa nyengir sendiri.


"Muka loe doang sangar fa, sama Ghea aja takut" ledek Vyona hingga membuat beberapa teman sekelasnya tertawa ketika tak sengaja mendengarnya.


"Diem loe semua" ketus Rafa dengan galaknya.


"Selamat pagi semuanya" sapa Bu sila dengan senyum manisnya.


"Pagi Bu" jawab anak-anak kelas XI IPA 1.


Dibelakang Bu sila ada seorang cowok tampan yang terlihat mengikuti langkah Bu sila, hingga membuat tatapan semua anak cewek langsung teralihkan kepada cowok itu.


"Buset cakep bener, kelas kita kedatangan warga baru cakep semua njir. Ehh Niko, kelas kita loe njampe-jampe pakai apaan dah?" Astrid yang terkenal sebagai ratu gosip langsung heboh.


"Hustt bisa tenang tidak" ucap Bu sila berusaha memperingati siswa didiknya.


"Maaf Bu"


Bagi mereka semua mungkin akan asing dengan anak baru itu, namun tidak dengan jazz, Rafa, dan juga Vyona. Ya siswa baru itu adalah Andi, bahkan cowok itu sudah dada melambaikan tangan kepada jazz dan juga Rafa.


"Andi silahkan perkenalkan diri kamu"


"Baik Bu" jawab Andi dengan tersenyum "hai teman-teman kenalin nama saya Andi Everett Frederick, kalian bisa panggil saya Andi, saya pindahan dari SMA merah putih"


"Jazz kan juga pindahan dari SMA merah putih. Buset gue baru tau kalau SMA merah putih isinya serbuk berlian"


"Berisik" ucap Vyona sembari menampol kepala Astrid yang kebetulan duduk disampingnya.


"Fakta V, elah loe mah matanya isinya cuma ada Karel" ceplos Astrid tanpa ada filternya, hingga ia mendapat tampolan kedua dari Riri Teman sebangkunya. Sadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan, Astrid segera memukul-mukul mulutnya sendiri, setelahnya tersenyum sembari menyatukan kedua tangannya didepan dada, dan berucap maaf kepada Vyona.


"Andi kamu duduk disebelah Niko ya" ucap Bu sila memberi tahu, memang bangku kosong yang tersisa hanya disebelah Niko, dan itu berada tepat didepan Vyona.


"Baik Bu" dengan segera Andi melangkahkan kakinya menuju tempat duduknya.


"Hai cantik kita ketemu lagi" ucap Andi sembari mengerling genit kepada Vyona.


"Dihh muka loe, udah kayak om-om pedo"


"Tega sekali kamu cantik"


"Bodo amat"


"Amat udah pinter sekarang V"


"Nggak nanya" ketus Vyona.


"Loe tu ya, baru aja masuk udah berani godain Dewinya IPA 1" tegur Niko, sembari geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Dewi, rasa iblis" ucap Andi sembari tertawa, hingga membuat Niko pun ikutan tertawa


__ADS_2