
Setelah kejadian kemarin dimana ia tahu bahwa Vyona adalah adik dari CEO gentala grup, Karel memang tidak masuk ke sekolah.
Ia begitu enggan jika Aretha mencecarnya dengan berbagai macam pertanyaan setelah semalam Karel memutuskan hubungan mereka.
Kini yang dilakukan Karel hanya bisa duduk di balkon kamarnya sembari termenung. sesekali ia memikirkan kenapa hidupnya bisa ditimpa begitu banyak masalah seperti ini.
Rasanya ia ingin kembali hidup normal seperti yang lainnya. Dimana anak seusianya masih bersenang-senang dan bermain ia malah harus disibukkan dengan bisnis keluarganya.
Kalau mengingat bisnis Karel jadi ingat Vyona, dulu sewaktu mereka masih pacaran Vyona selalu membantu Karel ketika mengerjakan file-file yang papanya berikan, bahkan ketika mereka sedang jalan-jalan pun Karel selalu membawa serta semua pekerjaannya, tapi Vyona sama sekali tidak pernah protes, gadis itu malah dengan senang hati membantu dirinya.
Sekarang Karel tau kenapa Vyona sangat mahir dalam urusan bisnis, itu karena ia merupakan putri dari seorang pengusaha terkenal.
Disini Karel juga baru sadar bahwa selama satu tahun bersama Vyona, Karel tidak benar-benar mengenal gadis itu. Yang ia tahu hanya Vyona yang jahat, dan ingin menang sendiri. Tanpa Karel tau alasan dibalik semua itu apa.
"Sebenarnya seberapa banyak rahasia yang loe sembunyikan dari gue sih, V" gumam Karel sembari menerawang jauh keatas langit yang kini tengah mendung. "Setahun kita sama-sama, tapi nyatanya gue nggak bener-bener kenal sama loe. Loe terlalu misterius"
ia usap kasar Surai rambutnya, sedari kemarin malam Vyona selalu saja memenuhi kepalanya. Ada sedikit perasaan menyesal yang menggerogoti hati Karel karena sudah meninggalkan Vyona gadis yang begitu ia cintai bahkan mungkin sampai sekarang masih gadis itu yang selalu memenuhi hatinya.
"Gue emang bodoh karena udah ninggalin loe gitu aja, tanpa gue tau apa alasan loe selalu jahatin temen sekolah kita, V"
"Padahal gue tau pasti siapa pemilik hati gue, tapi gue lebih memilih buat pergi karena alasan yang nggak masuk akal. Dimana emang dari dulu loe emang suka semena-mena, tapi gue memilih menulikan telinga gue dan nggak punya niat sedikitpun buat dengerin penjelasan kamu"
Luruh sudah pertahanan Karel, pada akhirnya air mata jatuh membasahi kedua pipinya. Penyesalan memang selalu datang di belakang.
Isak tangis Karel semakin keras ketika ia mengingat beberapa kali wajah Vyona mengalami lebam-lebam seperti bekas pukulan. Sebenarnya sebanyak apa rahasia yang disimpan gadis itu, kenapa dulu gadis itu lebih suka memendam masalahnya sendiri ketimbang membagi dengannya yang notabene adalah kekasih gadis itu.
Rasa sakit itu terus meremas hatinya, bahkan Karel sendiri tak mampu menjabarkan sesakit apa.
"Bang"
Tiba-tiba saja kemal datang dengan suster Ambar, dapat Karel lihat bahwa kedua mata kemal sekarang sudah memerah, mungkin jika anak itu mengedipkan kedua matanya maka cairan bening itu akan jatuh membasahi pipinya.
"Kamu ngapain kesini? Harusnya istirahat lah, mal"
"Kemal capek di kamar terus, bang" jawab kemal sembari menunduk, sesungguhnya cowok itu menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang kini mulai basah. Hati kemal benar-benar sakit ketika melihat Karel yang begitu berantakan.
"Abang kalau ada masalah bisa cerita, bang. Jangan di pendam sendirian, gue ikut sakit kalau lihat loe kayak gini, bang. Mungkin gue emang nggak bisa bantu apa-apa, tapi setidaknya loe bagi rasa sakit yang loe rasain bang, jangan loe pendam sendirian"
"Mal, loe boleh pukul gue. Pukul sekeras-kerasnya kalau perlu"
"Kenapa gue musti mukul loe, bang! Emangnya loe punya salah apa sama gue?"
