I'M Not Antagonis

I'M Not Antagonis
rumah sakit


__ADS_3

Agra baru saja pulang dan langsung mencari keberadaan putri kesayangannya.


"Tuan besar pulang?" Tanya mbok sum yang baru saja keluar dari dapur sembari membawa nampan berisikan beberapa gelas minuman.


"Vyona ada dimana mbok?"


"Non Vyo ada di teras belakang, bersama teman-temannya tuan"


Dengan segera Agra menuju belakang rumah dimana Putrinya berada, dan dibelakangnya diikuti oleh mbok sum.


"Vyo"


"Papa" Vyona tersenyum dengan manisnya, sebelum akhirnya menghambur memeluk sang papa. "Papa pulang lagi!"


"Gimana papa nggak pulang, kalau anak papa hampir saja mengalami kejadian buruk"


"Vyona gapapa kok pa"


"Syukur Alhamdulillah, Tuhan masih melindungi kamu nak"


"Ja..."


"Papa kenapa?"


"Ahh papa gapapa sayang, mereka semua teman kamu?"


"Iya pa"


"Hai om" Ghea menyapa Agra dengan riangnya, kemudian di ikuti oleh yang lainnya.


Agra cukup senang karena sekarang putrinya sudah mulai bergaul, karena dulu yang Agra tau Vyona hanya mau dekat dengan Ghea saja.


"Vyo nggak mau kenalin temen-temen kamu ke papa! Papa cuma kenal Ghea sama Rafa aja loh nak"


"Oh iya, Vyo lupa pa" ucap Vyona sembari tersenyum."yang duduk disebelah Rafa itu Andi, sebelahnya lagi ada Niko, disampingnya Astrid dan juga Riri, pa"


"Terus yang dibelakang kamu?"


"Ahh yang ini Jazz pa"


"Ya ampun Vyona gimana sih, calon mantunya om Agra tuh, kok bisa-bisanya malah diluapain" ucap Ghea sembari memakan camilan yang telah disediakan oleh bik yam.


"Calon mantu!" Ulang Agra dengan alis yang mengerut.


"Kenalin saya Jazz, om. Pacarnya Vyona" ucap Jazz memperkenalkan dirinya kepada Agra.


"Hebat juga ya putri saya bisa mendapatkan seorang pembalap seperti kamu"


"Bukan dia yang hebat om"


"Lalu?"


"Saya yang hebat, karena saya bisa mendapatkan gadis sehebat dia"


"Yaelah boss, basi banget lu" ucap Andi sembari terkekeh.


"Jazz itu bukan loe banget deh" ucap Riri sembari ingin mual.


"Vyona, Abang mau pergi dulu" pamit Alan sembari mengenakan jaket kulitnya.


"Alan kamu mau kemana nak?"


"Ehh om, Alan mau pergi dulu sama Eksa" pamit Alan sembari mencium tangan Agra.


"Hati-hati bang, jangan kebut-kebutan"


"Siap" jawab Alan sembari berlari masuk kedalam rumah.

__ADS_1


"Kak Eksa pulang pa?"


"Iya, tapi masih ada urusan. Yaudah papa masuk dulu, kalian lanjut lagi"


Setelah kepergian Agra, Vyona dan yang lainnya pun kembali melanjutkan permainan truth or dare yang tadi sempat mereka mainkan.


******


"Tante kenapa, sa?" Alan yang baru saja datang bersama pihak kepolisian sangat kaget begitu melihat Dahlia terkapar dan bersimpah darah.


"Kita harus bawa mama kerumah sakit, bang"


"Oke" jawab Alan sembari membantu Areksa membopong tubuh Dahlia kedalam mobil.


Disepanjang perjalanan menuju rumah sakit Areksa maupun Alan tak henti-hentinya merapalkan doa untuk Dahlia.


"Ma bertahan. Bang lebih cepet"


"Oke, sa"


Alan segera menambah kecepatan mobilnya untuk menuju rumah sakit terdekat.