"Gara-gara gue bisnis keluarga kita jadi hancur, gue nggak becus jadi anak sulung, gue gagal jadi Abang yang baik buat loe"
"Loe nggak pernah gagal, bang" ucap kemal sembari memeluk tubuh Karel, hatinya semakin teriris melihat Karel yang semakin terisak kencang. "Loe nggak pernah gagal, bang. Loe tetep Abang gue yang paling hebat" lanjut kemal, sembari terus mengelus punggung Karel, berharap bisa menyalurkan ketenangan kepada sang kakak.
Suster Ambar yang menyaksikan hal itu juga ikut menangis, apalagi Karel dan kemal tumbuh dibawah asuhannya. Dengan perlahan ia memeluk kedua anak majikannya itu.
"Semuanya akan baik-baik aja, mas. Suster percaya, mas Karel bisa melalui semuanya. Mas Karel kan hebat, dari dulu mas Karel selalu berhasil jadi kebanggaan suster, sama mas kemal" ucap suster Ambar dengan lembutnya, dan langsung disetujui oleh kemal.
Perlahan Karel hapus air matanya, lalu tersenyum. Sungguh ia beruntung memiliki kemal dan juga suster Ambar. Dari sini ia sadar bahwa masih ada yang menyayangi dirinya dengan tulus.
__ADS_1
"Abang kenapa? Kenapa Abang bilang bisnis keluarga kita hancur karena Abang!"
"Loe masih ingat Vyona?" Tanya Karel sembari menunduk.
"Tentu gue ingat bang, kak Vyona kan satu-satunya wanita yang berhasil naklukin hati Abang gue" jawab kemal sembari tersenyum.
"Keluarga Vyona yang udah mengakusisi perusahaan keluarga kita, mal" ucap Karel sembari menghembuskan nafas kasar. "Kedua kakaknya nggak terima karena gue ninggalin Vyona, gue nggak tau kalau ternyata Vyona begitu diratukan oleh kedua kakaknya"
"Perbaiki semuanya, bang. Gue tau loe masih cinta sama kak Vyona"
"Tapi dia sekarang udah punya pacar, mal"
"Orang baru nggak akan semudah itu untuk menggeser orang lama kan, bang! Gue percaya loe bisa perbaiki semuanya, bang. Dan lagi nanti papa ataupun mama pasti maksa Abang buat deketin kak Vyona, meskipun dengan cara apapun"
Yah Karel rasa kemal ada benarnya, akan Karel coba lagi untuk memenangkan hati gadis itu seperti dulu. Apapun akan Karel lakukan, dan tidak akan menyerah sebelum ia dapatkan.
*****
"Kamu sebenarnya siapa sih! Kenapa ingatan pertamaku tentang kamu" gumam Vyona sembari menatap figura kecil ditangannya.
Tanpa sengaja Vyona melihat sebuah tulisan dibalik figura itu, lantas senyum Vyona terukir begitu saja. Entah mengapa perasaan hangat menyelimuti hatinya, padahal Vyona sendiri tidak tau siapa sosok yang menulis itu.
Jijiel love ona dari tulisannya saja sudah terlihat kalau yang menulis itu adalah bocah ingusan. Sungguh ini cukup menggelikan bagi Vyona, bagaimana bisa ada bocah sebuaya ini.
"Kamu lucu banget sih, sebenarnya kamu itu siapa jijiel! Sekarang kamu dimana? Katanya kamu cinta aku, tapi aku nggak pernah lihat kamu" gumam Vyona sembari terkekeh.
Dibawanya bingkai kecil itu dan segera keluar dari kamarnya untuk menghampiri kedua kakaknya.
"Kenapa?" Tanya keduanya secara bersamaan namun tak mengalihkan atensinya pada layar tv.
"Ini siapa?" Tanya Vyona sembari menunjukkan bingkai foto ditangannya.
Alih-alih menjawab Areksa, Alan, papa, dan juga nenek malah tertawa.
"Masak loe nggak kenal sih dek, dia ka___"
Belum sempat Areksa menyelesaikan ucapannya, Alan sudah lebih dulu membekap mulut Areksa.
"Itu jijiel" ucap Alan sembari meringis.
"Iya gue tau, tapi jijiel siapa bang?"