"Ya Tuhan, aku memang kecewa sama Tante, tapi aku juga nggak sanggup jika harus kehilangan beliau. Dulu sewaktu mama pergi, tante Dahlia yang merawatku. Bahkan tante nggak pernah membeda-bedakan antara aku maupun Areksa, kasih sayang tante terbagi sama rata" gumam Alan dalam hati, melihat Dahlia seperti ini hatinya sakit, demi Tuhan ia belum sanggup jika harus kembali kehilangan.


Tak lama mereka pun akhirnya sampai juga di rumah sakit. Areksa segera turun dan membopong tubuh sang mama, sementara Alan sudah berteriak-teriak seperti orang kesurupan.


"Dokter tolong tante saya. Tolong lakukan yang terbaik untuk beliau"


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, masnya tolong tunggu diluar ya"


Areksa maupun Alan hanya bisa pasrah ketika pintu IGD mulai ditutup oleh sang dokter. Dengan perasaan was-was Areksa dan Alan hanya bisa diam dan sama-sama berdoa untuk keselamatan Dahlia.


"Bang"


"Kenapa, sa?"


"Gue juga takut, sa"


"Mama bakal selamat kan bang?"


"Emt, gue percaya tante kuat. Kita sama-sama berdoa ya, sa"


Areksa hanya mengangguk sebagai jawaban, sejujurnya sedari tadi tubuh Areksa terus bergetar ketika melihat darah mamanya yang menempel pada baju yang kini ia kenakan.


"Loe tunggu disini sebentar ya, sa"


"Loe mau kemana bang?"


"Gue mau beli baju buat loe. Nggak mungkin kan kalau loe pulang dalam keadaan kacau kayak gini"


"Kalau kita pulang mama gimana bang?"


"Ada dokter, sama suster yang jagain tante. Kalau kita nggak pulang Vyona sama om Agra pasti khawatir"


Areksa fikir Alan ada benarnya, kalau dirinya ataupun Alan memilih untuk stay di rumah sakit Agra pasti akan marah karena keduanya tidak pulang. Maka dari itu Areksa hanya bisa pasrah ketika Alan sudah berlalu pergi untuk membelikannya pakaian.


******


Pagi ini Vyona bangun dengan mata yang bengkak. Semalam ketika Areksa dan Alan pulang, keduanya membawa berita buruk mengenai kecelakaan yang dialami oleh Dahlia.


Vyona memang sempat marah dan kecewa kepada Dahlia, akan tetapi hatinya tetap sakit ketika mendengar wanita yang begitu ia sayangi kini tengah berjuang melawan maut.


Kata Areksa, dokter menyatakan Dahlia kritis dan tidak tau kapan ia akan kembali membuka matanya. Hal itu disebabkan karena benturan yang sangat keras, hingga menyebabkan adanya gumpalan darah di kepala Dahlia, dokter juga mengatakan bahwa ada beberapa organ Dahlia yang mengalami kerusakan, dan yang paling parah adalah hati. Jadi sangat kecil kemungkinan untuk Dahlia bisa sembuh.


"Dek, kakak boleh masuk" ucap Areksa yang kini telah menyembulkan kepalanya di pintu kamar Vyona.


"Masuk aja kak"

__ADS_1


Dari wajah Vyona dapat Areksa lihat kalau gadis itu kemarin pasti menangis semalaman, terlihat dari matanya yang bengkak sudah seperti tersengat lebah.


"Kok belum siap-siap sih! Emangnya adik kakak yang cantik ini nggak sekolah?" Ucap Areksa dengan lembut sembari mengelus Surai hitam milik sang adik.


"Vyo boleh izin aja nggak sih kak? kalau Vyo belum lihat mama, Vyo nggak bisa tenang"


"Oke, sekarang kamu mandi. Habis itu kita jenguk mama"


"Makasih kak" ucap Vyona sembari memeluk tubuh sang kakak.


"Emtt. jangan sedih lagi, kamu taukan kalau mama kuat"


"Iya kak, aku tau. Mama pasti sembuh"


"Itu pasti" ucap Areksa dengan sedikit ragu, mengingat perkataan dokter jika kemungkinan Dahlia sembuh hanya 10% saja. Namun Areksa harus menyembunyikan fakta itu dari Vyona, adik kecilnya tidak boleh tau kemungkinan buruk yang akan diterima sang mama.