"Temen kamu pas masih kecil" jawab papa.
"Terus sekarang dia dimana pa?" Tanyanya sembari duduk disamping Agra dan langsung menyenderkan kepalanya dibahu sang papa.
"Ada di Jakarta juga"
"Tapi Vyona nggak punya temen yang namanya jijiel pa. Temen cowok Vyo cuma ada Rafa, Andi, sama Niko"
"Jazz nggak temen loe?" Tanya Areksa.
__ADS_1
"Bukan, diakan pacar gue kak"
"Emtt iya ya, beda pangkat"
"Apa Vyo masih sering ketemu dia pa? Kalau iya dia yang mana! Karena jujur aja di sekolah banyak banget yang nyapa Vyo, tapi Vyo nggak kenal sama mereka semua pa"
"Buset nanya aja loe kayak wartawan dek"
"Abang apaan sih, orang gue cuma nanya juga"
"Suatu saat nanti kamu pasti bakal ngerti sayang" ucap Agra sembari mengelus puncak kepala putri kesayangannya, sebelum akhirnya ia bangkit dan segera menuju ruang kerjanya sebelum sang putri bertanya lebih jauh lagi.
Setelah kepergian papa, nenek pun juga memilih kembali kedalam kamarnya. Dan sebelum pergi nenek cium singkat kedua pipi Vyona, dan disini Vyona merasa kalau keluarganya menghindari dirinya ketika ia menanyakan siapa itu jijiel.
"Abang sama kakak beneran nggak mau jelasin jijiel itu siapa?"
"Nggak dulu" jawab Areksa dan Alan secara bersamaan.
"Huftt, nyebelin" ucap Vyona sembari mencebikkan bibirnya.
*****
Pagi ini Vyona baru saja datang bersama dengan Jazz sembari bergandengan tangan, senyum Vyona tak pernah luntur dari bibir indahnya. Entah apa yang Jazz bicarakan hingga membuat gadis itu terus tersenyum.
"Enak banget ya hidup loe, setelah ngebuat gue sama Karel putus loe masih enak-enakan senyam-senyum kayak gini" sinis Aretha.
"Maksud loe apa sih, dari kemarin loe tuduh gue terus. Gue aja nggak tau apa-apa, anj*r"
Baru saja ingin kembali membuka mulut tiba-tiba saja zhavira sudah memegang tangannya dengan sedikit kencang, hingga Aretha mengurungkan niatnya karena ia tahu zhavira tidak ingin jika Aretha beradu mulut dengan Vyona.
"Udah, ta. Ayo ke kelas" ucap zhavira sembari menarik paksa tangan sepupunya itu.
"Urusan kita belum selesai" ucap Aretha sembari menatap tajam Vyona.
"Gila tuh anak"
"Udah nggak usah di pikirin"
"Tapi aku kesel, dituduh kayak gitu Jazz"
"Dia boleh tuduh kamu, tapi yang tau kamu seperti apa itu cuma aku, pasangan kamu" ucap Jazz sembari menyingkirkan beberapa helai rambut Vyona yang tekena angin dan sedikit menutupi wajahnya cantik gadis itu.
Vyona tersenyum ketika mendengar penuturan Jazz, sedikit menggelikan memang. Tapi Vyona rasa Jazz ada benarnya, sebaik dan seburuk apapun Vyona, Jazz pasti akan lebih tau hal itu dibandingkan orang lain.
"Kok tadi kamu cuma diam aja, waktu Aretha nuduh aku yang nggak-nggak"
"Aku akan maju paling depan kalau ada orang yang gangu atau nyakitin kamu"
"Tapi nyatanya tadi kamu diam aja"
"Karena aku tau Aretha nggak akan bisa berbuat apa-apa kalau masih ada zhavira disampingnya" yah Jazz paham betul kalau gadis polos itu adalah salah satu kelemahan Aretha.
__ADS_1
Dari kejauhan Jazz dapat menangkap sosok Karel yang tengah berjalan kearahnya dan juga Vyona, Jazz tersenyum smirk. Sudah Jazz perkiraan kalau hari ini bakal terjadi, jika dia harus bersaing dengan Karel. Tapi akan Jazz pastikan kalau Vyona akan terus menjadi miliknya, walaupun Jazz sendiri tidak begitu yakin dengan perasaan Vyona untuknya.