*****


"Jazz, loe sendirian? Vyona mana?" Jazz yang baru saja datang langsung di berondong pertanyaan oleh Niko yang kini tengah duduk bersama Andi, Rafa, Ghea dan juga Astrid.


"Nggak masuk"


"Kenapa? Vyo nggak sakit kan Jazz!" Ghea bertanya dengan wajah yang nampak khawatir.


"Nggak"


"Ya trus kenapa nggak masuk boss?" Kini giliran Andi yang mulai kepo. Karena memang sangat jarang Vyona tidak masuk sekolah kalau gadis itu tidak sakit.


"Tante Dahlia kecelakaan"


"APA?" Kelima remaja itu nampak terkejut begitu mendengar berita yang baru saja Jazz katakan.


"Loe nggak bercanda kan boss?"


"Buat apa gue bercanda, gue semalam nemenin Queen. Dia terus-terusan nangis, sementara gue nggak bisa berbuat apa-apa" ucap Jazz penuh sesal. Sebenarnya Jazz ingin sekali datang pada gadis itu, untuk memeluknya. Tapi apalah daya, Jazz juga tidak mungkin berkunjung kerumah seorang gadis ditengah malam.


"Tapi kok Vyona nggak ngomong ke aku sih" ucap Ghea dengan berkaca-kaca.


"Yaelah gemoy, Vyona sekarang udah punya pacar. Dan lagi dia pasti ngerti, kalau dia cerita sama loe, loe pasti bakal ikutan nangis. Bukannya nenangin, malah bikin tambah pusing"


Ghea menghela nafas dengan kasar, Ghea rasa Andi benar. Ghea memang memiliki perasaan yang sangat sensitif, jika saja kemarin Vyona cerita kepada dirinya sudah pasti Vyona yang akan menenangkan dirinya.


*****


Vyona memasuki rumah sakit dengan perasaan yang tidak karuan, tiba-tiba saja seluruh badannya terasa bergetar.


"Ayo masuk" ajak Areksa begitu sampai di depan ruang ICU.


"Vyo takut kak"


"Gapapa, ayo masuk mama ada didalam. Kakak sama Abang tunggu kamu diluar"


"Masuk dek, bilang sama tante kalau kamu udah maafin beliau. Siapa tau aja ada keajaiban"


Pada akhirnya Vyona hanya bisa Menuruti omongan Areksa dan juga Alan, dan disinilah ia sekarang berada. Di ruang ICU dengan mengenakan pakaian khusus, diiringi dengan suara mesin ekg yang memekakkan telinga.


"Pagi ma" sapa Vyona dengan suara bergetar karena menahan tangis. "Mama apakabar? Ayo buka matanya ma, Vyona kangen mama"


"Vyona lebih seneng kalau mama pukul Vyona, mama marahi Vyona, daripada mama tidur kayak gini. Ayo bangun, ma. Vyona tau mama kuat"


Dielusnya puncak kepala sang mama, dan dengan penuh sayang ia kecup pipi mamanya.


Demi Tuhan ini untuk pertama kalinya Vyona berani mencium Dahlia. Rasanya ada kehangatan tersendiri ketika Vyona mengecup pipi Dahlia, ahh andai saja ciuman itu dapat balasan pasti akan sangat menyenangkan.


"Ma, Vyona sayang banget sama mama. Mama cepet sembuh ya, maafin Vyona kalau selama ini Vyona cuma bisa nyusahin mama. Vyona cuma bisa bikin Mama menderita" dengan sekuat tenaga Vyona menahan isakannya, walaupun air matanya sedari tadi tak pernah berhenti mengalir membasahi kedua pipinya, bahkan beberapa jatuh membasahi pipi Dahlia.


"Vyona udah maafin mama, jadi Vyona mohon mama harus berjuang buat sembuh ya" ucapnya sembari memeluk sang mama, sebelum akhirnya melangkah keluar karena sudah tidak tega melihat keadaan sang mama yang begitu memprihatinkan.

__ADS_1


Tanpa Vyona sadari dari kedua sudut mata Dahlia mengeluarkan cairan bening, dalam tidurnya Dahlia menangis. Mungkin saja Dahlia dapat mendengar semua yang telah Vyona katakan.


__ADS_2